Reinkarnasi Buku Shaalihaa Without Feminism


Bismillahirrahmanirrahim…

Semoga Allah memberkahi kita semua.
Pada awalnya, saya menulis naskah berjenis karya ilmiah yang saya buat tahun 2014 lalu. Tepatnya saat saya duduk di bangku kelas XI (sebelas) Muallimin/MA/SMA.

Awal mula saya mengerjakan karya tulis ini karena tugas akhir sekolah yang sudah lazim dilakukan di seluruh pesantren persis pada umumnya. Berawal dari itu semua, kemudian saya mulai tertarik mengkaji pembahasan yang ada di dalamnya yaitu tentang ‘feminisme’. Dan setelah tugas itu berakhir, saya memutuskan untuk melanjutkan menyempurnakan tulisan saya.

Ketika dipertengahan penyelesaian tulisan itu, saya iseng mengirimkan naskahnya ke salah satu penerbit mikro di kabupaten Bandung. Yang kebetulan pemilik penerbitan itu adalah rekan saya sendiri yang saya kenal di media sosial, setelah ia membaca tulisan-tulisan saya di blog pribadi saya.

Dia tertarik dengan tulisan-tulisan saya di blog dan mencar profil saya kemudian kita berteman. Dia terus memotivasi saya untuk menulis, karena menulis di usia muda itu sangatlah luar biasa menurutnya. Dan dia berjanji akan menerbitkan tulisan saya tanpa seleksi.

Hingga tibalah saya mengajukan tulisan saya yang awalnya berjudul “Perspektif Islam terhadap Konsep Feminisme”. Setelah saya mengirimkan naskah itu, seminggu kemudian pihak penerbit itu menghubungi saya dan memberitahukan bahwa buku saya akan terbit awal tahun 2016. Saat itu saya mengajukan pada akhir tahun 2015. Saya menyelesaikan tulisan saya dengan bebrapa kali revisi, di kejar deadline untuk awal tahun.

Akhirnya, di awal tahun 2016, saya menyelesaikan tulisan saya dan menyerahkannya pada penerbit. Lalu penerbit mengedit ulang naskah saya dan membuat design cover dan design layoutnya. Tidak lama, dua minggu setelah saya menyerahkan naskah itu penerbit mengatakan bahwa buku saya siap cetak. Sistem penjualan buku itu dengan PO atau Pre Order.

Sedangkan untuk launchingnya, penerbit tidak bicara banyak. Hanya merencanakan untuk Touring buku saya di beberapa pesantren di pulau jawa, khususnya Jawa Barat. Lantas saya atas perintah penerbit langsung membuat informasi di akun media sosial saya tentang buku saya. Dimulai dari pengiklanan buku saya melalui sistem pre order. Alhamdulillah, banyak sekali yang daftar PO buku melalui saya ataupun penerbitnya langsung.

Bukunya akan ready sekitar satu bulan, kata penerbit. Lalu dengan launchingnya, ia mengandalkan  saya sebagai penulisnya untuk membuat acara soft launching untuk buku saya sendiri. Karena saya aktif di salah satu organisasi pelajar di kota Bandung, maka penerbitpun mulai mengandalkan organisasi yang saya ikuti tersebut.

Kemudian organisasi saya itu mulai merencanakan acara launching buku saya. Akan tetapi, pihak penerbit tidak banyak terlibat, dia menyerahkan acaranya begitu saja. tapi, pihak penerbit menginginkan secepatnya acara launching itu dilaksanakan. Hanya diberi waktu dua minggu. Pihak organisasi merasa keberatan dan merasa tidak sanggup. Seminggu saat acara akan dimulai, pihak penyelenggara sama sekali belum siap.

Tak hanya itu, bukupun belum selesai cetak. Padahal, saat itu yang ikut PO lumayan banyak. Tibalah beberapa hari menuju acara, sama sekali belum siap, bukupun belum selesai cetak. Sedangkan uang para pembeli buku sudah masuk ke rekening penerbit.

Hingga sehari sebelum acara dimulai, pihak penyelenggara belum mendapatkan gedung, sedangkan pengumuman sudah di sebar kecuali tempat yang masih dirahasiakan. Di hari yang sama, buku belum ada di tangan penulis. Hingga akhirnya, pihak sekolah (saat itu dinaungi oleh pihak sekolah) memintaku untuk menghubungi penerbit. Akan tetapi penerbit itu sulit dihubungi.

Sambil berusaha menghubungi penerbit, saya sangat stress sangat galau menghadapi hari itu. Dan ketika berbincang dengan kepala sekolah, mengenai penerbitan dan kerjasama saya baru tau saat itu saya sedang ditipu oleh pihak penerbit yang tidak bertanggung jawab itu. Hingga satu hal yang paling penting dalam sebuah kerjasama yaitu MOU saat itu belum ada.

Saya telah menanyakan ini pada penerbit, tapi dia bilang urusan belakangan. Karena dia itu teman saya, maka saya bilang ok dan saya merasa tenang. Begitupun saat menanyakan apa benefit bagi penulis, penerbit bilang bahwa royalty sepenuhnya akan disumbangkan ke Palestine. Lagi-lagi saya mengiyakan karena ide bagus juga, sambil dakwah sambil beramal harta, tak berpikir panjang.

Tapi ternyata saya tertipu oleh itu semua. Janji manis, berujung pahit. Itu yang saya rasakan saat itu. Dimana undangan telah disebar, seluruh teman di media sosial telah mengetahui acara yang terpaksa akan dibatalkan. Dan para pemesan buku sudah menunggu buku yang tak kunjung selesai. Risau.

Hingga tiba hari H, orang-orang sudah berkumpul di tempat yang tadinya akan diselenggarakan acara launching buku “Shaalihaa Withot Feminis” meski saya sudah membuat pengumuman di seluruh media sosial bahwa acaranya akan di tunda. Di hari H, saya mengurung diri dikamar. Mentafakuri apa yang telah terjadi. Sedih memang.

Di hari H, hingga kini penerbit yang bersangkutan tidak ada membalas pesan, telpon maupun bbm dan sebaginya. Intinya dia sangat sulit untuk dihubungi hingga sekarang. beberapa orang yang memesan buku sudah menerima bukunya lewat pos, namun tak sedikit pula yang hingga kini belum mendapatkan bukunya. Dan terpaksa, saya harus mengganti uang yang pernah mereka transfer ke rekening penerbit.

Sampai saat ini, aku belum pernah memegang buku itu. Naskahku dibawa olehnya tanpa kejelasan, dan uangku pun melayang menggantikan uang mereka. Aku tidak marah, aku hanya kecewa, tapi mungkin ini adalah takdirku. Yang aku takutkan adalah, tulisanku yang ada dipenerbit, diakui oleh orang lain. saya takut karyaku dicuri. Karena susah payah saya mengerjakannya.

"akhir cerita indah"

Setelah hampir genap satu tahun lamanya.
Setelah diri ini mengalami konflik batin yang sangat luar biasa.
Trauma untuk menulis itu pasti.
Galau itu pasti.
Malu juga pasti.
Sakit hati apalagi.
Tapi saya yakin selama Allah berkehendak, harapan itu akan selalu ada.

Hingga tibalah hati ini mulai memutuskan.
Melupakan semua kejadian, pengalaman pilu mengenai buku ini.
Mencoba ikhlas dan menumbuhkan harapan baru.
Kubuka naskah buku ini yg alhamdulillah masih ku simpan dalam file di laptopku.
Revisi, review. Itu yg aku lakukan.
Sesak dalam dada masih ada.

Sambil proses itu, ku coba mengirimkan ulang naskahku ini kepada beberapa penerbit yang cukup 'bernama'.
Aku tidak begitu berharap lebih, hanya ingin memulai hidup baru.
Beberapa minggu kemudian, satu persatu penerbit yang aku kirimi naskahku membalas emailku.

Mengejutkan memang, hampir semua dari mereka menerima naskahku untuk terbit.
Berselang hanya beberapa hari dari mereka.
Tapi, siapa cepat dia dapat.
Alhamdulillah, @kaifapublishing yang pertama membalas emailku...

Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya kami memutuskan untuk bekerja sama.
Dimulai dari pengeditan naskah, layouting, recover, dan pengajuan ISBN.
Dan tibalah semua diakhir penantianku.

ALHAMDULILLAH...
Ini design cover buku "SHAALIHAA WITHOUT FEMINISM" yang terbaru...
ALHAMDULILLAH... pengajuan ISBN diterima...
INSYAALLAH....
akhir bulan ini, atau bulan depan buku ini bisa di terbitkan dan di pasarkan di beberapa toko buku di Indonesia khususnya pulau Jawa.

ALHAMDULILLAH...
TERIMAKASIH...
atas segala doa dan dukungan yang telah diberikan padaku saat ku terpuruk lalu.
Semoga Allah membalas semua doa & dukungan kalian semua.
.
๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•
Dengan hormat dan penuh syukur,
@salmafifeeh
Menceritakan dari tempat kejadian ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„
#shaalihaawithoutfeminism #shaalihaawithoutfeminism #shaalihaawithoutfeminism

Related Posts:

Cetakan Pertama Shaalihaa Without Feminism




(Cover lama cetakan I, Febuari 2016)


"Shaalihaa Without Feminism" by @salmafifeeh


Isu Feminisme telah menggemparkan dunia.
Membuat lemah lembutnya seorang hawa berubah menjadi Agresif, berontak, dan menuntut persamarataan dengan kaum laki-laki.
Shaalihaa, Agamamu Islam kan?
Tidak setuju poligami?
Tidak mau menutup aurat?
Cinta pada laki-laki non-islam?
Menggugat cerai suami?
Setelah ditinggal ingin langsung menikah lagi?
Iri dengan pembagian waris?
Ingin menjadi pemimpin?
Ingin bebas berkeliaran di dunia luar ?

HATI-HATI!! Jangan sampai dirimu terjebak dalam pertanyaan seperti itu!!! Hadiri acaranya, beli&baca bukunya, pahami isinya, amalkan tulisannya, dan jadilah muslimah Shaalihaa Without Feminism...

ฤฐnsyaAllah comeback on 2017!!
Mohon doanya, setelah sekian lama tertunda๐Ÿ˜Š

Related Posts: