PEREMPUAN (khususnya untuk para lelaki)

Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan. 


Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu. 

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki : perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal sepele...¡? hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya...sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjad! i lebih kuat karena kehadirannya di sisimu. 

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan. 

Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki... tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi.... tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi. 

Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya... kata-kata yang lembut... ungkapan-ungkapan sayang yang sepele... namun baginya sangat berarti... membuatnya aman di dekatmu.... 

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tu! mbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang... seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun. 

Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya.... tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya...Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki... apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana.... karena mere! ka, ia menjadi seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga... karena kau dan dia adalah satu.... dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu. 



Related Posts:

Kemuliaan Wanita

 Oleh : Fitri Andri Ani

 Jihad adalah kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Begitu pula pada masa Rasulullah, aktivitas jihad dalam meluaskan dakwah dan perluasan wilayah daulah khilafah ketika sudah berdiri adalah kewajiban bagi kaum Muslimin. Sehingga, syahid adalah kata indah yang mendorong kaum Muslimin untuk berlomba dalam menyongsong syahid dan keridaan Allah. Wanita pun waktu itu tak kalah bersemangat dengan pria. Seorang dari mereka bahkan menghadap Rasulullah, seperti tertuang dalam riwayat Ibn 'Abbas: Ada seorang wanita yang pernah meminta izin kepada Nabi saw untuk ikut serta berjihad. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku diutus oleh kaum wanita untuk menghadap kepadamu, sebagai wakil mereka dalam berjihad, yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kaum laki-laki. Apabila mereka menang (dalam jihad), mereka akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Sementara itu, kami adalah kaum wanita.
Apabila kami membantu laki-laki (dalam berjihad) apakah kami akan beroleh pahala?"Nabi saw menjawab, "Sampaikanlah salamku kepada kaum wanita yang mengutusmu. Menaati suami dan menjalankan semua perintahnya adalah sama pahalanya dengan orang yang berjihad. Sayangnya mereka banyak yang tidak menjalankan hal ini." (HR al Bazzar). Jawaban Rasulullah itu merupakan indikasi prioritas tugas wanita. Di masa sekarang wanita banyak yang telah terseret ide kapitalis dengan berusaha mencari-cari upaya pelegalan ide kebebasan wanita, feminisme, gender, dan lain-lain. Padahal, Allah telah memuliakan dan melebihkan wanita atas laki-laki dengan tugasnya sebagai ummun wa rabbah al bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Telah nyata kerusakan generasi muda dan masyarakat karena wanita lebih cenderung bersaing dengan laki-laki di luar rumah daripada mengasuh, mendidik, dan bertanggung jawab atas moral anak-anaknya. Bukankah menjadi ibu dan mengurus rumah tangga adalah amanah dan kewajiban dari Allah yang tidak bisa digantikan oleh pembantu atau suami sekalipun?
Bagi wanita Muslim di Indonesia, bulan April ini adalah sarana perenungan untuk kembali pada tugas utamanya. Selamatkan negeri ini dengan kembali pada tugas muliamu. Taati suami-suamimu dan didik anak-anakmu agar menjadi generasi penerus ummah yang tangguh. Insya Allah pahala yang akan diperoleh wanita sangatlah besar. Negeri inipun akan tegak dengan generasi Muslim yang tangguh. Ada surga di bawah telapak kaki, betapa indah perumpamaan Allah bagi wanita Muslim sesuai dengan fitrahnya.

Related Posts:

Kabel dan Cahaya Lampu


"SAYANG, ayo kita shalat. Tuh dengar adzan telah berbunyi," ujar seorang
ibu kepada anaknya yang tengah asyik nonton televisi. "Sebentar lagi dong,
ini lagi seru-serunya," jawab sang anak.
Ibu itu kemudian
mendekat, "Sayang, tidak baik menunda-nunda shalat. Ini kan haknya Allah.
Ayo matikan tivinya!" "Iya deh," jawab sang anak sambil beranjak dari
tempat duduk. Ia terlihat sangat kecewa karena harus meninggalkan televisi.

Selama di kamar mandi, si anak terus menggerutu. "Ah..Ibu, tiap hari
menggangu saja. Lagi enak-enaknya nonton disuruh shalat.
Lagi seneng-
senengnya main disuruh shalat. Lagi nyeyak tidur disuruh shalat.
Harus baca
Quran lah. Harus ikut pengajian lah. Harus ini . harus itu .!
Bikin
pusiiiing.

* * *

SELEPAS shalat berjamaah, anak itu bertanya dengan nada protes.
"Bu, kenapa
sih kita harus shalat, harus puasa, harus baca Al-Quran, dan harus belajar?
Bukankah itu mengganggu kesenangan kita? Lagi pula, menurut saya, semua itu
tidak ada gunanya, tidak mendatangkan hasil."
Si Ibu sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia pun terdiam beberapa
saat. Ada sedikit kemarahan yang muncul dalam hatinya. Tapi ia segera sadar
bahwa yang bertanya adalah anak kecil, yang belum tahu apa-apa selain main
dan bersenang-senang.

Sang Ibu beranjak mengambil sebuah lampu yang menempel di dinding kamar
anaknya.
Sesaat kemudian ia berkata, "Anakku sayang, kamu lihat lampu ini.
Ia begitu indah. Bentuknya lonjong dengan dindingnya terbuat dari kaca yang
bening.
Tiap malam engkau bisa belajar, mengerjakan PR, dan nonton
televisi, salah satu sebabnya karena diterangi lampu ini."

"Sayang, tahukah kamu mengapa lampu ini bisa menyala?" lanjut si Ibu. "Ya,
karena ada energi listrik yang berubah jadi cahaya," jawab sang
anak. "Benar sekali jawabanmu. Lalu apa yang menyambungkan lampu ini dengan
sumber listrik tadi?" tanya si ibu lebih lanjut. Sang anak pun menjawab
dengan pasti, "Yang menyambungkan lampu dan sumber listrik adalah
kabel." "Pintar sekali kamu," timpal si Ibu memuji.

"Nah, sekarang kamu pasti tahu, bila tidak ada kabel pasti lampu ini tidak
akan nyala dan kamar ini pasti gelap. Bila demikian, ia tidak akan ada
manfaatnya lagi, dan kamu tidak bisa belajar dan nonton tivi."

Sang Anak belum paham mengapa ibunya menceritakan lampu itu kepadanya. "Apa
maksud Ibu?" tanyanya kemudian.

Ibu itu kembali berkata, "Anakku sayang, Allah itu sumber cahaya dalam
hidup. Kita adalah lampunya. Ibadah yang kita lakukan menjadi kabel atau
tali penghubungnya. Ibadah dapat menghubungkan antara Allah dengan manusia,
tepatnya antara Allah dengan kita. Bila tidak mau beribadah, hidup kita
akan gelap. Kita akan tersesat dan takkan berguna sedikit pun, seperti tak
bergunanya lampu yang tak bercahaya." Ibu itu melanjutkan, "Jadi, shalat,
bersedekah, membaca Al-Quran, ataupun belajar adalah kabel yang akan
menghubungkan kita dengan Allah."

Mendengar semua itu, sang anak tampak tertegun. Dalam hatinya timbul
penyesalan akan sikapnya yang selalu menganggap remeh ibadah. Ia pun
berkata, "Kalau begitu aku tidak akan meninggalkan shalat lagi dan akan
membaca Al-Quran tanpa harus disuruh.
Bu, maafkan saya ya!"



Related Posts:

5 Tipe Karyawan di Kantor Kita


K.H. Abdullah Gymnastiar

Pengklasifikasian karyawan dan pejabat kantor ini diekati dengan istilah hukum yang digunakan dalam agama Islam. Pendekatan ini samasekali bukan untuk mencampuradukkan atau merendahkan nilai istilah hukum tersebut, melainkan hanya sekedar guna mempermudah pemahaman kita karenamakna dari istilah hukum tersebut sangat sederhana dan akrab bagi kita. Mudah-mudahan bisa jadi cara yang praktis untuk mengukur dan menilai diri sendiri.
(Ide dasar ini diambil dari pendapat Emha Ainun Najib)
1. Karyawan / Pejabat "Wajib"
Tipe karyawan atau pejabat wajib ini memiliki ciri : keberadaannya sangat disukai, dibutuhkan, harus ada sehingga ketiadaannya sangat dirasakan kehilangan.
  • Dia sangat disukai karena pribadinya sangat mengesankan, wajahnya yang selalu bersih, cerah dengan senyum tulus yang dapat membahagiaan siapapun yang berjumpa dengannya.
  • Tutur katanya yang sopan tak pernah melukai siapapun yang mendengarnya, bahkan pembicaraannya sangat bijak, menjadi penyejuk bagi hati yang gersang, penuntun bagi yang tersesat, perintahnya tak dirasakan sebagai suruhan, orang merasa terhormat dan bahagia untuk memenuhi harapannya tanpa rasa tertekan.
  • Akhlaknya sangat mulia, membuat setiap orang meraskan bahagia dan senang dengankehadirannya, dia sangat menghargai hak-hak dan pendapat orang lain, setiap orang akan merasa aman dan nyaman serta mendapat manfaat dengan keberadaannya
2. Karyawan / Pejabat "Sunnah"
Ciri dari karyawan/pejabat tipe ini adalah : kehadiran dan keberadaannya memang menyenangkan, tapi ketiadaannya tidak terasa kehilangan..
Kelompok ini hampir mirip dengan sebagian yang telah diuraikan, berprestasi, etos kerjanya baik, pribadinya menyenangkan hanya saja ketika tiada, lingkungannya tidak merasa kehilangan, kenangannya tidak begitu mendalam.
Andai saja kelompok kedua ini lebih berilmu dan bertekad mempersembahkan yang terbaik dari kehidupannya dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya dia akan naik peringkatnya ke golongan yang lebih atas, yang lebih utama.
3. Karyawan / Pejabat "Mubah"
Ciri khas karyawan atau pejabat tipe ini adalah : ada dan tiadanya sama saja.
Sungguh menyedihkan memang menjadi manusia mubadzir seperti ini, kehadirannya tak membawa arti apapun baik manfaat maupun mudharat, dan kepergiannya pun tak terasa kehilangan. 
Karyawan tipe ini adalah orang yang tidak mempunyai motivasi, asal-asalan saja, asal kerja, asal ada, tidak memikirkan kualitas, prestasi, kemajuan, perbaikan dan hal produktiflainnya. Sehingga kehidupannya pun tidak menarik, datar-datar saja.
Sungguh menyedihkan memang jika hidup yang sekali-kalinya ini tak bermakna. Harus segera dipelajarilatar belakang dan penyebabnya, andaikata bisa dimotivasi dengan kursus, pelatihan, rotasi kerja, mudah-mudahan bisa meningkat semangatnya.
4. Karyawan / Pejabat "Makruh"
Ciri dari karyawan dan pejabat kelompok ini adalah : adanya menimbulkan masalah tiadanya tidak menjadi masalah.
Bila dia ada di kantor akan mengganggu kinerja dan suasana walaupun tidak sampai menimbulkan kerugian besar, setidaknya membuat suasana tidak nyaman dan kenyamanan kerjaserta kinerja yang baik dapat terwujud bila ia tidak ada.
Misalkan dari penampilan dan kebersihan badannya mengganggu, kalau bicara banyak kesia-siaan, kalau diberi tugas dan pekerjaan selain tidak tuntas, tidak memuaskan juga mengganggu kinerja karyawan lainnya.
5. Karyawan / Pejabat "Haram"
Ciri khas dari kelompok ini adalah : kehadirannya sangat merugikan dan ketiadaannya sangat diharapkan karena menguntungkan.
Orang tipe ini adalah manusia termalang dan terhina karena sangat dirindukan "ketiadaannya". Tentu saja semua ini adalah karena buah perilakunya sendiri, tiada perbuatan yang tidak kembali kepada dirinya sendiri.
Akhlaknya sangat buruk bagai penyakit kronis yang bisa menjalar. Sering memfinah, mengadu domba, suka membual, tidak amanah, serakah, tamak, sangat tidak disiplin, pekerjaannya tidak pernah jelas ujungnya, bukan menyelesaikan pekerjaan malah sebaliknya menjadi pembuat masalah. Pendek kata di adalah "trouble maker".
Silahkan anda renungkan, kita termasuk kategori yang mana...?
Semoga semua ini menjadi bahan renungan agar hidup yang hanya sekali ini kita bisa merobah diri dan mempersembahkan yang terbaik dan yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat nanti. Jadilah manusia yang "wajib ada". Semoga!


Related Posts:

Cinta mustahil tanpa duka

Ya Allah ya muqallibal qalb...

Didunia ini Kau menciptakan makhluk berpasang-pasangan... ada kalanya hujan, ada pun kalanya panas... siang berganti malam... laki-laki dan perempuan.. ada sebuah senyuman dan adapun sebuah tangisan.... ada tawa ada air mata... sungguh Kau maha adil ya Rabb...

Tak urung, saat seorang insan menetapkan hatinya pada seseorang lawan jenis yang ia sayang, tentunya dunia terasa  berada digenggaman kita.. apalagi saat keindahan rasa itu terbalaskan, hati ini sudah seperti dilempar ke langit ke tujuh....

Namun, sang Muqallibal qalb itu berkehendak lain.. seperti sifatNya yang Maha berkuasa, ketika seorang insan jatuh hati, maka bersiaplah untuk patah hati... karena jika kita siap untuk bahagia bersama cinta, saat itu juga berarti hati kita membuka untuk siap menangis karenanya...

Tak selamanya cinta itu indah, tak selamanya cinta itu pedih... melainkan cinta yang tulus itu ialah melewati pedih perih pahit manis bersama untuk tiba disuatu penantian surga cinta yang indah... :')

Related Posts:

Para hamba selalu membutuhkan hidayah

Setiap hamba selalu membutuhkan hidayah pada setiap waktu dan kesempatan, dalam setiap perkara yang hendak dikerjakan atau ditinggalkannya. Tiap-tiap hamba tak akan lepas dari salah satu kondisi berikut: ......


--Ibnul Qayyim al-Jauziyyah-- Setiap hamba selalu membutuhkan hidayah pada setiap waktu dan kesempatan, dalam setiap perkara yang hendak dikerjakan atau ditinggalkannya. Tiap-tiap hamba tak akan lepas dari salah satu kondisi berikut: Pertama: Kondisi yang berbagai amalan yang ia lakukan tidak sebagaimana mestinya, lantaran jahalah (ketidaktahuannya). Dalam kondisi yang demikian, ia membutuhkan hidayah dari Allah, berupa terbukanya pintu ilmu. Kedua: Kondisi ia telah mengenal hidayah, namun ia melakukan hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya dengan sengaja. Ia membutuhkan hidayah untuk dapat bertaubat. Ketiga: Keadaan dimana ia tidak mengenal hidayah secara ilmiyah maupun amaliyah. Sehingga ia kehilangan hidayah, baik berupa ilmu pengetahuan maupun keinginan untuk mendapatkan dan mengamalkannya. Keempat: Kondisi yang ia telah mendapatkan hidayah namun hanya mampu mengamalkan sebagian dari satu amalan menurut petunjuk, sementara sebagian yang lain tidak. Orang ini membutuhkan hidayah untuk dapat melakukannya secara sempurna. Kelima: Kadangkala seorang mampu melakukan sesuatu amalan menurut bingkai dasarnya, namun belum mampu mengamalkannya secara rinci. Orang tersebut membutuhkan hidayah yang bisa membimbingnya untuk mengamalkan secara rinci. Keenam: Kadangkala seseorang telah mendapat suatu hidayah, namun ia masih membutuhkan hidayah lain dalam penerapannya. Karena hidayah menuju satu jalan berbeda dengan hidayah dalam meniti jalan tersebut. Bisa kita contohkan, seperti seseorang yang telah mengenal jalan menuju suatu negeri anu, yaitu melalui jalan ini dan itu. Namun ia tak mampu menempuhnya dengan baik. Karena untuk menempuhnya dibutuhkan hidayah lain yang lebih khusus. Misalnya, seperti perjalanan yang harus dilakukan di waktu-waktu tertentu dan menghindari di waktu-waktu tertentu, dia harus mengambil perbekalan air di tempat ini dan itu dan dengan jumlah tertentu, juga beristirahat di tempat-tempat ini dan itu. Itulah yang dimaksud hidayah dalam penerapan satu amalan. Kerap kali orang yang mengenal suatu jalan tidak mengenal hal itu, akhirnya ia celaka dan tidak sampai pada tujuannya. Ketujuh: Seseorang juga membutuhkan hidayah dalam suatu amalan yang akan dilakukan, untuk masa-masa mendatang, sebagaimana petunjuk/hidayah yang telah ia peroleh di masa lampau. Kedelapan: kadang-kadang seseorang tidak memiliki keyakinan sama sekali pada suatu amalan, apakah itu benar atau salah. Ia membutuhkan hidayah untuk mengetahui kebenarannya. Kesembilan: Kadang seseorang yakin bahwa dirinya berada diatas jalan kebenaran, padahal ia dalam kesesatan sementara ia sendiri tidak merasa. Maka orang tersebut membutuhkan hidayah untuk beralih dari keyakinan yang salah itu dengan bimbingan Allah. Kesepuluh: Terkadang seseorang dapat melakukan sesuatu sesuai dengan petunjuk, namun ia membutuhkan hidayah untuk dapat membimbing orang lain menuju hidayah itu, mengarahkan dan menasehatinya. Apabila ia melalaikan hal itu, berarti ia telah kehilangan satu hidayah sebatas kelalaiannya. ------------------- (dikutip dari buku Nasihat Ibnul Qayyim untuk Setiap Muslim yang merupakan terjemahan dari Risalah ala kulli muslim. Penerbit At-Tibyan Solo, perterjemah ustadz Abu Umar Basyir, cetakan ketiga Februari 2001, hal 16-18) Referensi: (dikutip dari buku Nasihat Ibnul Qayyim untuk Setiap Muslim yang merupakan terjemahan dari Risalah ala kulli muslim. Penerbit At-Tibyan Solo, perterjemah ustadz Abu Umar Basyir, cetakan ketiga Februari 2001, hal 16-18) [Kontributor : Yusny Muzakki, 18 Agustus 2004 ]

Related Posts:

air mata mutiara


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".

Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga... 

Air mata Mutiara

 


Related Posts:

RG-UG MAU DIBAWA KEMANA??



(Sebuah Refleksi Tentang ARMADA Masa Depan Persis)

Persatuan Islam
Pengakuan terhadap eksistensi rg-ug telah datang dari berbagai unsur jamiyah Persis. Sebagai organisasi santri intra pesantren, rg-ug menjadi tonggak perjuangan awal kaum terpelajar persis. Rg-ug mempunyai kekuatan historis yang tidak mungkin begitu saja terlupakan. Sejak tahun 1943 rg-ug didirikan, dua tahun lebih muda dari usia republik ini. Jika kita meriview kembali perjalanan panjang santri-santri pewaris estapet perjuangan persis ini, maka sungguh akan kita temukan betapa besarnya kontribusi rg-ug dalam pembangunan ruhul jihad generasi-generasi persis yang tersebar di empat otonom; pemuda, pemudi, hima dan himi persis.
Sebagai gerbang menuju kader-kader ummat, rg-ug telah sangat ideal waktu itu. rg-ug menjelma menjadi organisasi pelajar yang meretorika-kan diri sebagai wadah efektif kaderisasi persis kala itu. Dengan semboyan visionernya "Syubbanul Yaum Rijalul Ghad Wa Banatul Yaum Ummahatul Ghad"rg-ug telah mampu menghadirkan semangat mujahid, mujadid dan mujtahid dalam ranah perjuangan kaum muda Persis. Simbolitas-simbolitas keorganisasiannya begitu kuat, bola dunia hitam sebagai logo, "Hayatuna Kulluha Ibadah" sebagai landasan, surat Al Furqan (63) sebagai spirit, serta himne-himne perjuangannya. Rg-ug adalah rahim yang senantiasa melahirkan arsitek-arsitek persis yang hebat. Arsitek-arsitek itulah yang kemudian hari membangun jamiyyah ini.

Kultur positif inilah yang menjadi identitas asli rg-ug. Kiprah rg-ug sebagai organisasi yang bertujuan melahirkan bapak-bapak dan ibu-ibu (baca: pemimpin-pemimpin) masa depan ini tidak pernah surut. Rg-ug senantiasa berada di gerbong paling depan jamiyah ini, menemani perjalanan dakwah sang lokomotifnya (baca: Persis). Rg-ug dengan konteks Ar Rasikhuna Fil Ilmi "totalitas ilmu" nya mampu menjadi generasi Ibnu Abbas sang ulama muda. Dengan spirit jihadnya sanggup menjadi penerus Usamah sebagai panglima muda Islam. Sehingga tidak berlebihan jika rg-ug disebut sebagai benteng pertama dan utama jamiyyah ini. Mengenai "aturan main" berorganisasi, rg-ug diatur dalam Qanun asasi dan dakhli yang disusun tahun 1996 dalam musyawarah rg-ug se-nasional di Pesantren Persis 67 Benda yang masih menjadi pegangan sebagian rg-ug hingga saat ini.

 Jika dapat dihitung secara pasti, maka rg-ug akan unggul secara kuantitas. Artinya, rg-ug sebagai sebuah lumbung kader-kader yang potensial. Tersebar di lebih dari dua ratus pesantren persis se-Indonesia, dari Serang, Matraman, Algifari, Pajagalan, Tarogong, Benda, Magetan, Bangil hingga Sepaken, bahkan hingga ke Alor. Setiap tahunnya, lebih kurang enam ribu alumnus rg-ug dilepas ke kehidupan realitas jamaah. Jika berhasil di rg-ug nya, mereka dengan ilmunya akan menjadi mercusuar ummat. Namun jika sebaliknya, tidak menutup kemungkinan mereka hanya sebatas menjadi inang jam`iyyah. Di zaman ini. dengan segala tantanganya, rg-ug di pesantren-pesantren persis seluruh Indonesia sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugas sebagai center forming of cadres. Rg-ug sekarang cenderung mandul dan hanya sekedar menjadi pemanis kegiatan-kegitan otonom-otonom persis. Jarang ditemui, rg-ug yang memahami, mencintai, dan merasa memiliki jam`iyyah ini. Sebuah ironi yang nyata-nyata terjadi di berbagai daerah.

Kemudian ketidakberdayaan rg-ug dengan berbagai alasan, telah sampai pada sebuah titik terendah perjuangan "totalitas ilmu". ini kita sadari sebagai sebuah akibat lemahnya bimbingan defensif dari lembaga pendidikan persis itu sendiri atau "yang memegang kebijakan pendidikan persis". Santri tidak dipersiapkan menghadapi zaman dan segala tantanganya. Hal ini menuntut kita berintropeksi untuk menyusun sebuah rencana "nyata" bagaimana membina kembali rg-ug menjadi kader-kader ummat. Secara faktual, rg-ug di berbagai pesantren telah terlelap dalam gelimang kemajuan zaman, teknologi dan pergaulan. Mereka menjadi manusia-manusia yang hedonis materialistis. Jika bukan dengan organisasi yang kuat, maka rg-ug sebagai janin jama`ah bukan tidak mungkin akan mengalami keguguran sebelum lahir ke realitas perjuangan jam`iyyah. Atas pemikiran itu, kita telah sampai pada sebuah hipotesa penting bahwa perlu adanya wadah yang efektif dalam kerangka kaderisasi di rg-ug. Sebuah organisasi yang mengakomodir gerakan kaderisasi jam`iyyah. Organisasi ini membidik seluruh rg-ug dan pelajar persis tak terkecuali.

Pelajar Nahdhatul Ulama dan Pelajar Muhammadiyah telah sejak lama sekali sampai pada tahap aksi di tataran nasional dalam hal pengkaderan dan kontribusinya terhadap masyarakat. Jika menyentuh ego santri persis, ini akan menjadi ketidak percayaan diri pelajar persis yang berujung pada keengganan mereka untuk ber-rg dan ber-ug. Ini dengan gamblang menunjukan betapa lemah dan tumpulnya pola kaderisasi kita, pola bimbingan kita, pola berpikir kita, pola pendidikan kita bahkan pola berjam`iyyah kita. Perlu diingat, santri persis sekarang telah mempunyai mata, telinga, dan rasa sehingga mereka melek terhadap perkembangan pemikiran. Jika tidak diarahkan melalui organisasi yang kuat, mereka akan keluar dari koridor pemikiran "totalitas ilmu", sehingga menjadi sulit mewujudkan generasiTafaqquh Fid Din seperti apa yang diharapkan selama ini.

Wacana berhimpun yang muncul pada Silaturahmi Nasional Santri Persis pertama di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta tahun 2005 silam adalah sebuah cerminan keinginan kuat teman-teman rg-ug untuk berhimpun. Dalam perkembangan wacana ini bahkan sampai pada sebuah pemikiran untuk menbina sebuah otonom baru dari persatuan Islam. Begitu kuatnya hasrat ingin berhimpun ini, hingga klimaksnya pada Silaturahmi Nasional santri persis kedua di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Sumedang 2008 lalu, muncul wacana IPP (Ikatan Pelajar Persis). Wacana ini berkembang menjadi sebuah aksi nyata ditandai dengan dideklarasikanya Majelis Presidium IPP. IPP sebagai sebuah konsep "belum jadi" bahkan telah disetujui dan di dukung penuh oleh dua tokoh utama Persis kala itu yaitu Alm. Almukaram Al Ustadz Shidiq Aminullah selaku Ketua Umum PP Persis dan Alm. Almukaram Al Ustadz Entang Muchtar ZA selaku Ketua Bidang Jamiyyah PP Persis. Pada perkembanganya (2008-2010) wacana IPP ini mengalami berbagai tantangan, hingga perlahan padam. Padamnya wacana ini jangan dianggap sebagai padamnya pula hasrat ingin berhimpun dari teman-teman rg-ug. Padamnya wacana ini adalah sebuah "kejenuhan" rg-ug dalam mewacanakan. Kejenuhan ini muncul akibat dari tidak diperhatikanya aspirasi mereka untuk berhimpun.

Untuk berhimpun dalam satu "Ikatan Pelajar Persis" tentunya memerlukan dukungan dari berbagai elemen masyarakat persis tanpa terkecuali. Yang nantinya, dengan IPP ini kita akan mengembalikan rg-ug dalam jalurnya. Mengkoordinasikanya menjadi wadah kader kembali. Menjadi langkah efektif untuk mewujudkan generasiTafaqquh Fid Din. Mencetak kader-kadernya menjadi Ibadur Rahman. Yaitu kader yang beraksi untuk mengabdi, dengan rendah hati dan akhlak yang baik, berdakwah, dan memberikan solusi pada persoalan keumatan (sesuai amanah surat Al Furqan ayat 63 yang dijadikan platform rg-ug sejak 1943).

Jika Band Armada dalam lagunya berkata "Mau dibawa kemana?" rg-ug sebagai Armada masa depan Persis bertanya Mau dibawa kemana kami ini?.

M. Ryan Alviana

Related Posts:

Ketahuilah Wahai Hamba Allah!


Posted by admin


Seringkali kita dengar ucapan-ucapan yang dianggap biasa padahal ucapan-ucapan tersebut merupakan ucapan kufur seperti misalnya saja Aku tak bisa hidup tanpa dirimu. Adalah wajib setiap kita untuk memahami aqidah dengan benar sehingga menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup, lahir dan bathin.


Ketahuilah wahai hamba Allah… Rasul ‘alaihis sholatu wa salam pernah bersabda ketika ada salah seorang sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu bertanya tentang amalan yang memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka .Beliau jawab “ Beribadahlah hanya pada Allah dan jangan menyekutukanNya, tegakkan shalat, tunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” Selanjutnya beliau menunjukkan pintu-pintu kebaikan ,sabda beliau “Puasa adalah perisai, sedekah menghapus kesalahan seperti aair memadamkan api, dan shalatnya seseorang di akhir malam”. Lanjut beliau “Pokok urusan ialah Islam, tiangnya adalah shalat, dan mahkotanya adalah jihad.” Kemudian beliau bertanya pada Muadz, “Maukah kutunjukkan kunci dari semua itu?” Jawab Muadz “Ya.” Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam memegang lidahnya seraya bersabda “Jagalah ini!” Muadz pun bertanya “Apakah kami akan diadzab gara-gara ucapan kami?” Maka beliau bersabda “Celaka kau! Bukankah tidak ada yang menelungkupkan wajah manusia kedalam neraka --atau hidung-hidung mereka—melainkan karena buah ucapan mereka!!!” (Hadits riwayat At-Tirmidzi, hasan shahih). Ketahuilah wahai hamba Allah… Alangkah besarnya bahaya lidah ini sedang kita banyak lalai dari menjaganya…. Bagaimana pendapatmu jika seseorang diberi pena dan kertas lalu dia gunakan untuk mencaci dan menghina orang yang memberikan pena dan kertas tadi? Pasti itu tidak beradab ditinjau dari adab bangsa manapun….. Bagaimana pendapatmu jika seseorang diberikan kendaraan lalu digunakannya untuk menabrak orang yang memberinya kendaraan tersebut? …. Bagaimana pendapatmu jika seseorang diberi lisan oleh Dzat yang di atas langit, yang Maha Pengasih dan Penyayang lalu ia gunakan untuk bermaksiat kepadaNya? Berapa tetes ludah yang engkau habiskan untuk berdzikir mengingatNya? Berapa banyak pula yang telah tertumpah untuk kata-kata jorok, porno, atau bahkan menghina Allah yang Maha Keras siksa-Nya!!!…. Apa maksudnya menghina Allah? Maksudnya engkau mengatakan sesuatu yang tidak pantas dikatakan, bahkan ini adalah perkataan kufur yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam! Ingatlah saat engkau mengatakan “Aku tak bisa hidup tanpa dirimu…” atau perkataan “Kaulah satu-satunya yang kuinginkan di dalam hidupku“, atau “Hanya ada engkau yang ada di hatiku?” atau “Aku ingin selamanya bersama denganmu..”? Bukankah Allah yang telah menghidupkan kita? Bukankah kita pasti menemuinya dan akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita? Bukankah bagi seorang muslim hanya Allah yang paling dia cintai lebih dari apapun? Atau menghubung-hubungkan makhluk dengan kejadian seperti “Tuh, lihat gara-gara kamu sih jadi hujan!” atau ketika mendengar petir bukannya memohon perlindungan pada Allah tetapi malah mengatakan “Tuh, petirnya kencang banget, si Fulan pasti lagi marah nih!!!”. Bukankah Allah-lah yang berkuasa atas semua hal yang terjadi di alam ini??? Perkataan mana yang lebih besar dosanya dari perkataan keji seperti ini?!! Ini perkataan syirik yang dosa syirik itu tidak akan diampuni Allah kecuali dengan menyesali dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi (Taubat Nasuha). Ketahuilah wahai hamba Allah… Sesungguhnya Allah sangat keras siksanya…engkau, aku dan semua makhluk-Nya demi Allah tak akan sabar menjalaninya…. “Ah, kok serius gitu sih ! kami ‘kan hanya main-main kok?” Ketahuilah wahai hamba Allah… Allah berfirman “Dan jika kau tanya mereka tentang ejekan itu maka mereka akan menjawab ‘Sesungguhnya kami hanya senda guaru dan bermain-main’. Katakanlah “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usahlah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman!” (At-Taubah 65-66). Sebab turunnya ayat yang mulia ini ialah karena ada seorang yang pada saat perang Tabuk, maka suatu waktu ia membuat majelis / kumpul-kumpul dan ia bercerita dan berkata “ Aku tidak pernah melihat orang yang lebih buncit perutnya, lebih takut kepada musuh selain ahli baca Al Quran ini (maksudnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya--ridwanullah’alaihim ajma’in-semoga Alah meridhoi mereka semua--yang kita diperintah untuk mengikuti mereka). Maka ketika diadukan pada beliau, maka turunlah ayat ini dan orang tadi terlihat tersandung-sandung karena mengikuti Nabi yang menaiki kendaraannya untuk minta maaf. Lihatlah, wahai hamba Allah!!. Allah-lah yang mengkafirkan mereka dari atas langit ketujuh melalui ayatnya yang mulia. Adakah alasan lain bagi kita untuk mengelak dengan ‘hanya main-main saja’?? Ketahuilah wahai hamba Allah… Allah Maha keras siksa-Nya, akan tetapi Allah mempunyai ampunan yang luas, maka bersegeralah untuk menuju ampunan-Nya. FirmanNya “ Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar 53). Firman Allah “ Bersegeralah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulNya.” (Al Hadid 21). Kesimpulan 1. Marilah kita sama-semua menjaga lidah ini yang merupakan kunci dari semua perkara yang disebutkan dalam hadits di atas. 2. Menjauhi perkataan keji seperti diatas dan yang sejenisnya. 3. Haram kita menghina Rasulullah dan para sahabatnya, dan wajib kita mengikuti cara beragama mereka itu (lihat At-Taubah 100, An-Nisaa 115). 4. Tidak boleh menghina ajaran Islam walau kita belum mampu melaksanakannya. 5. Marilah bersegera untuk mendapatkan ampunan dari Allah dan mendalami Islam ini secara benar, yakni mengikuti sahabat Nabi rodhiyallahu ‘anhum ajma’in. Wallahu a’lam. Maraji’: 1. Al Quran Al Karim 2. Al-Arba’in Imam An-Nawawi 3. Syarh Ushul Tsalatsah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin. 4. Aqidah Islamiyah Syaikh Al-Jibrin [Kontributor : Ahmad As-Salafi, 30 Juni 2003 ]

Related Posts:

Report text

Pengertian Report Text
Istilah report text sering juga dikenal dengan
sebutan informational report . Report, dalam
Concise Oxford Dictionary Edisi 10, diartikan
sebagai 1) an account given of a matter after
investigation or consideration. 2) a piece of
information about an event or situation. Jika
disimpulkan, secara bahasa report text
adalah teks yang berfungsi untuk
memberikan informasi tentang suatu
peristiwa atau situasi, setelah diadakannya
investigasi dan melalui berbagai
pertimbangan.
Definisi report text ini juga hampir mirip
dengan apa yang sering disebutkan dalam
berbagai buku bahasa Inggris di tingkat
menengah, "Report is a text which present
information about something, as it is. It is
as a result of systematic observation and
analyses." [Report adalah sebuah teks yang
menghadirkan informasi tentang suatu hal
secara apa adanya. Teks ini adalah sebagai
hasil dari observasi dan analisa secara
sistematis.]
Dengan demikian, sebenarnya teks report dan
descriptive mempunyai perbedaan yang
cukup jelas, meski nampak keduanya
dikatakan sebagai "saudara kembar"
sekalipun.
Intinya, dalam report text itu biasanya berisi
dengan fakta-fakta yang bisa dibuktikan
secara ilmiah, Oke..
Generic Structure Report
Text .
Seperti halnya dengan descriptive text , Report
text juga hanya memiliki dua struktur umum
[generic structure] yaitu :
1. General Clasification; Pernyataan umum
yang menerangkan subjek laporan,
keterangan, dan klasifikasinya.
2. Description : tells what the phenomenon
under discussion ; in terms of parts,
qualities, habits or behaviors; Pada
bagian ini biasanya memberikan
gambaran fenomena-fenomena yang
terjadi; baik bagian-bagiannya, sifat-
sifatnya, kebiasaannya, ataupun tingkah
lakunya. Intinya adalah penjabaran dari
klasifikasi yang disajikan dengan ilmiah.
Ada juga beberapa keterangan mengenai
generic structure report text, yang meliputi :
1. General information
2. Bundles of Specific Information
General information adalah bagian yang
menyebutkan informasi umum dari tema
tulisan yang. Sedangkan Bundles of specific
information, adalah penjabaran dari informasi
umum tersebut.
Saya sendiri lebih cenderung setuju dengan
generic structure kedua; karena hal ini bisa
membuat siswa lebih paham akan cara
menulis report text.
Tujuan Report Text
Setiap tulisan pasti memiliki tujuan mengapa
tulisan itu ditulis. Begitu juga dengan report
text. Beberapa pakar menyebutkan bahwa
tujuan teks report adalah :
Its social purpose is presenting
information about something. They
generally describe an entire class of
things, whether natural or made:
mammals, the planets, rocks, plants,
countries of region, culture,
transportation, and so on.
Jika disimpulkan, tujuan report text adalah
untuk menyampaikan informasi hasil
pengamatan dan analisa yang sistematis.
Informasi yang dijelaskan dalam report text
biasanya bersifat umum, baik itu alamiah
ataupun buata seperti binatang mamalia,
planet, bebatuan, tumbuh-tumbuhan, negara
bagian, budaya, transportasi, dan lain
sebagainya.
Pola Tata Bahasa dalam
Report Text
Setiap tulisan pasti memiliki ciri bahasa
tersendiri; jika recount text dan narrative text
cenderung memiliki ciri menggunakan simple
past, lalu bagaimana dengan report text? Oke
berikut adalah pola grammar yang umum
digunakan dalam teks report, yang meliputi :
» Use of general nouns, eg hunting dogs,
rather than particular nouns, eg our dog;
» Use of relating verbs to describe features,
eg Molecules are tiny particles;
» Some use of action verbs when describing
behaviour, eg Emus cannot fly;
» Use of timeless present tense to indicate
usualness, eg Tropical cyclones always
begin over the sea;
» Use of technical terms, eg Isobars are lines
drawn on a weather map;
» Use of paragraphs with topic sentences to
organise bundles of information; repeated
naming of the topic as the beginning
focus of the clause.
Keterangan :
» General nouns , maksudnya adalah, suatu
benda (baik itu hidup atau mati) yang
bersifat umum. Coba bandingkan :
Hunting dogs >< My dog. Hunting dogs
bersifat umum; sedangkan my dog bersifat
khusus.
» Relating verbs, dalam grammar disebut
juga dengan linking verbs. Seperti to be
[is, am, are: present], seem, look, taste
dan lain sebagainya.
» Timeless present tense adalah salah satu
penanda waktu dalam simple present
seperti "often, usually, always" dan lain-
lain.
» Technical terms, maksudnya adalah istilah-
istilah yang meliputi teks report tersebut.
Misalnya tentang "music" maka, istilah-
istilah musik harus ada.
Contoh Report Text :
Thanksgiving Day
Thanksgiving or Thanksgiving Day is a
celebration of harvest, thankfulness for peace,
and the attempt of Native Americans. It is
usually celebrated in late autumn.
In the past, Thanksgiving was celebrated for
their rich harvest in New England. In North
America, however, it was originally held to
thank God for their survival in the new land
which was not easy for them. However, in
Canada, it had been celebrated as in New
England. Thanksgiving now is celebrated in
United States of America and in Canada.
Thanksgiving festivals are held every fourth
Thursday of November in the U.S and on the
second Monday of October in Canada. It is
usually celebrated in four to five days in the
North America and for three days in Canada.
It is celebrated through families and friends
gathering to eat and give good luck. Turkey
is the main dish in the thanksgiving dinner.
Thanksgiving parades are also us

Related Posts:

Tanda Kebaikan Islam Seseorang


Posted by admin


Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.(H.R Tirmidzi dan periwayat lainnya). Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung diantara pondasi adab.


Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.(H.R Tirmidzi dan periwayat lainnya). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Al-Arba'in bahwa derajat hadits ini hasan. Syaikh Salim Al-Hilali (Murid Syaikh Al-Albani rahimahullah) dalam kitabnya Shahih Al-Adzkar wa dhi'fuhu bahwa derajatnya shahih lighorihi (shahih karena adanya riwayat yang lainnya). Jadi hadits ini bisa dijadikan dasar untuk beramal. Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung diantara pondasi adab. Beliau mengatakan dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam 'Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya. Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari'at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting ialah meninggalkan yang makruh, samar-samar, bahkan berlebih-lebihan dalam masalah mubah. Imam Ibnu Rajab mengatakan pula Kebanyakan pendapat tentang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna ialah menjaga lisan dari apa-apa yang tidak berguna, seperti umpatan, dll Allah berfirman Tidaklah seseorang mengucapkan sesuatu ucapan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatat(Qaaf: 18). Umar bin Abdul Aziz berkata Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja. Imam An-Nawawi berkata Ketahuilah, setiap mukallaf (orang yang dewasa dan terbebani hukum syari'at) diharuskan untuk menjaga lisannya kecuali untuk hal-hal yang mengandung maslahat/kebaikan. Apabila sama maslahatnya, jika ia berkata ataupun diam, sunnah untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat menjerumuskan seeorang dalam hal-hal yang haram atau makruh, dan ini sering terjadi. Padahal mencari keselamatan itu tak ada bandingannya. Imam Ibnu Qoyyim berkata Menjaga lisan ialah dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia. Apabila hendak berkata, maka hendaknya dipikirkan apakah ada manfaat bagi dien/ agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu? Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak?(Dari kitab Ad-Daa'u wad Dawaa'). Kata beliau juga Adalah sangat mengherankan orang bisa menghindari dari hal-hal yang haram, berzina, mabuk-mabukan, mencuri, memandang hal yang diharamkan, dan lainnya, tetapi sulit menjaga gerakan lisannya. Sampai-sampai ada orang yang dipandang ahli ibadah, zuhud, tetapi ia berbicara dengan ucapan yang tanpa ia sangka telah mendatangkan murka Allah. Ancaman itu sebagaimana dalam hadits Nabi Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (baik/buruk) didalamnya maka ia tergelincir disebabkan kata-katanya itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat (HR.Bukhari Muslim) Seorang 'Alim negeri Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarah Riyadhus Shalihin menasehatkan beberapa hal. Seorang Muslim yang ingin baik Islamnya maka hendaklah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Contohnya, jika engkau bingung, apakah mengerjakan sesuatu atau tidak jadi, maka lihatlah apakah ia mengandung manfaat dalam agamamu dan dunia, atau tidak penting. Jika penting, maka lakukanlah, jika tidak maka tinggalkanlah karena mencari keselamatan harus diutamakan. Demikian pula jangan pula mencampuri urusan orang lain jika kamu tidak ada kepentingan terhadapnya. Janganlah seperti kebanyakan orang hari ini, dimana rasa ingin tahu terhadap masalah yang sedang dibicarakan oleh dua orang mendorongnya untuk mendatangi keduanya itu dan mencampurinya. Termasuk contoh yang kurang baik lagi, jika engkau bertemu dengan seseorang engkau menanyakan Dari mana? atau Mau ke mana?. Sepintas itu hanya pertanyaan 'kepedulian' saja padahal jika orang yang ditanya itu baru saja pulang/ sedang akan ke masjid, atau pengajian, dan ia tidak suka orang mengetahuinya karena takut riya' maka pertanyaan itu justru memojokkannya dan susah untuk dijawabnya padahal ia tidak mau berbohong. Jadi, jika engkau hendak berkata atau beramal, maka pikirkanlah apakah yang engkau lakukan itu bermanfaat bagi urusan agamamu (akhiratmu) atau duniamu. Jika tidak maka tinggalkanlah. Demikianlah manusia berakal, dia senantiasa memperhatikan amal kebaikannya sebagai bekal menghadapi kematian yang pasti datang, baik dari segi keikhlasannya, dan juga dari segi sesuai/ tidaknya dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Sabda beliau Barangsiapa yang beramal yang tidak berdasarkan perintah dari kami maka ia (amal itu) tertolak (Muslim). Alhamdulillahi robbil'alamin. {Ahmad As-Salafi}. [Kontributor : Umar Munawwir, 19 April 2003 ]

Related Posts:

Yahudi, Bangsa yang Tak Pandai Bersyukur

Berulang kali Allah swt. memperingatkan bangsa Yahudi atau Bani Israil agar bersyukur atas nikmat yang telah mereka rasakan. Berulang kali pula mereka diperintah agar benar-benar menjadi bangsa yang beriman dan bertakwa. Seperangkat alat telah mereka miliki. Segudang keistimewaan pun telah mereka kantongi. Namun, apa pun bentuk keistimewaan yang ada pada mereka, tak membuatnya berpikir.
Padahal bila mereka merenungkan apa yang telah teralami pada masa-masa lalunya seharusnya membuat mereka lebih tahu diri. Fir’aun dan tangantangan kanannya kala itu membuat mereka tak berkutik sedikit pun. Dengan kekuasaannya, Fir’aun menjadikan Bani Israil sebagai manusia tak berguna dan hina. Selama mereka hidup di bawah kekuasaan Fir’aun senantiasa hidup dalam siksaan dan penghinaan.
Dalam kondisi seperti itu, Allah swt. mengutus seorang Rasul, Musa As, yang lahir dan tengah-tengah mereka. Musa dengan kekuatan yang dianugrahkan kepadanya mencoba menerobos membongkar segala bentuk kecongkakan Fir’aun dan pembesar-pembesarnya. Tak pelak, mengangkat harkat derajat orang-orang lemah yang mayoritas terdiri dan bangsa Bani Israil.
Ternyata Fir’aun yang sudah kerasukan harta dan tahta, tak membuatnya bergeser sedikit pun dari ajakan dan ancaman Musa sa. Bahkan justru arogansi kekuasaannya semakin menjadi-jadi. 1a bersikeras dan berjanji akan menghabisi siapa saja yang tak mengikuti kehendak nafsunya.
Dengan kesombongannya, ia berkata di depan rakyatnya, “Ya kaumku: Bukankah aku yang berkuasa di Mesir ini? Sungai itu mengalir di bawah pengaruhku. Apakah semua itu tidak kamu lihat Apakah kamu tidak melihat bahwa aku ini lebih baik dan orang yang hina itu? Akibat kesombongan yang sudah maksimal inilah, Allah sedikit memberikan teguran dengan bermacam-macam keanehan yang membuat mereke kewalahan. Nasib tak dapat dipungkiri malang tak dapat dihadang. Adzab pun turun menimpa Mesir dan penduduknya. Demikianlah, jika Allah menurunkan siksa-Nya atas suatu bangsa, ‘semua akan melihatnya bahwa merasakannya tak luput Bani Israil pun ikut terhanyut di dalamnya.
Mesir, yang terkenal subur mamur yang dihiasi dengan tanaman-tanaman mengelilingi serta sungai yang terbentang panjang dan Iebarnya yang mengairi seluruh perkebunan, kini semuanya di luar dugaan Krisis ekonomi mulai merebak, persediaan makanan pun berkurang. sungai Nil yang berabad-abad mengalir menjadi kering, sehingga tak dapat lagi memenuhi kebutuhan tanaman dan perkebunan. Kematian dari hari ke hari mulai meningkat.
Kondisi yang demikian parahnya ditambah lagi dengan topan hujan yang cukup dahsyat. Bukan untuk mengairi sungai dan tanaman, tetapi untuk menambah kesengsaraan mereka. Tak cukup sekedar itu, Allah menurunkan lagi belalang dan kutu-kutu yang membuat mereka geli dan lebih ketakutan, sehingga tak terdapat satu rumput pun yang mau hidup.
Tak ada istilah kepalang bagi Allah, Ia menurunkan lagi katak-katak dengan jumlah yang tak mungkin terhitung. Kutu-kutu, belalang dan katak-katak membanjirii rumah-rumah mereka. Dan mulai dapur hingga tempat tidur tak pelak dihuni oleh binatang-binatang kecil yang sering disepelekan orang. Akhirnya bermacam penyakit pun tak dapat dihindari. Mereka tak kuasa menahan siksa seperti ini. Mulutnya mengeluarkan darah serta hidungnya bercucurah nanah.
Kala itulah sebagian besar Bani Israil menghadap kepada Musa sambil memohon agar ia berdo’a kepada Tuhannya untuk keselamatan mereka. “jika engkau dapat menghilangkan siksa yang cukup hebat ini dengan do’amu itu, kami akan beniman kepadamu dan golongan Bani Israil akan bersama-sama denganmu.” Janji mereka kepada Musa.
Musa sebagai orang pembela kaum lemah terhenyut dadanya. Percaya penuh bahwa mereka benar-benar sadar dan insaf. Benar-benar akan beriman dan menyembah Allah. Ia pun berdo’a agar segala apa yang menimpa mereka sebagai siksa dihentikan Do’a Musa pun dikabulkan.
Selanjutnya Musa membawa bangsa Bani Israil ke tempat-tempat yang lebih aman tentram setelah lepas dan kelaran Fir’aun dan balatentaranya. Hingga Sampailah di sebuah daerah, Thur Sina, di ujung sebelah Utara Lautan Merah. Di sini Musa berharap agar kehidupan mereka berjalan dengan baik jauh dan kekacauan dan senantiasa ada dalam aturan. Karenanya Musa memohon kepada Allah agar diturunkan kepadanya sebuah Kitab sebagal pedoman hidup Bani Israil yang ada di bawah bimbingannya.
Permohonan Musa pun dikabulkannya namun dengan syarat ia harus menemul Tuhannya di puncak gunung Thur Sina. Akhirnya Musa pun berangkat dengan memerintahkan terlebih dahulu 70 orang dan mereka agar berangkat lebih dahulu. Ia akan menyusul di belakang. Tak lupa ia pun memberikan amanat kepada saudaranya yang sama-sama sebagi nabi Allah, yaitu: Harun As. agar menjaga kaum yang ditinggalkan.
Ternyata dari hari ke hari kaum yang ditinggalkannya mulai merasa ragu akan kepulangannya kembali Musa ke tempat meraka. Harun mencoba menasihatinya agar mereka benar-benar percaya dan bersabar. Ternyata dalam keadaan seperti inilah dimanfaatkan oleh Samiri salah seorang pengikut yang berhati buruk dan pandai bicara.
Samiri dengan keahliannya membuat patung anak sapi jantan mempengaruhi kelemahan teman-temannya dan akhirnya cita-cita Samiri terlaksanakan juga. Patung tersebut disembah, dan itulah Tuhan kata mereka sebagai keberhasilan Samiri. Ditambah lagi dengan sihirnya, patung itu dapat bersuara. Semakin sesatlah Bani Israil yang ditinggalkan Nabi Musa kala itu.
“Hai kaumku, kamu telah difirnah dengan adanya patung itu. Tuhanmu yang sebenarnya adalah Ar-Rahman, ikutilah akan kataku dan taatilah akan perintahku.” Harun mencoba memperingatkan merek
Peringatan Harun ini dijawab serentak oleh mereka, “Kami tidak aka berhenti menyembahnya, sampai datangnya Musa kembali kepada kami.”
Harun terus menasihati terutama terhadap mereka yang belum tersesat. Dan ia pun mulal khawatir terjadi kekacauai antara yang setia dan yang tidak.
Musa yang sedang beribadah d hadapan Tuhannya segera mendapat wahyu tentang kondisi kaumnya. Selama ditinggalkan empat puluh hani, banyak yang bergeser ke arah yang sesat. Akhirnya dengan segera Musa kembali menemui kaumnya. Dengan mukanya yang merah-padam gelora amarahnya muncul ternyata kaumnya sedang menari-nari sambil mengelilingi patung yang mereka sembah.
“Kenapa engkau biarkan mereka sesat seperti ini, mengapa engkau tidak menjalankan apa yang sudah kuperintahkan, tidakkah engkau padamkan api yang sedang bergejolak yang menimbulkan kejahatan dan kekafiran?” Tukas Musa kepada Harun sambil memegang kepala dan janggutnya.
Setelah terjadi dialog antara Musa dan Harun, akhirnya Musa menanyakan apa maksud tindakan Samiri yang telah menyesatkan ini. Dengan lantangnya Samiri menjawab, “Saya mendapat akal yang tidak diperoleh mereka. Kuambil sekepal tanah bekas jejak rasul, IaIu kutiupkan dengan kepandaian sihirku, karena demikianlah yang disenangi oleh nafsuku.”
Selain Samiri, akhirnya mereka juga diperintahkan membunuh diri mereka sendiri sebagai syarat tobat mereka. hal ini dinyatakan jelas dalam firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik di sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu.Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang.” (QS. AI-Baqarah: 54).
Sebagian orang menafsirkan bahwa “membunuh dirimu” dalam ayat di atas adalah orang-orang yang tidak menyembah anak sapi itu membunuh orang yang menyembahnya. Ada pula yang mengartikan orang yang menyembah patung tersebut saling membunuh diantara mereka, dan ada pula yang mengartikan mereka disuruh membunuh diri mereka sendiri untuk bertaubat. (AI-Quran dan Tarjamahnya).
Mengambil Ibrah
Bani Israil merupakan suatu bangsa yang banyak menerima kelebihan dibanding bangsa lainnya. Salah satunya adalah banyak para nabi dan rasul ditengah-tengah mereka, nabi Musa dan Harun di antaranya. Namun sayangnya mereka hanya butuh pimpinan dan bimbingan tapi tak butuh aturan terlebih lagi yang bertentangan dengan kehendak mereka.
Bangsa dan golongan manusia manapun manakala mereka ingkar terhadap kebenaran akan menerima azab langsung atau tidak. Terlebih lagi bila para penguasanya memperlihatkan arogansi kekuasaan dan kekuatannya maka semakin membuka lebar adzab tiba.
Taubat nasional dalam ukuran tertentu merupakan keharusan manakala mayoritas sebuah penduduk berharap taubat. ini dapat-terambil dan taubatnya orang-orang yang menyembah patung anak sapi tersebut. Mereka serentak bertaubat kecuali Samiri.
Dalam situasi dan kondisi masyarakat resah dan banyak keraguan, akan ada orang-orang yang bermental Samiri. Mereka akan membuat situasi semakin parah dan tak menentu. Biasanya mereka terdiri dan orang-orang yang pandai bicara dan pandai merayu yang kemudian memotivasi orang lain agar mengikuti kehendaknya yang menyesatkan

Related Posts: