Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Perayaan tahun baru merupakan tradisi tahunan yang sudah muncul semenjak zaman Romawi, namun perkembangan berikutnya perayaan ini identik dengan agama nashrani.Setelah terjadi peralihan penanggalan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1586 M. Menjadi penanggalan Masehi.

Dalam sejarahnya, semula perayaan ini dilakukan oleh Raja Numa Pompilius dalam rangka pemujaan dewa Janus yang diyakini secara khas dalam ajaran Romawi sebagai dewa perdamian dan keamanan yang memerintah di langit dan dibumi lalu selanjutnya Raja Pompilius mendirikan sebuah tempat yang dijadikan momentum pemujaan setiap tanggal 1 Januari yang diselaraskan dengan nama Januarius, (Januae berarti pintu dan Januari berarti Pintu Tahun). Demikian A.D. El. Marzdedeq dalam Parasit Akidah, hal. 235.

Demikian pula bangsa Arab Jahiliyyah, seiring dengan pergeseran matahari k titik bintang Halm (Aries) dan Mizan (Gemini), mereka merayakan hari Nairuz dan Mahrojan. Inilah sisa-sisa peribadahan para penyembah matahari yang masih melekat pada warga Madinah tempo dulu sampai Allah ‘Azza wa Jalla menggantikannya dengan dua hari yang lebih baik, dimana Rasulullah saw bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“….Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Adapun kaum yahudi, merekapun sudah terbiasa menjadikan semua momentum brsejarah dan istimewa dijadikan “Hari raya”, hal ini Nampak dari pengakuan seorang yahudi kepada shahabat Umar bin Khaththab ra. Untuk menjadikan peristiwa turunnya ayat

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Sebagai hari raya. (Fathul Bari: 1/141 no. 45)

Lebih jelasnya apapun bentuk perayaannya tidaklah lepas dari tradisi dan budaya yahudi dan nashrani sebagaimana isyara Rasulullah saw

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Dalam pandangan para ulama mengenai kaum muslimin turut serta dalam perayaan tersebut hal ini sudah merupkan larangan yang nyata. Bilamana kaum muslimin bersibuk ria dalam hari raya mereka (termasuk tahun baru) yang penuh budaya sinkretisme dan hura-hura (tasyabbuh dan tabdzir) itu, jangankan melakukan dengan penuh keyakinan agama, sekedar hadir dan turut mensuksekan acara tersbut saja sesuatu yang sangat terlarang bahkan haram dalam agama islam.

Wallahu'alam

Oleh: Kurniawan

Related Posts:

Tilawah Al-Qur'an #3

TILAWAH ALQURAN
Part 3
Hasil gambar untuk Al Quran hd

3. Membaca Alquran tanpa wudu (ketika hadas kecil)

Pada pembahasan sebelumnya telah diterangkan, bahwa orang yang sedang junub, wanita haid atau nifas (yang berhadas besar) boleh membaca Alquran, sebab hadis-hadis yang melarang mereka untuk membaca Alquran semuanya tidak luput dari kedaifan. (lihat Al-qudwah edisi 25)

Adapun tentang membaca Alquran tanpa berwudu terlebih dahulu atau dalam keadaan hadas kecil, kami belum pernah menemukan satu hadis-pun yang melarangnya. Oleh karena itu, boleh saja orang membaca Alquran tanpa berwudu terlebih dahulu, sebab wudu bukanlah merupakan syarat untuk membacanya.

Agar lebih menenteramkan hati, marilah kita perhatikan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas. Dalam hadis ini diterangkan, bahwa Hirakla (Raja Najasyi) membaca surat dari Rasulullah saw. yang berisi ayat suci Alquran, padahal ia non muslim. Sedangkan orang non muslim itu sudah tentu tidak bersih dari hadas kecil maupun hadas besar. Perhatikanlah hadis di bawah ini:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَخْبَرَنِي أَبُو سُفْيَانَ أَنَّ هِرَقْلَ دَعَا بِكِتَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ فَإِذَا فِيهِ بِسْم اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَ ( يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ ) . رواه البخاري 

Ibnu Abbas berkata,”Telah mengkhabarkan kepadaku abu Sufyan, bahwa Hirakla pernah meminta surat dari Nabi saw. kemudian ia membacanya. Ternyata dalam surat itu tercantum (ayat) “bismillahir rahmanir rahim” dan “ya ahlal kitabi ta’alau ila kalimatin” (Ali Imran:64). HR. Al-Bukhari

Pada hadis di atas, Rasulullah saw. tidak memerintahkan untuk berwudu kepada Hirakla yang akan membaca surat yang berisikan ayat Alquran, demikian juga kepada sahabatnya yang menulis dan membaca isi surat itu. Dengan demikian jelaslah, bahwa orang membaca Alquran tidak perlu berwudu terlebih dahulu.

4. Menangis ketika membaca Alquran

Ada sebagian yang berpendapat, bahwa di antara etika membaca Alquran itu adalah harus sambil menangis, bahkan jika tidak bisa menangis, hendaklah berusaha agar dapat menangis. Alasan mereka yang berpendapat seperti itu adalah berdasarkan keterangan di bawah ini:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَانِ بْنِ السَّائِبِ قاَلَ: قَدِمَ عَلَيْنَا سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَقَدْ كَفَّ بَصَرُهُ, فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ, فَقَالَ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَخْبَرْتُهُ, فَقَالَ: مَرْحَبًا بِابْنِ أَخِي, بَلَغَنِي أَنَّكَ حَسَنُ الصَّوْتِ, سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلعم يَقُولُ: إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ, فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا, فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكُوا. وَتَغَنَّوْا بِهِ, فَمَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِهِ فَلَيْسَ مِنَّا. 

Dari Abdurrahman bin As-saib ra. ia berkata,”Telah mendatangi kami Sa’ad bin Abu Waqqas (yang saat itu) sudah tidak berfungsi lagi penglihatannya. Lalu aku mengucapkan salam kepadanya. Sa’ad bertanya,’Siapa kamu’? Lalu aku memberitahukan kepadanya. Kemudian Sa’ad berkata lagi,’Selamat datang anak saudaraku! Telah sampai (berita) kepadaku bahwa kamu bersuara bagus dalam membaca Alquran. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,”Sesungguhnya Alquran ini turun dengan kesedihan. Apabila kamu membacanya, menangislah, bila tidak bisa menangis, berusahalah untuk menangis. Dan lagukanlah oleh kalian membaca Alquran itu. Barangsiapa tidak melagukannya, bukanlah golongan kami”.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah III:129, Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra X:231 dan Abu Ya’la Al-Mushili dalam Musnadnya II:50. Semua sanad hadis di atas melalui rawi yang bernama Abu Rafi, yang nama aslinya adalah Ismail bin Rafi bin Uwaimir. Ia dijarah oleh para ahli hadis. Seperti An-Nasai, ia berkata,”Dia matrukul hadis, daif dan laisa bitsiqatin”. Ad-Daraqutni berkata,” Abu Rafi itu matruk”. Sedangkan Ya’qub bin Sufyan berkata,”Abu Rafi tidak tergolong matruk, akan tetapi hadisnya tetap tidak bisa dipakai hujjah”. (Tahdzibul Kamal, III:88)

Dengan keterangan-keterangan di atas jelaslah, bahwa orang yang berpendapat harus menangis atau berusaha untuk menangis ketika membaca Alquran itu tertolak.
Keterangan

Adapun menangis ketika membaca Alquran bagi orang yang tersentuh hatinya, sebab ia mengerti serta faham kepada isi kandungan ayat-ayatnya, maka hal itu boleh-boleh saja, akan tetapi tidak menjadi lebih utama. Dan ini sama halnya seperti orang yang menangis ketika mendengar seseorang membaca Alquran, karena mengetahui kebenarannya.

قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُوا, إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا # وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولاً # وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا # الإسراء:107-109 

Katakanlah,”Berimanlah kamu kepadanya (Alquran) atau kamu tidak beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka bersyukur atas muka mereka sambil bersujud”. Dan mereka berkata,”Mahasuci Tuhan kami! Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka bersyukur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk. QS. Al-Isra: 107-109.

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنْ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنْ الْحَقِّ, يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ. المائدة:83 

Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata,”Ya Tuhan kami! Catatlah kami bersama-sama orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad saw). QS. Al-Maidah: 83.

عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِقْرَأْ عَلَيَّ قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ ( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا ) قَالَ أَمْسِكْ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ . رواه البخاري 

Dari Amer bin Murrah ra. ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda kepadaku,’Bacalah (Alquran) untukku’. Aku menjawab,’Apakah aku (pantas) membacakan Alquran untukmu padahal kepadamu ia diturunkan’. Beliau bersabda,’Aku suka mendengarnya dari yang lain’. Lalu aku membaca untuknya surat An-Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” Nabi Bersabda,’Berhentilah! Ternyata kedua mata beliau berlinang”. HR. Al-Bukhari, Fathul Bari, X:121

Bersambung...
Next

Related Posts:

Perbedaan BB CC DD cream secara ringkas & jelas


Seringkali kita mendengar istilah BB Cream, CC Cream, dan DD Cream dalam kamus kecantikan. Sekilas nampak samar apa arti masing-masing dari istilah tersebut. BB, CC, DD Cream di namakan sesuai Abjad dan ternyata memiliki arti dan manfaat yg sesuai tingkatan Abjadnya juga.

Nah, buat kamu yang masih bingung apa saja perbedaan antara BB, CC, dan DD Cream. Langsung saja kita lihat ulasan di bawah ini.


1. BB cream : Beauty mist balm atau Beauty Balm

- terdiri dari foundation ringan dan moisturizer
- sheer to medium coverage
- biasanya mengandung SPF

2. Cc cream atau color correcting cream
- Berguna untuk mengatasi warna kulit tidak merata seperti noda hitam kemerahan dan bekas jerawat
- cc cream lebih ringan daripada BB cream

3. DD cream atau Daily Defense cream
- gabungan antara formula BB dan cc cream
- DD cream mengandung foundation, primer, brightener, moisturizer, serum, pore minimizer dan anti aging.

Sekian ulasan dari kami. Jika kamu ingin melihat penjelasan lebih lengkap. Silahkan tonton video di bawah ini


Related Posts:

Tilawah Al-Qur'an #2

TILAWAH ALQURAN 
Part 2
Hasil gambar untuk Al Quran hd

Ahkamusy Syar’I

Mengenai tilawah Al-quran (membaca Alquran) ini ada beberepa hukum yang berkaitan dengannya, seperti bagaimana hukum melagukan Alquran dan hukum menangis ketika membacanya. Selain itu, ada beberapa masalah yang sering menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat, seperti bolehkah wanita haid membaca Alquran? Bolehkah membaca Alquran tanpa berwudu terlebih dahulu dan lain-lain.

Untuk mengetahui duduk persoalannya, marilah kita perhatikan keterangan-keterangan yang akan kami rinci melalui subjudul di bawah ini.

1. Wanita Haid dan Nifas Membaca Alquran

Membaca Al-quran pada dasarnya siapa pun boleh kecuali, ada dalil yang melarangnya. Ternyata bagi wanita yang sedang haid atau nifas ada beberapa hadis yang melarang mereka untuk membaca Alquran. Namun, hadis-hadis tersebut tidak luput dari kedaifan. Agar lebih jelas, marilah kita perhatikan hadis-hadis tersebut berikut keterangan mengenai kedaifannya.

1-عن ابن عمر قال: قال رسول الله ص:لا تقرإ الحائض ولا الجنب شيئا من القرآن. رواه الترمذي 

Dari Ibnu Umar ra. ia mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah wanita haid dan yang sedang junub membaca sesuatu pun dari Alquran’”. HR. At-Tirmidzi

2- عن جابر قال : لا يقرأ الحائض ولا الجنب و النفساء القرآن. رواه الدارقطني 

Dari Jabir ra. ia mengatakan, “Tidaklah (janganlah) wanita haid, yang junub, dan yang sedang nifas membaca Alquran”. HR. Ad-Daraquthni

Hadis pertama diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitabut Thaharah juz I:236. Dan hadis yang semakna dengannya diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah masih dalam Kitabut Thaharah juz I:331.

Kedua hadis ini melalui rawi yang bernama Ismail bin ‘Ayyasy bin Sulaem. Dia adalah orang Syam tepatnya di Himsha. Ismail bin Ayyasy pada asalnya rawi tsiqat dan hadisnya sahih bila ia menerima hadis dari rawi yang senegeri dengannya. Tetapi bila ia menerima hadis dari rawi lain yang tidak satu negeri dengannya maka hadisnya daif tidak bisa dijadikan hujah.

Kebetulan pada hadis di atas Ismail bin Ayyasy menerima hadis dari Musa bin Uqbah. Dia adalah orang Madinah. Berarti ia menerima hadis dari rawi yang tidak satu negeri denganya. Imam Al-Bukhari mengatakan,”Bila Ismail bin Ayyasy menerima hadis bukan dari rawi yang senegeri dengannya maka fiihi nazhar (hadisnya ditinggalkan). Sedangan menurut Yahya bin Ma’in, bila Ismail bin Ayyasy menerima hadis bukan dari rawi yang senegeri dengannya (yaitu negeri Syam) maka dia ikhtilath (pikun). (Lihat Tahdzibul Kamal, III:177, Al-Kamil fi dhu’afair rijal, I:294 dan Al-Majruhin, I:125)

Selain itu, ada juga hadis yang sanadnya tidak melalui rawi Ismail bin Ayyasy tetapi melalui Abu Ma’syar dari Musa bin Uqbah yang diriwayatkan oleh Ad-daraqutni dalam Sunannya juz I:118. Akan tetapi pada hadis riwayat Ad-Daraquthni ini terdapat rawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya). Oleh karena itu, hadisnya pun tetap ditolak.

Hadis kedua diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam sunannya juz, I:121. Hadis ini tidak bisa dipakai hujah, karena selain mauquf (sanadnya sampai sahabat) juga pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Yahya. Nama lengkapnya adalah Yahya bin Abu Anisah. An-Nasai dan Ad-daraquthni mengatakan, “Dia matrukul hadis” (hadisnya ditinggalkan). Abu Hatim, Abu Zur’ah, Yahya bin Ma’in mereka mengatakan, “Dia dhaiful hadis (hadisnya daif) Sedangkan Ali bin Al-Madini mengatakan, “La yuktabu haditsuhu (tidak dicatat hadisnya)”. (Tahdzibul Kamal, XXXI:226-227)

Dengan keterangan-keterangan di atas, cukup jelas bagi kita untuk tidak menjadikan hujah apalagi mengamalkan hadis-hadis tersebut.

2. Orang yang Junub Membaca Al-Quran 

Kalangan ahli ilmu telah berbeda pendapat tentang orang yang junub membaca Alquran. Ada yang membolehkan ada yang tidak. Mereka yang melarang orang junub membaca Alquran di antaranya berdasarkan hadis-hadis di bawah ini: 

1- عن علي قال: كان رسول الله صلعم يقرئنا القرآن على كل حال مالم يكن جنبا. رواه الترمذي 

Dari Ali ra. ia mengatakan, “Rasulullah biasa membacakan Alquran kepada kami di setiap keadaan selama tidak dalam keadaan junub”. HR. At-Tirmidzi 

2- عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلعم لايقرأ الجنب شيئا من القرآن . رواه الدارقطني 

Dari Ibnu Umar ra. ia mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak boleh /jangan membaca sesuatu dari Alquran orang yang sedang junub’”. HR. Ad-Dfraquthni, I:117)
 
3- عن أبي موسى قال: قال رسول الله صلعم: يا علي إني أرضى لك ما أرضى لنفسي, وأكره لك ما أكره لنفسي لا تقرأ القرآن وأنت جنب... رواه الدارقطني 

Dari Abu Musa ra. ia mengatakan,”Rasulullah saw. bersabda, ‘Hai Ali! Sesungguhnya aku meridhai kamu (seperti) aku meridhai sesuatu untuk diriku sendiri, dan aku tidak menyukai (sesuatu) untukmu seperti aku tidak menyukai sesuatu untuk diriku! Janganlah kamu membaca Alquran dalam keadaan junub…!’”. HR. Ad-Daraquthni, I:119

4 - عن عبد الله بن رواحة قال:أن رسول الله ص نهى أن يقرأ أحدنا القرآن وهوجنب. رواه الدارقطني 

Dari Abdullah bin Rawahah ra. ia mengatakan, “Bahwasanya Rasulullah saw. melarang salah seorang di antara kami untuk membaca Alquran dalam keadaan junub”. HR. Ad-Daraquthni

Hadis pertama diriwayatkan oleh At-Tirmidzi juz, I:275. Dan hadis yang semakna dengannya diriwayatkan oleh An-Nasai I:155-156, Abu Daud I:52 dan Ibnu Majah I:331. Semua sanad hadis ini melalui rawi yang bernama Abdullah bin Salimah (Salamah). Dia itu rawi yang dikenal akan tetapi diingkari. Ia juga sering berbuat salah dalam meriwayatkan hadis. Selain itu, Imam Al-Bukhari mengatakan, “la yubtaba’u ‘ala haditsihi” (tidak ada mutaba’ah/penolong untuk hadisnya) (Lihat Tahdzibul Kamal, XV:51-52, Tahdzibut Tahdzib, V:241, Lisanul Mizan, II:431, Al-Kamil fi dhu’afair Rijal, IV:169 dan Adh-Dhu’afa wal Matrukin hal 154)

Hadis kedua juga daif karena pada sanadnya ada rawi yang bernama Abdul Malik bin Maslamah Al-Umwi. Ibnu Yunus mengatakan, “Dia Munkarul hadis”. Ibnu Hibban mengatakan ia banyak meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari orang-orang Madinah”. (Lisanul Mizan, IV:68 dan Al-Mughni Fidh-Dhu’afa, II:409).

Hadis ketiga sanadnya melalui rawi Abu Malik, yang nama lengkapnya adalah Abdulmalik bin Al-Husain (Husain) An-Nakhai. Dia dinyatakan daif oleh Abu Hatim, Abu Zur’ah dan oleh Ad-Daraqutni sendiri. Imam Al-Bukhari mengatakan, “Laisa bil qowi (dia tidak kuat). Sedangkan Al-Azdiy dan An-Nasai mengatakan, “Dia matrukul hadis” (hadisnya ditinggalkan) (Lihat Mizanul I’tidal, II:653, Al-Jarhu wat Ta’dil, V:347, Al-Kamil, V:303, dan Adh-Dhu’afa wal Matrukin hal 166)

Hadis keempat pun daif karena pada sanadnya ada rawi yang bernama Salamah bin Wahram. Ahmad bin Hanbal berkata, “Zam’ah bin Salih meriwayatkan hadis-hadis mungkar darinya, dan aku khawatir keberadaan hadisnya itu daif”. Selain itu ia juga dinyatakan daif oleh Abu Daud. Ibnu Addiy mengatakan, “Hadisnya tidak teranggap”. Sedangkan Ibnu Hibban mengomentari, “Boleh hadisnya dijadikan I’tibar (perbandingan) jika diriwayatkan melalui rawi selain Zam’ah bin Salih”. (Lihat Tahdzibul Kamal, XI:328, Mizanul I’tidal II:193, Tahdzibut Tahdzib IV:161, Al-Kamil, III:338, al-Kasyif, II387 dan Al-Mughni I:276)

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas tidak ada satu pun dalil yang sahih yang melarang orang junub membaca Alquran.

Selain itu, ada keterangan Ali bin Abu thalib riwayat Abu Ya’la Al-Mushili, I:300 dan Ahmad bin Hanbal, beliau menyatakan bahwa yang junub tidak boleh membaca Alquran walaupun satu ayat. Pernyataan Ali bin Abu Thalib ini hanya merupakan ijtihad beliau saja bukan ijma’ sahabat, karena sahabat lain-pun seperti Ibnu Abbas berpendapat bahwa tidak ada halangan bagi orang yang junub membaca Alquran (Lihat Fathul Bari, I:541).

Bersambung....
Next

Related Posts:

Tilawah Al-Qur'an #1

TILAWAH AL-QURAN 
Part 1
Hasil gambar untuk Al Quran hd

يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً. المزمل 1-4 

Hai Orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah pada malam hari (untuk salat) kecuali sedikit (daripadanya). Yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al-quran itu dengan tartil. (Q.s Al-Muzzammil 1-4)

MUFRADAT 

اَلْمُزَّمِّلُ (al-muzzammil) asalnya اَلْمُتَزَمِّلُ (al-mutazammil). Kemudian “ta”nya diidghamkan ke dalam “zay” lalu diberi tanda tasydid. Al-Muzzammil artinya orang yang menyelimuti badannya dengan pakaian.

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً Az-zujaz mengatakan,”Maksud ayat ini adalah perjelaslah bacaan Al-quran dengan sejelas-jelasnya. Memperjelas bacaan Al-Quran itu tidak akan sempurna kecuali dengan cara mengucapkan huruf-hurufnya dengan jelas dan benar. . (Tafsir Ash-Shabuni II:622)

Sedangkan arti tartil sendiri adalah irsalul kalimati minal fammi bi suhulatin was tiqomatin (mengeluarkan/mengucapkan kalimat dari mulut dengan mudah dan benar) Ar-Raghib:187

Adapun makna ayat ini adalah bacalah Al-quran itu dengan pelan-pelan, teratur, memperjelas bacaan huruf-hurufnya serta mentadabbur maknanya. (Tafsir Ash-Shabuni II:622 ) 

SABABUN NUZUL

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa, ketika kaum Quraisy berkumpul di Darun Nadwah, berkata satu sama lainnya,”Mari kita mencari nama bagi Muhammad yang tepat dan cepat dikenal orang”. Mereka menjawab,”Kahin (dukun)”. Yang lainnya menjawab,”Dia bukan dukun”. Yang lainnya berkata,”Majnun (orang gila)”. Mereka menjawab,”Dia tidak gila”. Mereka berkata lagi,”Sahir (tukang sihir)”. Mereka menjawab,”Dia bukan tukang sihir”.

Kejadian ini sampai kepada Nabi saw. sehingga beliau pun menahan diri dengan berselimut dan berkerudung. Maka datanglah jibril menyampaikan wahyu, “Ya ayyuhal muzzammil”. Q.s Al-Muzzammil:1

Dalam riwayat Al-Hakim yang bersumber dari Aisyah dikemukakan bahwa, setelah turun ayat ini (Al-Muzzammil 1-4) yang memerintahkan kaum muslimin bangun untuk salat selama kurang-lebih setengah malam pada tiap-tiap malam, mereka melaksanakannya dengan tekun sehingga kejadian ini berlangsung setahun yang menyebabkan kaki-kaki mereka kesemutan. Maka turunlah ayat berikutnya (Al-Muzzammil:20) yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan mempersingkat bacaan. (Asbabun Nuzul:554)

MAKNA AYAT
Allah swt. berfirman yang maknanya mengajak bicara kepada Nabi-Nya yang mulya. Yaitu, hai orang yang berselimut! Bangunlah untuk menerima urusan besar yang sedang menunggumu, berdirilah dengan kuat dan tegap untuk melakukan pekerjaan berat dan melelahkan, singsingkanlah bajumu untuk melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Yaitu untuk mempergunakan sebagian malam untuk salat, bertadharru’, beribadah dan senantiasa khusuk, karena Aku akan mewahyukan kepadamu Al-quran yang agung dan mulya ini. 

Bacalah Al-quran itu dengan mentadabbur dan melihat ayat-ayatnya dengan teliti pada waktu kamu bangun pada malam hari untuk salat. Sebab bangun malam untuk mengerjakan salat lebih berat dirasakan, tetapi lebih besar harapan diterima di sisi Allah swt.

Allah swt. menurunkan Al-quran itu agar dibaca oleh lidah manusia, didengar oleh telinga serta ditadabburi oleh akal mereka supaya menjadi ketenangan bagi jiwa mereka. Al-quran juga merupakan kitabullah yang akan menjadi ibadah bila dibaca serta diamalkan. Bahkan Rasulullah saw. bersabda :

خَيْرُ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

Sebaik-bak orang adalah yang belajar Al-quran dan mengamalkannya
Oleh karena itu, kita dianjurkan membaca Al-Quran itu dengan penuh perhatian, perlahan, khusyuk dan tartil. Karena membaca Al-quran dengan benar, mentadarusnya dan memperhatikan etika-etikanya, selain lebih baik, akan mendapat beberapa keutamaan .

Dari Abu Huhairah ra. berkata,”Rasulullah saw. bersabda:

… مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ, يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَ غَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلآئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ …رواه مسلم 

Setiap kaum yang berkumpul di sebuah rumah Allah sambil membaca kitabullah (Al-quran) dan mentadarusnya, niscaya akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi rahmat Allah, dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut mereka kepada orang yang ada di majlis itu …(H.r. Muslim No. 2699)

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN

Banyak ayat Al-quran dan hadis Nabi saw. yang menganjurkan kita untuk senantiasa membaca Al-quran dengan menjanjikan pahala yang besar dengan membacanya.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ, إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ. سورة فاطر 29-30 

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitabullah (Al-quran), mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, (berarti) mereka mengharapkan perdagangan yang tidak merugi. Agar Allah menyempurnakan bagi mereka pahala-pahala mereka dan menambah kepada mereka sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Q.s. Fathir 29-30)

Dari Aisyah ra. ia mengatakan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اَلْمَاهِرُبِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ شَاقٌّ عَلَيْهِ لَهُ أَجْرَانِ. رواه مسلم:798 

Orang yang pandai membaca Al-quran, ia bersama-sama para malaikat yang mulia, dan orang yang membaca Al-quran dengan mengeja (tidak lancar) dan sulit membacanya, maka baginya dua pahala. HR. Muslim No. 798

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ, وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا. لاَ أَقُولُ "الـم" حَرْفٌ وَلكِنْ اَلِفٌ حَرْفٌ, وَلاَمٌ حَرْفٌ ,وَمِيمٌ حَرْفٌ. رواه الترمذي 

Barangsiapa yang membaca satu huruf saja dari Al-quran, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan “alif-lam-mim” satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dam mim satu huruf. HR. At-Tirmidzi:No 2926

Bersambung....
Next

Related Posts:

Kewajiban Menundukkan Pandangan

KEWAJIBAN MENUNDUKKAN PANDANGAN
Part 2 
Hasil gambar untuk menundukkan pandangan

Ahkamusy Syar’I

1. Hukum Memandang kepada Wanita bukan Mahram
Tidak layak bagi seorang laki-laki melihat wanita selain isteri dan perempuan-perempuan yang menjadi mahramnya. Sebagaimana diterangkan dalam Alquran surat An-Nur ayat 30, yaitu: 

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ 

Katakanlah (Muhammad) kepada laki-laki mukmin, (hendaklah) mereka menundukkan pandanganya…
Demikian juga dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim diterangkan, Ibnu Abbas berkata:

كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ ص فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ اْلآخَرِ… 

Al-Fadhl bin Abbas pernah dibonceng oleh Rasulullah saw. lalu datang seorang perempuan dari suku Khats’am meminta fatwa kepada Nabi. Lalu Al-Fadhl melihat kepada perempuan itu dan perempuan itu pun melihat kepadanya. Lalu Rasulullah saw. dengan segera memalingkan wajah Al-fadhl ke arah yang lain …
Pandangan yang dilarang di sini, tentu bukan hanya sekedar melihat, sebab Rasulullah pun tentu melihat perempuan Khats’am itu. Akan tetapi, pandangan yang diharamkan itu pandangan yang dapat meracuni fikiran hingga menghayal sesuatu yang kotor terlebih menimbulkan perbuatan yang tidak senonoh.

Akan tetapi, Allah swt. tidak memerintahkan hamba-Nya untuk menutup kedua matanya. Adapun apabila terjadi pandangan secara tiba-tiba tanpa disengaja, maka hal itu tidak berdosa dan tidak tercela baginya, sebab yang demikian itu diluar kehendak seseorang. Karena Allah swt. tidak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak akan sanggup untuk dipikulnya.

Nabi saw. pernah bersabda kepada Ali bin Abu Thalib:

لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ اْلأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ . رواه أبو داود 

Janganlah kamu mengikuti pandangan pertama dengan pandangan selanjutnya, karena sesungguhnya yang (halal) bagimu yang pertama bukan yang selanjutnya”. HR. Abu Daud

Sedangkan dalam riwayat lain, Jarir bin Abdullah Al-Bajali berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ ص عَنْ نَظْرَةِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي. رواه مسلم 

”Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. dari pandangan yang tiba-tiba (dengan tidak disengaja). Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan penglihatanku”. HR. Muslim II:342

2. Melihat Wanita yang Dipinang
Apabila seorang laki-laki meminang perempuan, Rasulullah saw. mengidzinkan kepadanya untuk melihat perempuan yang dipinangnya. Hal ini, supaya mendapat kejelasan dalam urusannya dan mengetahui kadar kecantikan dan atau kebaikan perilakunya yang akan mendorongnya untuk menikahinya. Dalam beberapa hadis diterangkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ خَطَبَ رَجُلٌ امْرَأَةً مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ص: هَلْ نَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ ,فَأَمَرَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا . رواه النسائي 

Dari Abu Hurairah, ia berkata,”Seorang laki-laki telah meminang seorang perempuan Anshar. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepada laki-laki itu,’Apakah kamu sudah melihatnya? Ia jawab,”Belum’. Lalu Beliau pun memerintahkan untuk melihatnya”. HR. An-Nasai

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّهُ خَطَبَ امْرَأَةً فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اُنْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا. رواه الخمسة إلا أبا داود 

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, bahwa ia telah meminang seorang perempuan. Lalu Nabi saw. bersabda. Bersabda kepadanya,”Lihatlah perempuan itu, karena sesungguhnya hal itu lebih menjamin untuk melanggengkan (kasih sayang) di antara keduanya”. HR. Al-Khamsah kecuali Abu Daud

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ص يَقُولُ إِذَا أَلْقَى اللهُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا . رواه أحمد وابن ماجة 

Dari Muhammad bin Maslamah, ia berkata,”Aku mendengar Rasululalh saw. bersabda,’Apabila Allah swt. menyimpan dalam hati seseorang untuk meminang seorang perempuan, maka tidak berdosa bila ia melihatnya”. HR. Ahmad dan Ibnu Majah

عَنْ أَبِي حُمَيْدَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ص: إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَتِهِ وَإِنْ كَانَتْ لاَ تَعْلَمُ . رواه أحمد 

Dari Abu Humaidah, ia berkata,”Rasululla saw. bersabda,’Apabila seorang di antara kalian meminang perempuan, maka tidak berdosa ia melihat perempuan itu, apabila melihatnya itu semata-mata untuk meminangnya walaupun perempuan itu tidak mengetahuinya”. HR. Ahmad

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ص: إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ . رواه أجمد وأبو داود 

Dari Jabir, ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Apabila seorang di antara kalian meminang perempuan, lalu ia mampu untuk melihat kepada sesuatu yang akan mendorongnya untuk menikahinya, maka kerjakanlah”. HR. Ahmad dan Abu Daud

Keterangan-keterangan di atas menjelaskan, tidak berdosa seorang laki-laki melihat perempuan yang telah dipinang yang hendak dinikahinya selama tidak melihat kepada yang diharamkan, yakni auratnya, sebab pinangan itu tidak mengubah status perempuan yang dipinangnya tapi ia tidak boleh menerima pinangan yang lainnya.

Nabi saw. bersabda kepada Asma:

يَا أَسْمَاءُ! إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ . رواه أبو داود 

Wahai Asma! Sesungguhnya apabila seorang perempuan telah mengalami haid, tidak layak terlihat daripadanya selain ini dan ini, beliau berisyarat kepada wajah dan kedua telapak tangannya’. HR. Abu Daud

عَنْ أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيِّ ص: كُونُوا إِخْوَانًا وَلاَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَنْكِحَ أَوْ يَتْرُكَ. رواه البخاري ومسلم 

Dari Abu Hurairah, ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’ Jadilah kalian saudara (seiman), dan janganlah seseorang meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya, sebelum ia menikah (dengan perempuan lain) atau meninggalkannya”. HR. Al-Bukhari dan Muslim

Tetapi ada juga hadis riwayat Abdurrazaq dan Said bin Mansur yang menerangkan, bahwa seorang laki-laki boleh melihat sebagian aurat isteri yang dipinangnya, sebagaimana keterangan di bawah ini:

أَنَّ عُمَرَ خَطَبَ إِلَى عَلِيٍّ ابْنَتَهُ أُمَّ كُلْثُومٍ. فَذَكَرَهُ لَهُ صِغَرَهَا. فَقَالَ: أَبْعَثُ بِهَا إِلَيْكَ فَإِنْ رَضِيتَ فَهِيَ امْرَأَتُكَ. فَأَرْسَلَ بِهَا فَكَشَفَ عَنْ سَاقِهَا. فَقَالَتْ: لَوْلاَ أَنَّكَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ لَصَكَكْتُ عَيْنَيْكَ. 

Bahwasanya Umar meminang memalui Ali akan anak perempuannya, yaitu Ummi Kultsum. Lalu Ali menerangkan kepada Umar tentang masih kecilnya anak perempuannya itu. Ali berkata,’Aku akan mengirim anak perempuanku itu kepadamu, jika engkau menyukainya, maka (boleh) ia menjadi isterimu. Kemudian Ali mengirim anak perempuannya itu (kepada Umar), lalu Umar pun membuka betisnya. Perempuan itu berkata,’Jika engkau bukan Amirul Mukminin pasti akan kutotok kedua matamu”.
Namun, hadis ini sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai dalil, sebab selain sanadnya daif, matan hadis ini pun bertentangan dengan yang sahih. (Lihat Nailul Authar III:222)

3. Melihat Wajah Cantik Ibadah
Ada sebuah riwayat yang menerangkan, bahwa melihat wajah cantik itu merupakan ibadah, adapun lafadnya sebagai berikut:

اَلنَّظَرُ اِلَى الْوَجْهِ الْجَمِيلِ عِبَادَةٌ 

“Melihat wajah yang cantik itu merupakan ibadah”
Di dalam pelajaran ilmu mushtalah hadis, hadis tersebut dikatagorikan hadis maudhu, alias hadis paslu. Selain itu, matannya pun bertentangan dengan hadis-hadis tentang keutamaan yang diberikan Allah kepada orang yang senantiasa memelihara sahwatnya dari sesuatu yang diharamnya.

Wallahu'alam

Related Posts:

Kewajiban Menundukkan Pandangan

KEWAJIBAN MENUNDUKKAN PANDANGAN
Part 1

Hasil gambar untuk menundukkan pandangan

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. النور:30 

Katakanlah (olehmu Muhammad) kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Q.S. An-Nur: 30

Tafsir Mufradat

يَغُضُّوا diambil dari kata غض yang berarti menundukkan. Sedangkan yang dimaksud dengan يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ ialah menahan pandangan dari segala yang tidak halal untuk dipandang, dengan cara mengarahkan pandangan ke bawah, atau memalingkan pandangan ke arah yang berlawanan, serta jangan melihat dengan mata terbelalak.

وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ “dan hendaklah memelihara kemaluannya”. Sebagian Ahli Tafsir mengatakan, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah menutupi kemaluannya agar tidak terlihat”. Ada juga yang menafsirkan, ayat tersebut maksudnya memelihara kemaluan dari perbuatan zina. Sedangkan yang benar sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qurtubi, yaitu kedua penafsiran dimaksud oleh ayat, sebab lafadnya umum; mencakup perintah menutup aurat dan memeliharanya dari perbuatan zina.

أَزْكَى لَهُمْ berarti lebih suci bagi hati mereka dan lebih bersih untuk agamanya. Kata itu sendiri diambil dari kata زكاة yang berarti kesucian dan kebersihan bagi jiwa. Sebagaimana Allah berfirman:

وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ. فاطر:18 

Siapa yang mensucikan diri, maka sesungguhnya ia mensucikan diri untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Q.S. Fathir:18

خَبِيرٌ diambil dari خبرة yang berarti ilmu yang amat dalam, mencapai segala sesuatu baik lahir maupun batin, serta dapat mengungkap segala rahasianya. Jadi dengan sifat ini, Allah swt. benar-benar Maha Mengetahui segala perbuatan manusia, baik yang nampak atau tidak, sebab tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Ayat ini menerangkan secara tersirat, bahwa Allah mengancam dengan keras kepada siapa saja yang menyalahi perintah-Nya.

Sababun Nuzul

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata,”Seorang laki-laki pada jaman Nabi saw. berjalan di salah satu jalan dari kota Madinah. Ia memandang kepada seorang perempuan, dan perempuan itu pun memandang kepadanya. Maka setan membisikan kepada keduanya, bahwa yang satu tidak memandang yang lainnya, melainkan karena ada yang dikaguminya. Ketika laki-laki itu berjalan di samping sebuah dinding sambil terus melihat kepada perempuan itu, tiba-tiba ia membentur dinding itu hingga terluka. Lalu ia berkata:


وَاللهِ لاَ أَغْسِلُ الدَّمَ حَتَّى آتِىَ رَسُولَ اللهِ ص فَأَعْلَمَهُ أَمْرِي! 

Demi Allah! Aku tidak akan membersihkan darahku ini sebelum mendatangi Rasulullah saw. dan memberitahukan urusanku!

Kemudian orang tersebut datang kepada Nabi dan menceritakan kejadiannya. Maka Nabi saw. bersabda:

هذَا عُقُوبَةُ ذَنْبِكَ ! 

Ini merupakan akibat dari dosamu!

Setelah kejadian ini turunlah ayat di atas. (lihat Tafsir Al-Alusi dan Faidhul Qadir))

Makna Global Ayat

Allah swt. memerintahkan kepada hamba sekaligus sebagai Rasul-Nya agar ia memerintahkan orang-orang mukmin untuk menahan pandangannya dari sesuatu yang diharamkan, dan jangan memandang kecuali kepada yang dibolehkan memandang kepadanya. Yang dimaksud ghaddhul bashar (menahan pandangan), bukan dengan cara menutupi mata atau memejamkannya, akan tetapi menundukkan atau memalingkan pandangan kepada arah yang lain.

Oleh karena itu, dalam ayat di atas menggunakan lafad من yang menunjukkan menunjukkan sebagian, yakni hendaklah menundukkan atau memalingkan sebagian pandangan, dan jangan membelalakan mata pada yang haram dipandang. Selain itu, hal ini pun menyatakan betapa jelek orang yang banyak memikirkan atau merenungkan pada perbuatan yang haram.

Akan tetapi, jika terjadi pandangan kepada yang haram tanpa ada niat, maka wajib dengan segera menundukkan atau memalingkan dari pandangan itu. Sebagaimana hadis riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud, At-tirmidzi dan An-Nasai dari Jarir bin Abdullah, ia berkata:


سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ص عَنْ نَظْرَةِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي 

”Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. dari sekali pandangan dengan tidak disengaja. Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan penglihatanku”.
Sedangkan dalam riwayat Abu Daud, Rasulullah saw. bersabda kepada Ali:

يَا عَلِيُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ اْلأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَةُ 

Wahai Ali! Janganlah kamu mengikuti padangan pertama dengan pandangan selanjutnya, karena sesungguhnya yang (halal) bagimu yang pertama bukan yang selanjutnya”.

Dalam ayat itu juga, Allah swt. memerintahkan agar semua kaum muslimin itu hendaklah memelihara kemaluannya. Sebagaimana di atas diterangkan, yang dimaksud memelihara kemaluan di sini tidak hanya menutup aurat, bahkan memeliharanya dari perbuatan zina. Hal ini dijelaskan dalam Alquran itu sendiri demikian juga dalam hadis Nabi.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. المؤمنون:5-6 

(orang-orang yang beriman itu adalah) mereka yang memelihara kemaluannya. Kecuali kepada isteri-isterinya atau hamba sahaya yang mereka miliki. QS. Al-Mu’minun:5-6

Sedangkan dalam hadis, Rasulullah saw. bersabda kepada kakek Bahz yang bernama Muawiyah bin Haidah:


احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ 

”Peliharalah auratmu melainkan kepada isterimu atau hamba sahaya yang kamu miliki!

Muawiyah berkata,”Bagaimana seorang laki-laki bersama sejenisnya”. Rasul menjawab:

إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لاّ يَرَاهَا أَحَدٌ فَافْعَلْ 

Jika kamu mampu agar orang lain tidak melihatnya, maka lakukanlah!

Muawiyah berkata lagi,’Bagaimana bila orang itu sendirian? Nabi menjawab:

فَاللهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ 

Maka Allah lebih berhak untuk orang tersebut malu kepada-Nya. HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah

Kaum muslimin yang dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya merupakan hal baik dan lebih suci bagi hati mereka, serta lebih bersih untuk agama mereka.

Berbahagialah orang yang dapat menjaga pandangannya dari yang diharamkan, sebab pandangan seperti itu ibarat panah beracun dari setan yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan. Rasul bersabda,:

إِنَّ النَّظَرَ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ, مَنْ تَرَكَهُ مَخَافَتِي أَبْدَلْتَهُ إِيْماَنًا يَجِدُ حَلاَوَتَهَا فِي قَلْبِهِ. 

Sesungguhnya pandangan (yang diharamkan itu) merupakan panah beracun dari setan, siapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku,niscaya Aku akan menggantikanna dengan iman yang terasa manis dalam hatinya”. At-Tafsirul Munir XXVII:214

Dalam hadis lain Rasul bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَنْظُرُ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ أَوَّلَ مَرَّةٍ ثُمَّ يَغُضُّ بَصَرَهُ إِلاَّ أَحْدَثَ اللهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا . رواه أحمد 

Setiap muslim yang sekali melihat kepada perempuan cantik, kemudian menundukkan pandanganya, niscaya Allah akan memberikan baginya ibadah yang terasa manisnya”. HR. Ahmad

Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui setiap perbuatan yang dilakukan hamba-hamba-Nya; tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengamatan-Nya. Allah berfirman:


يَعْلَمُ خَائِنَةَ اْلأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ. (المؤمن:19) 

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang disembunyikan oleh hati. Q.S. Al-Mukmin:19

Bersambung...

Related Posts:

Indahnya Menutup Aurat

INDAHNYA MENUTUP AURAT 
Part 3
Hasil gambar untuk Aurat wanita

Aurat Wanita dalam Rumah
Pada asalnya setiap wanita muslim wajib menutup seluruh auratnya dimana pun berada. Adapun wanita dalam rumahnya, boleh menampakkan sebagian auratnya, yaitu selebih dari muka dan telapak tangan, kepada orang-orang yang menjadi mahramnya, sebagaimana keterangan di bawah ini:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ ص أَتَى فَاطِمَةَ بِعَبْدٍ كَانَ قَدْ وَهَبَهُ لَهَا. وَعَلَى فَاطِمَةَ ثَوْبٌ إِذَا قَنَّعَتْ بِهِ رَأْسَهَا لَمْ يَبْلُغْ رِجْلَيْهَا وَإِذَا غَطَّتْ بِهِ رِجْلَيْهَا لَمْ يَبْلُغْ رَأْسَهَا فَلَمَّا رَأَى النَّبِيُّ ص مَا تَلْقَى قَالَ: إِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكِ بَأْسٌ إِنَّمَا هُوَ أَبُوكِ وَغُلاَمُكِ . رواه أبو داود 

Dari Anas, ia berkata,”Bahwasanya Nabi Saw. pernah membawa hamba sahaya laki-laki untuk dihadiahkan kepada fatimah (puterinya). Pada saat itu fatimah berpakaian yang apabila ditutup kepalanya, terlihat/terbuka kedua kakinya, dan apabila ditutup kedua kakinya, terbuka kepalanya. Tatkala Nabi saw. melihat hal itu, seraya bersabda,’Sesungguhnya hamba sahaya itu tidak mengapa bagimu, karena ia (seperti) bapak dan anakmu”. HR. Abu Daud

Adapun Orang-orang yang menjadi mahramnya itu adalah sebagai berikut:

1. Suami 2. Bapak 3. Mertua 4. Anak 5. Anak Suami 6. Saudara laki-laki 7. Anak dari Saudara laki-laki 8. Anak dari saudara perempuan 9. Perempuan (muslim) lainya 10. Hamba sahaya 11. Yang sudah tidak lagi memiliki hasrat kepada wanita (ulul irbah) 12. Anak kecil yang belum mengerti aurat wanita. (lihat An-Nur:31). Demikian pula masuk menjadi mahram wanita itu, paman, uak dan kakeknya. Walaupun Alquran tidak menyebut nama-nama itu, tetapi para Ahli fiqih sepakat, bahwa mereka pun masuk ke dalam mahram yang disebut dalam Alquran, karena mereka itu sekedudukan dengan bapak.

13 Saudara sesusu, sebagaimana dalam hadis diterangkan:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ …وَأَخَوَاتُكُمْ مِنْ الرَّضَاعَةِ… النساء:23 

Diharamkan bagi kamu (menikahi)…saudara-saudara sesusu…An-Nisa:23

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ص يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ الْوِلاَدَةِ . رواه البخاري ومسلم 

Dari Aisah, ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda kepadaku,’Haramnya dengan sebab sepesusuan itu seperti haramnya dengan sebab nasab”. H.r. Al-Bukhari dan Muslim

14 . Ipar, sebagaimana dalam Alquran dinyatakan:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ … وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ. النساء:23 

Diharamkan bagi kamu (menikahi)…mengumpulkan dua saudara (dalam satu pernikahan). An-Nisa:23

Adapun perempuan di dalam rumahnya di hadapan orang-orang yang bukan mahramnya, tidak boleh memperlihatkan auratnya sedikit pun, sama halnya seperti berada di luat rumah atau sedang mengerjakan salat. (lihat dalil-dalilnya dalam edisi sebelumnya Alqudwah no 43, dalam sub judul Batas Aurat Wanita).

Batas Aurat Wanita tua
Wanita-wanita tua yang sudah berhenti dari haid, tidak mungkin mengandung dan tidak mempunyai hasrat untuk menikah lagi karena tuanya, boleh menanggalkan sebagian pakaian luarnya, itu pun tanpa ada maksud memperlihatkan aurat dan perhiasan-perhiasan yang semestinya ditutup. Tetapi walaupun demikian, bila mereka senantiasa memelihara adab dan kesopanan dalam berpakaiannya, tentu hal itu lebih baik. Di dalam Alquran Allah swt. menerangkan:

وَالْقَوَاعِدُ مِنْ النِّسَاءِ اللاَّتِي لاَ يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. (النور:60) 

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah lagi, tidak berdosa bagi mereka menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Q.S. An-nur:60

Wanita di hadapan Banci
Imam Al-Bukhari, muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Aisah dan Ummu Salamah, keduanya mengatakan:

أن مُخَنَّثًا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِ رَسُولِ اللهِ ص وكَانُوا يَعُدُّونَهُ مِنْ غَيْرِ أُولِي اْلإِرْبَةِ. فَدَخَلَ النَّبِيُّ ص عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ وَعِنْدَهَا هذَا الْمُخَنَّثُ وَعِنْدَهَا أَخُوهَا (عَبْدُ اللهِ بْنُ أُمَيَّةَ) فَالْمُخَنَّثُ يَقُولُ: يَا عَبْدَ اللهِ! إِنْ فَتَحَ اللهُ عَلَيْكَ الطَّائِفَ فَعَلَيْكَ بِابْنَةِ غَيْلاَنَ فَإِنَّهَا تُقْبِلُ بِأَرْبَعٍ وَتُدْبِرُ بِثَمَانٍ.فَسَمِعَهُ النَّبِيُّ ص فَقَالَ: يَا عَدُوَّ اللهِ! لَقَدْ غَلْغَلْتَ النَّظَرَ فِيهَا. ثُمَّ قَالَ ِلأُمِّ سَلَمَةَ: لاَ يَدْخُلَنَّ هذا عَلَيْكِ 

Bahwasanya seorang banci (laki-laki yang menyerupai perempuan) selalu masuk kepada keluarga Rasulullah saw (isteri-isterinya). Mereka menganggapnya seorang yang tidak mempunyai keinginan kepada wanita (Ulul Irbah). Lalu Nabi saw. masuk ke rumah Ummu Salamah, yang ketika itu ada seorang banci dan saudaranya (Abdullah bin umayyah.) Pada saat itu si banci sedang berkata kepada Abdullah,’hai Abdullah! Jika Allah menakdirkan kamu masuk kota Thaif, hendaklah kamu mengambil puteri Ghailan, karena sesungguhnya perempuan itu dapat menjamin kamu (berhubungan) dari muka empat kali dan dari belakang empat kali. Mendengar perkataan itu, Rasulullah bersabda,”Hai Musuh Allah! Sungguh enkau telah mengetahui dengan sedalam-dalam tentang perempuan itu. Kemudian beliau bersabda kepada Ummu Salamah,’Janganlah sekali-kali orang ini masuk ke (rumah)mu”.

Jadi dengan hadis ini, dilarang seorang perempuan memasukkan seorang banci yang bukan mahramnya terlebih menampakkan aurat di hadapannya.

Auratkah Suara Wanita?
Suara wanita bukanlah aurat dan tidak haram terdengar oleh siapapun. Tetapi apabila mengeluarkan suara itu dengan maksud sengaja untuk menggoda dan mengundang nafsu birahi laki-laki yang bukan mahramnya, hal itu dilarang. Allah swt. berfirman:

…وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ…النور:31 

….dan janganlah mereka memukulkan kakinya (ke bumi) agar diketahui perhiasan yang tersembunyi (pada kakinya itu…Q.S. An-Nur:31

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنْ النِّسَاءِ. إِنْ اتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا. (الأحزاب:32) 

Wahai Isteri-isteri Nabi! Kamu sekalian tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada dalam hatinya penyakit, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Q.S. Al-Ahzab:32

Yang dimaksud tunduk dalam berbicara itu ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Sedangkan maksud fi qolbihi maradhun ialah orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti berzina. Adapun menurut A. Hasan dalam tafsir Al-Furqan, maksud ayat itu adalah mengajar supaya perempuan-perempuan tidak omong dengan lemah-lembut kepada laki-laki lain. Jadi, diperintah, kalau ada perlu supaya mereka omong dengan tegas, tegap, tetapi sopan karena laki-laki sering menaruh harapan atas perempuan-perempuan yang berlaku lemah-lembut.


Wallahu'alam

Related Posts:

Indahnya Menutup Aurat

INDAHNYA MENUTUP AURAT 
Part 2
Hasil gambar untuk aurat wanita

Arti Aurat

Kata aurat mempunyai dua arti yaitu, pertama; berarti bagian tubuh manusia yang malu bila dilihat orang lain. Kedua; berarti kelemahan, tidak ada kemampuan bertahan atau membela diri bila di serang. Misalnya dalam Alquran surat Al-Ahzab ayat 13 diterangkan إن بيوثناعورة “Sesungguhnya rumah kami beraurat”, artinya tidak sanggup menahan bahaya maling sebab pintu dan dindingnya gampang dibongkar orang. (Ar-Raghib Al-Asfahani 365)

Oleh karena itu, dengan dua arti tersebut K.H.E. Abdurahman mengatakan,”Aurat itu memberi isyarat akan adanya sesuatu yang berharga, menarik dan mengundang nafsu orang untuk mengganggunya. Oleh karena itu, bila pertahanan yang melindunginya tidak kuat (penutup aurat), tentulah simpanan yang berharga itu mudah dicuri atau dirampas orang”. (Risalah kecil, tahun 1969)

Hukum Menutup Aurat dan Memperlihatkannya

Dalam AlQuran surat An-Nur:31 di atas diterangkan dengan tegas dan jelas, bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya dan haram memperlihatkannya. Demikian juga dalam hadis Nabi saw. Beliau bersabda kepada kakek Bahz bin Hakim:

احفظ عورتك إلا من زوجتك أو ما ملكت يمينك. قلت: فإذا كان القوم بعضهم في بعض؟ قال: إن استطعت أن لا يراها أحد فلا يرينها. قلت: فإذا كان أحدنا خاليا؟ قال:فالله أحق أن يستحيى منه. رواه الخمسة إلا النسائي 

“Jagalah auratmu kecuali kepada istrimu dan hambamu” Aku berkata,” (bagaimana) kalau kaum itu, sebagiannya bercampur dengan sebagian yanmg lain? Nabi menjawab,’Kalau engkau mampu seorangpun tidak melihatnya, maka janganlah kamu sekali-kali memperlihatkannya’. Aku bertanya,’Bagaimana kalau salah seorang dari kami sendirian? Nabi menjawab,’Maka Allah lebih berhak (kamu) malu kepada-Nya”.. (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai)

عن ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلعم قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالتَّعَرِّيَ فَإِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لاَ يُفَارِقُكُمْ إِلاَّ عِنْدَ الْغَائِطِ وَحِينَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى أَهْلِهِ فَاسْتَحْيُوهُمْ وَأَكْرِمُوهُمْ. رواه الترمذي 

Dari Ibnu umar, ia berkata,”Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,’Janganlah kamu membuka auratmu, karena sesungguhnya bersamamu ada orang-orang yang tidak dapat berpisah denganmu, melainkan ketika buang hajat dan ketika seseorang mendatangi isterinya, malulah dan hormatilah mereka’. HR. At-Tirmidzi

Batas Aurat Wanita
Kaum wanita memiliki daya tarik yang sangat kuat. Setiap jengkal dari anggota tubuhnya, mulai dari rambut hingga ujung kakinya, memiliki daya tarik bagi kaum pria. Itulah sebabnya kaum wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan, seperti diterangkan :

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَمِنْهَا, وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُورِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ 

…Dan janganlah mereka (kaum mukminat) menampakkan perhiasaanya melainkan yang biasa nampak daripadanya, dan hendaklah mereka menutupi dada-dada mereka… QS. An;Nur: 31

Yang dimaksud “ma zhahara minha” dalam hadis diterangkan:


عن أم سلمة قال: قال رسول الله صلعم: إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا وهذا, وأشار إلى وجهه وكفيه. رواه أبو داود 


Dari Ummu Salamah, ia berkata,”Rasulullah saw. Bersabda,’Sesungguhnya perempuan itu apabila telah mengalami haid tidah boleh terlihat daripadanya melainkan ini dan ini, beliau berisyasat kepada wajah dan kedua telapak tangannya”. HR.. Abu daud

Selain itu, ada keterangan lain yang menguatkan bahwa hanya telapak tangan dan wajahlah yang bukan aurat.

عَنْ مُحَمَّدٍ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: فَلاَ تُصَلِّيَنَّ جَارِيَةٌ مِنْهُنَّ وَقَدْ حَاضَتْ إِلاَّ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ.رواه أحمد 

Dari Muhammad, ia berkata,’Bahwa Aisah berkata,”Maka janganlah hamba sahaya perempuan di antara kamu melakukan salat padahal sudah mengalami haid kecuali memakai khimar (tutup kepala)”. HR.. Ahmad


اَنَّ أُمَ سَلَمَةَ سَأَلَْتِ النّبِيَّ: أَتُصلِّى المَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ وَلَيْسَ عَلَيْهَا إِزَارٌ ؟ قَالَ : إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّى ظَهْرَ قَدَمَيْهَا. رواه أبو داود 
“Sesungguhnya Ummu Salamah bertanya kepada Nabi “Bolehkah seorang wanita shalat dengan mengenakan baju kurung dan khimar (kain penutup kepala) dan tidak memakai izar (kain sejenis sarung)? Nabi menjawab,’ (Boleh) bila keadaaan baju kurung itu menutupi kedua kakinya”. HR. Abu Daud

Menutup aurat bagi wanita, bukan hanya sekedar memakai baju atau pakaian saja, melainkan harus diperhatikan layak dan tidaknya pakaian tersebut, seperti memakai pakaian yang tipis hingga terlihat bentuk tubuh atau pakaian yang ketat hingga membentuk lekuk tubuh. Sebab cara berpakaian seperti itu dilarang oleh islam, siapapun yang melanggarnya akan mendapatkan sangsi. Sehubungan dengan masalah tersebut, Rasulullah saw bersabda :

يا رُبَّ كَا سِيَةٍ فِي الدُنْيَا عَا رِيَةٌ فِي الاَخِرَةِ. رواه اليخاري 

‘Perhatikanlah! Tidak sedikit yang berpakaian di dunia, (tetapi mereka) telanjang di akhiratnya”. HR. Al-Bukhari

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam syarah Al-Bukhari, yakni Fatul Bari menerangkan: Yang dimaksud hadis tersebut ada dua pengertian, pertama ialah:

كَا سِيَةٌ فِي الدُنْيَا بِالثِيَابِ لِوُجُوْدِ الْغِنَى عَارِيَةٌ فِي اْلاَخِرَةِ مِنَ الثَوَابِ لِعَدَمِ اْلعَمَلِ فِي الدُّنْيَا 

“Berpakaian di dunia dengan pakaian (yang lengkap) disebabkan adanya kemampuan, tetapi telanjang di akhirat dari ganjaran (tidak mendapat kebaikan) disebabkan tidak ada amal sholeh di dunianya”.

Sedangkan pengertian yang kedua ialah


كَا سِيَةٌ بِالثِّيَابِ لَكِنَّهَا شَفَفَةُ لاَ تَسْتُرُ عَوْرَتَهَا فَتَعَاقَبَ فِي الاَخِرَةِ بِالْعُرَى جَزَاءً ذَلَكَ 
“Berpakaian dengan macam-macam baju tetapi pakaiannya membayang (sehingga) tidak menutup auratnya, maka dia disiksa di akhirat dengan telanjang (kehinaan) sebagai balasannya.”
Maksud tersebut diperkuat dengan hadis Rasulullah yang melarang seorang perempuan memakai pakaian yang tipis hingga terlihat lekuk tubuhnya.

أَنَّ اَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِى بَكرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صلعم عليها ثِيَا بٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللهِ 

“Bahwasanya Asma binti Abu Bakar menemui Rasulullah saw. dengan memakai pakaian yang tipis. Lalu Rasulullah berpaling daripadanya……”. HR. Abu Daud

Batas Aurat Laki-laki
Berdasarkan hadis, bahwa aurat laki-laki itu sesuatu yang ada di antara pusar dan lutut, sebagaimana keterangan-keterangan di bawah ini:


2732 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَهْلٍ الرَّمْلِيُّ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أُخْبِرْتُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُبْرِزْ فَخِذَكَ وَلَا تَنْظُرَنَّ إِلَى فَخِذِ حَيٍّ وَلَا مَيِّتٍ. 


1449 حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُبْرِزْ فَخِذَكَ وَلَا تَنْظُرْ إِلَى فَخِذِ حَيٍّ وَلَا مَيِّتٍ * 


Pakaian Menurut Islam
Menurut Qur’an surat al-a’rof 5-26 dijelaskan bahwa pakaian itu ada tiga macam :

Pertama : “Yuwaari Sauatikum” artinya sekedar penutup bagaian-bagaian yang malu bila dilihat atau terlihat orang lain.

Kedua : Pakaian “Riisyan” artinya yang merupakan hiasan yang layak bagi manusia. Jadi lebih dari pada hanya menyembunyikan auratnya saja.

Ketiga : (dan yang terpenting) yang sehat “Libaasut taqwa” yang berarti yang merupakan ketaqwaan, yang menyelamatkan diri, membangkitkan budi pekerti dan ahlak yang mulia, pakaian ini yang menjamin keselamatan diri di dunia dan di akhirat

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ 

“Wahai bani adam, sesungguhnya kmai turunkan pakain penutup aurat kamu, dan pakaian penghias diri kamu, dan pakaian taqwa adalah yang terbaik, itu adalah tanda karunia dari kami supaya selalu ingat.” QS. Al-A'raf: 26

Cara berpakaian yang dilarang 


نَهَا رَسُولُ اللَهِ عَنْ لِبَسَتَيْنِ: أَنْ يَحْتَبِيَ أَحَدُكُمْ فِي الثَوْبِ الْوَاحِدِ عَلَى فَرْجِخهِ مِنْهُ شَيْءٌ, وَ أَنْ يَشْتَمِلَ وَا زَارَهُ إِذَا مَا صَلَّى إِلاَ يُخَلِفَ بِطَرْفَيْهِ عَلَى عَا تِقَيْهِ 


“Rasulullah melarang dua cara berpakaian, yaitu brjongkok dengan memakai satu pakain (sedang) pada kemaluannya tidak ada sesuatu,dan berselimut di dalam kainnya apabila dia sembahyang, kecuali menyelempangkan kedua ujungnya di atas kedua pundaknya.” HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad, lapazh Ahmad.

Bersambung...

Related Posts:

Indahnya Menutup Aurat

INDAHNYA MENUTUP AURAT
Part 1

Hasil gambar untuk aurat wanita

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوْ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي اْلإِرْبَةِ مِنْ الرِّجَالِ أَوْ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. النور:31

Katakanlah (olehmu Muhammad), kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya, bapaknya, bapak dari suaminya, puteranya, putera dari suaminya, saudaranya, putera dari saudara laki-lakinya, putera dari sadara perempuannya, perempuan muslim (lainnya), hamba sahaya yang mereka miliki, pelayanan yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan, dan janganlah mereka memukulkan kakinya (ke bumi) agar diketahui perhiasan yang tersembunyi (pada kakinya itu), bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar mendapat keberuntungan. (QS. An-Nur: 31)

Tafsir Mufradat

وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ “dan hendaklah memelihara kemaluannya”. Al-Qurtubi mengatakan, yang dimaksud ayat ini mencakup perintah menutup aurat dan memeliharanya dari perbuatan zina sebagaimana dalam hadis diterangkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada kakek Bahz yang bernama Muawiyah bin Haidah:

ِاحْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

”Peliharalah auratmu melainkan kepada isterimu atau hamba sahaya yang kamu miliki! HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah

Dan dalam Alquran diterangkan:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. المؤمنون:5-6

(orang-orang yang beriman itu adalah) mereka yang memelihara kemaluannya. Kecuali kepada isteri-isterinya atau hamba sahaya yang mereka miliki. (QS. Al-Mu’minun: 5-6)

زِينَتَهُنَّ adalah perhiasan, seperi, anting, kalung, gelang dan lain-lain. Atau bisa juga yang dimaksud oleh ayat adalah, anggota-anggota tubuh yang biasa ditempeli perhiasan yang anggota tubuh tersebut haram dilihat oleh orang yang bukan mahramnya.

مَا ظَهَرَ مِنْهَا إِلاَّ (kecuali yang biasa nampak daripadanya). Lafad ayat ini mubham, artinya perlu penjelasan dan batasan yang jelas, sebab dalam Alquran tidak diterangkan secara sarih (jelas) apa yang dimaksud ma zahara minha. Namun, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud ayat itu adalah baju, cincin jari atau perhiasan lainnya yang tidak dapat disembunyikan. Ada juga yang berpendapat, maksudnya adalah wajah dan telapak tangan.

بِخُمُرِهِنَّ
: Lafad ini bentuk jamak dari خمار yang berarti tutup kepala. Ibnul Manzhur berkata dalam kitabnya Lisanul Arab,”Khimar itu sesuatu yang biasa digunakan tutup kepala oleh perempuan”.

جُيُوبِهِنَّ : Lafad ini jamak dari جيب yang biasa diterjemah dengan dada., padahal arti pokok adalah sebuah lubang di bagian atas jilbab atau baju, yang dengan adanya lubang tersebut terlihatlah sebagian dada perempuan. (Tafisur Munir juz XVIII:211 dan Tafsir Ash-Shabuni II: 144-145)

Sababun Nuzul Ayat

Abdullah bin Jabir menceriterakan, bahwasanya Asma binti Mirtsad memiliki sebuah kebun kurma. Lalu ada beberapa perempuan memasuki kebun tersebut tanpa memakai izar (pakaian sejenis sarung) sehingga nampak gengge, dada dan jambul mereka. Maka Asma berkata kepada mereka,” ما أقبح هذا (Betapa jeleknya perbuatan kalian ini)”. Kemudian turunlah ayat di atas. HR. Ibnu Abu Hatim

Makna Global Ayat
Pada ayat sebelumnya, yakni Alquran surat An-Nur: 30, Allah swt. memerintahkan kepada laki-laki mukmin agar menundukkan sebagian pandangan serta memelihara kemaluan dan auratnya. Demikian juga dalam ayat ini, Allah swt. memerintahkan kepada perempuan-perempuan mukminat hal yang sama.

Namun, dalam ayat ini ada tambahan yaitu, mereka tidak boleh menampakkan perhiasaannya kecuali kepada mahramnya, karena hal itu lebih utama dan lebih terpelihara baginya, kecuali perhiasan yang biasa nampak, seperti baju, cincin, celak, atau yang lainnya, itupun tanpa ada maksud memperlihatkannya, memakainya dengan sombong atau niat yang jelek. Sebab dalam hadis diterangkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ص قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللهُ بِهِ اْلأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . رواه أحمد ومسلم

Dari Abu Hurairah, ia berkata,”Rasululah saw. bersabda,”Ada seseorang berjalan (berlagak) dengan sombong pada pakaian yang dikenainya. Sungguhnya hatinya merasa kagum dengan perbuatannya. Lalu Allah menenggelamkan orang tersebut ke bumi. Maka ia akan terus-menerus berada di dalamnya hinga hari kiamat”. HR. Ahmad dan Muslim

Sungguh kita telah ketahui, bahwa orang-orang jahiliyah memutuskan dan bertindak segala sesuatu tanpa memakai hukum Allah, demikian juga dalam hal berpakaian. Perempuan-perempuan pada jaman jahiliyah berpakaian sekehendak hati mereka sendiri, yang penting suka atau orang lain suka melihatnya.

Ternyata hal itu pun masih dilakukan oleh mayoritas perempuan muslim jaman sekarang. Mereka berpakaian asal senang, bagus atau indah, tetapi tidak memperhatikan batas auratnya yang ditetapkan Allah, malah tidak sedikit yang merasa bangga memperlihatkan bahkan mempertontonkan aurat kepada yang bukan mahramnya. Ada juga yang memakai tutup kepala, tapi hanya disimpam di atas pundaknya atau di tarik sedikit ke atas hingga terlihat rambut bagian depan dan lehernya.

Setiap muslim wajib mengetahui, bahwa Allah swt. telah memerintahkan umat-Nya untuk menutup aurat. Setelah mengetahui, maka ia wajib melaksanakan perintah tersebut. Bila dilanggar, maka akan ada sangsi dari Allah. Dalam hadis diterangkan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ص يَقُولُ: أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ رَبِّهَا. وفي لفظ "خَرَّقَ اللهُ عَنْهَا سِتْرًا" رواه أحمد

Dari Aisyah, ia berkata,”Aku mendengar Rasululah saw. bersabda,’Perempuan mana saja yang membuka baju bukan di rumah suaminya (memperlihatkan kepada yang bukan mahramnya), maka ia telah membuka aib antara dia dan Tuhannya”. Dan dala lafad lain “Pasti Allah akan membukakan aibnya” . HR. Ahmad

Perintah menutup aurat ini, tidak lain untuk menjaga keutamaan, kehormatan, dan menjaga dirinya dari kejahatan yang timbul akibat dari memperlihatkan aurat tersebut. Selain itu, orang senantiasa menutup auratnya karena mengharapkan rida dan maghfirah-Nya akan mendapat derajat yang sangat mulia di hadapan Allah swt.

Bersambung...





Related Posts:

TIPS SEHAT MENANGKAP NYAMUK NON INSEKTISIDA

TIPS SEHAT MENANGKAP NYAMUK NON INSEKTISIDA.
(penyakit berbahaya dr nyamuk : malaria, demam berdarah, chikunya dll).

Hasil gambar untuk tips sehat menangkap nyamuk
Bahan :
- 200 ml air panas.
- 50 gram gula merah.
- 1 gram ragi roti.
- 1 botol bekas plastik 2 liter.

Caranya:
1. Potong botol plastik (jenis PET) separuh.
2. Campurkan gula merah dengan air panas hingga lebur.
Setelah dingin tuangkan di separuh bagian bawah botol.
3. Tambah ragi. Tidak perlu diaduk nanti akan menghasilkan Karbondioksida sebagai penarik perhatian nyamuk.
4. Letakkan bagian corong, terbalik, kedalam separuh botol tadi.
5. Bungkus botol dengan sesuatu yang berwarna hitam (isolasi), dan letakkan di beberapa sudut rumah, toko, sekolah, rumah sakit, ladang dll. ( Terlindung hujan )
6. Biarkan sekitar 2 minggu atau nyamuk sudah penuh silahkan cuci botolnya dan mulai lag dari awal.

Sumber : dr Giena Hadi

#
TAMBAHAN :
---------------
1. Agar tidak dirubungi semut letakan botol tersebut diatas mangkuk/kaleng berisi air.
2. Kalo untuk menangkap lalat caranya masih sama tapi tidak usah pake ragi cukup umpan ikan mentah yg busuk dipotong kecil lalu masukkan ke botol tersebut.
3. Letakan botol jauh dan terlindung dari hujan atau angin.

Related Posts:

Kamus Fiqih Mu'amalah

Hasil gambar untuk buku



Al Dayn: bermakna memberikan pinjaman. Al Dayn mensyaratkan jangka waktu tetentu dalam pengembalian utang, hal ini membedakan dari Al Qard yang tidak mensyaratkan jangka waktu tertentu dalam pengembalian utangnya

Al Dayn al Daif: adalah utang yang timbul tanpa didahului adanya pertukaran / perpindahan hak atas asset yang tangible

Al Dayn al Qawi: adalah utang yang timbul akibat terjadinya pertukaran/ perpindahan asset yang tangible, misalnya akibat terjadinya jual beli

Ashiil: satu pihak dalam akad kafalah yang pada dasarnya mempunyai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan kepada seseorang atau pihak tertentu, namun kkkemudian kewajibannya itu ditanggung oleh pihak lain. Ia disebut juga Makfuul 'anhu

Al Qard: yaitu suatu akad pinjaman kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang diterima kepada lembaga keuangan syariah pada waktu yang telah disepakati antara keduanya.

Ash Sharf: adalah penukaran suatu mata uang dengan mata uang. Apabila untuk mata uang yang sama harus dibayar tunai dengan tiada melebihkan (sama nilainya). Sedangkan untuk mata uang yang berbeda harus dibayar tunai sedangkan jumlahnya dapat berbeda.

Al wadiah: berasal dari kata wada'a asy syai berarti meninggalkannya. Wadiah adalah sebagai amanat yang ada paaada orang yang dititipkan dan ia berkewajiban mengembalikan pada saat pemiliknya meminta.

Al wakalah: Al wakalah atau al wakilah bermakna At Tafwidh (penyerahan=pendelegasian=pemberian mandat). Yang dimaksud disini.yaitu pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.

Aqad: perjanjian, kontrak. Yakni pertalian ijab dengan qabul menurut cara-cara yang disyariatkan yang berpengaruh pada obyeknya.

Amal: Jasa

Amin: pihak yang memenuhi syarat untuk memegang kepercayaan secara penuh

'Ahd - sumpah. Dalam akad dibedakan tingkat kewajiban yang bersifat janji (wa'd) dan yang bersifat sumpah ('ahd)

Amana: kepercayaan (trust)

Awqaf: Lembaga dana waqaf

Athaya: Pemberian yang bersifat sukarela.

Al taradhi: aktifitas bersama yang dilakukan atas dasar suka sama suka

Al- adalah: berkeadilan

Aslah: lebih membawa manfaat

Baial Dayn bil Dayn adalah menjual dengan utang. Yaitu seseorang setuju untuk menjual suatu barang yang diserahkan kemudian hari dengan harga yang telah disepakati bersama saat ini, baik pembayaran harga penjualan maupun barangnya masih dalam bentuk utang

Bai'al 'Inah: adalah jual beli dimana si fulan menjual suatu barang kepada Fulanah dengan cara cicilan, lalu barang tersebut dijual kembali oleh Fulanah kepada si Fulan secara tunai dengan harga yang lebih renah. Misalnya si Fulanah meminta pinjaman dari si Fulan. Fulan tidak meminta bunga dari pinjaman tersebut, namun menyiasatinya dengan cara menjual suatu barang kepada Fulanah seharga Rp 1000 secara cicilan, kemudian Fulanah menjual barang tersebut kepada Fulan seharga Rp 800 secara tunai.

Bai' Al Murabahah (Almurabahah): atau jual beli Murabahah ialah suatu bentuk jual beli dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian mensyaratkan atasnya laba dalam jumlah tertentu

Bai' Mu'ajjal: pembayaran secara kredit

Bai' Wafa: penjualan dengan kontrak pembelian kembali

Bai' Salam: penjualan dimana pembayaran dilakukan dimuka atau sebelum penyerahan obyek

Ba'i Istisnaa: pembelian barang yang dibuat berdasarkan pesanan

Ba'i al-ma'dum: yaitu melakukan penjualan atas barang yang belum dimiliki (short selling)

Bank Syariah: Lembaga keuangan bank yang menjalankan operasionalnya dengan system syariah.

Badan Arbitrase Syariah: badan yang dibentuk untuk menyelesaikan sengketa-sengketa yang terjadi dalam muamalat yang terkait dengan prinsip syariah setelah tidak tercapainya kesepakatan pihak-pihak terkait melalui musyawarah.

Bagi untung (profit sharing) adalah bagi hasil yang dihitung dari pendapatan setelah dikurangi biaya pengelolaan dana. Dalam sistem syariah pola ini dapat digunakan untuk keperluan distribusi hasil usaha lembaga keuangan syariah.

Bagi hasil (revenue sharing) bagi hasil yang dihitung dari total pendapatan pengelolaan dana. Dalam sistem syariah pola ini dapat digunakan untuk keperluan distribusi hasil usaha lembaga keuangan syariah.

Batil: Ilegal

Berkah: manfaat yang terus menerus

Cakap hukum: orang yang tindakan-tindakannya dipandang sah secara hukum. Dalam hukum Islam identik dengan mukalaf, yakni orang yang berakal sempurna dan sudah baligh.

Dhaman: jaminan, (lihat penjelasan Kafalah)

Dhamin: pihak yang masih perlu memenuhi kewajiban sebagai penjamin

Deposito: Simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dan bank. Deposito yang tidak dibenarkan secara syariah adalah yang berdasarkan bunga dan yang dibenarkan adalah yang berdasarkan prinsip mudharabah.

Deposito Mudharabah: Investasi melalui simpanan pihak ketiga yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu menurut perjanjian.

Dewan Syariah Nasioanal-MUI adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh MUI untuk menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan aktifitas lembaga keuangan syariah. Lembaga ini bertanggung jawab dan melakukan pengawasan terhadap pemenuhan prinsip-prinsip syariah, kehalalan akad, transaksi dan produk perbankan syariah.

Dewan Pengawas Syariah: Dewan pengawas yang ada pada masing-masing bank syariah.

Distribusi hasil usaha: pembagian keuntungan oleh lembaga keuangan syariah dari hasil usahanya.

Ekonomi Syariah: ekonomi yang berdasarkan ajaran al-Qur'an dan Assunah

Fatwa: ketetapan hokum

Fiqh: Pendapat pakar hokum Islam

Falah: Kemenangan, kesejahteraan untuk semua

Giro: simpanan dana yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan penggunaan cek, bilyet giro, sarana pembayaran lain atau pemindahbukuan. Giro yang dilarang syariah adalah yang berdasarkan penghitungan bunga. Dan yang dibolehkan syariah adalah giro yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadiah.

Giro wadiah: adalah bentuk simpanan dana milik masyarakat yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan system giro, dan tidak ada imbalan yang disyaratkan kecuali dalam bentuk pemberian yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Giro Mudharabah adalah bentuk pembiayaan yang menggunakan prinsip mudharabah yang dapat diambil setiap saat dnegan menggunakan cara-cara giro.

Gharar: mengandung arti keraguan, tipuan atau tindakan yang bertujuan merugikan orang lain. Gharar yang terbesar adalah tidak adanya kepastian mengenai rincian obyek, cara penyerahan dan cara pembayaran. Dalam transaksi Isalam harus ada itikad baik sehingga tidak boleh ada gharar yang mengakibatkan kerugian akibat adanya itikat tidak baik tersebut.

Hamalah: beban (lihat Kafalah)

Hawalah: transaksi pengalihan kewajiban kepada pihak ketiga atau pengalihan utang piutang.

Hisbah: Institusi yang menjalankan seluruh usaha negara untuk menjamin kesejahteraan, keadilan dan aturan main yang adil dalam seluruh aktifitas kehidupan.

Halal: sesuatu yang dibolehkan oleh Islam

Haram: Sesuatu yang dilarang oleh Islam

Hukum Islam: Hukum yang berdasarkan pada sumber-sumber ajaran Islam

Haul: Batas waktu untuk harta yang diwajibkan zakatnya setelah memenuhi hisab

Investasi: adalah penempatan dana atau harta pada ssesuatu obyek yang diharapkan akan meningkat nilainya di masa mendatang atau pada kegiatan usaha yang diharapkan akan memberikan hasil dimasa mendatang.

Investasi keuangan syariah: dapat berkaitan dengan kegiatan perdagangan atau kegiatan usaha dimana kegiatan usaha dapat berbentuk usaha yang berkaitan dengan suatu produk atau asset maupun usaha jasa. Namun yang pasti investasi keuangan syariah harus berkaitan dengan kegiatan sector riil (mempunyai underlying asset).

Ijarah yaitu pemindahan hak guna atau manfaat atas suatu barang atau jasa tertentu dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/ upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.

Ijarah muntahhiyah bittamlik; Sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan. Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian.

Ijarah wa iqtina: sewa-beli

Istishna: Kontak produksi (job order); bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kreteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan pembuat ( pembayarannya dilakukan secara menyicil).

Ihtiyath: prinsip kehati-hatian (prudential management)

Imarah: pembangunan

Ijab: pernyataan pihak pertama dalams uatu akad yang menunjukkan kehendaknya untuk melakukan akad.

Ijma': Konsensus hokum yang disepakati oelh para ulama

Jihad: Usaha yang terus menerus tanpa henti

Jihbiz: Praktek perbankan. Berasal dari bahasa Persia yang berarti penagih pajak. Istilah ini mulai dikenal di jaman Mu'awiyah yang ketika itu fungsinya sebagai penagi pajak dan penghitung pajak atas barang dan tanah. Di jaman Abbasiyah Fungsi ini kemudian berkembang menjadi profesi penukaran uang dan berkembang menerima titipan dana, meminjamkan uang dan jasa pengiriman uang.

Jahalah: ketidaktahuan

Jumhur ulama: Mayoritas ulama

Kafalah: Pemberian jaminan atau garansi bank (surety bond) . Yaitu jaminan yang diberikan oleh pihak penanggung (kafiil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul 'anhu; ashil). Kafalah juga disebut dhaman(jaminan), hamalah (beban), dan za'amah (tanggungan).

Kafiil adalah orang yang berkewajiban melakukan makful bihi (pertanggungan). Ia wajib seorang yang baligh, berakal, berhak penuh untuk bertindak dalam urusann hartanya, rela denagan kafalah( sebab segala urusan hartanya ada ditangannya).

Kafiil disebut juga dhamin (orang yang menjamin), Zaim (penanggung jawab), haamil (orang yang menanggung beban) dan qabil (orang yang menerima).

Kafalah dalam bank garansi: bank bertindak sebagai kafiil yaitu yang memberikan kafalah (garansi) atass nasabahnya kepada pihak ketiga

Kaidah Fiqh: Adagium hokum Islam

Kemaslahatan umat: Manfaat positif yang diperoleh umat Islam

Khianat: Tidak amanah atau tidak memenuhi janji

Lembaga keuangan syariah: lembaga keuangan baik bank atau non bank yang menjalankan fungsinya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

La dharara wa la dhirara: tidak saling merugikan

Mal: Harta kekayaan

Muamalah Sar'iyah: Hubungan sosial, termasuk kegiatan ekonomi yang sejalan atau didasarkan pada prinsip-prinsip syariah

Mudharabah: Pembiayaan modal; Kemitraan pasif; yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shabibul mal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak kedua (mudharib, nasabah) bertindak sebagai pengelola. Dan keuntungan usaha dibagi diantara mereka sesuai dnegan kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.

Mudharabah Muthlaqah: dalam aqad mudharabah tidak membatasi ruang lingkup, penempatan, atau dengan kata lain mudharib mendapatkan disrectionary right untuk mengelola dana.

Mudharabah Muqayyadah: Mudharabah dengan pembatasan baik dalam hal jenis usaha yang akan dibiayai, jenis instrumen, resiko maupun pembatasan lain yang serupa.

Makfuul bihi: kewajiban seseorang atau pihak yang kemudian mendapatkan jaminan dari pihak lain dalam akad kafalah

Makfuul Lahu: pihak yang dijamin

Makfuul'anhu: lihat keterangan ashiil

Malik: pemilik modal; disebut juga shahib al-maal

Mudharib: Pihak yang melaksanakan usaha mudharabah. Mudharib ini bisa berupa nasabah, lembaga keuangan, manajer investasi dan reksadana, maupun perusahaan bagi perusahaan yang sudah publik (emiten)

Musyarakah: Pemilik modal; Kemitraan aktif. Yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Muqridh: orang yang memberikan qard (utang)

Muqtaridh: nasabah yang mendapatkan utang

Muddi': Orang yang menerima titipan dalam transaksi wadiah

Murabahah: penjualan dengan fasilitas penundaan pembayaran dimana pembeli membayar dengan harga lebih sebagai manfaat dari yang didapatnya. (pembiayaan yang ditambah pembebanan jasa)

Muajjal: pembayaran dnegan cara mencicil

Maysir: menagndung arti memperoleh kekayaan dengan mudah. Maysir yang paling besar adalah dimana keuntungan suatu pihak merupakan kerugian pada pihak lain. Maysir juga bermakna spekulasi murni.

Massuliyah: pengelolaan yang bertanggung jawab

Mafsadat: Kerusakan atau kerugian baik yang bersifat fisik maupun non fisik

Maslahat: kebaikan

Mudarat: Bahaya, kerugian

Muhal: Pihak yang dialihkan piutangnya

Muhal bih: Objek pengalihan, yaitu hutang atau piutangnya

Muhal 'alaih: Pihak yang menerima pengalihan piutang

Muhil: pihak tang melakukan pengalihan utang

Muhtal: identik dnegan Muhal

Muqobil: pihak kedua

Muqaradhah: istilah lain untuk akad mudharabah

Musaqah: Bagi Hasil perkebunan

Mustashni: Orang/ pihak yang melakukan pembelian dalam akad istishna

Mu'alaq: bergantung

Muwalat: Kontrak berdasarkan perwakilan/kuasa

Nisbah: penghitungan

Naqdan: pembayaran secara tunai

Najsy: melakukan penawaran palsu, yakni penawaran atas suatu barang yang dilakukan bukan karena motif untuk membeli tetapi hanya bermotifkan agar pihak lain berani membelinya dengan harga yang tinngi

Nizham Nisab: Ketentuan minimal untuk harta yang diwajibkan zakatnya

Obligasi syariah: Obligasi atau surat utang yang diterbitkan berdasarkan prinsip bagi hasil atas manfaat yang diterima. Obligasi syariah dapat pula memberi hak untuk mengalihkan pinjaman menjadi saham bila syarat-syarat tertentu dipenuhi.

Perbankan syariah: salah satu system perbankan di Indonesia yang berlandaskan syariah Islam. Keberadaanya dikukuhkan dalam UU no 7 tahun 1992 tentang perbankan. Dalam UU itu disebutkan bahwa perbankan Indonesia terdapat dua system yakni konvensional dan syariah.

Pembiayaan Mudharabah: suatu teknik pembiayaan yang digunakan oleh bank-bank Islam, Bank bertindak sebagai pemilik modal, debitur sebagai pelaksana usaha, Dalam akadnya disepakati nisbah bagi hasil dari usaha itu. Sistem ini dapat digunakan untuk modal kerja maupun investasi untuk membiayai kepemilikan barang maupun usaha jasa.

Pembiayaan Murabahah: adlah suatu teknik pembiayaan yang digunakan oleh bank-bank islam. Biasanya diterapkan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Pembiayaaan ini terdiri dari dua jenis transaksi jual beli yakni (1) bank membeli secara tunai dari penjual. (2) bank menjual barang tersebut secara cicilan. Untuk transaksi secara cicilan maka pembayaran murabahah menjadi ada dua jenis transaksi yakni (1) transaksi dayn (hutang) antara bank dengan debitur, yakni sebesar harga yang belum dibayar lunas (2) transaksi debitur memberikan jaminan atas dayn (hutang) nya tersebut.

Pembiayaan Bai'ul Bi Tsaman Ajil: suatu variasi dari bai'al murabahah. Biasanya diterapkan untuk memenuhi kebutuhan investasi

Pembiayaan musharakah: suatu teknik pembiayaan yang digunakan oleh bank-bank islam. Dua atau lebih pemilik dana secara bersama-sama membiayai ssuatu usaha yang dijalankan oleh pelaksana. Pelaksana dapat terdiri dari salah satu pemilik dana atau orang lain.

Pembiayaan Al Qardul Hasan: adalah produk pinjaman tanpa pengenaan bagi hasil sama sekali dalam bank syariah, Sumber dana yang digunakan untuk memberikan pinjaman ini berasal dari zakat, infak, sadaqah. Bank bertindak sebagai muqridh dan peminjam hanya diminta mengembalikan pokoknya. Jika peminjam secara sukarela melebihkan pembayaran maka akan menjadi sadaqah yang akan digunakan sebagai sumber dana.

Perdagangan/ usaha secara syariah: adalah kegiatan yang tidak berkaitan dengan produk atau jasa yang haram atau yang lebih banyak mudharatnya dibandingkan dengan manfaatnya serta menghindari cara perdagangan dan usaha yan dilarang.

Qi'mah: Nilai benda yang menjadi obyek jual beli ;nilai intrinsik

Qabul: menerima

Qiyas: analogi, salah satu dari sumber hokum Islam

Qardhul Hasan, (jamak: Qurud Hasanah): suatu pinjaman kebajikan yang diberikan tanpa harapan keuntungan apapun.

Rahn: gadai atau pengikatan diri untuk menjalankan suatu kewajiban (pledge) dengan memberikan jaminan pembayaran.

Riba: pengambilan tambahan baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam meminjam secara bathil atau bertentangan dengan ajaran Islam.

Ribawi: Sifat dari suatu transaksi yang mengandung unsure riba.

Riba fadl: disebut juga riba buyu, yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kreteria sama kualitasnya (mistlan bi mistlin), sama kuantitasnya (sawa-an bin sawa-in) dan sama waktu penyerahannya (yadan bin yadin). Riba fadl dapat ditemui dalam transaksi valas yang tidak dilakukan secara tunai.

Riba Nasi'ah atau riba duyun riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak memenuhi kreteria untung muncul bersama resiko (al ghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al kharaj bi dhaman). Riba jenis ini dapat ditemui dalam transaksi pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga tabungan, deposito, giro.

Riba Jahiliyah adalah utang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan.

Riayah: pengelolaan yang menerapkan nilai-nilai kerjasama

Reksadana: Wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masayarakat pemodal untuk melanjutkan diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.

Reksadana syariah: Adalah reksana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta dengan manajer investasi (yakni dengan system wakalah) maupun antara manajerinvestasi sebagai wakil dari pemilik modal dengan pengguna investasi (yakni dengan system mudharabah).

Shahibul Maal: orang yang memberikan dana atau pemilik dana dalam usaha mudharabah dan atau musyarakah. Mereka ini tidak boleh ikut campur dalam kegiatan usaha

Sistem Bagi hasil: adalah sisitem yang diterapkan dalam ekonomi syariah yang menekankan pada pembagian hasil usaha yang besarannya sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak yang terkait.

Subhat: meragukan

Salam: transaksi jual beli dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat terlebih dahulu.

Salam pararel: adalah salam yang berkesinambungan antara bank dengan nasabah dan antara bank dnegan pemasok atau pihak ketiga lainnya secara simultan. Salam pararel dibolehkan dengan syarat akad kedua terpisah dari akad pertama dan akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

Sharf: jual beli valuta asing ( lihat juga Ash Sharf)

Shani: pembuat, penjual; yakni pihak yang menerima pesanan pembuatan barang dalam akad Istishna

Syariah: Ajaran Islam yang termaktub dalam al-Qur'an dan Al-hadis

Tsaman: Harga suatu barang berdasarkan kesepakatan antara penjual dan pembeli

Tabungan: Salah satu produk produk perbankan taitu berupa simpanan dana yang penarikannya hanya dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati. Tabungan yang tidak dibenarkan adalah tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. Sedangkan tabungan yang dibenarkan adalah yang berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.

Tabungan Wadiah: simpanan yang bisa diambil kapan saja namun tidak ada imbalan yang disyaratkan kecuali dalam bentuk pemberian ('athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

Tabungan Mudharabah: investasi melalui simpanan pihak ketiga yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu.

Tafriq al-halal min al-haram: pemisahan unsure yang halal dari yang haram

Taradhin: Prinsi suka sama suka; Ini merupakan prinsip yang harus mendasari seluluh bentuk akad.

Tabarru': Rekening kebajikan dari peserta asuransi untuk peserta lainnya yang terkena musibah

Unit Usaha Syariah: Unit usaha di bank konvensional yang menjalankan fungsinya secara syariah. Bank utamanya tetap bank konvensional namun membuka anak cabang yang dijadikan unit usaha syariah.

Urbun: Uang muka

Wadiah: barang simpanan

Wadiah amanah: konsep wadiah dimana orang yang menitip tidak memberikan hak kepada orang yang dititipkan untuk memanfaatkan baarang titipannya. Dalam duania perbankan konsep ini diterapkan antaar lain pada Safe deposit box. Bank biasanya meminta biaya penitipan.

Wadiah Dhamanah: Konsep wadiah dimana orang yang menitipkan memberikan hak kepada yang dititipi untuk memanfaatkan barang titipannya. Contohnya Giro wadiah, dimana bank tidak meminta biaya penitipan karena boleh memanfaatkan barang titipan. Bank dapat memberikan bonus diakhir bulan yang tidak diperjanjikan dimuka.

Wadi: Orang yang menitipkan dalam transaksi wadiah

Wakalah: pemberian kuasa. ( lihat al wakalah)

Wakalah dalam Pembiayaan Murabahab/Bai'u Bi Tsaman Ajil: dalam perjanjian ini bank menunjuk debitur sebagai wakilnya untuk membeli baarang yang dikehendaki debitur. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan debitur agar mendapatkan barang seperti yang dikehendaki.

Wakalah dalam pengiriamn uang/inkaso: Bank ditunjuk oleh nasabah sebagai wakilnya untuk mengirimkan uang ke tujuan tertentu/ untuk menerima kiriman uang dari tempat tertentu

Wakalah dalam Penerbitan L/C: Bank ditunjuk oleh nasabah sebagai wakilnya untuk membayar/menerima pembayaran serta peng-adminitrasian prose ekspor impor barang didalam satu negara lokal maupun internasional.

Wa'd: janji atau promise (lihat ahd)

Waazi': kekuasaan politik

Yad al-aamanah: Titipan yang dapat diambil kapanpun oleh penitipnya

Za'amah: tanggungan (lihat: kafalah)

Zakaat: Kewajiban yang harus ditunaikan oleh muslim dengan membayarkan sebagian hartanya yang telah memenuhi nisab dan haul

Zakat mal: Zakat harta

Zakat Fitrah: Zakat yang harus dikeluarkan untuk setiap pribadi muslim pada bulan Ramadhan sampai menjelang sholat Idul Fitri

Sumber: Apa dan Bagaimana Bank Syariah, Biro Perbankan Syariah BI. Istilah dan Pengertian Produk-produk Bank Syariah, Bank Maumalat. Pengantar Ekonomi Syariah: Yayasan Istismar

Related Posts: