Adab Bertamu

Adab Bertamu




Saling mengunjungi adalah salah satu pembangkit paling kuat untuk terwujudnya ukhuwwah dan rasa saling menyayangi, hal ini diakui oleh setiap umat, tapi syari'at islam mengatur adab adh-dhiyafah secara lengkap, yang sebagian besar kaum muslimin tidak mengamalkannya atau menyia-nyiakannya, oleh karena itu seorang muslim hendaklah menjaga adab adh-dhiyafah di bawah ini: 

Adab Mengundang

1. Hendaklah tamu yang diundang itu orang yang taqwa bukan orang durhaka, dengan harapan pada diri orang taqwa itu ada jasa kita, karena daging, darah dan tenaga yang dihasilkan dari makanan yang kita hidangkan akan menjadi shadaqah jariyah. Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang taqwa." Abu Daud:4822

2. Janganlah mengundang yang kaya dengan meninggalkan yang miskin, karena yang miskin lebih membutuhkan makanan sedang yang kaya sudah biasa kekenyangan. Nabi saw. bersabda: "Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang diundang kepadanya orang kaya sedang orang faqir ditinggalkan." Al Bukhari:5177

3. Hendaklah -dengan mengundang- bertujuan melaksanakan sunnah nabi saw. dan para sahabatnya, bukan karena tafakur (kesombongan atau pamer kekayaan).

4. Janganlah mengundang orang yang berpenyakit (menular). Nabi saw bersabda: "Bila kamu mendengar terjadi tha'un (penyakit menular) di satu daerah, janganlah kamu masuk ke daerah itu, dan bila terjadi tha'un di satu daerah sedang kamu berada di daerah itu, maka janganlah engkau keluar daripadanya." Jami’ul Ushul:5725

5. Setelah tamu datang segerakanlah untuk menghadirkan makanan, karena hal demikian salah satu bentuk penghormatan.

6. Hendaklah mengantar -ketika pulang- hingga ke luar rumah dan janganlah menutup pintu sebelum tamu pergi.

Adab Memenuhi Undangan

1. Wajib mendatangi undangan walimah nikah, sedang selain itu hukumnya sunnat. Nabi saw bersabda: "...dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan walimah nikah, maka sungguh dia telah maksiat kepada Allah dan rasulNya." Al Bukhari:5177

2. Hendaklah tidak membedakan antara undangan orang kaya dan miskin, karena hal demikian dapat menyakitkan hati si miskin.

3. Bila ada dua undangan atau lebih, maka dahulukanlah yang terdekat.

4. Janganlah saum dijadikan alasan untuk tidak menghadiri undangan, bila saum sunat boleh ia berbuka dan makan tapi bila terus saum hendaklah ia mendoakan agar pribumi mendapat rahmat dan maghfirah, serta hendaklah ia berkata, “Saya sedang saum”, adapun saum wajib haram dibatalkan dengan alasan di atas. Rasulullah saw. bersabda: "Bila kamu diundang hendaklah mendatanginya, bila sedang saum hendaklah mendoakannya, dan jika membatalkan saumnya hendaklah makan." Muslim, I:660

5. Janganlah mendatangi undangan yang padanya dihidangkan makanan atau minuman yang haram kecuali bila hendak melakukan amar ma'ruf nahyi munkar dengan tangan atau lisan. Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia duduk di tempat yang disediakan padanya khomer." Ath Thirmizi, Ad Darimi

6. Hendaklah -dengan memenuhi undangan- diniatkan untuk melaksanakan sunnah bukan untuk makan semata-mata.

7. Dudukiah -dengan tawadhu- di tempat yang sudah disediakan/ditetapkan oleh pribumi.

Adab Menghadiri Undangan

1. Datanglah sesuai waktu yang telah ditetapkan, tidak lebih awal hingga mengagetkan pribumi dan tidak pula membuat mereka menunggu terlalu lama hingga membuat mereka gelisah.

2. Jangan membawa pulang makanan yang disuguhkan tanpa ada izin dari shahibul bait, karena tamu hanya mempunyai hak makan dan tidak mempunyai hak membawa terhadap makanan yang dihidangkan tersebut.

3. Hendaklah tidak meminta disegerakan disuguhi makanan.

4. Hendaklah memperlihatkan wajah manis/berseri-seri bila terjadi sesuatu yang kurang memuaskan.

5. Pulanglah dengan izin dan sepengetahuan dari pribumi, kecuali bila keadaan tidak memungkinkan.

Wallahu'alam

Related Posts:

0 Response to "Adab Bertamu"

Post a Comment