HIDUP MAH PEURIH :')



Ujian akhir madrasah telah berakhir tepat hari ini. Sebelumnya, ada ujian yang tak kalah pentingnya, yaitu Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional. Namun lebih jauh sebelum itu, aku telah mengenal yang namanya ujian hidup. Ujian yang pada dasarya setiap orang pasti pernah atau sedang mengalaminya. Termasuk aku.
Aku terlahir dari keluarga sederhana. Kehidupan keluargaku dimulai dari nol. Latar belakang pendidikan kedua orang tuaku yang hanya lulusan SD&SMP membuat sulit menggarap sebuah keahlian kerja. Namun karena pengalaman keduanya yang sangat luar biasa, akhirnya mereka merintis usaha konveksi dari nol. Dimulai dengan bekerja berdua, lalu satu persatu pekerja mulai dibutuhkan hingga saat puncak keemasan perekonomian keluarga kami dengan memiliki 50 orang karyawan terampil.
Pesanan demi pesanan membanjiri usaha keluarga kami. Hingga kewalahan dibuatnya. Puluhan juta rupiah nyaris tak terhitung berada di dompet ibuku setiap minggunya. Hingga apapun yang aku inginkan dan apapun yang aku butuhkan pasti selalu dikabulkan. Saat itu usiaku setara dengan anak sekolah dasar. Puncak keemasan ini berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya orang tuaku dapat menghajikan nenek & kakek, lalu tahun berikutnya mereka berdua yang dipanggil Allah ke tanah suci.
Terhitung saat usiaku 12 tahun, keadaan perlahan berubah. Musibah menimpa dan cobaan datang silih berganti. Mulai dari kegagalan pembuatan pesanan, orderan mulai sepi, hingga satu persatu karyawan mengundurkan diri karena upah yang tidak sesuai lagi. Begitu terus hingga aku menduduki bangku MTs. dan sekarang di MA.
Karyawan tinggal 3 orang, orderanpun tak menentu. Uang yang belasan tahun lalu mencapai puluhan juta di dompet, kini hanya puluhan ribu perminggunya. Miris. Iya. Sampai pada puncak ini, 3 tahun kebelakang, aku mulai merintih usaha kecil-kecilan demi untuk tambahan uang jajan atau sekedar memenuhi nafsu belanjaku. Berjualan coklat, kerudung, manset, hingga baju rajutan. Aku menjalani semua itu dengan senang karena masih banyak peminatnya.
Minimnya modal, membuatku kesulitan untuk merintih lagi usahaku. Hingga jutaan rupiah aku pinjam dari kas ibuku untuk kujadikan modal awal usaha coklat yang lebih besar dan manset. Alhamdulillah dibulan pertama, keuntunganku melimpah 3x lipat dari modal yang ku dapatkan. Optimis merintis usaha ini lebih serius.
Roda berputar, layaknya para pedagang pada umumnya. Untung rugi itu biasa, dan rezeki itu sudah diatur. Hingga saat ini menginjak kelas 3 semester akhir, di musim ujian sekolah/madrasah nasional, disaat inilah semuanya begitu berat kurasakan. Pinjaman uang jutaan rupiah dari ibu, belum bisa aku bayar, karena banyak yang membeli barangku dengan cara ‘kredit’ yang hingga kini belum dilunasi oleh pembeli, barang dagangan senilai 500rb hilang, bahan untuk membuat manset gagal senilai 300rb, bahan coklat yang terlalu lama disimpan dan meleleh senilai 350rb. Semua itu hilang begitu saja.
Jujur, kurasa ini berat sekali. Bagaimana aku membayar pinjamanku pada ibu, apabila dalam usahaku sendiri aku mengalami kerugian yang cukup besar. Belum lagi, keadaanku sekarang sedang melaksanakan ujian-ujian sekolah hingga April nanti. Yang membuatku lebih tersayat adalah, keadaan ekonomi keluargaku yang semakin memburuk. Ibu selalu mengeluh akan pesanan yang tak kunjung datang, mengeluh akan piutang yang ada di pemborong yang tak kunjung dilunasi.
Ibu selalu mencurahkan isi hatinya padaku, anak perempuan satu-satunya. Setiap hari aku dengarkan keluhannya, dari mana uang untuk membeli makan, untuk membayar spp, untuk membayar listrik dan air, untuk membayar pinjaman ke bank, untuk membayar karyawan, untuk bekalku sehari-hari?. Setiap hari ibu tak pernah absen menceritakan semua itu padaku. Hingga hatiku terenyuh, batinku tersiksa, jiwaku stress, pikiranku kacau.
Bahkan, suatu hari ibu pernah meminta suatu hal padaku yang membuat hatiku ini semakin tersayat. beliau meminta padaku untuk mendaftarkan dirinya jadi ‘tukang sapu jalan’ di depan masjid Agung kepada bapak Ridwan Kamil. Kondisi saat itu malam hari sebelum tidur, saat ia  berkata begitu aku pura-pura tidur sehingga aku tak perlu menampakan air mataku dihadapannya. Batinku berteriak, marah pada keadaan.
Terpikir selalu akan keluhan ekonomi keluarga yang selalu di lontarkan ibu. Memang benar, keadaan ini sangat menyiksaku. Namun aku sangat paham, bagaimana rasa sulitnya mengumpulkan rupiah-demi rupiah. Karena aku sendiripun pernah mengalaminya. Sungguh Allah Planner terbaik atas segalanya. Ini jalan Allah, menakdirkanku untuk terjun ke dunia bisnis sejak 4 tahun lalu. Dan kini aku rasakan, disinilah proses pendewasaanku. Keadaan seperti ini memaksaku untuk tegar.
Uang bekal yang sekarang diberikan hanyalah setengahnya dari uang bekalku saat masih MTs lalu. Sungguh aku dituntut untuk memanage uang dengan apik. Hingga batinku menggeliat. Aku semakin marah pada keadaan. Posisiku saat ini sangatlah sulit, ujian sekolah sedang berlangsung dan ujian hiduppun ikut menerjang. Bukan sembarang ujian hidup. Diluar sana mungkin banyak yang lebih parah dariku, namun banyak juga yang tidak merasakan rasanya jadi aku.
Di usiaku yang masih terbilang usia main, namun aku tidak punya waktu untuk itu. Akupun merasa paling beda diantara teman-teman seusiaku, yang masih bisa meminta uang lebih untuk jajan, yang masih bisa merengek meminta gadget atau pakaian baru. Tidak. Aku tidak mengenal itu, gadget yang aku dapatkan dari hasil usahaku tahun lalu, aku jual dan aku jadikan modal sisanya untuk membeli gadget yang lebih sederhana.
Kita bicara saat ini. Sudah dua minggu ujian berlangsung, dan pulang tentunya lebih awal yaitu jam 11.30 dari normal 16.00. waktu yang cukup luang ini aku bagi dengan sedemikian adil. Setelah jam ujian terakhir, aku tidak langsung pulang kerumah. Tapi setiap hari aku bawa laptop ke sekolah untuk mendapatkan fasilitas wifi gratis yang disediakan sekolah. Bukan untuk main games atau untuk chatingan haha hihi di media sosial. Namun, 1 jam pertama aku gunakan untuk mengerjakan soal di quipper school, dan 2 jam berikutnya aku gunakan untuk memposting iklan barang yang aku jual.
Saat aku buka laptop, lalu kubuka laman web dengan 4 tab sekaligus, facebook, bukalapak, olx, dan blogspot. Disetiap laman itu aku mempunyai dua toko online; @rumahcoklatfifeeh dan @galerifashionsalmafifeeh. Aku memposting sedikitnya 10 iklan disetiap laman padan akun yang berbeda. Begitu sibuk. Tak lupa saat internet di laptop sedang buffering, tangan kiriku memegang handphone dan membuka akun Instagram dan memposting iklan yang sama. Cari followers sebanyak-banyaknya untuk menarik pembeli. Kegiatan ini aku lakukan setiap hari. Saat waktu ashar, akupun mengakhiri semua dan bergegas untuk pulang. Sepulang di rumah ashar-maghrib waktunya istirahat. Dilanjut magrib hingga tengah malam aku gunakan untuk belajar, terkadang mencari inspirasi untuk tulisanku,.
Ini telah berlangsung 9 hari. Hingga beberapa hari yang lalu aku dikelas ditemani beberapa temanku. Ia duduk disampingku, dan sengaja ingin melihatku sedang beraksi di onlineshop. Ia bertanya banyak hal mengenai onlineshop dan pendapatanku. Aku menjawab apa adanya, dan ia berdecak kagum. Tapi itu semua membuatku merasa sakit hati, karena aku memang dituntut melakukan ini. Sudah seharusnya aku belajar mandiri. Memang pada awalnya teman-teman mengira hidupku itu enak, tapi setelah mereka bertanya dan aku menjawab apa adanya, mereka semua menangis terharu. Akupun meleleh.
Hingga 3 hari ini keadaan ekonomi keluargaku nyaris fatal. Tapi yang namanya orangtua pasti akan mengusahakan segalanya ada untuk anaknya. Akupun dengan cermat mengirit semua pengeluaranku, hingga suatu hari memori handphoneku terformat, seluruh file terhapus. Keesokannya beberapa aplikasi tidak bisa di download. Karena memoriku sudah tidak bisa dipakai dan terpaksa aku harus menggunakan memori lama yang lebih kecil yang hanya muat beberapa aplikasi. Tidak hanya itu, koneksi internet malam harinya tidak bisa di akses sama sekali, hanya bisa di akses tengah malam.
Hari selanjutnya, aku memutuskan untuk membeli kartu perdana baru yang lebih murah. Akan tetapi sedang kosong, dan aku terpaksa mengisi pulsa ke nomer yang biasa dengan sisa uang di dompetku hanya 17rb. Saat akan didaftarkan paket internet, ternyata sinyalnya sama sekali tidak terkoneksi. Aku putuskan untuk tidak memakai pulsanya untuk intenet. Keesokan harinya isi dompetku tinggal 7rb dan ibu memberi 10rb. Lalu aku membeli kartu perdana yang aku mau. Aku daftar. Uang di dompet sisa 3200, sedangkan aku tidak mempunyai pulsa internet untuk memantau onlineshopku.
Pikiranku kacau, setres. Ibu sedang tidak ada uang sama sekali untuk bekalku, bahkan besok aku terancam tidak bisa jajan dan tidak ada ongkos untuk pulang. Pikiranku tidak sampai disitu, aku lihat masih ada 0,75kg coklat dan sebungkus oreo. Aku putuskan untuk membuat coklat untuk dijual, dan aku merasa kurang bahannya, aku meminta uang pada ayah. Ayahpun memang sedang tidak ada uang, ia hanya memberiku 15rb itupun uang untuk bensin. Tapi ternyata bahanyya cukup. Lantas aku gunakan uang itu untuk membeli pulsa internet senilai 12500, tapi ternyata tidak bisa daftar internet. Saat itu uangku tersisa 6200. Aku putuskan untuk membeli lagi pulsa senilai 7rb rupiah, dan aku mencari sisanya di seluruh sudut rumah. Aku pikir dengan jumlah pulsa 15rb bisa mendaftarkan paket internet 1gb 14.900 tapi ternyata tidak cukup.
Aku teringat sms awal saat pendaftaran, katanya da bonus internet 300mb, aku putuskan untuk tidak membeli paket dan memaki bonus itu. Lalu aku buka Instagram, dan line untuk memposting iklan. 30 menit kemudian koneksinya terputus. Aku cek sisa quota tapi tidak bisa, dan aku berpikir untuk mendaftarkan paket internet yang 300mb 7rb/7hr tapi ternyata saat di cek, pulsaku nol.
Hahahahaha :’) habis sudah semuanya.. uangku habis. Dan besok terpaksa harus jalan kaki dan tidak jajan :’_)
Namun demikian, aku masih mempunyai prinsip yaitu, setelah badai ada pelangi, setelah malam ada siang, setelah air mata pasti ada bahagia. Dan aku percaya dunia itu berputar. :’) daaaaaan, aku serahkan semua ini pada Allah.:’) dan izinkanlah catatan ini menjadi penghiburku dan pelipur laraku:’) sekian, terimakasih J

Related Posts:

Warga Bandung masih buang sampah sembarangan, anakpun menuruti



“Buah jatuh tidak jauh dari pohonya, sampah jatuh tidak jauh dari pelakunya”
By : Salma Fifeeh
Gemercik hujan membasahi kota Bandung sore ini. Air yang menetes dari langit membuat basah kuyup tubuh ini. Melaju dengan kendaraan roda dua di saat hujan seperti ini bukanlah ide yang baik. Lantas ayahku menepikan sepeda motornya tepat di halaman gedung PLN Bandung. Rencana awal kami adalah mencetak gantungan kunci untuk acara launching bukuku nanti, namun tidak ada yang cocok dengan budget. Percetakan itu berada di jalan Pagarsih, dan saat jalan pulang ayahku memang sengaja melewati jalan Cikapundung untuk membeli camilan khas kampung halamannya. Lamang Tapai Ketan, penganan khas dari kota Padang yang dijajakan mulai pukul 5 sore setiap harinya.
Saat tiba disana lapaknya itu belum buka, masih dirapikan. Karena hujan, lantas aku dan ayah berteduh di tepian bangunan di depan gedung PLN. Tidak lama, ayah merasa bosan dan mengajakku berpindah tempat ke jembatan penyebrangan Cikapundung. Melihat sekeliling bangunan, membuat ayah sontak bergumam “aduh ini bangunan udah ngrembes gini, ga bakal lama lagi kalau hujan terus-terusan bakalan ambles nih. Sayang banget bangunanya asal-asalan cuman buat event.” Aku malas membalas komentar ayah. Dalam benakku berkata “aduh ini temboknya penuh coretan yang ga bener. Kaya kawasan kumuh di tengah kota. Apa bedanya sama kolong jembatan yang kumuuuh banget beberapa tahun lalu. Ini gimana sih warga bandung ga cukup nulis status di sosmed apa, tembok fasilitas umum sampe di coret-coret gini”.
Itu hanyalah komentar belaka. Setelah itu aku penasaran dengan tangga yang ada di hadapanku. Akupun naik tangga itu berharap jembatan penyebrangan bisa dipakai. Tapi ternyata keadaan pintunya terkunci dan tidak terawat. Sangat disayangkan. Tak lama setelah itu aku dan ayah turun kembali dan berdiam diri sambil menunggu lapak penjual Lamang Tapai Ketan buka. Aku dan ayah menepi tepat di dekat penjual Bandros. Yaitu peganan dari parutan kelapa dan santan yang memang cocok disantap di cuaca seperti ini. Apalagi masih hangat-hangat kuku.
Aku menikmati pemandangan sore ini. Banyak penjual dan pembeli yang Nampak berinteraksi seperlunya. Namun pandanganku mulai menajam ketika aku melihat seorang keluarga kecil yang terdiri dari seorang Ayah yang kira-kira usianya 27 tahunan, ibu yang kira-kira usianya 24tahunan, dan seorang anak laki-laki yang kira-kira usianya 2,5 tahun. Nampaknya mereka asli orang Bandung karena logat bicaranya yang nyunda sebisanya. Aku memperhatikan mereka. Dan Ayah 27 tahun itupun berdiri mengeluarkan sebungkus kotak Rokok yang isinya tinggal 1 batang. Belum sempat mataku berpaling tiba-tiba Ayah 27 tahun itu menjatuhkan bungkus rokok itu dengan sengaja di hadapanku. Entah apa yang ada di pikirannya. Namun saat itu hatiku geram sekali. Mataku sinis, hatiku panas, kesal, segala perasaan buruk bercampur aduk.
Dan yang sangat aku sayangkan adalah, ia menjatuhkan sampah bungkus rokok itu di hadapan anaknya sendiri yang masih berusia 2,5 tahun. Aku geram. Mau bicara takut salah, tidak bicara itu artinya aku telah membiarkan kedzaliman. Bingung campur aduk, kesal ada. Aku ingin menasehatinya tapi aku masih takut. Dan disela-sela hati dan pikiranku yang memanas tiba-tiba ibu 24 tahun itu hendak pergi ke sebrang jalan untuk membeli tahu gejrot. Dan ayah 27 tahun berkata “Bun, itu dedenya mau ikut. Tuh de ikut sama bunda” seru ayah 27 tahun.
            Anak usia 2,5 tahun itu Nampak mengikuti ibunya dengan membawa kantong kresek berwarna merah dan Koran serta daun pisang yang nampaknya itu adalah bungkusan bekas bandros. Anak itu menyuapkan potongan bandros terakhir ke mulut kecilnya. Dan aku tak percaya bahwa aku melihat kejadian ini. Anak itu spontan membuang kresek dan Koran serta daun pisang bekas bandros di tempat ia berdiri saat itu. Dan aku terkejut. Sedang sang ibu 24 tahun berkata “aduuh ade sampahnya ko di buang dimana aja”. Sambil menuntun anak itu menyebrang. Ayah 27 tahun hanya melihat sambil menghisap rokok yang tinggal sedikit. Melihat kejadian itu, hatikupun tambah memanas, kesal, aku geram, mataku sinis, aku menarik dan membuang nafas dengan kesal. Mataku melirik sampah itu, sesekali melirik kea rah ayah 27 tahun begitu berulang kali. Aku kira ayah 27 tahun itu akan megambil sampah keluarga mereka, namun setelah 5 menit berlangsung dan ayahku mengajak untuk membeli Lamang Tapai Ketan aku geram karena ia hanya cuek saja. Lantas batinku tersiksa. Pedih hati ini, kesal.
            Saat ayahku hendak mengajakku untuk meninggalkan tempat  itu, aku langsung jongkok mengambil bungkus rokok itu, kemudian Koran serta daun pisang lalu aku masukan ke dalam kantong keresek dan aku mengikat kantong kreses itu dengan kuat di hadapan si ayah 27 tahun itu. Ayah 27 tahun itu kemudian menatap aneh ke arahku, kemudian wajahnya Nampak heran memerah, dan ia menunduk kemudian menatapku Nampak malu. Lantas ayahku bertanya “mau di bawa kemana itu?”. Sambil melewati ayah 27 tahun itu, aku berkata sambil melirik sinis ke arah ayah 27 tahun itu “MAU CARI TEMPAT SAMPAH!!!” setelah mengatakan hal itu, hatiku yang geram perlahan menenang, dan berpikir dalam benakku dalam-dalam. Aku menghela nafas dan sesekali membalikkan badan ke arah ayah 27 tahun itu dan melongok mencari tempat sampah.
            Akhirnya perjalanku tiba di roda penjajak Lamang Tapai Ketan. Penjualnya masih membereskan dagangannya. Dan akupun masih mencari tempat sampah untuk membuang kekesalanku. Saat aku mulai memesan 4 potong Lamang dan 1 ketan aku melihat satu ember bekas cat yang nampakya adalah tempat sampah. Lalu akupun membuang sampah itu. Sejenak Dalam benakku berpikiran.
“gimana Bandung mau bersih, gimana Bandung mau bebas dari sampah, gimana Bandung ga banjir kalau kesadaran masyarakatnya aja masih kurang banget. Ga habis pikir sama itu orang. Ko tega sih mengotori trotoar kota dengan sengaja tampa berpikir panjang. Coba kalau dia bertingkah kaya gitu di luar negeri, pasti dia udah kena denda. Belum lagi dia buang sampah di hadapan anaknya. Ya buah mah jatuh gaakan jauh dari pohonnya. Panteslah itu anak buang sampah dimana aja da belum ada 10 menit ia melihat ayahnya secara tidak langsung mencontohkan hal itu pada anaknya. Lalu gimana masa depan bangsa ini, bila hal terkecil saja belum disadari? Memang sih sampahnya ga seberapa, tapi gimana kalau ada 1000 orang semacam ini? Aduuuuuh bisa panas bakar diri ini mah”.

Related Posts:

CURAHAN HATI UNTUK PAK EMIL DARI WARGA RAJUTAN BINONG JATI



Dear bapa walikotaku tercinta, Pak Ridwan Kamil.
Apa kabar bapa wali kota ku tercinta ? semoga keadaan bapa selalu sehat dan selalu di berkahi oleh Allah SWT. Aaaaamiiiin…
Bapa walikotaku tersayang, tulisan ini hanyalah curahan kami sebagai wargamu yang berada di daerah Sentra Rajutan Binong Jati.
Entah kapan waktu yang pasti untuk Sejarah awal adanya sentra rajutan di binong jati ini, mungkin sudah puluhan tahun adanya. Mulai dari generasi ke generasi termasuk keluargaku juga sudah 3 generasi dalam usaha sederhana ini. Sepengetahuanku, sentra Rajutan Binong Jati ini adalah sentra rajutan terbesar se-Asia karena saya belum pernah mendengar ada sentra rajutan yang lebih besar dari yang ada di Binong Jati ini.
Dalam beberapa tahun kebelakang, produk rajutan dari Binong Jati ini sempat menembus pasar-pasar internasional. Tapi itu tidak berlangsung lama karena prosesnya yang terbilang rumit. Karena modal yang pas-pasan dan pengetahuan yang minim, transaksi pun tidak dilanjutkan. Padahal ini adalah peluang besar bagi kami para pengrajin rajutan dan bagi nama baik kota Bandung juga Indonesia di kanca internasional.
Namun kini, karena modal kami yang seadanya dan pemasaran yang hanya begitu saja serta hal-hal lainnya produksipun kembali sepi. Pesanan minim, penghasilan pun pas-pasan. Hasilnya, keluarga kami menjerit, di barengi dengan harga bahan pokok yang semakin hari semakin melonjak. Bercita-cita menyekolahkan anak-anak hingga bangku kuliah, tapi karena sepinya orderan apa mau dikata?
Ini kisah keluargaku dulu. Enam tahun lalu usaha rajutan keluargaku sangatlah maju. Pesanan demi pesanan masuk hingga pihak pekerja tidak menyanggupi untuk mengerjakannya. Dahulu keluargaku memiliki 30 orang pegawai rajut dengan omset perminggu hampir 100juta rupiah. Alhamdulillah kehidupan keluarga saat itu berkecukupan dan Alhamdulillah kami bisa membuka banyak lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.
Tapi waktu terus berlalu, roda berputar. Kini keluargaku sedang berada diroda bagian bawah. Pekerja kami tinggal 3 orang begitu turun 90% dari enam tahun lalu dengan omset hanya 800ribu rupiah perminggu itupun kami harus menggaji ketiga pekerja dan pengeluaran lainnya. Mungkin ini adalah cobaan dari Allah SWT untuk keluarga kami.
Intisari dari masalanya adalah apabila bukan hanya keluarga kami yang mengalami krisis seperti ini maka sentra rajutan Binong Jati lama kelamaan terancam gulung tikar. Naudzubillah. Bayangkan saja, warga Binong Jati itu terdapat ratusan hingga ribuan kepala keluara yang menggantungkan hidupnya pada usaha ini. Dengan usaha ini terciptalah lapangan kerja yang akan mengatasi banyaknya pengangguran. Dengan usaha ini kita bisa perlahan menembus pasar internasional bahkan ikut eksis di MEA tahun depan.
Bayangkan saja saat kecelakaan terjadi dalam usaha ini seperti pemadaman listrik bergilir beberapa bulan lalu di daerah BInong Jati. Saat itu listrik padam hampir 10 jam dan akibatnya adalah kerugian omset sebanyak 1,6 milyar. Terbukti, dalam jangka sehari saja seluruh usaha di Sentra Rajutan Binong Jati ini mendapatkan omset sebesar itu. Dan apabila terancam gulung tikar karena minim modal dan pemasaran, bayangkan saja berapa uang yang dirugikan dan berapa ribu keluarga yang kehilangan pencahariannya ?`
Tulisan ini di buat oleh santri kelas 12 Muallimin Manbaul Huda yang sangat peduli akan masa depan para pengrajin rajut di Sentra Rajutan Binong Jati. Saya membuat tulisan ini karena saya prihatin dengan keadaan ekonomi di keluarga saya khususnya dan ratusan keluarga lain umumnya di daerah sentra rajut Binong jati. Saya berkata demikian karena saya juga sangat peduli akan perekonomian di Indonesia terlebih sebentar lagi akan diadakan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).
Harapan saya dalam acara MEA nanti, kami para pengusaha kecil di Sentra Rajutan Binong Jati dapat mengikutinya dan membawa nama baik Indonesia serta membantu mengubah perekonomian di Indonesia. Produk rajutan Binong Jati dapat bersaing dengan produk rajutan dari Negara lain. Alhasil semakin banyak pula pesanan dari mancanegara khususnya Negara-negara ASEAN yang tertarik akan produk rajutan dari Binong Jati.
Untuk walikotaku tercinta, saya mempunyai sebuah impian besar yang semoga saja impian ini membawa nama Sentra Rajutan Binong Jati menjadi besar pula dan Nama Kota Bandung ikut membesar. Terinspirasi dari kawasan industry kulit di Sukaregang Garut, alangkah luar biasanya bila di Bandung pun mempunyai kawasan industry yang di patenkan serta mendunia kawasan Sentra Rajut Binong Jati.
Dimulai dari langkah sederhana dengan menyediakan kawasan kios-kios atau pusat pemasaran produk Rajutan Binong Jati di daerah Binong Jati tentunya. Atau bahkan kami sangat senang bila pemerintah menyediakan gedung atau pasar khusus Rajutan di daerah Binong Jati. Atau bahkan lebih canggih lagi apabila setiap bulannya diadakan pelatihan khusus atau membuka kelas atau semacam studi wisata di kawasan Sentra Rajut Binong Jati.
Dengan studi wisata di kawasan Sentra Rajut Binong Jati, itupun dapat menjadi peluang keterampilan dan sebagai omset tambahan untuk penghasilan kami. Langkah awalnya ialah membuat satu buah home industry yang cukup besar untuk menampung semua proses pembuatan rajutan juga para pengusaha muda bisa dilibatkan dalam pemanduan wisatanya. Alangkah indahnya bila semua impianku ini bisa terwujud.
Bapa walikotaku yang aku cintai, ini hanyalah curahan hatiku sebagai anak dari pengusaha kecil di kawasan Sentra Rajut Binong Jati. Adapun harapanku adalah seperti yang kuceritakan tadi. Semoga pa Emil selaku wali kota Bandung tertarik dan sependapat denganku bahkan semoga saja pa Emil bisa mewujudkan impianku ini. Saya tahu pribadi pa Emil seperti apa, saya tahu bapa sangat merakyat, saya tahu mungkin pa Emil bisa peka tapi jangan baper ya pa J hehe..
Semoga dengan tulisanku ini bisa membuat bandung semakin JUARA! BANDUNG JUARA! J
Wassalam,
Bandung, 24 Febuari 2016
Salma Afifah

Related Posts:

Selamat UAMBN 2016



Selamat UAMBN
(Ujian Akhir Manusia Berubah Nasib)
Hari ini, tepat di depan kita ada beberapa lembar kertas yang menagih untuk disimak. Susunan huruf menjadi kata lalu kalimat dan jadilah sebuah bacaan sempurna. Bukan sekedar bacaan. Namun puluhan butir pertanyaan yang menagih untuk dijawab. Bukan sekedar dijawab. Namun menjadi sebuah muhasabah diri.
Muhasabah diri. Dua kata yang sangat wajib kita ketahui. Bukan sekedar tahu. Namun laksanakanlah. Sebuah ajang introspeksi diri hasil menimba selama di Pesantren. Menimba ilmu dengan ember keingin tahuan yang sangat besar. Untuk mengambil banyaknya air ilmu yang takkan pernah habis meski dikuras sekian lama, sekian banyak. Kapasitas emberpun tidak terbatas. Pasti ada ember yang lebih besar untuk menampungnya. Yaitu hati dan keimanan.
Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional atau disingkat menjadi UAMBN sebenarnya hanyalah wacana semata. Ujian itu tidak akan pernah berakhir. Matipun kita masih diuji dikuburnya. Akhir itu bukanlah selesai. Tapi akhir adalah sebuah awal yang baru. Ujian akhir ini bukanlah akhir ujian kita. Lantas masih banyak ujian-ujian lainnya. Ujian Akhir Madrasah sekalipun bukan berarti akhir ujian selama kita di Madrasah. Ini yang perlu kita renungkan.
Dengan basmallah kita awali mengisi identitas. Sebuah kejadian yang pernah kita lakukan 3 tahun kebelakang saat mengisi identitas diri di formulir pendaftaran santri baru. Sebuah keputusan yang rencananya tak terasa. Mengingat niat awal menetapkan diri sebagai santri di pesantren ini. Apakah niat kita?
Lembar soal pertama dibuka. Terlihat banyak soal baru maupun pertanyaan yang sangat membosankan bahkan menantang. Sebuah kejadian yang pernah kita alami 3 tahun kebelakang saat mulai memasuki kelas 10. Banyak hal baru yang terjadi begitu mengejutkan untuk sebuah tantangan baru yang harus dihadapi. Untuk apa kita disini?
Perlahan membaca butir soal demi soal. Dibaca perlahan dengan seksama lalu diresapinya pertanyaan demi pertanyaan. Sebuah kejadian yang pernah kita alami 2 tahun kebelakang saat mulai memasuki kelas 11. Mulai menjalani cerita yang alurnya begitu beragam, asyik menjalani peran dengan suka senang. Apa yang akan kita lakukan?
Tekad mulai berani menentukkan jawaban yang akan dipilih atas soal-soal itu. Pensilpun mulai menggoreskan pilihannya pada lembar jawaban yang tersedia. Sebuah kejadian yang hangat terjadi baru-baru ini. Saat telah menginjak kelas 12. Sebuah kekeluargaan terpilih dengan sendirinya atas sebuah kebersamaan. Apa yang telah kita lakukan?
Hingga tiba perjalanan pensil pada soal terakhir. Dan waktupun bersamaan berakhir. Sebuah kejadian yang sebentar lagi akan terjadi. Saat medali dikalungkan pada leher, saat hasil raport telah berada ditangan orang tua, saat itulah akhir perjalanan di pesantren ini. Apa yang telah kita punya?
Semua santri meninggalkan ruangan dengan tujuan yang berbeda. Ada pergi ke masjid, menemui asatidz, ada pulang, adapun bersama kawan main. Sebuah kejadian yang akan kita alami beberapa waktu lagi. Saat kaki mulai melangkahkan arahnya menuju masa depan yang berbeda-beda. Saat itulah kita menjajaki dunia yang buas. Ada yang menjadi ustadz, ilmuwan, guru, pengangguran, bahkan pecundang. Mau dibawa kemana status santri kita ?
Saatnya soal dan jawaban  diambil pengawas. Lalu lembar jawaban kan diperiksa dengan seksama. Sebuah takdir yang pasti kan terjadi saat nyawa kita diambi olehNya.  Lalu segala perbuatan kita akan ditimbang di yaumul mizan dengan sangat adil sesuai dengan apa yang telah kita perbuat di dunia. Apa yang bisa kita lakukan?
Hasil ujianpun telah ada. Nilainya keluar dan fakta lulus serta tidak lulus. Lulus dengan nilai bagus hasil ikhtiar dan doa. Tidak lulus dengan nilai mengecewakan karna Malas dan angkuh. Sebuah hasil yang juga kita akan peroleh nanti di yaumul mizan. manakah timbangan yang lebih berat. Amal baikkah atau amal burukkah?
Yang lulus akan bersorak dan bersyukur bersama dengan yang lulus pula. Yang tidak lulus hanya bisa termenung dan bersedih sendirian. Sebuah kebahagiaan atau pukulan menurut hasil masing-masing. Begitupun setelah megetahui berat amalan kita nanti. Surga firdaus kah atau neraka jahannam?
Sahabat, itu hanyalah ilusi yang perlu dimaknai. Ujian Akhir Madrasah ini bukanlah akhir yang harus kita selesaikan saat di madrasah saja. bukan artinya selesai menuntut ilmu agama. Bukan berarti pula kita tak perlu melupakan semuanya.
Resapilah sahabat, saat orang tua kita menyekolahkan kita di madrasah sekalipun pesantren, itu bukan berarti orang tua tidak mau mengajari kita ilmu agama. bukan pula karna kita susah di atur apalagi karena mereka ingin kita terkurung di pesantren. Bukan itu sahabat. Orang tua menyekolahkan kita disini karena ingin anaknya menjadi lebih baik dari mereka. Menjadi anak yang berguna bagi agama. menjadi pribadi yang agamis hingga terciptanya kekuatan iman yang menuntun kita menjadi anak sholeh-sholehah seperti apa yang mereka dambakan. Mereka ingin ada doa anak sholeh untuk mereka sepeninggalnya nanti. Untuk amal jariyahnya yang kan mengumpulkan kita di surga bersama mereka. Sungguh itulah tempat kembali yang abadi dan indah.
Sahabat, suatu saat kita pasti kan merindukan saat-saat masih menjadi santri. Oleh karena itu, agar takada rindu yang membelenggu maka jadilah selalu kau santri seperti saat kau masih berada di pesantren. Bersikaplah layaknya santri karena kita adalah santri yang selamanya akan menjadi santri.
Tidak ada julukan ‘mantan santri’ selama akhlak dan keimanan kita selalu ‘nyantri’. J
Bandung, 14 Maret 2016
Salam santri,
Salma Fifeeh
(XII IPS Mu’allimin PPI 110 Manbaul Huda)

Related Posts: