Terjadinya Fitnah di Dalam Umat Islam


Allah Subhana wa Ta'ala telah memperingatkan kepada kita akan datangnya fitnah yang akan terjadi di kalangan umat Islam. Fitnah tersebut sangat beragam macamnya. Dan sudah menjadi sunnatullah (ketentuan-Nya) bahwa setiap manusia akan mendapatkan fitnah sebagai ujian baginya. Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Kami akan menguji kepada kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan". (QS. Al-Anbiyaa` [21]:35)
Allah Subhana wa Ta'ala juga memberitahukan bahwa tiap-tiap orang yang beriman akan mendapatkan fitnah sebagai ujian dari Allah bagi mereka dan agar mereka bisa mengambil pelajaran atas apa yang telah terjadi terhadap orang-orang terdahulu. Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fitnah di dalam umat Islam:

1. Berpaling dari ayat-ayat Allah
Penyebab yang pertama ini merupakan fitnah terbesar bagi umat Islam, yaitu pada saat umat Islam sendiri telah berpaling dari ayat-ayat Allah, dari baitullah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dari jalan Allah. Oleh karena itulah wajar saja Allah pun menimpakan kehinaan dan azab yang sangat pedih bagi mereka di hari akhirat kelak.

Firman Allah,  "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia "Ya Tuhanku, mengapa Egkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS. Thaa Haa [20]:124-126)

Para ulama mengatakan bahwasanya; barangsiapa yang menginginkan petunjuk, niscaya ia akan mendapatkannya.
Ibnu Al-Qayyim berkata: "Siapa yang beramal saleh di masa mudanya, niscaya Allah akan meliputi masa tuanya dengan kesenangan"
Sebuah pepatah orang Cina mengatakan: Sepanjang apapun garis itu sampai seribu mil sekalipun, pada awalnya pasti dimulai dengan satu langkah.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik". (QS. Al-’Ankabuut [29]:69)
Allah Subhana wa Ta'ala juga telah menyatakan bahwa penyebab timbul fitnah yang paling besar adalah berpalingnya manusia dari jalan-Nya dan dari ayat-ayat-Nya.
Firman-Nya, "Sesungguhnya bagi kaum Saba` ada (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugrahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar".  (QS. Saba` [34]:15-16).

Begitu pula dengan apa yang kita rasakan saat ini seperti apa yang pernah dirasakan oleh kaum Saba'. Kita mendapatkan kenikamatan dari-Nya yang tidak terhingga, kita hidup dalam keridhaan-Nya, dan mendapatkan rasa aman dan ketentraman.
Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita dalam mempertahankan karunia yang sudah diberikan-Nya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Senantiasa bersyukur dan tidak meninggalkan jalan Allah yang telah kita lewati.

2. Ingkar akan Janji-janji Allah
Umat yang telah mendapatkan karunia kemenangan dari Allah, kemudian mereka mengingkari janji mereka sendiri dengan berpaling kepada puing-puing kenikmatan dunia, memuaskan hawa nafsu dan bersenang-senang, tidak mau bersyukur dan tidak menepati janji mereka kepada Allah, niscaya akan datang kepada mereka berbagai-macam fitnah dan bala bencana dari segala arah.
Merekalah orang-orang yang mengganti syariat agama Allah dengan syariat yang lain. Merekalah orang-orang yang menyerahkan kepemimpinan kepada musuh-musuh Allah dengan menjadikannya sebagai penguasa.
Merekalah orang-orang yang menganggap biasa terhadap segala perbuatan maksiat bahkan lebih mengutamakan mereka dari pada orang-orang yang taat kepada Allah.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami untuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya". (QS. Al-Maidah [5]:13)
Imam Hasan Al-Bashrî berkata: "Wahai engkau yang selalu mengingkari janji pada Allah, tidak takutkah engkau apabila suatu hari nanti akan dikatakan kepadamu: inilah perpisahan antara aku dengan kamu !. Tidakkah engkau lihat ketika Musa melanggar janjinya sebanyak tiga kali kepada Khaidhir?. Dan Khaidhir berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.} (QS. Al-Kahfi [18]:78) Dan tidakkah kamu mengetahui apa yang telah dikatakan Allah kepada Bani Israil?, "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami untuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka teah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka". (QS. Al-Maidah [5]:13)
Mereka (Bani Israil) juga berjanji kepada Allah untuk meninggalkan ribâ, namun mereka justru dengan terang-terangan melakukan praktel ribâ.
Perzinahan tersebar di lingkungan mereka, namun hal tersebut tidak menjadi suatu kemungkaran dalam anggapan mereka.
Mereka berjanji pada Allah untuk tidak berburu pada hari Sabtu, akan tetapi mereka tetap saja berburu pada hari tersebut dan memancing ikan pada hari Minggunya.
Lalu Allah juga telah mengharamkan kepada mereka daging bangkai. Tapi pada kenyataannya mereka mengumpulkan dan memperjuAl-belikannya, kemudian hasilnya mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan masih banyak lagi janji-janji lain yang telah mereka (Bani Israil) langgar.

3. Meninggalkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Hal ini juga merupakan salah satu yang menyebabkan semakin banyaknya fitnah yang terjadi di kalangan umat Islam. Yaitu semakin menipisnya kepedulian umat Islam untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar. Dan mereka menyerahkan perkara tersebut kepada suatu lembaga yang memang dibentuk untuk bertanggung jawab dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.
"Urusan saya bukanlah urusan kamu, saya tidak ada kepentingan untuk turut campur dengan urusan Anda !". Begitulah perkataan salah satu dari mereka.
Firman-Nya, "Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ’Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu".  (QS. Al-Maidah [5]:78-79)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa pada suatu hari di awAl-awal siang, dua orang lelaki dari Bani Israil bertemu, salah seorang dari keduanya berkata kepada lelaki yang lain: "Takutlah engkau kepada Allah dan janganlah melakukan perbuatan maksiat ini !". Akan tetapi teguran tersebut tidak menghalangi kedua orang itu pada penghujung hari untuk tetap menjadi sahabat dan teman.
Begitulah semestinya, ketika salah seorang dari kita melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain hendaknyalah kita menegurnya. Namun teguran tersebut tidak bias dijadikan alas an untuk kita memutuskan hubungan kita dengan orang yang ditegur, baik itu sebagai teman maupun kaum kerabat.
Allah Subhana wa Ta'ala berfirman, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahrikan untuk manusia" (QS. Ali ’Imraan [3]:110)
Mengapa Allah mengatakan kita adalah umat yang terbaik? Jawabannya adalah karena kita. Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar". (QS. Ali ’Imraan [3]:110)
Sayyidina ’Umar ra berkata: "Demi Allah tidak akan sempurna awal dari ayat itu jika tidak disempurnakan oleh akhirnya". Yaitu: Kita tidak akan menjadi umat yang terbaik apabila kita tidak melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah.
Maksudnya adalah: Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim laki-laki dan perempuan untuk giat dalam menjalankan amar ma'ruf nahi munkar dengan cara yang bijaksana. Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik". (QS. Al-Nahl [16]:125)

4. Melupakan Ayat-ayat Allah.
Penyebab yang lain adalah umat Islam yang lupa dari ayat-ayat Allah, yaitu mereka sudah tidak lagi bertafakkur dan bertadabbur (memikirkan) ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah di alam semesta ini.
Ayat-ayat Allah tersebut ada dua macam yaitu: ayat kauniyyah, dan ayat syar'iyyah. Ayat kauniyyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat pada ciptaan-Nya di dalam alam semesta ini.
Sedangkan yang dimaksud dengan ayat syar'iyyah adalah firman-Nya yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur'an.
Gempa bumi yang telah terjadi di beberapa kota dan meluluh lantakkan semua bangunan hanya dalam hitungan detik saja, telah mengundang komentar oleh khalayak ramai tentang penyebab terjadinya bencana gempa tersebut. Salah satunya ada yang mengatakan bahwa gempa tersebut terjadi disebabkan oleh pergeseran kulit bumi !!.
Lalu, kalau memang demikian, siapakah yang mampu untuk melakukan hal demikian? Siapa yang telah menakdirkan terjadinya bencana tersebut?
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (QS. Al-Hadiid [57]:22)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala juga, "Telah nampak kerusakan  di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". (QS. Al-Ruum [30]:41)

5. Hidup Penuh Kemewahan dan Berpoya-poya
Kehidupan yang kita jalani penuh dengan kemewahan dan hampa yang berlimpah ruah. Kemewahan materi tersebut tanpa kita sadari telah membuat suatu kesenjangan sosial antara kita dengan orang-orang disekitar kita. Sehingga hal tersebut membuat orang lain menjadi terobsesi untuk mengejar kemewahan materi.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya".(QS. Al-Israa` [17]:16)
Kalau kita teliti lebih jauh lagi, tentang kehidupan para generasi muda saat ini yang sangat glamour dan jauh dari jalan Allah, dapat kita temukan penyebabnya adalah kemewahan hidup yang membuat mereka malas untuk bekerja dan hanya ingin bersenang-senang saja menghabiskan masa muda mereka.
Masa muda, waktu luang dan kekayaan
Dapat merusak kepribadan seseorang.
Coba Anda bayangkan !, seorang pemuda yang memiliki banyak uang di kantongnya dan simpanan deposito yang banyak, mengendarai mobil mahal dan tinggal di sebuah rumah yang sangat mewah. Namun imannya sangat lemah, ia tidak mengenal dengan yang namanya mesjid, ia tidak pernah menyentuh kitab suci Al-Qur'an. Apa yang akan terjadi padanya jikalau suatu saat nanti semua harta dan kemewahan yang ia miliki akan lenyap?.

6. Tidak Mengambil Ibrah dari sebuah Kejadian
Marilah kita coba melihat kembali betapa banyak tragedi bencana alam dan peperangan yang telah terjadi di beberapa Negara. Tidakkah kita berusaha untuk mengambil suatu ibrah (pelajaran) atas apa yang telah menimpa kepada mereka?.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat) ".(QS. Al-Ahqaaf [46]:27)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala juga., "Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".(QS. Ibraahiim [14]:45)
Jika Anda pernah membaca ataupun mengetahui sejarah perjalana suatu bangsa, tentu Anda akan mengetahui bagaimana Allah Subhana wa Ta'ala telah menimpakan kepada mereka berbagai macam kesusahan dan penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri yang telah menyimpang dari jalan Allah yang diridhai-Nya.
Dan kebanyakan orang di zaman sekarang ini, meskipun mereka sudah tertimpa suatu bencana, namun sayangnya mereka tidak bisa mengambil pelajaran dan mengoreksi kesalahan diri mereka sendiri. Mereka justru tidak berpikir untuk kembali ke jalan-Nya dan tidak mau berusaha untuk merubah jalan hidup sedikitpun ke arah yang lebih baik

7.  Mencampurkan Kebenaran dan kebathilan.
Sebagian orang di kalangan umat Islam, diantara mereka masih saja ada yang hidup dalam dunia kegelapan. Mereka kadang mengerjakan sembahyang kadang pula meninggalkannya. Satu saat mereka berkumpul bersama orang-orang saleh di waktu yang lain mereka bergumul dengan musuh-musuh Allah. Kadang juga mereka hanyut dalam lantunan ayat Al-Qur'an yang mereka baca dengan isak tangis namun setelah itu mereka juga tidak mau ketinggalan untuk mendengarkan dendangan musik dan lagu. Kadang pula mereka memegang siwak mengikuti ajaran orang-orang saleh, akan tetapi mereka juga tetap mengisap rokok.
Fenomena ini sering kita jumpai pada orang-orang yang baru saja mendapatkan hidayah dan belum memiliki iman yang kokoh di hatinya. Hari ini mereka dengan seksama mendengarkan ceramah-ceramah di sebuah majelis ilmu, tapi keesokan harinya mereka juga terlihat duduk bersantai-santai dan bersenda gurau di sebuah diskotik ataupun di sebuah kedai kopi.
Padahal, Seandainya saja mereka benar-benar berpegang kepada Allah, niscaya Allah pun akan benar-benar menuntun mereka.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik".(QS. Al-’Ankabuut [29]:69)
Penyampuran antara hak dengan yang batil ini sudah tidak jarang sekali kita jumpai di kalangan umat Islam. Mungkin saja dalam beberapa waktu mereka terlihat istiqomah dan konsukuen dalam menjalankan ajaran agama layaknya orang-orang saleh. Namun di sisi lain mereka juga dengan berani mengejek-ejek dan meremehkan sebagian ajaran dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

8. Kagum Terhadap Peradaban Orang Kafir
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, " Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai".(QS. Al-Ruum [30]:7)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya".(QS. Al-Naml [27]:66)
Kekaguman umat Islam terhadap peradaban mereka ini justru sangat berpengaruh terhadap moral umat Islam saat ini. Dan hal ini lah yang termasuk menyebabkan semakin banyaknya fitnah dan bencana yang terjadi di tubuh umat Islam.
Contohnya saja dalam hal berpakaian. Model pakaian mereka (orang-orang kafir) yang dielu-elukan sebagai model tren dunia terkini membuat sebagian umat Islam melepaskan pakaian mereka dan menggantinya dengan model pakaian yang dikenakan oleh orang-orang kafir.
Ingatlah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dalam golongan kaum itu". (HR Imam Ahmad).

9.  Tidak Sepenuh Hati Berserah Diri Kepada Allah.
Allah Subhana wa Ta'ala telah memberikan kemulian kepada kita umat Islam dengan memberikan petunjuk-Nya melalui ajaran-ajaran para nabi dan rasul-Nya. Dia-lah yang telah menyadarkan kita dari segala kelalaian dan kesesatan.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Yangemikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dank arena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.}(QS. Muhammad [47]:11)
Dan bagaimana dengan auliya Allah? Mereka yang telah menjadi kekasih Allah, bagaimanakah sifat-sifat mereka, sehingga mereka mendapat pangkat yang semulia itu di sisi Allah?, apa yang menjadi warna dalam kehidupan mereka?
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa". (QS. Yuunus [10]:62-63)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala juga,  "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang". (QS. Al-Maidah [5]:55-56)
Maka hendaknyalah Anda mengetahui bahwa yang akan menjadi penolong bagi Anda sebenarnya adalah orang yang beriman, yang mengerjakan shalat dan menunaikan zakat. Sungguh aneh sekali, ketika kami melihat umat Islam yang begitu berharap kepada orang kafir yang tidak beriman, tidak mengerjakan shalat, tidak berpuasa, untuk menjadi penolong bagi dirinya !!.

10. Meremehkan Dosa.
Apa yang akan Anda dengar dari seseorang apabila Anda menanyakan kepadanya tentang dosa?. Apakah dia akan mengatakan bahwa dosa adalah hal yang biasa saja?. Semudah inikah jawabannya?. Apakah karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?.
Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa orang akan dengan sangat mudah melakukan perbuatan maksiat, seakan-akan mereka tidak takut dan merasa aman dari ancaman siksa Allah. Sedangkan orang-orang yang selalu berbuat taat kepada Allah dan melakukan kebaikan terlihat seperti orang yang selalu ketakutan.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkomentar tentang orang-orang munafik: "mereka (orang-orang munafik) tidak pernah merasa takut kecuali terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka akan merasa tenang apabila mereka bersama-sama dengan orang-orang yang munafik juga".

11. Para ulama tidak menyampaikan kebenaran.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu". (QS. Al-Maaidah [5]:63)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala juga, "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela'nati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Baqarah [2]:159-160)
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu menyampaikan apa yang kita ketahui dari ajaran agama dengan cara yang bijaksana dan baik. Walaupun yang kita ketahui itu hanya satu ayat dari Al-Qur'an maupun hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Sampaikanlah apa yang kalian dapat dariku meskipun hanya satu ayat saja". (HR Bukhari)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah akan memanjangkan umur seseorang yang mendengarkan satu perkataan dariku, lalu ia menghapalnya dan menyampaikannya kepada orang lain, maka berapa banyak orang yang akan menyampaikan apa yang telah ia sampaikan". (HR Imam Ahmad)
Sabdanya lagi, "Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka hendaknya lah ia mengubahnya dengan tangannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan munggunakan lisannya, dan jika ia tidak mampu juga maka dengan menggunakan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya Iman". (HR Muslim)

12. Terperangkap dalam kemaksiatan
Akan sadarkah orang yang telah sekian lama bergelayut dalam dunia maksiat?. Adakah terbesit di hatinya untuk bertaubat kepada Allah dan meninggalkan semua kemaksiatan yang telah ia lakukan?.
Apakah seseorang baru mau bertaubat apabila ia sudah menikah?. Dan ketika ia sudah menikah tetapi masih saja melakukan kemaksiatan, apakah harus menunggu dulu sampai ia menunaikan ibadah haji?. Tidakkah ia takut kematian yang akan datang kepadanya sedangkan ia masih dalam keadaan berlumuran dengan dosa dan maksiat?.
Firman Allah ta'ala, "Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik". (QS. Al-Hadiid [57]:16)

13. Keimanan yang Lemah.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)". (QS. Al-Nisaa` [4]:143)

Inilah sebagian tanda-tanda orang munafik. Mereka kadang begitu konsukuen (istiqomah) dalam beragama, dan kadang pula berbuat hAl-hal yang menyimpang jauh dari ajaran agama. Bahkan mereka mempunyai kesan yang baik dan kedudukan mulia di mata orang banyak, namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang sangat dimurkai oleh Allah.
’Aisyah ra berkata dalam sebuah hadis:, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "barang siapa yang hanya mencari keridhaan manusia namun sebenarnya Allah murka padanya, maka Allah akan membuat seluruh manusia pun menjadi murka kepadanya. Dan barang siapa yang hanya mencari keridhaan Allah, maka Allah akan membuat seluruh manusia menjadi ridha kepadanya". (HR Al-Qadhâ'i)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah mengolok-olok. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka". (QS. Al-Baqarah [2]:14-15)
Imam Syafi'i menuturkan sya'irnya yang berbunyi:
Jika engkau benar-benar ingin menjadi temanku
Maka darimulah aku tahu bahwa aku sebenarnya kurus dan tidak gemuk

Jika tidak maka jauhilah aku dan jadikanlah aku
Sebagai musuhmu yang engkau takuti dan aku takut kepadamu

14. Lupa mengingat Allah
Allah Subhana wa Ta'ala bercerita tentang Bani Israil dalam firman-Nya, "Kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang tercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagianya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya". (QS. Al-’An’aam [6]:91)
Yaitu mereka (Bani Israil) hanya menjadikan Taurat sebagai pajangan belaka bukan untuk dipelajari dan diamalkan. Dan Al-Qur'an yang telah diturunkan oleh Allah adalah untuk diamalkan isinya dan dijadikan sebagai sumber hukum dan pedoman hidup.
Firman Allah Subhana wa Ta'ala, "Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?". (QS. Al-Maidah [5]:50)
Firman Allah Subhana wa Ta'ala juga, "Maka takkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam". (QS. Al-An’aam [6]:44-45)
Dari isi ayat di atas, maka jelaslah sudah bahwa Allah Subhana wa Ta'ala membuat orang-orang yang telah pergi berpaling  meninggalkan jalan Allah menjadi lupa dari menyebut nama-Nya, sebagai hukuman bagi mereka atas apa yang telah mereka lakukan.

15. Mengutamakan Dunia Daripada Akhirat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Demi zat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, bukanlah kefakiran yang aku takutkan terjadi pada diri kalian. Akan tetapi yang aku takutkan adalah kalian terbuai dengan keindahan dunia hingga kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan kalian menjadi binasa karenanya seperti binasanya orang-orang yang sebelum kalian". (HR Bukhari)
Demi Allah !!. Apa yang dikuatirkan oleh Rasulullah tersebut memang benar-benar terjadi pada umat beliau. Pernahkah kita mendengar terjadi perdebatan dan saling mencemooh antara bayi yang masih terkandung di dalam rahim ibunya?. Namun ketika mereka telah lahir ke dunia dan tumbuh besar, harta dan materi bersarang di dalam hati mereka dan menyingkirkan iman yang ada di hati mereka. Sungguh tiada daya dan upaya melainkan hanya Allah.

Related Posts:

TAWAKAL "serahkan semua pada Allah"

Tawakal Kepada Allah
Allah SWT. berfirman,
قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُوْنَ وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (al-Maidah 5: 23).
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (at-Thalaq : 65: 3).
Rasulullah saw. bersabda,
مَنْ قَالَ بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ, يُقَالُ لَهُ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ.
Barangsiapa yang membaca: “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah”, maka dikatakan kepadanya: Engkau diberi petunjuk, engkau dicukupkan, engkau dipelihara dan syetan pun lari darinya. (HR. Abu Daud dari Anas ra.).
لَوْ اَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا.
Seandainya kamu benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi rizki kepadamu sebagaimana Dia memberi rizki kepada burung yang berangkat pagi dengan perut kosong dan kembali dengan perut kenyang. (HR. Tirmidzi).
Menurut ayat dan hadits tadi, tawakkal hanyalah kepada Allah SWT dan hendaklah dibarengi dengan usaha. Oleh karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal sebagai berikut:
اَلتَّوَكُّل: اَلسَّعْيُ فِى اْلاَسْبَابِ وَاْلاِعْتِمَادُ فِى النَّتَائِجِ عَلَى اللهِ.
Tawakal ialah berusaha dengan berbagai cara dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. (Ibnu Katsir)
Ketika seseorang tidak menambatkan tali untanya karena merasa cukup bertawakal, Rasulullah menegurnya, “I’qil watawakkal, tambatkan untamu lalu bertawakal kepada Allah.”
Unsur-unsur tawakal meliputi: Tauhid kepada Allah (tauhiidun lahu), berbaik sangka kepada Allah (husnuzh-zhonni bihi), berpegang teguh kepada agama-Nya (tsiqotun bidiinihi), yakin atas pertolongan dan bantuan-Nya (yaqiinun bi nashrihi wa ta’yiidihi).
Tawakal seorang hamba kepada Allah SWT memiliki tiga tingkatan:
Tawakal dengan keyakinan atas jaminan dan pertolongan Allah, dan menyerahkan segala urusan sepenuhnya kepada-Nya, seperti halnya kita percaya penuh kepada seorang wakil kita.
Tawakal kepada Allah seperti halnya sikap bayi atas perlakuan ibunya. Si bayi tidak mengenal selain ibunya, tidak mau berlindung kepada selainnya, tidak meminta tolong kepada selainnya. Perhatiannya selalu tertuju kepada ibunya setiap saat. Apabila digantikan, maka yang pertama keluar dari mulutnya adalah ‘ibu!’. Yang paling merisaukan hatinya adalah ibunya, karena sang ibu telah mecurahkan perlindungan dan kasih sayangnya.
Tawakal dengan keyakinan bahwa gerak diamnya ada di tangan Allah, seperti halnya mayat di tangan orang yang memandikannya. Dialah orang yang kuat imannya, karena yakin Allah sebagai sumber penggerak. Inilah derajat tawakal yang paling tinggi.

I I I I I
وَاحْبُبْ نَبِيَّكَ ثُمَّ عَظِّمْ قَدْرَهُ D  وَابْخَلْ بِدِيْنِكَ مَا يُرَى بِكَ مَأْثَمُ
Dan cintailah Nabimu, lalu agungkanlah kedudukannya. Kikirlah dengan agamamu, niscaya tidak ada dosa pada dirimu.
I I I I I
Dalam bait ini terdapat tiga cabang iman, yaitu cinta kepada Nabi, mengagungkan kedudukan Nabi, dan kokoh memegang agama Islam.

Related Posts: