Dua Telinga Satu Mulut

Dua Telinga Satu Mulut

Hasil gambar untuk berbicara 

Ucapan adalah terjemahan yang mengabarkan isi hati, selain sebagai alat untuk berkomunikasi, mulut juga merupakan salah satu dari dua anggota badan yang paling banyak menjadi penyebab masuknya orang ke neraka. Rasulullah saw. ditanya, “Apa yang paling sering menjerumuskan orang ke neraka” ? Beliau menjawab, “Dua lubang : mulut dan farji”. H.R. Ibnu Majah

Oleh sebab itu merupakan kewajiban atas setiap muslim untuk menjaga lisan dari kekeliruan baik dengan cara menahan diri untuk tidak bicara atau tidak terlalu banyak bicara. Sering kita dapatkan orang pintar tidak disukai oleh yang lain dengan sebab terlalu banyak bicara atau suka berlebihan dalam berbicara, bahkan orang yang minim dari segi keilmuan (bodoh) dipandang bijak karena jarang berbicara. Ahli hikmah berkata, “Biasakanlah diam maka engkau akan disebut orang bijak, baik jahil keadaanmu atau berilmu”.
Adab Berbicara

Ada beberapa syarat yang berkaitan dengan berbicara, dan si pembicara tidak akan luput dari kekeliruan kecuali setelah memenuhi syarat-syarat tersebut, yaitu :

1. Hendaklah berbicara itu tidak asal bunyi atau asal mau, tapi hendaklah berdasarkan salah satu dari dua sebab, apakah untuk mendatangkan manfaat atau untuk menolak mafsadat.

Berbicara tanpa sebab adalah mengigau, dan akan sangat tidak bernilai perkataan yang asal ucap tanpa pertimbangan yang matang.

Seorang pemuda pendiam berguru kepada Imam al Ahnaf, sehingga Imam al Ahnaf merasa takjub dengan sikap pendiamnya itu, suatu ketika Imam al Ahnaf berkata kepadanya, “Bicaralah wahai anak saudaraku”!, maka pemuda itu berkata, “Wahai pamanku, apa pandanganmu jika seseorang jatuh dari menara mesjid, apakah akan membahayakannya” ? Imam al Ahnaf menjawab, “Hai anak saudaraku, alangkah baiknya bila aku membiarkanmu tidak bicara”.

Imam Abu Yusuf mempunyai seorang murid pendiam, suatu waktu beliau berkata kepadanya, “Apakah engkau mau bertanya” ? Pemuda itu berkata, “Tentu, kapankah orang yang saum berbuka” ? Imam Abu Yusuf menjawab, “Apabila matahari terbenam”, pemuda itu bertanya lagi, “Bagaimana kalau matahari tidak terbenam sampai tengah malam” ? Maka Imam Abu Yusuf tersenyum dan berkata, “…Pada diam itu dapat menyembunyikan kebodohan…”

Kalaulah kedua pemuda di atas mempertimbangkan dengan matang apa yang hendak ditanyakan tentulah keduanya akan terhindar dari aib yang sangat jelek, oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda, Lisan orang yang berakal berada di balik hatinya (akalnya) bila hendak berbicara dia kembali kepada hatinya, bila menguntungkan dia bicara dan bila merugikan dia diam, sedang hati (akal) orang jahil (dungu) berada di balik lisannya, dia akan bicara setiap kali mau. Adab ad Dunya Wa ad Dien : 204

Ahli hikmah berkata, “Bila engkau duduk bersama orang dungu, diam dan dengarkanlah mereka dan bila engkau duduk bersama orang berilmu diam dan dengarkanlah mereka, karena diam dan mendengarkan orang yang dungu dapat menambah kedewasaan sedang diam dan mendengarkan orang alim akan menambah ilmu”.

2. Hendaklah berbicara pada tempat dan waktunya, tidak mendahulukan yang semestinya diakhirkan, dan tidak mengakhirkan yang seharusnya didahulukan, dan akan sangat tidak bermanfaat berbicara bukan pada tempat dan waktu yang tepat.

3. Hendaklah perkataan itu dibatasi sesuai dengan keperluan, karena omongan yang tidak dibatasi akan melantur sehingga arah dan tujuan dari omongan tersebut bisa kabur.

Ibnu Mas’ud berkata, “Aku peringatkan kalian berlebihan dalam berbicara”. Ulama ahli balaghah berkata, “Perkataan seseorang merupakan lukisan bagi keutamaannya dan terjemahan bagi akalnya, ringkaskanlah kata-kata dan gunakanlah kata-kata yang elok…”

Dihikayatkan bahwa sebagian ahli hikmah melihat seseorang yang banyak bicara dan sedikit diam, maka ia berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala hanya menciptakan bagimu dua telingan dan satu mulut supaya kamu lebih banyak mendengar dari pada berkata-kata”.

Abu Utsman al Jahid berkata, “Omongan itu ada akhirnya dan daya simak pendengar itu ada batasnya. Maka omongan yang melampaui batas keperluan walaupun benar akan dapat menyebabkan bosan dan lelahnya si pendengar”.

Berbicara ringkas itu sulit tidak bisa tumbuh begitu saja, untuk itu perlu kepada kepahaman dan kesempurnaan akal, maka apabila sempurna akalnya tinggi pemahamannya akan ringkaslah kata-katanya. Rasulullah saw. bersabda, “…Dan ringkas khutbahnya itu merupakan gambaran bagi pengetahuannya”. H.R. Muslim I : 381

4. Hendaklah menggunakan kata-kata yang jelas dan santun, karena maksud hati yang baik bila disampaikan dengan kata-kata yang tidak santun akan ditolak, sedangkan kata-kata yang tidak jelas akan memunculkan pemahaman yang keliru.

5. Gunakanlah bahasa yang sebanding dengan kemampuan akal pendengar. Rasulullah saw. bersabda, “Khutbahlah (bicaralah) kepada manusia sesuai dengan kadar (daya tangkap) akal mereka”. H.R. Muslim

Wallahu a'lam

Related Posts:

Ghibah

GHIBAH

Hasil gambar untuk ghibah

Definisi Ghibah
Ghibah yang dalam bahasa Indonesia disebut menggunjing atau mengumpat adalah:,”Menyebut keaiban seseorang yang orang itu tidak menyukainya dengan maksud menghinakan atau merendahkan”. Sedang bila keaiban yang disebutkan itu tidak terbukti, maka yang demikian dinamakan buhtan atau fitnah.

Menyebut keaiban itu mencakup seluruh jenis keaiban baik yang berhubungan dengan badan, agama, akhlak, harta, pekerjaan, keluarga dan lain sebaginya baik dengan ucapan ataupun dengan bahasa isyarat.

Mu’awiyyah ibnu Qurrah berkata kepada Syu’bah,’Bila seorang yang putus tanganya lewat kepadamu, lalu kamu berkata,’Orang ini buntung, maka yang demikian itu termasuk Ghibah. Al Qurthubi VIII: 219

Hissan bin Al Muqhoriq berkata,’ Sungguh seorang wanita masuk menemui ‘Aisyah, ketika wanita itu hendak pergi ‘Aisyah berisyarat dengan tangannya kepada Nabi saw. (yaitu: dia itu pendek), maka beliau bersabda,’Engkau telah Ghibah kepadanya. Ibnu Jarir At Thabari XI: 395.

Rasulullah saw bersabda: Tahukah kamu apa Ghibah itu? Mereka (Sahabat) berkata,’Allah dan Rasul Nya lebih mengetahui. Ia bersabda,’ Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu (keaiban) yang ia tidak suka, ada orang bertanya,’Bagaimana bila pada saudaraku terbukti apa yang aku sebutkan? Beliau menjawab,’Jika ada padanya apa yang engakau sebutkan, maka sungguh eangkau telah Ghibah kepadanya dan jika tidak ada (apa yang engkau katakan) padanya, sungguh engkau Buthan kepadanya (memfitnahnya)”. H.R. Muslim II: 526.

Hukum Ghibah
Allah swt berfi rman:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ

….Dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lain, sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya… Q.S. Al Hujurat: 12.

Pada ayat di atas Ghibah ditasbihkan (dimitsalkan) kepada “Memakan daging manusia yang sudah mati”, adapun wajhusysyibah (titik persamaan) dari pentasybihan di atas adalah : Sebagaimana diharamkannya memakan daging bangkai manusia, demikian pula pada Ghibah.

Keterangan di atas menjadi dalil, bahwa Ghibah itu hukumnya haram dan termasuk dosa besar sebagaimana memakan bangkai manusia.

Kata “Saudaramu” pada hadis riwayat Imam Muslim di atas maksudnya adalah saudara seagama, berdasarkan mafhum mukhalafah dari kata “Saudaramu” ini dapat ditetapkan bahwa Ghibah itu haram kalau kepada seorang muslim, sedang terhadap orang kafir tidak haram. Dan dari kata “Yang di tidak suka” menunjukan bahwa Ghibah itu tidak haram jika orang yang diGhibahi tidak membencinya seperti julukan “Si mulut besar” bagi seorang petinju dan orang yang bersangkutan justru senang dengan julukan itu.

Pengecualian

Sebagaimana yang telah kita maklumi, bahwa Ghibah itu pada dasarnya haram tapi ada beberapa hal yang bertalian dengan penyebutan keaiban orang yang tidak diharamkan, yaitu:

1. Pengaduan atas ketidak adilah, tidak diharamkan orang yang dianiaya (dizalim) menerangkan perbuatan si zalim kepada orang yang sekiranya dapat menghentikan ketidak adilan yang menimpa dirinya. Seperti pengaduan Hindun kepada Rasulullah saw. tentang ketidak adilan suaminya Abu Sufyan yang tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami (tidak menafkahi istri dan anaknya), sebagaimana diterangkan oleh ‘Aisyah, Hindun berkata,’Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seoarang yang sangat tamak (Arab) berdosakah bila aku secara diam-diam mengambil sebagian hartanya untuk memenuhi kebuuhanku dan anakku? Rasulullah saw. bersabda,’Ambilah dengan cara yang ma’ruf. HR. Al Bukhari:5370.

2. Memperkenalkan seseorang dengan menyebut keaiban yang merupakan ciri khas orang tersebut hingga orang bisa dengan segera mengenalnaya, seperti: Al A’masy (yang rabun), Al A’war (yang buta sebelah), Al A’raj (yang pincang), dan lain sebainya.

Dari Ibnu Umar, sesunguhnya Nabi saw. bersabda,’Sesungguhnya Bilal azan pada waktu malam, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum azan. Kemudian ia (Ibnu Umar) berkata,’Dan ia (Ibnu Ummi Maktum) itu seorang yang buta yang tidak azan hingga diberitahukan kepadanya: Engkau sudak masuk pada pada waktu shubuh, engkau sudak masuk pada waktu shubuh”. H.R. Al Bukhari:617.

3. Minta fatwa, seperti seorang istri berkata kepada seorang mufti (pemberi fatwa) : Suamiku itu seorang penjudi, apa yang semestinya aku perbuat?

4. Memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap seorang penjahat, penipu, ahli bidah, tukang fitnah, yang berakhlak buruk dan lain sebagainya. Seperti menjarah (menerangkan cacat) seorang rawi, bahkan ulama-ulama ahli hadits memandang wajib menerangkan keiban / cacat seorang rawi dalam rangka menjaga kemurnian syari’at Islam.

Sebagian orang sufi berkata kepada Abdillah ibnu Al Mubarak : Bukankah engkau telah melakukan Ghibah? Ibnul Mubarak berkata,’Diam kamu, jika kami tidak menerangkan (cacat seorang rawi) bagaimana mungkin bisa diketahui yang hak dari yang batil.

Abu Turab An Nakhsabiy Az Zahid berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal.’ Hai Syaikh! Janganlah engkau Ghibah kepada ulama!, maka Imam Ahmad berkata,’Celaka kamu, ini nasihat bukan Ghibah.

Apabila ulama ahli hadits tidak menjelaskan rawi-rawi yang cacat / tercela tentulah tidak akan dapat dipisahkan mana amalan yang sunnah dan mana amalan yang bidah.

Fatimah binti Qais datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat, ia berkata,’Sesungguhnya Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahmin mengkhitbah diriku, maka Rasulullah saw. bersabda,’Adapun Abu Jahmin dia pemarah dan lekas memukul, dan sedangkan Muawiyah dia itu seorang yang fakir, nikahlah engkau kepada Usamah bin Zaid… HR. Muslim

Menyebutkan aib seseorang dengan tujuan untuk kesenangan prinadi, menghinakan atau merendahkan, maka itulah Ghibah. Sedang bila bertujuan untuk kemaslahatan maka yang demikian dinamakan nasihat.

Wallahu'alam

Related Posts:

Adab Berdo'a

ADAB BERDOA

Hasil gambar untuk berdo'a

Doa adalah ibadah yang paling utama di sisi Allah, karena doa merupakan bukti betapa lemah dan faqirnya manusia serta betapa gagah dan kayanya Allah swt. Allah membenci orang yang tidak pernah berdoa karena hal tersebut merupakan bentuk ketakaburan.

Allah menjanjikan akan mengabulkan permohon­an orang yang meminta kepadaNya, tentunya bila memenuhi adab dan syarat-syarat berdoa yang telah ditetapkan oleh syaari (Allah dan rasulNya) yaitu:

1. Memelihara diri dari perkara-perkara yang diharamkan, Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya Allah itu bersih, tidak akan menerima kecuali yang bersih. H.R. Muslim

Sahabat Sa’ad bin Abu Waqqas pernah meminta kepada Rasul, “Wa­hai rasulallah doakanlah diriku supaya menjadi orang yang doanya ­diijabah!, maka Rasulullah saw. bersabda: Wahai Sa’ad bersihkanlah perutmu dari yang haram niscaya kamu ­menjadi orang yang doanya diijabah. Ibnu Katsir, I:254

Dua keterangan di atas menjadi dalil bahwa makanan yang ­halal merupakan salah satu syarat diterimanya doa dan ibadah, sedang makanan yang haram akan menjadi penghalang diijabahnya doa dan ibadah:

2. Merendahkan suara (tidak berteriak) karena Allah itu Maha de­kat

Seorang arab gunung bertanya kepada Nabi saw. “Wahai Rasulullah apakah Allah itu dekat hingga kami berbisik kepadaNya atau Allah itu jauh hingga kami mesti berteriak ( bila berdoa) kepadaNya?” Rasu­lullah saw. diam, lalu turunlah ayat:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ 

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu… Ibnu Katsir I:271

Abu Musa Al Asy’ari berkata, “Kami pernah berperang bersama rasulullah saw. dan setiap kami menaiki bukit atau menuruni lembah kami selalu berteriak mengucapkan takbir, lalu Rasulullah saw. menghampiri kami dan bersabda: Hai manusia, sayangilah diri-diri kalian, karena sesung­guhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli dan jauh, tidaklah kalian berdoa melainkan kepada yang maha mendengar dan maha melihat­ sesungguhnya yang kamu seru (Allah) lebih dekat kepada salah seo­rang dari kalian dari leher untanya... Ahmad, Ibnu Katsir, I:254

3. Bersungguh-sungguh dalam berdoa, oleh karenanya hendaklah­ tidak menggunakan lafad (jika Engkau mau) dan tidak melagukan doa karena hal tersebut selain tasyabuh nasrani juga menggambarkan ketidakseriusan dalam berdoa,

Rasulullah saw. bersabda: Bila kamu berdoa maka bersungguh-sungguhlah dalam meminta, dan janganlah sekali-kali kamu berkata: Ya Allah jika Engkau mau maka berilah aku… H.R. Al Bukhari

4. Hiendaklah husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah, ti­dak putus asa dari rahmatNya dan yakin akan ijabah Allah, 

Rasulul­lah saw. bersabda: ...Bila kamu berdoa kepada Allah wahai manusia, maka berdoalah kepadaNya dengan keyakinan terhadap ijabahNya... H.R. Ahmad, II:177

Sufyan bin Uyainah berkata, “Janganlah perasaan berdosa mengha­langi kamu dari berdoa, karena sesungguhnya Allah telah mengijabah permohonan mahluk terjahat yaitu iblis”. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman, “(kalau begitu) maka se­sungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh”. Q.S. Al Hijr:36-37, Al Qurtubi, II:209

5. Janganlah meminta sesuatu yang diharamkan, ­juga jangan ber-isti’jal terhadap ijabahNya, 

Rasulullah saw. bersabda: Tidak henti-hentinya Allah memenuhi permohonan seorang hamba selama dia tidak meminta yang haram atau sesuatu yang dapat memutuskan silaturrahmi atau memburu-buru diijabah. Ditanyakan, “Wahai Ras­ulullah, bagaimana memburu-buru diijabah itu?” Beliau menjawab, “Ia berkata, ‘Sungguh aku telah berdoa, sungguh aku telah berdoa tapi doaku tidak diijabah’.” Akhirnya orang itu malas dan tidak berdoa lagi. H.R. Muslim

6. Walaupun berdoa tidak dibatasi oleh waktu, tapi hendaklah­ memilih waktu-waktu ijabah yang antara lain sepertiga malam ak­hir, 

Rasulullah saw. bersabda: Allah tabaraka wa ta'ala setiap malam turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam akhir, Allah berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu kemudian Aku mengijabahnya, siapa yang meminta kepadaKu kemudian Aku memberinya, siapa yang memohon ampunanKu kemudian Aku akan mengampuninya. Al Bukhari:6321

7. Tidak disyari’atkan mengangkat tangan kecuali pada yang dicontohkan Nabi saw., antara lain ketika istisqa (meminta hu­jan).

Anas berkata, “Seseorang masuk mesjid pada hari jum’at ketika Rasulullah saw. sedang khutbah, lalu orang itu berkata, ‘Ya Rasulallah, harta-harta ruksak dan jalan-jalan terbelah, berdoalah engkau kepa­da Allah supaya Ia turunkan hujan’, lalu Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya...” Demikian diterangkan dalam hadits riwayat imam Al Bu­khari dan imam Muslim.

8. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari ditera­ngkan bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa sambil menghadap kiblat ­dan pernah pula beliau berdoa sambil membelakangi kiblat.

Hadis tersebut menjadi dalil bahwa dalam berdoa tidak diisya­ratkan sambil menghadap kiblat.

Ibrahim bin Adham ditanya, “Kenapa kami ini, kami berdoa tapi­ tidak diijabah?” ia menjawab, “Karena:

1. Kamu mengenal Allah tapi ti­dak mentaatiNya,
2. Kamu mengenal Rasul tapi tidak mengikuti sunahnya,
3. Kamu mengetahui Alquran tapi tidak mengamalkannya,
4. Ka­mu memakan nikmat Allah tapi tidak mensyukurinya,
5. Kamu mengeta­hui surga tapi tidak mencarinya,
6. Kamu mengetahui neraka tapi tidak menjauhinya,
7. Kamu mengenal setan tapi tidak memusuhinya bahkan mentaatinya,
8. Kamu mengetahui kematian tapi kamu tidak mempersiapkan bekalnya,
9. Kamu menguburkan mayat tapi tidak menja­dikannya sebagai pelajaran, dan
10. Kamu tidak memperhatikan aib sendiri bahkan sibuk memperhatikan aib orang lain.
Tafsir Al Qurtubi, II:208

Waallahu'alam

Related Posts:

Adab Bertamu

Adab Bertamu




Saling mengunjungi adalah salah satu pembangkit paling kuat untuk terwujudnya ukhuwwah dan rasa saling menyayangi, hal ini diakui oleh setiap umat, tapi syari'at islam mengatur adab adh-dhiyafah secara lengkap, yang sebagian besar kaum muslimin tidak mengamalkannya atau menyia-nyiakannya, oleh karena itu seorang muslim hendaklah menjaga adab adh-dhiyafah di bawah ini: 

Adab Mengundang

1. Hendaklah tamu yang diundang itu orang yang taqwa bukan orang durhaka, dengan harapan pada diri orang taqwa itu ada jasa kita, karena daging, darah dan tenaga yang dihasilkan dari makanan yang kita hidangkan akan menjadi shadaqah jariyah. Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang taqwa." Abu Daud:4822

2. Janganlah mengundang yang kaya dengan meninggalkan yang miskin, karena yang miskin lebih membutuhkan makanan sedang yang kaya sudah biasa kekenyangan. Nabi saw. bersabda: "Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang diundang kepadanya orang kaya sedang orang faqir ditinggalkan." Al Bukhari:5177

3. Hendaklah -dengan mengundang- bertujuan melaksanakan sunnah nabi saw. dan para sahabatnya, bukan karena tafakur (kesombongan atau pamer kekayaan).

4. Janganlah mengundang orang yang berpenyakit (menular). Nabi saw bersabda: "Bila kamu mendengar terjadi tha'un (penyakit menular) di satu daerah, janganlah kamu masuk ke daerah itu, dan bila terjadi tha'un di satu daerah sedang kamu berada di daerah itu, maka janganlah engkau keluar daripadanya." Jami’ul Ushul:5725

5. Setelah tamu datang segerakanlah untuk menghadirkan makanan, karena hal demikian salah satu bentuk penghormatan.

6. Hendaklah mengantar -ketika pulang- hingga ke luar rumah dan janganlah menutup pintu sebelum tamu pergi.

Adab Memenuhi Undangan

1. Wajib mendatangi undangan walimah nikah, sedang selain itu hukumnya sunnat. Nabi saw bersabda: "...dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan walimah nikah, maka sungguh dia telah maksiat kepada Allah dan rasulNya." Al Bukhari:5177

2. Hendaklah tidak membedakan antara undangan orang kaya dan miskin, karena hal demikian dapat menyakitkan hati si miskin.

3. Bila ada dua undangan atau lebih, maka dahulukanlah yang terdekat.

4. Janganlah saum dijadikan alasan untuk tidak menghadiri undangan, bila saum sunat boleh ia berbuka dan makan tapi bila terus saum hendaklah ia mendoakan agar pribumi mendapat rahmat dan maghfirah, serta hendaklah ia berkata, “Saya sedang saum”, adapun saum wajib haram dibatalkan dengan alasan di atas. Rasulullah saw. bersabda: "Bila kamu diundang hendaklah mendatanginya, bila sedang saum hendaklah mendoakannya, dan jika membatalkan saumnya hendaklah makan." Muslim, I:660

5. Janganlah mendatangi undangan yang padanya dihidangkan makanan atau minuman yang haram kecuali bila hendak melakukan amar ma'ruf nahyi munkar dengan tangan atau lisan. Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia duduk di tempat yang disediakan padanya khomer." Ath Thirmizi, Ad Darimi

6. Hendaklah -dengan memenuhi undangan- diniatkan untuk melaksanakan sunnah bukan untuk makan semata-mata.

7. Dudukiah -dengan tawadhu- di tempat yang sudah disediakan/ditetapkan oleh pribumi.

Adab Menghadiri Undangan

1. Datanglah sesuai waktu yang telah ditetapkan, tidak lebih awal hingga mengagetkan pribumi dan tidak pula membuat mereka menunggu terlalu lama hingga membuat mereka gelisah.

2. Jangan membawa pulang makanan yang disuguhkan tanpa ada izin dari shahibul bait, karena tamu hanya mempunyai hak makan dan tidak mempunyai hak membawa terhadap makanan yang dihidangkan tersebut.

3. Hendaklah tidak meminta disegerakan disuguhi makanan.

4. Hendaklah memperlihatkan wajah manis/berseri-seri bila terjadi sesuatu yang kurang memuaskan.

5. Pulanglah dengan izin dan sepengetahuan dari pribumi, kecuali bila keadaan tidak memungkinkan.

Wallahu'alam

Related Posts:

Adab Makan dan Minum

ADAB MAKAN DAN MINUM


Bagi seorang muslim makan dan minum bukan sebagai ghayah melainkan hanya sekedar wasilah, ia makan dan minum untuk menjaga kesehatan badan yang dengannya memungkinkan beribadah kepada Allah dengan tuma'ninah, tidaklah seorang muslim makan dan minum karena mengikuti hawa nafsu oleh karenanya tidaklah ia makan kecuali bila lapar dan tidaklah ia minum kecuali bila dahaga.

Adab sebelum makan

1. Hendaklah ia menyediakan makanan dan minuman yang halal dan layak makan, karena memakan makanan yang haram akan menghalangi diijabahnya doa dan daging yang tumbuh dari makanan yang haram api neraka bagiannya.

Hai orang-orang yang beriman makanlah makanan yang thayyib dari apa yang telah Kami rizqikan kepada kalian... (2:172)

Rasulullah saw bersabda, "... Seseorang lama bersafar rambutnya kusut dan badannya dekil, ia mengangkat kedua tangannya ke langit: ya Rabbi, ya Rabbi! sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia sarapan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doa orang itu diijabah ?! ( Muslim 1: 448 ).

Sa'ad bin Abi Waqqas berkata: wahai Rasulallah! berdoalah engkau kepada Allah supaya Ia menjadikanku mustajabadda'wah ( bila berdoa diijabah ), maka Rasulullah saw bersabda: hai Sa'ad bersihkanlah makananmu dari perkara yang haram niscaya engkau mustajabadda'wah ... ( lbnu Katsir 1: 254 )

Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk syurga orang yang dagingnya tumbuh dari yang haram '" Ahmad 3: 321

2. Hendaklah ia "berniat - dengan makan dan minumnya itu - supaya kuat dalam beribadah kepada Allah, karena dengan niat yang baik perkara yang mubah akan menjadi tha'ah dan berpahala.

3. Apabila kotor atau tidak yakin. akan bersihnya, hendaklah ia rnencuci kedua tangannya.

4. Hendaklah tidak mencela makanan, karena makanan yang diizinkan syara ( halal ) tidak ada yang tercela, barang kali satu jenis makanan tidak disukai oleh seseorang tapi digemari oleh lain.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Tidak pernah sekalipun Rasulullah saw mencela makanan, bila suka ia memakannya, bila tidak ia meninggalkannya '" ( Al Bukhari no: 5409 )

5. Tidak bersandar tetapi duduk dengan tawadhu ( berlutut atau bersila )

Abdullah bin basyr berkata, "Aku menghidangkan kambing kepada Rasulullah saw, dan beliau memakannya sambil duduk berlutut, maka seorang arab gunung berkata: duduk macam apa ini ?!, Rasulullah menjawab: sesungguhnya Allah telah menjadikanku seorang hamba yang mulia bukan hamba yang sombong lagi keras kepala. '" ( lbnu Majah no: 3263 )

6. Hendaklah makan dengan menggunakan tangan kanan, karena makan dengan menggunakan tangan kiri adalah cara makan yang disukai syetan. Ambillah makanan yang dekat dengan kita dan sebutlah nama Allah.

Sahabat Amr- bin Salamah berkata: Ketika usiaku belum baligh (ghulam) dan berada di bawah bimbingan Rasul, (ketika makan) tanganku mengambil makanan yang ada di piring dengan acak maka Rasulullah saw bersabda kepadaku: "Hai ghulam '. sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat denganmu. " Al Bukhari no: 5376

'lkrasy bin Dzuaib berkata: Rasulullah saw membawaku ke rumah Ummu Salamah dan ia menghidangkan sepiring besar kuah daging dan roti, lalu aku mengambil makanan yang ada di sisi-sisi piring sedangkan Rasulullah mengambil yang ada dihadapannya maka is bersabda: hai 'lkrasy makanlah dari satu tempat karena ini makanan yang sama. Kemudian dihidangkan bermacam-macam kurma dan Rasulullah bersabda: makanlah dari manapun yang engkau kehendaki karena makanan ini bermacam-macam... An Nasa-i no: 1848

Sedangkan sighat tasmiyyah dijelaskan dalam hadits riwayat An Nasai dari 'Aisyah secara marfu':

"Apabila kamu makan ucapkanlah 'BISMILLAH', jika lupa ucapkanlah 'BISMILLAHI FI AWWALIHI WA AKHIRIHI'" An Nasai : 1858

7. Hendaklah mengunyah makanan hingga lembut untuk meringankan tugas lambung.

8. Apabila ada makanan yang jatuh hendaklah ia membersihkan lalu memakannya dan setelah makan hendaklah ia menjilati jari tangannya, adapun dalam penggunaan jari tangan (tiga, empat atau lebih ) disesuaikan dengan keperluan.

Rasulullah saw bersabda: "Apabila makanan kamu jatub ambillah bersihkanlah dan makanlah, dan janganlah membiarkannya untuk syetan, dan ( setelah makan ) janganlah membersihkan tangan sebelum ia menjilatinya karena ia tidak tahu di makanan mana berkah berada. ( Muslim :.2: 282 )

9. Hendaklah tidak memakan makanan atau meminum minuman selagi panas, janganlah mendinginkannya dengan cara ditiup dan hendaklah menahan napas ketika minum.

Dari lbnu Abbas ia berkata: " Rasulullah saw melarang bernapas ketika minum atau meniup minuman." ( Abu Daud no: 3722 )

10. Bila sambil berJama'ah, hendaklan tidak mendahului mengambil makanan bila ada yang lebih tua, lebih mulya atau lebih 'alim.

11. Hendaklah menundukkan pandangan, karena melihat / memperhatikan yang lain ketika makan bisa mengganggu dan membuat yang lain jadi malu.

12. Hendaklah tidak mengucapkan kata-kata yang kotor (menjijikan) atau melakukan gerakan-gerakan yang dapat menghilangkan selera makan.

13. Jangan makan dan minium menggunakan wadah yang terbuat dari emas atau perak.

Rasulullah saw bersabda: " Orang yang minum ( makan ) pada bijana perak (atau emas), tidaklah kecuali ia memasukan ke dalam perutya api jahanam. ( muttafaa 'alaih )

14. Janganlah makan, minum sambil berdiri apalagi standing party, berdasarkan sabda nabi saw. yang diriwayatkan oleh imam Muslim: " Janganlah kamu minum sambil berdiri " ( Muslim 2 : 279 )

15. Hendaklah makan secukupnya, maksimal sepertiga dari kapasitas lambung karena yang dua pertiga untuk air dan udara.

16, Setelah makan hendaklah memuji Allah, Abu Umamah berkata, "Rasulullah saw apabila selesai makan. ia mengucapkan: " Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, bersih, diberkahi padanya, kami tidak dapat membalas kemurahanMu, tidak pula meninggalkannya dan tidak pula membuangnya wahai Tuhan kami." ( al-Bukhori : 5458 )

17. Hendaklah berkumur dan menggosok gigi, agar senantiasa kebersihan gigi dan keharuman mulut dapat terjaga.

Wallahu'alam

Related Posts:

Salam

Salam


Ucapan Salam adalah Tahiyyah antara muslim dengan muslim yang lainnya yang sudah disyari'atkan sejak zaman Nabi Adam as. sebagaimana diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "... tatkala Allah selesai menciptakan Adam, Ia berfirman, 'Pergilah dan ucapkanlah salam kepada segolongan malaikat yang sedang duduk itu, dengarkanlah apa yang diucapkan mereka kepadamu karena ucapan itu merupakan Tahiyyat untukmu juga keturunanmu', lalu Adam mengucapkan, 'Assalamu 'alaikum', dan malaikat pun menjawab, 'Assalamu 'alaika wa rahmatullah...'". H.R. Al Bukhari, kitab Isti'dzan no. 6227

Lafadz Salam
Lafadz salam paling sedikit adalah ucapan Assalamu 'alaikum, lebih lengkap dari itu ditambah warahmatullah dan lebih lengkap lagi wabarakatuhu, adapun selebih dari itu (tambahan ta'ala, 'alaikunna, wa maghfiratuhu, wa ridwanuhu) tidak ada hadis shahih yang menerangkan hal itu, bahkan Imam Al Baihaqi dalam kitabnya Su'abul Iman meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar lalu mengucapkan, "Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuhu wa maghfiratuhu", maka Ibnu Umar berkata, "Cukup engkau ucapkan sampai wabarakatuhu".

Bila yang diberi salam hanya seorang, maka sedikitnya kita ucapkan assalamu 'alaika sebagaimana hadis Al Bukhari di atas, dan lebih utama bila menggunakan dhomir jamak assalamu 'alaikum supayu selain kepada orang itu juga mencakup dua malaikat yang selalu menyertainya. Imam Ibrahim An Nakho'i berkata, "Bila engkau mengucapkan salam kepada seorang maka ucapkanlah; Assalamu 'alaikum, karena malaikat menyertainya.

Adapun menjawab salam, yang terbaik adalah dengan menggunakan redaksi yang lengkap yaitu : Wa'alaikum salam warahmatullah wa barakatuh atau sebanding dengan yang diucapkan oleh yang memberikan salam, Allah berfirman :


وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا-النساء:86- 
Dan apabila kalian dihormati dengan satu penghormatan (diucapkan salam kepadamu) maka balaslah dengan yang lebih baik atau dengan yang serupa... Q.S. An Nisa : 86

Memulai Salam
Dari Abu Huraiah r.a. ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Hendaklah yang kecil membari salam kepada yang besar, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak'". H.R. Al Bukhari : 6234

Dan dalam hadis riwayat Imam Muslim : ...dan yang berkendaraan kepada yang berjalan... H.R. Muslim : 2160

Hadis di atas mensyari'atkan bahwa yang kecil hendaklah mendahului mengucapkan salam kepada yang tua, hal tersebut dikarenakan yang tua berhak untuk dihormati dan dimulyakan.

Bila terjadi, orang yang muda usia berilmu lebih tinggi bertemu dengan yang lebih tua tapi tidak berilmu tinggi, siapakah yang lebih dulu mengucapkan salam? Imam Ibnu Hajar berkata, "Tidak ada nash yang menerangkan masalah tersebut tapi yang jelas makna hakiki mesti didahulukan dari makna majazi".

Yang berkendaraan diperintahkan mengucapkan salam terlebih dahulu agar senantiasa bersifat tawadhu dan untuk menghindari munculnya sifat takabur dengan kendaraannya.

Sedang yang sedikit diperintah mendahului mengucapkan salam kepada yang lebih banyak karena hak jama'ah (al katsir) lebih banyak, atau bila yang lebih banyak mendahului mengucapkan salam dikhawatirkan muncul sifat takabur atas yang sedikit.

Bula dua orang yang sama-sama muda atau sama-sama berkendaraan bertemu maka yang terbaik ialah yang lebih dahulu mengucapkan salam, Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya orang yang lebih dekat kepada rahmat Allah ta'ala ialah yang memulai mengucapkan salam. H.R. Abu Daud : 5186

Salam Kepada Anak-anak

Anas berkata, "Rasulullah saw. lewat kepada anak-anak yang sedang bermain kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka". H.R. Al Bukhari : 6247, Abu Daud : 5191

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. selain sebagai dalil bahwa perintah pada hadis Al Bukhari : 6234 tidak wajib, juga bertujuan mendidik anak-anak tentang adab, tapi si anak tidak wajib menjawab karena mereka belum sampai kepada usia taklif, sedang bila si anak yang mengucapkan salam maka wajib atas yang sudah baligh untuk menjawabnya.

Menjawab Salam Kafir
Mengucapkan salam pada kafir hukumnya haram, berdasarkan sabda Rasulullah saw. :

...Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan jangan pula kepada Nasrani... Muslim : 2167

Sedangkan bila kafir yang mengucapkan salam, maka ucapan tersebut wajib dijawab, Rasulullah saw. bersabda, "Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam pada kalian maka katakanlah, 'Wa'alaikum'". H.R. Al Bukhari : 6258

Aisyah berkata, "Sekelompok Yahudi mendatangi Rasulullah saw. dan mereka berkata, 'Assamu 'alaika (racun/kebinasaan atasmu) meka aku memahaminya dan aku mengatakan, 'Alaikumussamu walla'natu (semoga atas kalian kebinasaan dan laknat), maka Rasulullah saw. bersabda, 'Hai Aisyah janganlah engkau berkata demikian karena sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan', Maka aku berkata, 'Wahai Rasul, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan mereka?' Ia bersabda, 'Sungguh aku telah katakan 'alaikum'". H.R. Al Bukhari : 6256

Adapun mengucapkan salam kepada muslim di satu majlis yang berbaur dengan kafir pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Lihat Al Bukhari : 6254, At Tirmidzi : 2845

Titip Salam

Dari Abu Salamah bahwasanya Aisyah menyampaikan kepadanya bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepadanya, "Sesungguhnya Jibril membacakan salam untukmu, maka Aisyah berkata, 'Wa'alaihissalam wa rahmatullah (semoga atasnya keselamatan dan rahmat Allah)'. " H.R. Abu Daud : 5221

Seorang sahabat dari bani Tamim datang untuk menyampaikan salam bapaknya kepada Nabi saw., maka Nabi saw. bersabda kepadanya, "wa'alaika wa'ala abikassalam (dan semoga atasmu juga atas bapakmu keselamatan)". H.R. Abu Daud : 5220

Hadis di atas menjadi dalil atas disyari'atkannya menitipkan salam dan utusan wajib menyampaikannya karena titipan itu amanat dan penerima lebih baik menyertakan utusan dalam menjawabnya sebagaimana diterangkan pada hadis kedua.

Hukum Mengucapkan dan Menjawab Salam
Ibnu Abdil Barr berkata, "Ulama sepakat bahwa mengucapkan salam hukumnya sunnat (kifayah) sedangkan menjawab salam hukumnya wajib (kifayah)".

Salam Sebelum Bicara

Rasulullah saw. bersabda, "(hendaklah) mengucapkan salam sebelum berbicara".

Hadis ini diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Adab no. 2842 dengan derajat sangat lemah karena pada sanadnya ada rawi yang bernama "Abasah bin Abdirrahman bin 'Anbasah bin said bin Al 'Ash Al Amawi, imam Al Bukhari berkata, "Dzahibul hadits (banyak kehilangan hadits)". Imam Abu Hatim berkata, "Ia pemalsu hadits". Mizan Al I'tidal III : 301 no. 6512 dan rawi benama Muhammad bin Zadan, ia matruk. Tuhfah Al Ahwadzi VII : 397.

Dengan demikian hadis di atas tidak bisa digunakan sebagai hujjah.

Related Posts: