REVIEW Kolam Pemandian Air Panas Ciwalini terbaru 2019

Hai guys kalian udah punya rencana belum untuk weekend kali ini ?

Kalian udah Berencana untuk liburan weekend ini bersama keluarga dan sahabat Tapi masih belum menentukan tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu liburan bersama mereka ?

Setiap hari kerja dari pagi sampai sore duduk didepan komputer pastinya sangat melelahkan.
Setiap hari pergi ke kampus duduk manis memperhatikan dosen yang membosankan Pasti sangat boring.
Ada waktu berkumpul bersama keluarga tapi cuma di rumah aja kan bosen.

Nah itu cirinya kamu butuh refreshing guys !

Salah satu solusinya adalah merelaksasi tubuhmu dengan berendam di pemandian air panas. Selain meregangkan otot-otot tubuh berendam air panas juga dapat mendetox tubuh kalian. Selain itu masih banyak hal positif lainnya dengan kamu berendam di air panas.

Kamu bisa berendam air panas bersama keluarga ataupun sahabat tercinta bersama-sama. Pasti akan lebih asyik dan menambah keakraban serta merefresh otak dan tubuh kita yang benar siksa Oleh pekerjaan dan tugas-tugas kampus.

Kolam pemandian air panas Ciwalini lah jawabannya. Mungkin kalian yang sering atau pernah berkunjung ke kawasan Ranca Bali di Ciwidey sudah tidak asing dengan kolam pemandian air panas yang satu ini.

Yups ! Taman Wisata Alam Ciwalini menyajikan kolam pemandian air panas dan perkebunan teh serta wisata alam lainnya. Tapi salah satu hal yang paling menarik dari Ciwalini adalah kolam pemandian air panas yang sudah terkenal sejak dulu.

Buat kalian yang lagi butuh informasi mengenai Taman Wisata Alam Ciwalini kami akan menyajikan informasinya di bawah ini.


Related Posts:

Hukum menikah dengan non muslim #2

HUKUM MENIKAH DENGAN ORANG MUSYRIK 

Part 2

Ahkamusy Syar’i

1. Hukum menikahi perempuan Ahlul Kitab.

Pada tulisan sebelumnya penulis berjanji kepada para pembaca setia majalah ini akan menerangkan tentang hukum menikahi wanita Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Apakah wanita-wanita Ahlul Kitab itu tercakup dengan ayat Al-Musyrikat (wanita-wanita Musyrik) atau tidak?

Sebagaimana telah diterangkan dalam tafsir mufradat, bahwa firman Allah Ta’ala yang berb

bunyi وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ (janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman), ayat ini menunjukkan haram menikahi wanita musyrik, yaitu wanita-wanita penyembah berhala, yang tidak memiliki kitab suci dari Allah dan agama samawi, tidak termasuk wanita-wanita Ahlul Kitab, sebab Allah swt mengizinkan kaum muslimin menikahi wanita-wanita afifah (bersih dari perbuatan zina) dari kalangan Ahlul Kitab, sebagaimana firman-Nya:


… وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلاَ مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ… المائدة:5 


…(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik…(QS. Al-Maidah:5)

Ada juga yang berpendapat, bahwa kata Al-Musyrikat pada ayat itu (wanita-wanita musyrik) mencakup Ahlul Kitab, sedangkan quran surat Al-Maidah:5 ini dimansukh (dihapus) hukumnya oleh quran surat Al-Baqarah:221.

Pendapat ini sama sekali tidak bisa diterima karena quran surat Al-maidah:5 turun kemudian, sedangkan Quran surat Al-Baqarah:221 turun sebelumnya. Sedangkan yang terdahulu tidak bisa menghapus yang kemudian. Dalam kaidah usul fiqih diterangkan:

إن المتأخر ينسخ المتقدم لا العكس 

Sesungguhnya yang akhir menghapus yang terdahulu, tidak sebaliknya.
Dengan demikian, quran surat Al-Maidah:5 bukan dimansukh malah justeru menjadi takhsis (pengkhususan) dari quran surat Al-Baqarah:221

Walaupun ayat di atas (Q.S. Al-Maidah:5) membolehkan orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita Ahlul Kitab, tetapi jangan sampai hal itu menjadikan wanita-wanita mukminat/muslimat dipandang sebelah mata, apalagi mengakibatkan diri jauh dari mereka, akibatnya banyak wanita mukmin yang tidak bersuami, sebab bagaimana pun juga wanita mukmin jauh lebih bernilai di hadapan Allah swt.

Sebagaimana ada sebuah riwayat bahwa Hudzaifah menikahi wanita Yahudi. Lalu Umar bin Khatab menulis surat kepada Hudzaifah agar ia menceraikan isterinya itu. Kemudian Hudzaifah pun menulis surat kepada Umar yang isinya:

أَتَزْعَمُ أَنَّهَا حَرَامٌ فَأُخَلِّي سَبِيلَهَا؟ فَقَالَ عُمَرُ: لاَ أَزْعَمُ أَنَّهَا حَرَامٌ وَلكِنْ أَخَافُ أَنْ يَقْتَدِيَ بِهَا النَّاسُ فِي ذلِكَ فَيَزْهَدُوا فِي الْمُسْلِمَاتِ 

”Apakah kamu mengira, bahwa wanita Yahudi itu haram dinikahi, hingga aku harus menceraikannya”? Umar pun menjawab,”Tidak, aku tidak berpendapat wanita Yahudi itu haram dinikahi, tetapi aku khawatir jika orang-orang berantusias menikahi wanita Ahlil Kitab tetapi menjauhi wanita mukmin”.(Jami’ul Bayan, Ath-Thabari).

Mudah-mudahan Allah swt. memberikan rahmat kepada Umar bin khatab ra. Karena beliau sangat mementingkan kemashlatan kaum muslimin daripada kesenangan individu.

2. Hukum Menikahkan Wanita Mukmin dengan Ahlul Kitab.

Wanita mukmin atau yang beragama Islam tidak boleh menikah kecuali kepada yang seorang laki-laki yang seagama dengannya. Bila terjadi pernikahan antara wanita mukmin dengan laki-laki non muslim, baik Ahlul Kitab atau yang lainya, pernikahannya tidak sah, maka persenggamaannya adalah perzihanan. Allah swt berfirman:

وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا 

Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)

Yang dimaksud orang-orang musyrik di sini adalah semua orang kafir mencakup watsniyyat (penyembah berhala), Majusi, Yahudi, Nashrani, orang yang murtad dari Islam dan lain-lain, mereka semua haram dinikahkan kepada wanita muslimah. Hal ini dijelaskan pula oleh Allah swt. dalam Alquran surat Al-Mumtahanah:10, yakni:


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ, اَللهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ, فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ, لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُمْ مَا أَنفَقُوا… 

Hai Orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar…

Sebagaimana telah diterangkan, bahwa laki-laki muslim boleh menikahi wanita Ahlul Kitab, tetapi laki-laki ahlul Kitab tidak boleh menikahi wanita muslimah. Sesungguhnya Allah swt. telah menerangkan sebabnya, yaitu karena mereka akan membawa kepada kekufuran yang menjadi penyebab masuk ke dalam api neraka.

Ketetapan haram pernikahan ini berlaku sampai hari kiamat, tidak akan pernah berubah walaupun manusia tidak menyetujuinya, apalagi berubah karena realita yang ada.

Oleh karena itu, kepada perempuan-perempuan muslimah harus berhati-hati apabila mempunyai calon suami non muslim, jangan terpengaruh oleh ucapan dua kalimah sahadat yang muncul dari mulutnya, bila kenyataannya masih beragama yang dulu, karena yang terpenting adalah apakah setelah itu ia mau menjalankan keislamannya dan berhenti dari semua kekufurannya.

Bersambung...

Related Posts:

Cara Membuat Brownies Tanpa Mixer & Oven hanya dengan 5 Bahan Saja | anti gagal anti mahal

Hai guys websitenya aku.
Kali ini aku akan membagikan resep brownies tanpa mixer dan tanpa oven.


Berawal dari mupeng ingin beli brownies ternama khas dari kota Bandung tapi harganya yang terus merangkak naik sedangkan kadaluarsanya tinggal 1 hari lagi. Padahal saat itu aku lagi ingin banget mencicipi rasa khas manis lembut brownies atau bolu tersebut.

Karena ingin ngirit jadi aku memutuskan untuk Nggak jadi beli brownies tersebut dan mencari alternatif lainnya. Dan jadilah sebuah brownies yang tidak kalah enaknya dengan brownies ternama itu. Tanpa harus keluar uang banyak dan boros-boros di awal bulan.

Harga keseluruhan dari seluruh bahan-bahan brownies yang akan kita buat adalah setengah harga dari produk Bolu Sus* Lem**ng lho !!

Oh ya Selain harganya murah lah cara membuatnya juga sangatlah mudah, praktis dan dijamin anti gagal. Dijamin bikin kamu ketagihan dan yang gak bisa masak sekalipun dijamin deh langsung rajin masak setelah tahu resep ini.

Berikut adalah bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sebuah brownies tanpa oven dan tanpa mixer :

- 1 bks Remiks Brownies Pondan Coklat
- 1 butir telur
- 100gr mentega
- 4sdm Air
- keju Cheddar secukupnya

Cara membuat :
1. Panaskan air untuk kukusan ke dalam sebuah panci besar untuk mengukus selama kurang lebih 15 sampai 20 menit
2. Panaskan 100 gram mentega ke dalam sebuah teflon hingga mencair, tiriskan
3. Masukan 1 butir telur kedalam sebuah wadah kemudian kocok lepas menggunakan garpu selama 1 menit
4. Tambahkan mentega yang sudah kita cairkan tadi kedalam sebuah wadah berisi telur yang sudah dikocok.
5. Kemudian masukkan satu bungkus remix brownies dari Pondan rasa coklat dan 4 sendok makan air
6. Aduk rata seluruh adonan hingga tidak ada serbuk yang tersisa.
7. Siapkan sebuah loyang kecil atau wadah agar-agar untuk mengukus adonan brownies. Kemudian dilapisi wadah tersebut dengan sisa mentega.
8. Tuangkan adonan brownies tadi kedalam sebuah wadah agar-agar atau loyang kecil. Jangan sampai wadahnya terisi penuh uang setidaknya setengah dari besarnya wadah.
9. Masukkan wadah yang telah diisi adonan tadi ke dalam sebuah panci pengukusan, dan tunggu sekitar 25 menit.
10. Setelah browniesnya matang keluarkan brownies dari wadah kedalam sebuah piring atau tempat saji kemudian parutan keju diatasnya.
11. Brownies kukus coklat keju siap untuk dihidangkan.

Nah sangat mudah banget kan cara membuat brownies tanpa oven dan mixer ?

Sekarang kamu nggak perlu lagi khawatir saat keadaan keuangan menipis dan kamu ingin mencicipi nikmatnya brownies terkenal itu karena sekarang kamu bisa membuatnya di rumah.

Oh iya brownies kukus ini enak dimakan selagi hangat loh. Jadi pas banget buat dijadikan cemilan disaat musim hujan seperti ini.

Semoga resep tadi bermanfaat buat kalian dan semoga kalian bisa mencobanya di rumah. Kalau kalian masih bingung dengan tata cara pembuatan yang udah kita bahas tadi di atas kalian bisa lihat video lebih lengkapnya lagi di bawah ini.



Related Posts:

Hukum menikah dengan non Muslim #1

HUKUM MENIKAH DENGAN ORANG MUSYRIK
Part 1

وَلاَ تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وََلأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُوْلَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ # (سورة البقرة:221) 

"Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita hamba sahaya yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia membuatmu kagum. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya hamba sahaya yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia membuatmu kagum. (Sebab) mereka akan mengajak ke neraka, sedangan Allah mengajak ke surga dan maghfirah dengan izin-Nya, Ia menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka ingat." QS. Al-Baqarah:221

Tafsir Mufradat
وَلاَ تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ = Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, yaitu wanita-wanita penyembah berhala, yang tidak memiliki kitab suci dari Allah dan agama samawi, tidak termasuk wanita-wanita ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), sebab mereka berkitab sucikan Taurat dan Injil wahyu dari Allah.. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat di atas pun mencakup melarang menikahi wanita-wanita ahlul kitab. Untuk lebih jelasnya, insya Allah masalah ini akan dibahas dalam edisi berikutnya dalam sub judul ahkamusy syar’i.

وَلاَ تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ = Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin). Orang-orang musyrik di sini adalah orang-orang kafir, mencakup penyembah berhala, ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), Majusi atau semua itu dalam bahasa kita disebut dengan non muslim.

Sababun Nuzul

Sababun nuzul tentang ayat di atas terdapat dua riwayat:

Pertama, riwayat Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Al-Wahidi dari Muqatil, ia berkata,”Bahwasanya Rasulullah saw. mengutus Mirtsad bin Abu mirtsad Al-Ghanawi ke Mekah untuk mengeluarkan orang-orang muslim dari kota tersebut ke Madinah. Ternyata Mirtsad menyukai seorang perempuan musyrik dari kaum jahiliyyah yang bernama ‘Anaq, karena ia memiliki kecantikan. Lalu perempuan itu mendatangi Mirtsad seraya berkata kepadanya ‘Apakah kamu sedang menyendiri’? Mirtsad menjawab,’Waihak!(Celakalah!), Sungguh Islam telah menghalangi antara kita. Lalu perempuan itu berkata lagi, ‘Apakah kamu mau menikah denganku?’ Mirtsad menjawab,’ya, akan tetapi aku akan mendatangi Rasulullah untuk bertanya terlebih dahulu.’ Kemudian turunlah ayat di atas yang mengharamkan menikahi perempuan musyrik.

Kedua, riwayat Al-Wahidi melalu jalan (jalur sanad) As-Sudi dari Abu Malik dari Ibnu Abbas, ia berkata,”Ayat ini turun mengenai Abdullah bin Rahawah. Ia memiliki hamba sahaya perempuan yang berkulit hitam yang sering dimarahi dan dicacinya. Kemudian Abdullah bin Rahawah merasa khawatir atas perbuatannya itu. Lalu ia datang kepada Nabi saw. untuk menceritakan perilakunya. Setelah itu, Rasulullah saw. bersabda kepadanya:


مَا هِيَ يَا عَبْدَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ, هِيَ تَصُومُ وَتُصَلِّى وَتُحْسِنُ الْوُضُوءَ, وَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّكَ رَسُولُهُ. فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ, هذِهِ مُؤْمِنَةٌ. فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ َلأُعْتِقَنَّهَا وَ َلأَتَزَوَّجَنَّهَا فَفَعَلَ… 
Apa yang biasa dilakukan perempuan itu wahai Abdullah! Ia menjawab,’Ya Rasulullah, perempuan itu sering saum, biasammengerjakan salat dan menyempurnakan wudunya, dan ia pun bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya’. Lalu Nabi bersabda,’Wahai Abdullah, perempuan itu seorang mukmin’. Lalu Abdullah berkata,’Demi Allah yang telah mengutumu dengan membawa kebenaran! Pasti aku akan memerdekakan dan menikahinya. Kemudian ia pun melakukannya…
Setelah kejadian ini, banyak orang yang menyatakan aib kepada Abdullah bin Rahawah karena menikahi perempuan kulit hitam hamba sahaya miliknya, sedangkan kebanyakan orang pada saat itu menyenangi nikah dengan wanita-wanita musyrik karena melihat kecantikan dan kemuliaan leluhurnya. Kemudian turunlah ayat di atas yang mengharamkan menikahi wanita-wanita musyrik, walaupun mereka membuatmu kagum.

Makna Global Ayat
Allah swt. menjelaskan bahwa pernikahan orang-orang musyrik dengan orang-orang mukmin itu tidak sah. Bila terjadi persenggamaan antara mereka, hakikatnya persenggamaan itu adalah perzinaan. Ia berfirman yang maknanya:

“Hai orang-orang mukmin! Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, yaitu yang tidak memiliki kitab suci dan agama samawi, sebelum mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, serta yakin akan kerasulan Muhammad”. Adapun Ahlul kitab tidak tercakup dengan ayat di atas. Demikianlah makna musyrik yang ada dalam Alquran. Ringkasnya, janganlah kamu menikahi wanita musyrik selama ia masih dalam kemusyrikannya.”
“Sesungguhnya perempuan hamba sahaya yang mukmin/ beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, walaupun dipandang rendah martabatnya, lebih baik kamu nikahi daripada perempuan musyrik, walaupun mulia turunannya, membuat kagum kecantikannya, dan banyak hartanya. Siapa yang menikahi perempuan karena keimanan dan ketaatannya kepada Allah akan mendapat kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Berbeda dengan orang yang menikahi wanita hanya karena harta dan kemulian turunannya, ia akan meraih keuntungan dunia saja dan itu pun hanya sedikit”

pada ayat tersebut ada makna yang tersirat, yakni bahwa mencari calon isteri itu harus selektif, pilihlah wanita yang beragama, jangan hanya memperhatikan kecantikan, harta, dan turunannya saja. Sebagaimana nasihat Rsulullah saw.;


لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ ِلأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وََلأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ . رواه ابن ماجة عن ابن عمر 
Janganlah kamu menikahi wanita itu (hanya) karena kecantikanya, karena bisa jadi kecantikannya itu akan mencelakakannya. Dan janganlah kamu menikahi wanita itu (hanya) karena hartanya, sebab bisa jadi hartanya itu akan mendurhakakannya. Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya perempuan hamba sahaya jelek lagi hitam yang beragama (beriman kepada Allah) adalah lebih utama (kamu nikahi)”. HR. Ibnu Majah dari Ibnu Umar.

Walaupun hadis di atas terdapat kelemahan, tapi ada hadis sahih sebagai syahid untuk hadis di atas, yakni Nabi bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ . رواه البخارى عن أبي هريرة 

Perempuan itu dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, kemuliannya, kecantikannya dan atau agamanya. Dapatkanlah (perempuan) itu karena agamanya niscaya kamu beruntung” HR.. Al-Bukhari dari Abu Hurairah.

“Begitu juga, janganlah kamu menikahkan wanita-wanita mukmin dengan orang-orang musyrik, yakni seluruh orang-orang yang kafir kepada Allah dan kerasulan Muhammad termasuk Ahlul Kitab, karena menikahkan mereka (wanita mukmin) dengan hamba sahaya yang mukmin walaupun rendah martabatnya, lebih baik daripada kamu menikahkan mereka dengan orang musyrik walaupun ia tampan, rupawan dan mulia keturunannya.”
Adapun sebab haramnya pernikahan antara laki-laki mukmin dengan wanita musyrik dan wanita mukmin dengan orang kafir/non muslim, karena mereka itu (musyrukin dan musyrikat) akan membawa kamu kepada kekufuran dan amal yang jelek serta menjerumuskan ke dalam api neraka. Mereka tidak memiliki agama yang sah dan kitab samawi yang menunjukkinya kepada jalan yang benar. Selain itu, janganlah bersatu dan bergaul dengan mereka, karena pergaulan itu akan saling memberi masukan dan saling mempengaruhi. Akibatnya, fikiran sesat, sifat taqlid kepada perbuatan dan adat mereka yang tidak bersyariat itu, akan masuk ke dalam diri. Jadi ringkasnya, illah haramnya menikah dengan mereka karena akan menjerumuskan ke nereka.

“Sedangkan Allah swt. mengajak dan memberi petunjuk dengan kitab melalui para nabi-Nya kepada manusia menuju nikmat surga yang tiada tara. Ia akan memberi maghfirah serta menutupi dosa-dosa kepada orang yang dikehendaki-Nya. Ia menjelaskan ayat-ayat, hukum-hukum dan dalil-dalil-Nya kepada manusia agar mereka mengingatnya dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Terimalah nasihat dari Tuhanmu, dan jangan menyalahi-Nya”.

Bersambung...

Related Posts:

Tilawah Al-Qur'an #6

TILAWAH ALQURAN 

Part 6


10. Memperlombakan Bacaan Quran (MTQ)

Memperlombakan Bacaan Quran atau Musabaqah Tilawatil Quran sudah menjadi tradisi di negeri kita ini, apalagi pada acara nuzulul quran. Untuk mengetahui boleh dan tidaknya tentang MTQ ini, marilah perhatikan hadis di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص : إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ …رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ …ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ …رواه مسلم 

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Sesungguhnya manusia yang paling pertama diminta (pertanggungjawabannya) pada hari kiamat adalah … seorang yang telah belajar ilmu dan mengamalkannya, dan yang membaca Alquran. Kemudian ia dihadapkan dan diterangkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang telah diberikan), lalu ia mengetahuinya. Allah berfirman,’Apa yang telah kamu perbuat pada kenikmatan itu’? Ia menjawab,’Aku belajar ilmu serta mengamalkannya dan membaca Alquran karena-Mu’. Allah berfirman,’Kamu berdusta! Akan tetapi kamu belajar ilmu agar disebut orang alim, dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut qari (pembaca yang mahir)… Kemudian diperintahkan agar ia diseret ke dalam api nereka’”. HR. Muslim

Dengan hadis ini, maka membaca Alquran dengan cara dipertontonkan di depan umum dengan niat agar disebut sebagai qari yang terbaik adalah riya, sedangkan riya adalah syirik yang hukumnya haram. Dengan demikian, memperlombakan bacaan Alquran, bukan memperlombakan isinya adalah bid’ah.

11. Membaca dan Mengajarkan Alquran sebagai Mas Kawin
Membaca dan Mengajarkan Alquran sebagai Mas Kawin pernah terjadi di zaman Rasulullah saw. Adapun riwayatnya sebagai berikut :

Dari Sahl bin Saad ra. ia berkata,”Seorang perempuan datang kepada Nabi saw. lalu berkata,’Ya Rasulullah! Aku hibahkan diriku kepadamu! Lalu beliau memperhatikannya kemudian menaikkan dan menurunkan pandangannya. Setelah itu beliau pun menundukkan kepalanya. Tatkala perempuan itu melihat bahwa Nabi saw. tidak memberi putusan, ia duduk. Kemudian berdiri seorang sahabat seraya berkata,’Ya Rasulullah! Jika engkau tidak ada keperluan kepadanya, nikahkanlah aku kepada perempuan itu’! Nabi menjawab,’Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk mas kawin)? Ia menjawab,’ tidak’. Nabi berkata,’Pergilah, carilah walaupun hanya cincin dari besi! Lalu ia kembali seraya berkata,Aku tidak menemukan sesuatupun, walaupun cincin dari besi’. Nabi bersabda,’Apakah ada ayat quran yang kamu hafal? Ia menjawab,’Aku hafal surat anu dan surat anu’. Nabi bersabda,

اِذْهَبْ, فَقَدْ أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ 

’Pergilah kamu, Sungguh aku telah nikahkan kamu kepada perempuan itu dengan quran yang kamu hafal (untuk diajarkan kepadanya). HR. AlBukhari

Melihat proses terjadinya penikahan di atas, Nabi saw. menikahkan seorang laki-laki hanya dengan kesanggupannya membaca dan mengajarkan Alquran sebagai mas kawin, berlaku bagi orang yang tidak mampu memberi mas kawin berupa harta/barang. Jadi mas kawin dengan membaca dan mengajarkan Alquran adalah sebagai alternatif terakhir. Oleh karena itu, tidak heran kalau Imam Al-Bukhari membuat salah satu judul/bab untuk hadis ini adalah Tazwijil mu’sir (menikahkan orang yang kesusahan).

Adapun yang berkembang di masyarakat kita sekarang, yang dijadikan mas kawin itu adalah mushafnya, hal ini tidak pernah diajarkan Nabi saw.

12. Membaca Alquran pada awal pertemuan
Membaca Alquran pada awal pertemuan, seperti pada awal acara pernikahan, tabligh akbar atau acara-acara lainnya sering kita temukan, bahkan mungkin kita pun pernah melakukannya. Pembacaan ayat suci Alquran ini, mungkin agar acara tersebut lebih khidmat dirasakan, dan hal ini tentu tidak dilarang. Karena pada dasarnya, membaca Alquran di mana dan kapanpun boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya. 

Tetapi jika membaca Alquran pada awal pertemuan ini dijadikan syarat atas satu kemestian tentu harus berlandaskan quran dan hadis, jika tidak, maka perbuatan itu akan jadi bid’ah yang dilarang keras oleh agama. Oleh karena itu, pembacaan ayat quran pada acara-acara itu, sesungguhnya bisa dilakukan di awal, di tengah atau di akhir acara, atau tidak diadakan sama sekali, disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

13. Membaca Alquran di rumah no Muslim
Allah swt.menurunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, agar dilaksanakan perintah-Nya dan dijauhi larangan-Nya, serta diperintah untuk mentadaburinya. 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ 

Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk bagi manusia 

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ 

Apakah orang-orang kafir itu tidak memperhatikan Alquran

Membaca Alquran di rumah non muslim dengan tujuan untuk memberi peringatan dan nasihat dengan harapan agar hatinya terpikat untuk masuk islam, maka hal itu dianjurkan, itupun jika orang non muslim itu benar-benar mengerti kepada ayat yang sedang dibaca. 

Hal ini pernah dilakukan oleh Rasululah saw. Beliau pernah sengaja membaca Alquran diulang, dengan harapan agar terdengar oleh Al-Walid bin Al-Mughirah, yaitu seorang ahli syair dari kafir Qurais yang kebetulan lewatdi depan mesjid Nabi. 

Ternyata dugaan Rasulullah benar. Al-Walid terpikat mendengar bacaan beliau. Ia takjub dan terpesona. Hatinya tidak mampu menolak kebenaran isi ayat-ayat yang dibacakan Nabi saw. Walaupun akhirnya Al-walid tetap tidak mau masuk islam karena hasudan dari Abi Jahal.

Akan tetapi jika membaca Alquran di rumah non muslim itu hanya untuk dilagukan saja dan agar dapat berkat, maka hal itu lebih baik ditinggalkan.

Wallahua'lam

Related Posts:

Teras Cikapundung 2019 MASIH LAYAK kah untuk dikunjungi ?

Halo warga Bandung weekend ini mau kemana nih ?
Yakin mau di rumah aja? langit cerah tuh dan anginnya seakan mengajak untuk menikmati sejuknya udara di kota Bandung!

Gaji belum keluar ? itu alasan kamu sehingga weekend ini di rumah aja ?
Please kamu jangan khawatir karena di kota Bandung banyak banget tempat wisata yang tiket masuknya itu GRATIS !!!

Salah satu tempat wisata gratis di kota Bandung adalah Teras Cikapundung. Pasti kamu udah pernah denger atau pernah tau dong tempat wisata yang satu ini ? Atau bahkan Kamu mungkin pernah pergi ke sana.

Nah buat kamu yang belum tahu teras cikapundung dan ada rencana buat berkunjung ke sana kamu wajib baca tulisan ini sampai akhir. Semoga aja tulisan ini bisa membantu kamu buat mantapin hati kenapa harus mengunjungi Teras Cikapundung.

Teras cikapundung terletak di daerah Bandung di dataran tinggi Tepatnya di Jl. Siliwangi, Hegarmanah, Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat.

Untuk melihat kelanjutan reviewnya silahkan klik video di bawah ini 😉



Related Posts:

Tilawah Al-Qur'an #5

TILAWAH ALQURAN 
Part 5


8. Mengambil Ujroh (upah/honor) dari mengajar atau membaca Alquran

Mengambil upah atau honor dari Alquran, baik dengan cara mengajar atau membaca pada dasarnya boleh, sebab hal itu merupakan urusan duniawi. Kaidah usul fiqih mengatakan “Pokok mengenai urusan dunia itu mubah (boleh)”. Bahkan hal ini dikuatkan oleh riwayat Al-Bukhari dalam Kitabuth-Thib dan Al-Ijarah.

Di sana diterangkan tentang seorang sahabat Nabi saw. yang diberi upah, karena ia telah mengobati seorang yang tersengat kalajengking hingga sembuh dengan cara membacakan Alquran yakni, surat Al-Fatihah. Kemudian kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah saw. Seraya sahabat itu bertanya,”Apakah aku boleh mengambil upah dari (membaca/mengajar) Alquran”? Beliau menjawab:

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللهِ 

"Sesungguhnya upah yang paling berhak kamu ambil adalah kitabullah"

Maka dengan mengambil upah/honor tersebut tidak akan mengurangi atau menghapus pahala dari Allah swt. yang akan diberikan-Nya di akhirat kelak.

Adapun hadis-hadis yang menerangkan bahwa orang yang mengambil upah dari Alquran tidak akan mendapatkan pahala di akhirat, sebab ia telah mengambil bagiannya itu di dunia, hadis-hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujah karena terdapat kedaifan. Agar lebih jelas, perhatikanlah keterangan-keterangan di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ ص:مَنْ أَخَذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا فَذَاكَ حَظُّهُ مِنَ اْلقُرْآنِ. رواه أبو نعيم 

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Barangsiapa mengambil ujroh (upah) dari Alquran, maka itulah bagiannya dari (pahala) Alquran’”. HR. Abu Nuaim 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضعنه قَالَ:قاَلَ رَسُولُ اللهِ صلعم: مَنْ أَخَذَ عَلَى الْقُرْآنِ أَجْرًا فَقَدْ تَعَجَّلَ حَسَنَاتِهِ فِى الدُّنْيَا وَالْقُرْآنُ يُخَاصِمُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. رواه أبو نعيم 

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Barangsiapa mengambil ujroh (upah) dari Alquran, maka ia telah mempercepat mendapat kebaikan-kebaikannya di dunia, sedangkan Alquran itu akan memusuhinya pada hari kiamat’”. HR. Abu Nuaim

Hadis pertama diriwayatkan Oleh Abu Nuaim dalam Hilyatu Auliya, V:142 dan tercantum dalam kitab Silsilatul Ahaditsidh Dhaifah wal Maudhu’ah, III:613. Dalam sanad hadis tersebut ada rawi yang bernama Ishaq bin Al’anbari. Al-Azdy berkata,”Tidak halal meriwayatkan hadis darinya. Dia itu pendusta”. (Al-Mughni Fidh Dhu’afa, I:72). Dengan demikian hadis tersebut maudhu (paslu).

Hadis kedua pun diriwayatkan oleh Abu Nuaim masih dalam Hilyatul Auliya, IV:20 dan tercantum dalam kitab Silsilatul Ahaditsidh Dhaifah wal Maudhu’ah, III:614. Dalam sanad hadis tersebut ada rawi yang bernama Abu Ubaid Asy-Syami. Dia rawi yang majhul (tidak dikenal identitasnya). (Silsilatul Ahaditsidh Dhaifah wal Maudhu’ah, III:614)

Tetapi jika seseorang mengajar atau membaca Alquran atau mengerjakan ibadah lain semata-mata hanya mengharapkan keuntungan dunia saja, maka Allah akan memberikan keuntungan itu hanya sebagian saja, sedangkan di akhirat ia tidak akan mendapat kebaikan (pahala) sedikit pun. Hal itu sesuai dengan firman Allah swt:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ, وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (الشورى:20) 

Barangsiapa mengharapkan panen (keuntungan) akhirat, niscaya Kami akan menambah pada keuntungannya itu, (tetapi) barangsiapa mengharapkan keuntungan dunia (saja), niscaya Kami akan memberikan keuntungannya itu sebagiannya, sedangkan di akhirat ia tidak mendapat bagian apa-apa. QS. Asy-Syura: 20



9. Menyentuh Alquran dalam keadaan Hadas
Entah sejak kapan munculnya akidah atau keyakinan bahwa menyentuh Alquran itu tidak boleh kecuali harus dalam keadaan suci (bersih dari hadis kecil dan besar). Keyakinan seperti ini sudah menjamur di kalangan masyarakat hingga sekarang. Mereka berkeyakinan seperti itu tentu memiliki dasar, baik dari Alquran atau hadis, karena ini masalah ibadah. 

Bila keterangan-keterangan itu memang ada dan dapat diterima secara ilmu, tentu semua umat islam wajib menaatinya. Akan tetapi bila keterangan-keterangan itu tidak dapat diterima secara ilmu atau salah dalam memahami maknanya maka kita wajib ditolak.

Ternyata keyakinan mengenai menyentuh Alquran harus dalam keadaan suci berdasarkan hadis-hadis di bawah ini:

1- عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ فِى كِتَابِ رَسُولِ اللهِ ص لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ عَلَى طُهْرٍ. 

Dari Abdullah bin Abu Bakar dari Ayahnya (Abu Bakar) ia berkata,”Dalam surat Rasulullah saw. untuk Amr bin Hazm (kakek Abu Bakar) tercantum padanya, ‘Tidak (boleh) menyentuh Alquran kecuali dalam keadaan suci”.

2- عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ ص لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرًا.

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Tidak (boleh) menyentuh Alquran kecuali dalam keadaan suci’”.

3- عنْ حَسَّانِ بْنِ بِلاَلٍ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزِامٍ, أَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لَهُ: لاَ تَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ عَلَى طُهْرٍ.
Dari Hassan bin Bilal dari Hukaim bin Hizam, (ia berkata),”Bahwa Nabi saw. berkata kepadanya (Hakim),’Tidak (boleh) kamu menyentuh Alquran kecuali kamu dalam keadaan suci’”.

Dari utsman bin Al-Ash, Nabi pernah bersabda kepadaku:

4- قَدْ أَمَّرْتُكَ عَلَى أَصْحَابِكَ وَأَنْتَ أَصْغَرُهُمْ, وَلاَ تَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ.
Sungguh aku telah mengangkatmu sebagai pemimpim (ketua dalam suatu perjalanan) atas sahabat-sahabatnu padahal kamu yang paling muda di antara mereka, dan janganlah kamu menyentuh Alquran kecuali kamu dalam keadan suci”.
5- وَعَنْ ثَوْبَانَ رَفَعَهُ لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ. أخرجه علي بن عبد العزيز
Dari Tsauban, ia memarfu’kannya, (Nabi saw. bersabda),”Tidak (boleh) menyentuh Alquran kecuali orang yang suci”.

Takhrij Hadis
Hadis nomor satu sampai empat diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam Sunannya I:121. Pada hadis pertama diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, I:88 dan Syu’abul Iman, II:380, Imam Malik dalam Al-Muwaththa, I:203, Ad-Darimi dalam Kitabut Talaq, II:161 dan Adu Daud dalam kitab Marasil, hal:121-122. Hadis kedua diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir wal Ausath (CD), Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, I:88 dan tercantum dalam kitab Majma’uz Zawaid tulisan Al-Haitsami, I:282. Hadis ketiga diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir wal Ausath (CD), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadis keempat diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jamul kabir dan tercantum dalam Majma’uz Zawaid, I:282. Sedangkan hadis kelima diriwayatkan oleh Ali bin Abdul Aziz dalam kitab Muntakhabul Musnad (CD)

Semua hadis di atas tidak bisa dijadikan hujah untuk menetapkan hukum karena terdapat kedaifan-kedaifan. Agar lebih jelas, perhatikanlah keterangan-keterangan berikut ini:

Hadis pertama walaupun rawi-rawi tsiqat tetapi hadis tersebut mursal tabi’I, karena Abu Bakar tidak bertemu dengan Amr bin Hazm (kakeknya). Dalam ilmu Mushtalah hadis, hadis yang mursal tabi’I itu dikatagorikan hadis daif.

Hadis kedua dinyatakan oleh Al-Haitsami, bahwa rawi-rawinya tsiqat (rijaluhu muwatstsaqun), padahal terdapat rawi yang bernama Sulaiman bin Musa (sulaiman bin arqam) Al-Asydaq Al-Qurasi Al-Umwi. An-Nasai berkata,”Sulaiman itu laisa bil qawwi (tidak kuat dalam meriwayatkan hadis). Sedangkan Al-Bukhari berkata,”Padanya terdapat hadis-hadis munkar”. (Lihat Hasiyah Ad-Daraquthni, I:121, Tahdzibul Kamal, XII:97, Al-Kamil, III:263 dan Adh-Dhu’afa wal Matrukin, hal 122)

Hadis ketiga daif karena pada sanadnya ada rawi bernama Suwaid Abu Hatim, yang nama lengkapnya Suwaid bin Ibrahim Al-Jahdari Al-Bashri. Dia dinyatakan daif oleh Yahya bin Ma’in. Abu Daud dan An-Nasai berkata,”Ia daif”. Sedang Abu Zur’ah berkata,”laisa bil Qawwi”. (Tahdzibul kamal, XII:243-244 dan Majma’uz Zawaid, I:282)

Hadis keempat daif karena pada sanadnya ada rawi bernama Ismail bin Rafi bin Uwaimir Abu Ubaid. An-Nasai berkata,”Matrukul hadis (hadisnya ditinggalkan)”. Hanbal dan Abu Hatim berkata,”Munkarul hadis”. Dan pada kesempatan lain An-Nasai berkata,”Ismail bin Rafi itu rawi yang daif dan tidak tsiqat”. (Tahdzibul Kamal, III:87-88 dan Al-Kamil, I:280).

Hadis kelima daif karena pada sanadnya ada rawi bernama Hashib bin Jahdar. Dia Matruk, daif karena sering berdusta meriwayatkan hadis dari Abu Shalih. (Aunul Ma’bud, dan Nailul Authar I:247) .

Pertanyaan: Walaupun hadis-hadis di atas daif, bukankah makna hadis-hadis tersebut sesuai dengan firman Allah swt. dalam alquran surat Al-Waqi’ah ayat 79 yang berbunyi?

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ 

Tidak menyentuhnya (Alquran) kecuali mereka yang disucikan

Jawaban: Ayat tersebut sama sekali tidak ada kaitan dengan hadis-hadis di atas, sebab yang dimaksud dengan muthahharun (mereka yang disucikan) menurut pendapat yang kuat adalah para malaikat, sebab Alquran yang dimaksud dalam ayat itu adalah kitabullah yang berada di langit, yakni di lauhum mahfuzh. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Anas, Said bin Jubair dan Ikrimah, yang mereka ini para ahli tafsir di zamannya. 

Adapun maksud ayat ini untuk membantah perkataan orang-orang kafir yang menuduh, bahwa Alquran yang turun kepada Nabi saw. bukan dari Allah swt. melainkan dari syetan. (At-tafsirul Munir, 27:275 dan 280, Ad-durrul Mansur, IIX:26, Ibnu Katsir, IV:296 dan Ath-Thabari, 27:205). Dengan demikian, keliru bila ayat ini dijadikan dalil tidak boleh menyentuh Alquran kecuali dalam keadaan suci, sebab menurut penelitian kami tidak ada satu pun riwayat sahih yang menerangkan, bahwa yang dimaksud muthahharun itu adalah orang yang bersih dari hadas. Wallahu A’lam Bish shawab.

Bersambung...

Related Posts:

Tilawah Al-Qur'an #4

TILAWAH ALQURAN
Part 4

5. Menghapal Alquran

Allah swt. berfirman,


{ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ } 

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kamu benar-benar memeliharanya." (QS. Al Hijr : 9)

Dengan Ayat ini Allah swt. telah menjamin pemeliharaan Alquran ini dengan ungkapan yang tegas. Di antara perangkat untuk memeliharanya adalah menyiapkan orang yang menghafalnya pada setiap generasi.

a. Keutamaan Menghafal Alquran

Banyak hadis Rasulullah yang mendorong untuk menghafal Alquran atau membacanya di luar kepala karena mereka punya kautamaannya sebagaimana hadis-hadis berikut ini :

عن عقبة بن عمرو قال رسول الله : يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا. 

Dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Yang mengimami satu kaum hendaklah mereka yang lebih banyak hafal Quran. Jika kemampuan mereka sama dalam hal itu, hendaklah yang lebih tahu tentang sunah Nabi. Jika masih sama (kemampuannya), hendaklah yang leboh dulu hijrah, dan jika masih sama, hendaklah yang lebih dulu hijrah." Shahih Muslim dan Ahmad

عَنْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ثَعْلَبَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص قَالَ : يَوْمَ أُحُدٍ زَمِّلُوهُمْ فِي ثِيَابِهِمْ قَالَ وَجَعَلَ يَدْفِنُ فِي الْقَبْرِ الرَّهْطَ ويقول : قَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا. 

Dari Abdullah bin Tsa’labah, bahwa Rasulullah bersabda pada hari perang Uhud, “Selimutilah mereka dengan pakaian-pakaian mereka, dan Rasulullah mengubur mereka secara masal di dalam satu kuburan dan bersabda, ‘Dahulukanlah di antara mereka yang lebih banyak hafalan qurannya”’. HR. Ahmad dalam Nailul Authar, IV : 68

b. Cara Menghafal Alquran

Ada sebagian ahli quran (penghafal-penghafal Alquran) berpendapat bahwa cara-cara terbaik menghafal Alquran adalah dengan cara “Haalul Murtahilu”. Cara tersebut disamping mudah juga merupakan amal terbaik yang sangat dicintai Allah swt. pendapat tersebut berdasarkan hadis berikut ini;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ : الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ قَالَ وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ؟ قَالَ : الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ. 

Dari Ibnu Abbas, ia menceritakan bahwasanya seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, amalan apa yang paling utama “ Rasulullah menjawab, “Al-Haalul murtahilu”, ia bertanya lagi, “Apa Al-
Haalul murtahilu itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Pembaca/penghafal Alquran yang memulai dari permulaan hingga akhir dan dari akhir ke permulaan lagi, setiap kali selesai ia memulai lagi”.


Keterangan : Hadis tersebut terdapat dalam Sunan at Tirmidzi, V : 181, Tuhfatul Ahwadzi, VIII : 274 – 275 dan Ad Daraquthni no : 234

Setelah diperiksa hadis ini tidak sah karena pada sanadnya terdapat dua rawi yang lemah yaitu, Al Haitsam bin Rabi’i dan Shaleh bin Basyir Az Zaliud

Tentang Al Haitsam, Abu Hatim berkata, “Ia seorang syekh yang tidak mengerti hadis, dan ia sering melakukan kesalahan”, Shaleh Al Murri berkata, “Sanad hadis di atas tidak kuat”. Tahdzibu Tahdzib, XI : 18, Diwanu Du’afa wal matrukin, II : 424, Tahdzibul Kamal, XXX : 385

Sedangkan tentang Shaleh bin Basyir, Al Bukhari berkata, “Ia munkarul hadis”. An nasai berkata, “Ia matrukul hadis”. Dan Al Falas berkata, “Ia munkaru sekali”. Tahdzibu Tahdzib, IV : 382, Muzanul I’tidal, II : 289, Diwanu Du’afa Wal Matrukin, I : 386, Tahdzibul Kamal, IIIX : 19

Dengan demikian cara menghafal seperti itu boleh saja dilakukan hanya ia bukan cara yang terbaik dan bukan merupakan satu-satunya amalan terbaik yang sangat dicintai Allah swt.

6. Membaca Alquran di atas Kubur

Ada sebagian yang berpendapat bahwa membaca Alquran di atas kubur itu bisa menyelamatkan seseorang dari azab kubur. Pendapat tersebut berdasarkan hadis yang lafaznya sebagai berikut :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لاَ يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لاَ أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Salah seorang sahabat membuat kemah di kuburan, sedang dia tidak menyangkan bahwa (tempat) itu adalah perkuburan, tiba-tiba ia ketahui bahwa tempat itu adalah perkuburan dan dia dapati seorang membaca surat “Tabarakalladzii biyadihil mulku” (Al Mulk) sampai selesai, lalu dia datang kepada Nabi saw. sambil berkata, ‘Ya Rasulullah, saya membuat kemah (di suatu tempat), tapi aku tidak menyangkan bahwa (tempat itu) adalah kuburan, tiba-tiba (aku dapati) seseorang membaca surat Al Mulk sampai selesai, lalu Nabi saw. bersabda, “Bacaan itu dapat menyelamatkan dia dari azab kubur”.

Penjelasan : Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam sunannya juz V hadis no : 2891 atau didapat dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, VIII : 300

Hadis ini tidak sah karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Yahya bin ‘Amr bin Malik An Nukri dia yang dituduh berdusta oleh Hammad bin Zaid. Selain itu dilemahkan oleh Abu Daud juga An Nasai Ahmad bin Hambal dan Uqaily berkata, “Dia itu daif”. Mizanul I’tidal, IV : 399, Tahdzibu Tahdzib, II : 260, Al Jahru Wa’tadil, 9 : 176-177, Lisanul Mizan, 7 : 435

Maka hadis tentang membaca Alquran di atas kubur dapat menyelamatkan seseorang dari azab kubur adalah lemah dan tidak boleh dipakai hujah.

7. Hukum Tajwid

Menurut bahasa tajwid ialah : membaguskan, menjelaskan.

Sedangkan menurut istilah : Membaguskan atau membaikkan bacaan huruf/kalimat-kalimat Alquran satu persatu, dengan terang, teratur perlahan tidak terburu-buru dan sesuai dengan hukum-hukumnya.

Mempelajari ilmu tajwid sangat dianjurkan sekali. Tujuannya adalah untuk menjaga lidah agar terhindar dari kesalahan membaca Alquran ( اللحن = al Lahnu). Yaitu terhindar baik dari “Lahnul Jali” yaitu kesalahan yang terjadi arti atau tidak seperti ain dibaca hamzah, atau terhindar dari “Lahnul khofi” yaitu kesalahan ketika membaca Alquran namun tidak merubah arti, seperti tidak gunnah atau kurang panjang membaca mad.

Adapun hukum tajwid adalah tidak wajib tidak haram. Tetapi Alquran itu bahasa arab dan di dalam salat diwajibkan kita membaca Alquran.

Maupun dengan perantara mempelajari ilmu tajwid ataupun tidak, sudah tentu kita wajib membunyikan bacaan-bacaan di dalam salat itu dengan beres.

Adapun tajwid yang lebih dari batas itu, pada pandangan kami, tidak dapat dihukum wajib, tetapi tidak luput dan dari sunat. Soal Jawab A. Hasan

Bersambung....
Next

Related Posts:

Resep Praktis Ayam & Keju Richees Factory ala rumahan | mudah & murah di jamin ketagihan

Siapa sih yang nggak tahu Enaknya ayam barbeque dan keju di Richeese Factory ?


Hampir semua orang pernah merasakan nikmatnya ayam barbeque dan saus keju di Richeese Factory. Selain karena cita rasa yang enak sajian di Richeese Factory juga unik. Salah satu hal yang membuatnya unik adalah dengan adanya saus keju ala Richeese Nabati yang sering kita temui dalam makanan ringan buatan Richeese Nabati.

Meski harganya tergolong mahal Bagi kalangan menengah kebawah namun masih saja banyak penikmat ayam keju Richeese ini.

Untuk kalangan anak muda atau pasangan baru mungkin saja masih cukup budget untuk membeli ayam keju Richeese ini. Akan tetapi berbeda cerita dengan kaum menengah ke bawah dan keluarga yang pas-pasan serta memiliki banyak anggota keluarga pasti akan kebobolan saat belanja ayam keju di Richeese Factory.

Seperti halnya saya yang selalu berpikir berulang kali saat akan membeli ayam keju Richeese. Untuk itu saya mencoba Googling dan mencari referensi Bagaimana caranya membuat ayam keju Richeese yang enak yang harganya sangat terjangkau. Dan akhirnya saya mendapatkan cara dan resep untuk membuat ayam keju Richeese yang mudah praktis murah dan enak.

Langsung saja kita simak resep dan cara membuat di bawah ini :

Di sini kita akan mengerjakan tiga tahapan. Tahapan yang pertama ialah membuat ayam Kentucky, yang kedua membuat saus keju dan yang ketiga membuat saus barbeque.

BAHAN - BAHAN
1. Bahan Ayam Kentucky :
- 5 potong ayam potong segar
- 1 bks tepung bumbu kentucky

2. Bahan Saus Keju :
- 200 ml susu cair fullcream
- 120 gr keju quickmelt
- 25 gr keju cheddar
- 5 sdm bubuk keju
- 1,5 sdm tepung maizena
- 2 sdm air mineral
- 1 btr kuning telur

3. Bahan saus Barbeque :
- 5 sdm / menyesuaikan dengan banyaknya potongnn ayam Saus Barbeque Instant
- 3 siung bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 5 lmbr daun jeruk
- 4 bh cabai
- 5 sdm sambal uleg
- 5 sdm air mineral
- garam secukupnya
- micin secukupnya

CARA MEMBUAT :
1. AYAM KENTUCKY
- cuci ayam potong hingga bersih
- siapkan tepung bumbu Kentucky ke dalam wadah
- masukkan ayam potong ke dalam tepung bumbu kemudian aduk rata
- Diamkan selama 1 jam
- setelah didiamkan selama 1 jam kemudian Panaskan minyak goreng dalam wajan
- masukkan ayam yang sudah dilumuri tepung bumbu dan diamkan sampai kecoklatan

2. SAUS KEJU
- siapkan 1 butir kuning telur ke dalam mangkok kecil
- Masukkan 1,5 sdm tepung maizena dan 2 sdm air mineral ke dalam mangkok kuning telur, aduk hingga tercampur
- siapkan panci kecil kemudian nyalakan api kecil
- tuangkan 200 mili susu cair full cream ke dalam panci
- sesaat sebelum susu dalam panci mendidih tuangkan keju cheddar parut dan 120 gram keju Quick Melt kemudian aduk rata
- setelah seluruh keju larut masukan 5 sdm bubuk keju kemudian aduk hingga warna yang tercampur rata
- setelah semuanya mendidih kemudian tuangkan adonan kuning telur yang sudah dicampur dengan tepung maizena tadi ke dalam panci
- aduk seluruhnya hingga mendidih dengan ciri meletup-letup
- Setelah mendidih tiriskan saus keju

3. Saus Barbeque
- Panaskan teflon berisi minyak goreng
- Masukkan bawang merah dan bawang putih yang telah diiris kemudian tumis hingga harum
- Tambahkan cabai yang sudah diiris dan sambal ulek, aduk rata
- masukkan saus barbeque perlahan-lahan sambil diaduk hingga harum
- tambahkan 5 lembar daun jeruk, tumis
- tuangkan 5sdm air mineral, garam, micin secukupnya.
- aduk rata, tunggu sampai mendidih.
- setelah mendidih, kecilkan api dan masukkan ayam kentucky ke dalam tumisan saus barbeque
- SELURUH HIDANGAN SIAP DI SAJIAKAN

Nah sangat praktis, mudah dan murah kan cara membuat ayam keju Richeese di rumah ? Kalau kalian masih bingung dengan cara-cara diatas kalian bisa tonton video di bawah ini agar lebih jelas.



Semoga kalian bisa mencobanya di rumah dan semoga bermanfaat.


Related Posts:

Resep Kuah Suki 'Home Made' Anti Mahal


BAHAN TUMISAN
1. 2 siung bawang merah, iris & cincang halus
2. bawang putih, iris & cincang halus
3. Cabai rawit, iris
4 Cabai pedas, iris
5. Serai, geprek
6. Jeruk lemon, peras
7. Daun jeruk, cincang kasar 8. Saus tomat


SAATNYA MENUMIS
1. Panaskan minyak goreng dalam teflon, secukupnya
2. Masukan bawang merah dan bawah putih, kemudian tumis
3. Masukan cabai rawit, tumis
4. Masukan saus sambal & saus tomat, aduk rata
5. Masukan daun jeruk & serai, aduk Masukan perasan jeruk lemon
6. Tambahkan garam, micin, gula secukupnya .
7. Aduk rata hingga setengah mendidih kemudian tiriskan


REBUS SEMUA BAHAN
1. Siapkan bahan rebusan (suki & saus yg tadi di tumis)
2. Panaskan 300 ml air mineral kedalam panci hingga mendidih
3. Masukan bumbu yg tadi di tumis, perasan lemon, cabai pedas kemudian aduk rata hingga kembali mendidik Masukan semua bahan suki
5. Aduk hingga semua bahan mengapung, kemudian matikan api dan masukan jamur
6. Suki homemade siap dihidangkan



Related Posts: