Report text

Pengertian Report Text
Istilah report text sering juga dikenal dengan
sebutan informational report . Report, dalam
Concise Oxford Dictionary Edisi 10, diartikan
sebagai 1) an account given of a matter after
investigation or consideration. 2) a piece of
information about an event or situation. Jika
disimpulkan, secara bahasa report text
adalah teks yang berfungsi untuk
memberikan informasi tentang suatu
peristiwa atau situasi, setelah diadakannya
investigasi dan melalui berbagai
pertimbangan.
Definisi report text ini juga hampir mirip
dengan apa yang sering disebutkan dalam
berbagai buku bahasa Inggris di tingkat
menengah, "Report is a text which present
information about something, as it is. It is
as a result of systematic observation and
analyses." [Report adalah sebuah teks yang
menghadirkan informasi tentang suatu hal
secara apa adanya. Teks ini adalah sebagai
hasil dari observasi dan analisa secara
sistematis.]
Dengan demikian, sebenarnya teks report dan
descriptive mempunyai perbedaan yang
cukup jelas, meski nampak keduanya
dikatakan sebagai "saudara kembar"
sekalipun.
Intinya, dalam report text itu biasanya berisi
dengan fakta-fakta yang bisa dibuktikan
secara ilmiah, Oke..
Generic Structure Report
Text .
Seperti halnya dengan descriptive text , Report
text juga hanya memiliki dua struktur umum
[generic structure] yaitu :
1. General Clasification; Pernyataan umum
yang menerangkan subjek laporan,
keterangan, dan klasifikasinya.
2. Description : tells what the phenomenon
under discussion ; in terms of parts,
qualities, habits or behaviors; Pada
bagian ini biasanya memberikan
gambaran fenomena-fenomena yang
terjadi; baik bagian-bagiannya, sifat-
sifatnya, kebiasaannya, ataupun tingkah
lakunya. Intinya adalah penjabaran dari
klasifikasi yang disajikan dengan ilmiah.
Ada juga beberapa keterangan mengenai
generic structure report text, yang meliputi :
1. General information
2. Bundles of Specific Information
General information adalah bagian yang
menyebutkan informasi umum dari tema
tulisan yang. Sedangkan Bundles of specific
information, adalah penjabaran dari informasi
umum tersebut.
Saya sendiri lebih cenderung setuju dengan
generic structure kedua; karena hal ini bisa
membuat siswa lebih paham akan cara
menulis report text.
Tujuan Report Text
Setiap tulisan pasti memiliki tujuan mengapa
tulisan itu ditulis. Begitu juga dengan report
text. Beberapa pakar menyebutkan bahwa
tujuan teks report adalah :
Its social purpose is presenting
information about something. They
generally describe an entire class of
things, whether natural or made:
mammals, the planets, rocks, plants,
countries of region, culture,
transportation, and so on.
Jika disimpulkan, tujuan report text adalah
untuk menyampaikan informasi hasil
pengamatan dan analisa yang sistematis.
Informasi yang dijelaskan dalam report text
biasanya bersifat umum, baik itu alamiah
ataupun buata seperti binatang mamalia,
planet, bebatuan, tumbuh-tumbuhan, negara
bagian, budaya, transportasi, dan lain
sebagainya.
Pola Tata Bahasa dalam
Report Text
Setiap tulisan pasti memiliki ciri bahasa
tersendiri; jika recount text dan narrative text
cenderung memiliki ciri menggunakan simple
past, lalu bagaimana dengan report text? Oke
berikut adalah pola grammar yang umum
digunakan dalam teks report, yang meliputi :
» Use of general nouns, eg hunting dogs,
rather than particular nouns, eg our dog;
» Use of relating verbs to describe features,
eg Molecules are tiny particles;
» Some use of action verbs when describing
behaviour, eg Emus cannot fly;
» Use of timeless present tense to indicate
usualness, eg Tropical cyclones always
begin over the sea;
» Use of technical terms, eg Isobars are lines
drawn on a weather map;
» Use of paragraphs with topic sentences to
organise bundles of information; repeated
naming of the topic as the beginning
focus of the clause.
Keterangan :
» General nouns , maksudnya adalah, suatu
benda (baik itu hidup atau mati) yang
bersifat umum. Coba bandingkan :
Hunting dogs >< My dog. Hunting dogs
bersifat umum; sedangkan my dog bersifat
khusus.
» Relating verbs, dalam grammar disebut
juga dengan linking verbs. Seperti to be
[is, am, are: present], seem, look, taste
dan lain sebagainya.
» Timeless present tense adalah salah satu
penanda waktu dalam simple present
seperti "often, usually, always" dan lain-
lain.
» Technical terms, maksudnya adalah istilah-
istilah yang meliputi teks report tersebut.
Misalnya tentang "music" maka, istilah-
istilah musik harus ada.
Contoh Report Text :
Thanksgiving Day
Thanksgiving or Thanksgiving Day is a
celebration of harvest, thankfulness for peace,
and the attempt of Native Americans. It is
usually celebrated in late autumn.
In the past, Thanksgiving was celebrated for
their rich harvest in New England. In North
America, however, it was originally held to
thank God for their survival in the new land
which was not easy for them. However, in
Canada, it had been celebrated as in New
England. Thanksgiving now is celebrated in
United States of America and in Canada.
Thanksgiving festivals are held every fourth
Thursday of November in the U.S and on the
second Monday of October in Canada. It is
usually celebrated in four to five days in the
North America and for three days in Canada.
It is celebrated through families and friends
gathering to eat and give good luck. Turkey
is the main dish in the thanksgiving dinner.
Thanksgiving parades are also us

Related Posts:

Tanda Kebaikan Islam Seseorang


Posted by admin


Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.(H.R Tirmidzi dan periwayat lainnya). Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung diantara pondasi adab.


Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda: Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.(H.R Tirmidzi dan periwayat lainnya). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Al-Arba'in bahwa derajat hadits ini hasan. Syaikh Salim Al-Hilali (Murid Syaikh Al-Albani rahimahullah) dalam kitabnya Shahih Al-Adzkar wa dhi'fuhu bahwa derajatnya shahih lighorihi (shahih karena adanya riwayat yang lainnya). Jadi hadits ini bisa dijadikan dasar untuk beramal. Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung diantara pondasi adab. Beliau mengatakan dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam 'Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya. Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari'at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting ialah meninggalkan yang makruh, samar-samar, bahkan berlebih-lebihan dalam masalah mubah. Imam Ibnu Rajab mengatakan pula Kebanyakan pendapat tentang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna ialah menjaga lisan dari apa-apa yang tidak berguna, seperti umpatan, dll Allah berfirman Tidaklah seseorang mengucapkan sesuatu ucapan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatat(Qaaf: 18). Umar bin Abdul Aziz berkata Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja. Imam An-Nawawi berkata Ketahuilah, setiap mukallaf (orang yang dewasa dan terbebani hukum syari'at) diharuskan untuk menjaga lisannya kecuali untuk hal-hal yang mengandung maslahat/kebaikan. Apabila sama maslahatnya, jika ia berkata ataupun diam, sunnah untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat menjerumuskan seeorang dalam hal-hal yang haram atau makruh, dan ini sering terjadi. Padahal mencari keselamatan itu tak ada bandingannya. Imam Ibnu Qoyyim berkata Menjaga lisan ialah dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia. Apabila hendak berkata, maka hendaknya dipikirkan apakah ada manfaat bagi dien/ agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu? Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak?(Dari kitab Ad-Daa'u wad Dawaa'). Kata beliau juga Adalah sangat mengherankan orang bisa menghindari dari hal-hal yang haram, berzina, mabuk-mabukan, mencuri, memandang hal yang diharamkan, dan lainnya, tetapi sulit menjaga gerakan lisannya. Sampai-sampai ada orang yang dipandang ahli ibadah, zuhud, tetapi ia berbicara dengan ucapan yang tanpa ia sangka telah mendatangkan murka Allah. Ancaman itu sebagaimana dalam hadits Nabi Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (baik/buruk) didalamnya maka ia tergelincir disebabkan kata-katanya itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat (HR.Bukhari Muslim) Seorang 'Alim negeri Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarah Riyadhus Shalihin menasehatkan beberapa hal. Seorang Muslim yang ingin baik Islamnya maka hendaklah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Contohnya, jika engkau bingung, apakah mengerjakan sesuatu atau tidak jadi, maka lihatlah apakah ia mengandung manfaat dalam agamamu dan dunia, atau tidak penting. Jika penting, maka lakukanlah, jika tidak maka tinggalkanlah karena mencari keselamatan harus diutamakan. Demikian pula jangan pula mencampuri urusan orang lain jika kamu tidak ada kepentingan terhadapnya. Janganlah seperti kebanyakan orang hari ini, dimana rasa ingin tahu terhadap masalah yang sedang dibicarakan oleh dua orang mendorongnya untuk mendatangi keduanya itu dan mencampurinya. Termasuk contoh yang kurang baik lagi, jika engkau bertemu dengan seseorang engkau menanyakan Dari mana? atau Mau ke mana?. Sepintas itu hanya pertanyaan 'kepedulian' saja padahal jika orang yang ditanya itu baru saja pulang/ sedang akan ke masjid, atau pengajian, dan ia tidak suka orang mengetahuinya karena takut riya' maka pertanyaan itu justru memojokkannya dan susah untuk dijawabnya padahal ia tidak mau berbohong. Jadi, jika engkau hendak berkata atau beramal, maka pikirkanlah apakah yang engkau lakukan itu bermanfaat bagi urusan agamamu (akhiratmu) atau duniamu. Jika tidak maka tinggalkanlah. Demikianlah manusia berakal, dia senantiasa memperhatikan amal kebaikannya sebagai bekal menghadapi kematian yang pasti datang, baik dari segi keikhlasannya, dan juga dari segi sesuai/ tidaknya dengan yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Sabda beliau Barangsiapa yang beramal yang tidak berdasarkan perintah dari kami maka ia (amal itu) tertolak (Muslim). Alhamdulillahi robbil'alamin. {Ahmad As-Salafi}. [Kontributor : Umar Munawwir, 19 April 2003 ]

Related Posts:

Yahudi, Bangsa yang Tak Pandai Bersyukur

Berulang kali Allah swt. memperingatkan bangsa Yahudi atau Bani Israil agar bersyukur atas nikmat yang telah mereka rasakan. Berulang kali pula mereka diperintah agar benar-benar menjadi bangsa yang beriman dan bertakwa. Seperangkat alat telah mereka miliki. Segudang keistimewaan pun telah mereka kantongi. Namun, apa pun bentuk keistimewaan yang ada pada mereka, tak membuatnya berpikir.
Padahal bila mereka merenungkan apa yang telah teralami pada masa-masa lalunya seharusnya membuat mereka lebih tahu diri. Fir’aun dan tangantangan kanannya kala itu membuat mereka tak berkutik sedikit pun. Dengan kekuasaannya, Fir’aun menjadikan Bani Israil sebagai manusia tak berguna dan hina. Selama mereka hidup di bawah kekuasaan Fir’aun senantiasa hidup dalam siksaan dan penghinaan.
Dalam kondisi seperti itu, Allah swt. mengutus seorang Rasul, Musa As, yang lahir dan tengah-tengah mereka. Musa dengan kekuatan yang dianugrahkan kepadanya mencoba menerobos membongkar segala bentuk kecongkakan Fir’aun dan pembesar-pembesarnya. Tak pelak, mengangkat harkat derajat orang-orang lemah yang mayoritas terdiri dan bangsa Bani Israil.
Ternyata Fir’aun yang sudah kerasukan harta dan tahta, tak membuatnya bergeser sedikit pun dari ajakan dan ancaman Musa sa. Bahkan justru arogansi kekuasaannya semakin menjadi-jadi. 1a bersikeras dan berjanji akan menghabisi siapa saja yang tak mengikuti kehendak nafsunya.
Dengan kesombongannya, ia berkata di depan rakyatnya, “Ya kaumku: Bukankah aku yang berkuasa di Mesir ini? Sungai itu mengalir di bawah pengaruhku. Apakah semua itu tidak kamu lihat Apakah kamu tidak melihat bahwa aku ini lebih baik dan orang yang hina itu? Akibat kesombongan yang sudah maksimal inilah, Allah sedikit memberikan teguran dengan bermacam-macam keanehan yang membuat mereke kewalahan. Nasib tak dapat dipungkiri malang tak dapat dihadang. Adzab pun turun menimpa Mesir dan penduduknya. Demikianlah, jika Allah menurunkan siksa-Nya atas suatu bangsa, ‘semua akan melihatnya bahwa merasakannya tak luput Bani Israil pun ikut terhanyut di dalamnya.
Mesir, yang terkenal subur mamur yang dihiasi dengan tanaman-tanaman mengelilingi serta sungai yang terbentang panjang dan Iebarnya yang mengairi seluruh perkebunan, kini semuanya di luar dugaan Krisis ekonomi mulai merebak, persediaan makanan pun berkurang. sungai Nil yang berabad-abad mengalir menjadi kering, sehingga tak dapat lagi memenuhi kebutuhan tanaman dan perkebunan. Kematian dari hari ke hari mulai meningkat.
Kondisi yang demikian parahnya ditambah lagi dengan topan hujan yang cukup dahsyat. Bukan untuk mengairi sungai dan tanaman, tetapi untuk menambah kesengsaraan mereka. Tak cukup sekedar itu, Allah menurunkan lagi belalang dan kutu-kutu yang membuat mereka geli dan lebih ketakutan, sehingga tak terdapat satu rumput pun yang mau hidup.
Tak ada istilah kepalang bagi Allah, Ia menurunkan lagi katak-katak dengan jumlah yang tak mungkin terhitung. Kutu-kutu, belalang dan katak-katak membanjirii rumah-rumah mereka. Dan mulai dapur hingga tempat tidur tak pelak dihuni oleh binatang-binatang kecil yang sering disepelekan orang. Akhirnya bermacam penyakit pun tak dapat dihindari. Mereka tak kuasa menahan siksa seperti ini. Mulutnya mengeluarkan darah serta hidungnya bercucurah nanah.
Kala itulah sebagian besar Bani Israil menghadap kepada Musa sambil memohon agar ia berdo’a kepada Tuhannya untuk keselamatan mereka. “jika engkau dapat menghilangkan siksa yang cukup hebat ini dengan do’amu itu, kami akan beniman kepadamu dan golongan Bani Israil akan bersama-sama denganmu.” Janji mereka kepada Musa.
Musa sebagai orang pembela kaum lemah terhenyut dadanya. Percaya penuh bahwa mereka benar-benar sadar dan insaf. Benar-benar akan beriman dan menyembah Allah. Ia pun berdo’a agar segala apa yang menimpa mereka sebagai siksa dihentikan Do’a Musa pun dikabulkan.
Selanjutnya Musa membawa bangsa Bani Israil ke tempat-tempat yang lebih aman tentram setelah lepas dan kelaran Fir’aun dan balatentaranya. Hingga Sampailah di sebuah daerah, Thur Sina, di ujung sebelah Utara Lautan Merah. Di sini Musa berharap agar kehidupan mereka berjalan dengan baik jauh dan kekacauan dan senantiasa ada dalam aturan. Karenanya Musa memohon kepada Allah agar diturunkan kepadanya sebuah Kitab sebagal pedoman hidup Bani Israil yang ada di bawah bimbingannya.
Permohonan Musa pun dikabulkannya namun dengan syarat ia harus menemul Tuhannya di puncak gunung Thur Sina. Akhirnya Musa pun berangkat dengan memerintahkan terlebih dahulu 70 orang dan mereka agar berangkat lebih dahulu. Ia akan menyusul di belakang. Tak lupa ia pun memberikan amanat kepada saudaranya yang sama-sama sebagi nabi Allah, yaitu: Harun As. agar menjaga kaum yang ditinggalkan.
Ternyata dari hari ke hari kaum yang ditinggalkannya mulai merasa ragu akan kepulangannya kembali Musa ke tempat meraka. Harun mencoba menasihatinya agar mereka benar-benar percaya dan bersabar. Ternyata dalam keadaan seperti inilah dimanfaatkan oleh Samiri salah seorang pengikut yang berhati buruk dan pandai bicara.
Samiri dengan keahliannya membuat patung anak sapi jantan mempengaruhi kelemahan teman-temannya dan akhirnya cita-cita Samiri terlaksanakan juga. Patung tersebut disembah, dan itulah Tuhan kata mereka sebagai keberhasilan Samiri. Ditambah lagi dengan sihirnya, patung itu dapat bersuara. Semakin sesatlah Bani Israil yang ditinggalkan Nabi Musa kala itu.
“Hai kaumku, kamu telah difirnah dengan adanya patung itu. Tuhanmu yang sebenarnya adalah Ar-Rahman, ikutilah akan kataku dan taatilah akan perintahku.” Harun mencoba memperingatkan merek
Peringatan Harun ini dijawab serentak oleh mereka, “Kami tidak aka berhenti menyembahnya, sampai datangnya Musa kembali kepada kami.”
Harun terus menasihati terutama terhadap mereka yang belum tersesat. Dan ia pun mulal khawatir terjadi kekacauai antara yang setia dan yang tidak.
Musa yang sedang beribadah d hadapan Tuhannya segera mendapat wahyu tentang kondisi kaumnya. Selama ditinggalkan empat puluh hani, banyak yang bergeser ke arah yang sesat. Akhirnya dengan segera Musa kembali menemui kaumnya. Dengan mukanya yang merah-padam gelora amarahnya muncul ternyata kaumnya sedang menari-nari sambil mengelilingi patung yang mereka sembah.
“Kenapa engkau biarkan mereka sesat seperti ini, mengapa engkau tidak menjalankan apa yang sudah kuperintahkan, tidakkah engkau padamkan api yang sedang bergejolak yang menimbulkan kejahatan dan kekafiran?” Tukas Musa kepada Harun sambil memegang kepala dan janggutnya.
Setelah terjadi dialog antara Musa dan Harun, akhirnya Musa menanyakan apa maksud tindakan Samiri yang telah menyesatkan ini. Dengan lantangnya Samiri menjawab, “Saya mendapat akal yang tidak diperoleh mereka. Kuambil sekepal tanah bekas jejak rasul, IaIu kutiupkan dengan kepandaian sihirku, karena demikianlah yang disenangi oleh nafsuku.”
Selain Samiri, akhirnya mereka juga diperintahkan membunuh diri mereka sendiri sebagai syarat tobat mereka. hal ini dinyatakan jelas dalam firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik di sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu.Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang.” (QS. AI-Baqarah: 54).
Sebagian orang menafsirkan bahwa “membunuh dirimu” dalam ayat di atas adalah orang-orang yang tidak menyembah anak sapi itu membunuh orang yang menyembahnya. Ada pula yang mengartikan orang yang menyembah patung tersebut saling membunuh diantara mereka, dan ada pula yang mengartikan mereka disuruh membunuh diri mereka sendiri untuk bertaubat. (AI-Quran dan Tarjamahnya).
Mengambil Ibrah
Bani Israil merupakan suatu bangsa yang banyak menerima kelebihan dibanding bangsa lainnya. Salah satunya adalah banyak para nabi dan rasul ditengah-tengah mereka, nabi Musa dan Harun di antaranya. Namun sayangnya mereka hanya butuh pimpinan dan bimbingan tapi tak butuh aturan terlebih lagi yang bertentangan dengan kehendak mereka.
Bangsa dan golongan manusia manapun manakala mereka ingkar terhadap kebenaran akan menerima azab langsung atau tidak. Terlebih lagi bila para penguasanya memperlihatkan arogansi kekuasaan dan kekuatannya maka semakin membuka lebar adzab tiba.
Taubat nasional dalam ukuran tertentu merupakan keharusan manakala mayoritas sebuah penduduk berharap taubat. ini dapat-terambil dan taubatnya orang-orang yang menyembah patung anak sapi tersebut. Mereka serentak bertaubat kecuali Samiri.
Dalam situasi dan kondisi masyarakat resah dan banyak keraguan, akan ada orang-orang yang bermental Samiri. Mereka akan membuat situasi semakin parah dan tak menentu. Biasanya mereka terdiri dan orang-orang yang pandai bicara dan pandai merayu yang kemudian memotivasi orang lain agar mengikuti kehendaknya yang menyesatkan

Related Posts:

Lima S

5 (Lima) S K.H. Abdullah Gymnastiar

Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.
Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.
Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?
S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?
S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?
S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.
S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?
Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.
Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.***

Related Posts:

Investasi paling menguntungkan


investasi akhirat

وَابْتَغِ فِيْمَا ءَاتَاكَ اللهُ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا.... (القصص: 77)
        Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan negeri akhirat), dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi....”

Demi masa depan lebih baik, keturunan dan hari tua, manusia menumpuk-numpuk kekayaan hasil usahanya, padahal belum tentu dapat dinikmatinya. Namun manusia kadang tak mengenal waktu ia terus berusaha sekuat tenaga untuk menggapainya.
Sebenarnya Allah Yang Maha Pemberi rizqi sama sekali tidak melarang manusia berbuat demikian untuk mencukupi hajat kebutuhannya. Justru Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar tidak lupa diri bahwa ada bagian rizqi yang harus dicarinya yang telah tersedia di dunia ini. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Qashash ayat 77:
Bahkan sekalipun setelah melaksanakn peribadatan, manusia tetap disuruh untuk kembali bekerja tidak diam dan bertopeng dagu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al-Jum’ah ayat 10:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوْا فىِ اْلأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (الجمعة: 10)
        Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”
        Dua ayat di atas menegaskan, agar hamba-hamba-Nya selain mencari rizqi guna memenuhi kebutuhan hidup ini, yang lebih prioritas lagi adalah mengutamakan kehidupan akhirat. Jadi sangat kurang tepat jika ada ungkapan “carilah dunia tapi jangan lupa akhirat”, seharusnya adalah “carilah akhirat tapi jangan lupa dunia.” Ungkapan yang kedua ini mengajarkan kepada kita hakikat keseimbangan.
Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, semestinya kita menyadari, bahwa kehidupan ini hanya kita alami sekali saja dan sangat sementara. Kehidupan dunia laksana pedang bermata dua, di mana satu mata ketajamannya siap menghancurkan diri kita hingga sehancur-hancurnya dan satu mata lagi ketajamannya siap kita perintah untuk memberikan manfaat yang besar kepada kita. Jika kita pandai mengendalikan pedang bermata dua tadi, maka kita akan selamat, dan jika kita salah mengendalikannya maka pedang tadi akan menebas pemiliknya.
Kita jangan silau oleh gemerlapannya kehidupan dunia yang begitu indah dan sangat menggiurkan, lantas kita melupakan Allah dan kehidupan akhirat yang kekal. Allah mengingatkan kita dalam surat Al-Munafiquun ayat 9:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ....(المنافقون: 9)
        Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah....”
        Kita biasanya akan merasa rugi jika saja kita kehilangan investasi, orang rela berebut untuk memenangkan tender sebuah proyek yang belum tentu hasilnya apakah bisa dinikmati atau tidak. Tapi kita tidak pernah merasa lebih rugi jika saja kita kehilangan investasi akhirat, yang nyata-nyata hasilnya akan dapat dirasakan di hari pembalasan nanti.
        Agar harta yang kita miliki tidak rugi, maka kita harus berinvestasi, tentunya investasi yang lebih menguntungkan, baik untuk sekarang di dunia maupun kelak di akhirat. banyak cara untuk berinvestasi yang berlipat ganda keuntungannya ini, jika kita berharta maka prosedurnya semisal shadaqah, zakat, infak dll. Jika tidak memiliki harta  yang cukup, kita bisa berinvestasi dengan apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan bersama, atau setidaknya dengan dorongan doa kepada sesama inipun investasi. 
        Jika pada hari ini kita diberi kelebihan rizqi jangan ragu-ragu, yakinlah sepenuhnya kepada Allah bahwa setiap yang kita kleuarkan akan diganti berlipat-lipat sekarang di dunia maupun nanti di akhirat. Itulah sebaik-baik berinvestasi.
       

Related Posts: