Lomba Tupperware (Go Green)


Mandi keringat

Bandung.. Semua orang juga tahu bahwa kota ‘kembang’ ini kota sejuk. Tapi, pernyataan ini belum tentu nyata. Buktinya saja, di alun-alun kota bandung, tepatnya di Masjid raya Agung Bandung itu, mataharinya sangat terik, belum lagi, banyak pengamen dan pengemis yang tidak tertib. Buktinya saja, saat sedang asyik minum kelapa muda di taman masjid yang mataharinya begitu menyengat, ada seorang anak kecil, dengan pakaian yang compang-camping dengan tangan dan tubuh yang sangat kotor, meminta-minta pada sekumpulan aku dan teman-teman. Spontan saja, kita pindah tempat duduk.
          Dan ternyata, pengemis anak kecil yang berbeda datang menghampiri kita. Aku dan teman-teman mengacuhkannya. Dan tidak lama kemudian pengemis cilik lainnya datang kembali, dengan badan yang lebih kotor, dan ingusan, menghampiri, dan mengelap-ngelap ingusnya ke jaket temanku, sungguh itu mesti di tertibkan.
          Masih ditempat yang sama, terlihat sampah dimana-mana. Meski sudah disediakan tempat sampah di sudut-sudut, tetap saja warga yang membandel membuang sampah-sampah merekanya itu di pot atau sekeliling tanaman yang ditanam di tengah tempat duduk. Selain itu, bau pesing tercium menyengat. Sungguh, suasana yang tidak diinginkan.
          Jalan sedikit, tanaman yang begitu banyak, kering begitu saja, tidak ada yang mengurus. Kala siang datang, cuaca yang cerah dan matahari yang terik, dapat membuat badan kita mandi keringat. Dan yang tidak enaknya itu, membuat kulit terbakar.
Tidak jauh dari tengah taman masjid, terdapat halte Bus. Diam disana, sudah batuk-batuk. Asap Bus Damri yang sangat hitam itu membuat kulit kita menjadi rusak karma terkena Karbon Dioksida yang dihasilkan oleh knalpot Bus Damri. Belum lagi, Bus yang seenaknya berhenti di tengah-tengah yang menyebabkan kemacetan. Dan banyak pula copet disana.



Sungguh disayangkan, Masjid Raya Agung yang begitu megah dengan 2 buah menara kembarnya yang khas, di kelilingi oleh pemandangan yang sangat tidak enak. Taman yang kering, dan gersang diselilingi oleh bau sampah dan pesing. Dan juga pengamis dan pedagang yang kurang tertib dan menyisakan sampah dimana saja.
Andaikan saja, ada sukarelawan yang mau membantuku untuk menghidupkan kembali taman kota di sekitar Masjid Raya Agung. Pasti kotaku ini semakin sejuk dan pernyataan “Bandung kota kembang” pasti akan nyata. Dan juga, polisi PP yang lebih tegas dalam tugasnya. Pasti semakin lebih enak bersantai dan memandang masjid dan tanaman kota.
Asap knalpot yang hitam, sampah yang berserakan, dan tanaman yang kering, merusak nama baik kota Bandung. Merusak Bumi. Andai juga, masyrakat Bandung tersadar, sekecil apa pun langkah yang dilakukan, akan berdampak baik untuk anak cucu kita nanti. Kita tidak mau kan anak cucu kita nanti tidak bisa melihat lagi keindahan dan kesuburan tanaman di taman kota ?.
Bandungku, sadarlah.! Bandungku, Bangkitlah.! Bandungku, Lakukanlah…
Keyakinanku saat ini adalah, seorang pemuda saja di Bandung yang melakukan gerakan “CEGAH SAMPAH” di Bandung, akan membangkitkan kesadaran dan kepedulian terhadap daerah Bandung. Jangan hanya bicara lakukan…
          Jangan mengharapkan imbalan dunia atau pujian masyarakat. Ini demi kepedulian kita terhadap makhluk ciptaan tuhan. Dan yang kita harapkan adalah Surga-NYA. 

Related Posts:

0 Response to "Lomba Tupperware (Go Green)"

Post a Comment