WANITA YANG JADI RAJA atau MEREKA ADALAH RATU


لَنْ يُفْلِحُ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ إِمْرَأَةً (رواه البخارى وأحمد والنسائ)
“Sesungguhnya tidaklah akan beruntung (sukses) suatu kaum yang mengangkat seorang wanita untuk urusan mereka.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan An-Nasa’i).
Wanita memimpin negara bukanlah sekedar dongeng tetapi kenyataan yang ada. Di belahan dunia ini wanita memimpin negara bukanlah hal yang asing apa lagi dianggap aneh. Tengok saja Banglades dan Filipina misalkan. Kini kedua negara ini di bawah komando para wanita. Yang aneh adalah pergeseran nilai yang relatif cepat dan menyeluruh dalam segala aspek kehidupan yang merupakan ekses dari pemberontakan fitrah kaum hawa. Dari mulai yang terkecil hingga yang terbesar, dari mulai pola pikir hingga pola hidup. Nilai-nilai moralitas yang dulu diusung para leluhur kini tinggal puing-puing yang tergilas modernisasi.
Lebih dari itu, perbedaan yang sangat mencolok antara pria dan wanita pun kini bukan lagi halangan untuk menciptakan iklim yang baru (yang keluar dari fithrahnya) di bawah emansipasi dan HAM. Padahal bagaimanpun kerasnya usaha perubahan iklim tersebut tidak akan mempu melawan kodrat. Bahwa wanita adalah wanita dan pria adalah pria. Betapapun gencarnya gerakan feminisme orang toh senantiasa menyadari akan adanya perbedaan-perbedaan  yang fundamental antara kaum pria dan wanita.
Pergeseran nilai dikalangan kaum hawa di abad modern ini semakin hari ternyata  semakin kentara ibarat kendaraan yang malaju tanpa rem. Gejala munculnya berbagai penyimpangan pun di segala lini kehidupan tak akan terelakan. Padahal jika kita cerdas mengenai wanita karier misalnya sebagai wujud emansipasi konsep wanita sekarang, sebenarnya apabila diusut asal muasalnya adalah cara atau strategi barat yang note benenya Yahudi dan Nashrani. Yang ujung-ujungnya adalah menghancurkan tatanan ajaran Islam dan budaya ketimuran. Gilirannya generasi muda Islam dari kalangan wanita banyak yang terpikat dan terjerat.  
A. Perbedaan Wanita dengan Pria
Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 36 dijelaskan bahwa kaum pria berbeda dengan kaum wanita: “Dan laki-laki itu tidak seperti wanita.” Sungguh singkat ayat ini menjelaskan perbedaan kaum pria dengan kaum wanita. Hal ini mengandung indikasi agar manusia berakal mau berpikir lebih dalam menguak makna dibalik ayat tersebut.
Di antara para ahli menemukan dan menjelaskan beberapa alasan perbedaan kaum pria dengan kaum wanita. Seperti dipaparkan psikolog Kartini Kartono:
Betapapun baik dan dan cemerlangnya intelgensi wanita namun pada intinya wanita itu hampir-hampir tidak pernah mempunyai interesse menyeluruh pada soal-soal teoritis seperti kaum laki-laki. Hal ini antara lain bergantung pada struktur otaknya dan misi hidupnya. Jadi, wanita itu pada umumnya lebih tertarik pada hal-hal yang praktis daripada teoritis.
Kaum wanita itu lebih praktis meminati segi-segi kehidupa konkrit. Misalnya, ia sangat meminati masalah rumah tangga dan kehidupan sehari-hari. Sedang kaum pria umumnya cuma mempunyai interesse, jika peristiwanya mengandung latar belakang teoritis untuk difikirkan lebih lanjut.Ringkasnya, wanita lebih dekat pada masalah-masalah kehidupan yang praktis konkrit; sedang kaum laki-laki lebih tertarik pada segi-segi kejiwaan yang bersifat abstrak.
Wanita pada hakikatnya lebih bersifat hetero-sentris dan lebih sosial. Karena itu lebih ditonjolkan sifat kesosialannya. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Sesuai dengan kodrat alaminya dan disebabkan oleh banyak mengalami duka derita lahir batin (terutama waktu melahirkan bayinya), wanita lebih banyak tertarik pada kehidupan orang lain terutama pada ‘penderitaan’ orang lain. Kaeran itu ia senantiasa mencari obyek-perhatiannya di luar dirinya sendiri, terutam suami dan anak-anaknya juga berminat pada lingkungannya.
Sebaliknya kaum laki-laki, mereka lebih bersifat egosentris dan lebih suka berfikir pada hal-hal yang zaklijk. Mereka lebih obyektif  dan essensia. Sedang wanita adalah sebaliknya; ia sanggup menyerahkan diri secara total pada partnernya.
Wanita lebih banyak mengarah keluar pada subyek lain. Pada setiap kecenderungan kewanitaannya, misalnya caranya bergaya dan berhias, secara primer wanita mengarahkan aktifitasnya keluar. Untuk menaruh perhatian pihak lain, terutama sekse lain. Karena itu kekhususan dan suka berhias dalam batas-batas yang normal merupakan bukti bahwa pada dirinya terdapat instelling sosial yang murni peminim dan sehat.
Kaum laki-laki disebut sebagai lebih egosentris atau lebih self-oriented. Pria cenderung berperan sebagai pengambil inisiatif untuk memberikan stimulasi dan pengarahan, khususnya bagi kemajuan. Dia selalu berusaha mengejar cita-citanya  dengan segala macam sarana dan daya upaya baik upaya yang luhur maupun yang jahat. Oleh karena itu hidupnya dianggap sebagai substansi yang otonom; bersifat ekspantif dan agresif; yaitu penih daya serang untuk menguasai situasi dan ruang lingkup hidupnya, serta lebih bernafsu memperluas kekuasaannya.
Wanita adalah sebaliknya, biasanya ia tidak agresif. Sifatnya lebih pasif, lebih ‘besorgend’, lebih ‘open’ attet, suka melindungi –memelihara-mempertahankan. Ringkasnya bersifat ‘consevernd’, memupuk memelihara dan mengawetkan  terhadap barang-barang dan manusia lain. Oleh fungsinya sebagai ‘pemelihara’ itu, wanita dibekali oleh alam dengan sifat-sifat kelembutan dan keibuan, tanpa mementingkan diri sendiri, dan tidak mengharapkan  balas jasa bagi segala perbuatannya.
Menurut Prof. Heymans, perbedaan laki-laki dan wanita terletak  paa sifat-sifat sekunderitas, emosionalitas, dan aktivitas dari fungsi-fungsi kejiwaannya. Pada kaum wanita fungsi sekunderitasnya tidak terletak di bidang  intelek, akan tetapi pada perasaan. Pria sebaliknya terletak pada intelek.
Kebanyakan wanita kurang berminat pada masalah-masalah politik; terlebih lebih  yang menggunakan  cara-cara licik, munafik, dan kekerasan. Hal ini jelas kurang sesuai dengan nilai-nilai etis dan perasaan  halus wanita. Juga di bidang intelek kaum wanita lebih banyak menunjukkan  tanda-tanda emosionalnya. Karena itu, biasanya wanita memilih bidang dan pekerjaan yagn banyak mengandung  unsur relasi-emosional dan pembentukkan perasaan. Misalnya pekerjaan guru, juru rawat, pekerja sosial, bidan, dokter, seni, dll.
Wanita juga sangat peka  terhadap nilai-nilai estetis, seni dan keterampilan. Sehubungan dengan perasaan halus dan unsur keibuannya yang penuh kelembutan, pada umumnya  wanita kurang berminat pada kelontaran kritik-kritik tajam di bidang politik, kesenian dan kebuayaan. Mereka  lebih suka menikmati hasil seni yang ‘indah’ dari ketiga bidang itu.
Dalam kehidupan sehari-hari wanita lebih aktif  dan lebih luas. Diantaranya  kehidupan, kemauan dan aktivitasnya terdapat kesesuaian dan harmonis. Jika seorang wanita  sudah memilih sesuatu dan telah memutuskan  untuk melakukan  sesuatu, ia tidak banyak berbimbang hati melakukan  langkah-langkah  selanjutnya. Hal ini berbeda dengan  kaum laki-laki  yang masih  saja terombang-ambing diantara pilihan menolak dan menyetujui. Dengan begitu, wanita pada dasarnya lebih spontan, dan lebih mempunyai kepastian jiwa terhadap  keputusan-keputusan  yang telah diambilnya. Pada umumnya  wanita juga  lebih antusias memperjuangkan  pendiriannya  daripada kaum laki-laki.
Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi dengan alamiah sebagai kodrat yang telah diatur oleh Sang Pencipta dan agar manusia sadar bahwa mereka memiliki fungsi dan tugas yang sama namun medan dan lahan yang berbeda serta agar satu sama lain  saling menguatkan. Sementara posisi laki-laki tetap sebagai pemimpin (Muslimah yang Kehilangan  Harga Diri, 2002 halaman 17-22)
B. Kedudukan wanita
Abu Bakrah ra mengisahkan katanya, ketika telah sampai kabar kepada Rasulullah Saw bahwa penduduk Parsi telah mengangkat anak perempuan Kisra menjai raja untuk memimpin urusan mereka, maka beliau bersabda,”Sungguh tidaklah  akan  beruntung suatu kaum yang mengangkat seorang wanita  untuk urusan mereka.”
Pernyataan Rasulullah Saw ini merupakan sebuah peringatan. Bahwa kaum hawa sudah sepatutnya berpikir. Bila mereka menginginkan  sebuah tatanan masyarakat atau negara lebih maju dan makur maka seharusnya mereka tidak bersikeras berkeinginan  menjadi seorang pemimpin. Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan  anak-anak putrinya, istri-istri sahabatnya, kaum muslimat pada umumnya untuk menjadi pemimpin, baik  ketua, kepala apalagi menjadi presiden, kecuali hanya  khusus di kalangan  sesama wanita.
Dalam riwayat Ahmad dari Abi Bakrah dan Sayuti dikatakan: “Binasalah  kaum lelaki, apabila mereka  mentaati perempuan-perempuan  mereka.” Kata Imam Al Ghazali: ” Tidak akan mencapai kebahagiaan suatu kaum yang dirajai (dipimpin) oleh wanita, “Tidak akan mencapai kebahagiaan selama-lamanya kaum yang menyandarkan  urusan (kaum lelaki) mereka kepada perempuan.”
Allah SWT berfirman:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah  telah melebihkan  sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan  sebahagiaan dari harta mereka. Sebab itu maka wanita  yang saleh ialah wanita yang ta’at kepada  Allah lagi memelihara diri ketika  suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan  nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian  jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An Nisa : 34)
Ayat ini mempertegas kedudukan kaum laki-laki dan perempuan, bahwa bagaimanapun kaum laki-laki  lebih berhak untuk menjadi pemimpin  dari mulai lingkungan  keluarga  hingga bernegara. Alasan kenapa laki-laki lebih layak menjadi pemimpin, dalam ayat tersebutpun dijelaskan  bahkan  Allah  sekaligus  menyinggung  di antara kriteria  wanita yang shalihah. Lebih terang lagi Allah SWT mengabadikan  kesucian  istri-istri Nabi Saw tiada lain adalah agar  menjadi acuan kaum hawa  yang hidup  kemudian.
Allah SWT. berfirman:
“Dan  hendaklah  kamu tetap  di rumahmu dan janganlah  kamu berhias dan  bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah  yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah  zakat dan ta’atilah  Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah  bermaksud  hendak menghilangkan  dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan  kamu sebersih-bersihnya.”  (QS. Al Ahzab : 33).
Kewajiban kaum wanita adalah bertanggung jawab terhadap suami dan anak-anaknya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
وَالرَّجُلُ رَاعٍ فىِ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ فىِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَاعِيَّتِهَا. (رواه البخارى)
“Dan laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab  kepemimpinannya. Dan wanita adalah  pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya “(HR. Al-Bukhari)
وَلَيْسَ لِلْمَرْأَةِ نَصِيْبٌ فىِ الْخُرُوْجِ اِلاَّ مُضْطَرَّةً وَلَيْسَ لَهَا نَصِيْبٌ فىِ الطَّرِيْقِ اِلاَّ الْحَوَاشِ (رواه الطبرانى)
“Bagi perempuan tidak  berhak keluar (dari  tempat kediamannya) melainkan  jika ia terpaksa (karena sesuatu  yang mendesak) dan ia tidak berhak melalui jalan lalu lalang melainkan di tepi-tepinya.” (HR. Ath-Thabrani)
Ali bin Abi Thalib ra pernah bertanya  kepaa istrinya,”Ya, Fathimah, wanita apa  yang paling baik?” Jawab Fatimah: ”Wanita yang ia tidak  melihat laki-laki  dan  laki-lakipun  tidak melihatnya.”
Allah SWT mengibaratkan  wanita sebagai ladang untuk bercocok  tanam, sedangkan laki-laki adalah penggarap dan pemiliknya.
نِسَاؤُكُمْ حَرْثُ لَكُمْ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أًنىَّ شِئْتُمْ وَقَدِّمُوْا ِلأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّكُمْ مُلاَقُوْهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ 
“Istri-istrimu adalah (seperti ) tanah ladang tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tanah ladangmu bagaimana kamu kehendaki. Dan buatlah kebaikan untuk dirimu, dan  bertakwalah  kepada Allah, dan ketahuilah   bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan beri kabar gembiralah  kepada orang-orang  beriman.“ (Qs. Al  Baqoroh : 223)
Sayyid Quthb pernah memaparkan bahwa kepemimpinan laki-laki itu sumbernya  adalah karena pria memiliki sifat –sifat kepemimpinan secara alami. Dia mampu memimpin, mengendalikan, tidak mengenal kehalusan atau kasih sayang bila diperlukan. “Karena  Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)” sumbernya juga karena kaum prialah, yang menanggung keluarga. Orang yang memberikan   belanjalah yang harus  mengenalikan. Maka tidak masuk akal  bila saya mem berikan  belanja sedangkan yang mengendalikakn orang lain, sebab yang demikian tentu akan membawa  kepada penghamburan harta tanpa merasakan  sulitnya mengumpulkan  harta. (Al Usrah al Muslimah wa al Usrah al Mu’ashirah, Dr. Abdul Ghani Abud, 1979).
Imam Abul A’la al-Maududi  berpendapat,”Yang dijadikan  sebagai asas keluarga  ialah bahwa suami wajib mencari nafkah untuk keluarga, memenuhi kebutuhan dan melindungi anggota-anggotanya. Dan istri wajib mengurusi  rumah tangga dengan apa yang diperoleh suaminya, menyediakan  kesenangan bagi suami dan anak-anaknya, memperhatikan pendidikan anak-anak. Kewajiban  anak-anak  ialah mentaati, menghormati dan membantu kedua orang tua mereka bila mereka telah besar. Agar sistem keluarga itu   berjalan di atas kebaikan, petunjuk dan kebenaran, maka Islam  telah memilih dua cara pengelolaan; pertama,  menjadi suami dan ayah sebagai penguasa terhadap  keluarga dan pengawas urusan-urusan keluarga. Sebab, ibarat suatu negara, tidak mungkin sebuah sistem berjalan  lancar tanpa adanya penguasa yang mengawasi urusan-urusannya. Begitu pula keluarga, tidak mungkin sistem keluarga itu baik dan berjalan tanpa adanya penguasa  dan pengawasnya. Kedua, Islam memerintahkan  kepada istri –sesudah  tugas-tugas  ekstern diberikan kepada suami-agar tidak keluar dari rumah tanpa urusan yang penting. Untuk itu, istri dibebaskan  dari tanggung jawab terhadap urusan-urusan yang ada di luar rumah agar dia dapat menjalankan  kewajibannya di ralam rumah (interen) dengan tenang  dan damai.”(Mabadi’ul Islam, 1977) hlm. 143).
Dengan demikian, jelaslah bahwa bila seorang wanita menjadi raja di tangah-tengah kaum pria sudah dapat  dipastikan berbagai penyelewengan dan tindak kejahatan akan subur dari mulai tingkat atas hingga tingkat bawah. Sebab ia telah berbuat  melebihi  batas dan keluar dari sifat-sifat alamiahnya. Rasulullah Saw mengingatkan kaum hawa agar  memahami betul posisinya sebagai wanita. Tidak semata-mata dilansir oleh seorang Nabi kecuali sesuatu yang nyata dan benar. ***

 

Related Posts: