Ghibah

GHIBAH

Hasil gambar untuk ghibah

Definisi Ghibah
Ghibah yang dalam bahasa Indonesia disebut menggunjing atau mengumpat adalah:,”Menyebut keaiban seseorang yang orang itu tidak menyukainya dengan maksud menghinakan atau merendahkan”. Sedang bila keaiban yang disebutkan itu tidak terbukti, maka yang demikian dinamakan buhtan atau fitnah.

Menyebut keaiban itu mencakup seluruh jenis keaiban baik yang berhubungan dengan badan, agama, akhlak, harta, pekerjaan, keluarga dan lain sebaginya baik dengan ucapan ataupun dengan bahasa isyarat.

Mu’awiyyah ibnu Qurrah berkata kepada Syu’bah,’Bila seorang yang putus tanganya lewat kepadamu, lalu kamu berkata,’Orang ini buntung, maka yang demikian itu termasuk Ghibah. Al Qurthubi VIII: 219

Hissan bin Al Muqhoriq berkata,’ Sungguh seorang wanita masuk menemui ‘Aisyah, ketika wanita itu hendak pergi ‘Aisyah berisyarat dengan tangannya kepada Nabi saw. (yaitu: dia itu pendek), maka beliau bersabda,’Engkau telah Ghibah kepadanya. Ibnu Jarir At Thabari XI: 395.

Rasulullah saw bersabda: Tahukah kamu apa Ghibah itu? Mereka (Sahabat) berkata,’Allah dan Rasul Nya lebih mengetahui. Ia bersabda,’ Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu (keaiban) yang ia tidak suka, ada orang bertanya,’Bagaimana bila pada saudaraku terbukti apa yang aku sebutkan? Beliau menjawab,’Jika ada padanya apa yang engakau sebutkan, maka sungguh eangkau telah Ghibah kepadanya dan jika tidak ada (apa yang engkau katakan) padanya, sungguh engkau Buthan kepadanya (memfitnahnya)”. H.R. Muslim II: 526.

Hukum Ghibah
Allah swt berfi rman:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ

….Dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lain, sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya… Q.S. Al Hujurat: 12.

Pada ayat di atas Ghibah ditasbihkan (dimitsalkan) kepada “Memakan daging manusia yang sudah mati”, adapun wajhusysyibah (titik persamaan) dari pentasybihan di atas adalah : Sebagaimana diharamkannya memakan daging bangkai manusia, demikian pula pada Ghibah.

Keterangan di atas menjadi dalil, bahwa Ghibah itu hukumnya haram dan termasuk dosa besar sebagaimana memakan bangkai manusia.

Kata “Saudaramu” pada hadis riwayat Imam Muslim di atas maksudnya adalah saudara seagama, berdasarkan mafhum mukhalafah dari kata “Saudaramu” ini dapat ditetapkan bahwa Ghibah itu haram kalau kepada seorang muslim, sedang terhadap orang kafir tidak haram. Dan dari kata “Yang di tidak suka” menunjukan bahwa Ghibah itu tidak haram jika orang yang diGhibahi tidak membencinya seperti julukan “Si mulut besar” bagi seorang petinju dan orang yang bersangkutan justru senang dengan julukan itu.

Pengecualian

Sebagaimana yang telah kita maklumi, bahwa Ghibah itu pada dasarnya haram tapi ada beberapa hal yang bertalian dengan penyebutan keaiban orang yang tidak diharamkan, yaitu:

1. Pengaduan atas ketidak adilah, tidak diharamkan orang yang dianiaya (dizalim) menerangkan perbuatan si zalim kepada orang yang sekiranya dapat menghentikan ketidak adilan yang menimpa dirinya. Seperti pengaduan Hindun kepada Rasulullah saw. tentang ketidak adilan suaminya Abu Sufyan yang tidak memenuhi kewajibannya sebagai suami (tidak menafkahi istri dan anaknya), sebagaimana diterangkan oleh ‘Aisyah, Hindun berkata,’Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seoarang yang sangat tamak (Arab) berdosakah bila aku secara diam-diam mengambil sebagian hartanya untuk memenuhi kebuuhanku dan anakku? Rasulullah saw. bersabda,’Ambilah dengan cara yang ma’ruf. HR. Al Bukhari:5370.

2. Memperkenalkan seseorang dengan menyebut keaiban yang merupakan ciri khas orang tersebut hingga orang bisa dengan segera mengenalnaya, seperti: Al A’masy (yang rabun), Al A’war (yang buta sebelah), Al A’raj (yang pincang), dan lain sebainya.

Dari Ibnu Umar, sesunguhnya Nabi saw. bersabda,’Sesungguhnya Bilal azan pada waktu malam, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum azan. Kemudian ia (Ibnu Umar) berkata,’Dan ia (Ibnu Ummi Maktum) itu seorang yang buta yang tidak azan hingga diberitahukan kepadanya: Engkau sudak masuk pada pada waktu shubuh, engkau sudak masuk pada waktu shubuh”. H.R. Al Bukhari:617.

3. Minta fatwa, seperti seorang istri berkata kepada seorang mufti (pemberi fatwa) : Suamiku itu seorang penjudi, apa yang semestinya aku perbuat?

4. Memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap seorang penjahat, penipu, ahli bidah, tukang fitnah, yang berakhlak buruk dan lain sebagainya. Seperti menjarah (menerangkan cacat) seorang rawi, bahkan ulama-ulama ahli hadits memandang wajib menerangkan keiban / cacat seorang rawi dalam rangka menjaga kemurnian syari’at Islam.

Sebagian orang sufi berkata kepada Abdillah ibnu Al Mubarak : Bukankah engkau telah melakukan Ghibah? Ibnul Mubarak berkata,’Diam kamu, jika kami tidak menerangkan (cacat seorang rawi) bagaimana mungkin bisa diketahui yang hak dari yang batil.

Abu Turab An Nakhsabiy Az Zahid berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal.’ Hai Syaikh! Janganlah engkau Ghibah kepada ulama!, maka Imam Ahmad berkata,’Celaka kamu, ini nasihat bukan Ghibah.

Apabila ulama ahli hadits tidak menjelaskan rawi-rawi yang cacat / tercela tentulah tidak akan dapat dipisahkan mana amalan yang sunnah dan mana amalan yang bidah.

Fatimah binti Qais datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat, ia berkata,’Sesungguhnya Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahmin mengkhitbah diriku, maka Rasulullah saw. bersabda,’Adapun Abu Jahmin dia pemarah dan lekas memukul, dan sedangkan Muawiyah dia itu seorang yang fakir, nikahlah engkau kepada Usamah bin Zaid… HR. Muslim

Menyebutkan aib seseorang dengan tujuan untuk kesenangan prinadi, menghinakan atau merendahkan, maka itulah Ghibah. Sedang bila bertujuan untuk kemaslahatan maka yang demikian dinamakan nasihat.

Wallahu'alam

Related Posts:

0 Response to "Ghibah"

Post a Comment