Kamus Musthalah Al-Hadits

Abwab
:
Bentuk jamak dari bab. Secara bahasa artinya pintu. Secara istilah berarti a) pokok masalah, b) bagian isi buku, adakalanya dibagi atas pasal-pasal.
Adab al-Muhaddits
:
Sifat yang menunjukkan kredibilitas seorang ahli hadis dalam hal keagamaannya.
‘Adil (‘adalah)
:
Sifat yang menunjukkan kualitas seorang rawi dalam hal keagamaannya, yaitu melaksanakan agama dengar benar, berakhlak mulia, selamat dari kefasikan, dan memiliki rasa malu yang tinggi.
Akhbarana
:
Salah satu bentuk penyampaian hadis yang diterimanya secara qira-ah.
Akhrajahu
:
Istilah pengutipan yang sering dipergunakan oleh Ibn Hajar dalam kitab Bulughul Maram untuk menunjukkan bahwa hadis yang dikutip itu telah dipilih dari berbagai periwayatan melalui perbandingan sanad dan matan.
‘Ala Syarth al-Syaikhain
:  


a)    menurut syarat al-Bukhari dan Muslim
b)   Penilaian terhadap hadis yang pada sanadnya terdapat rawi-rawi yang dipergunakan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya.
‘Ala Syarth al-Bukhari
:   


a)    menurut syarat al-Bukhari
b)   Penilaian terhadap hadis yang pada sanadnya terdapat rawi-rawi yang dipergunakan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.
‘Ala Syarth Muslim
:  


a)    menurut syarat Muslim
b)   Penilaian terhadap hadis yang pada sanadnya terdapat rawi-rawi yang dipergunakan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya.
Al-‘Arba’ah
:

Istilah bagi empat imam hadis, yaitu Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah
Al-Hafizh
:
Gelar bagi orang yang mencapai tingkat al-muhaddits, namun memiliki kelebihan dilihat dari segi hapalan
Al-Hakim
:
Gelar bagi orang yang menguasai ilmu hadis, hingga tidak ada yang terlewatkan kecuali hanya sedikit
Al-Hujjah
:
Gelar bagi orang yang memiliki sifat-sifat al-hafizh, namun memiliki kelebihan dilihat dari segi kecermatan. Sebagian ulama masa kini menetapkan bahwa al-hujjah itu hafal 300.000 hadis serta memahami matan dan sanadnya.
Al-Khamsah
:
Istilah bagi lima imam hadis, yaitu Ahmad,  Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah. Dan terkadang Ibn Hajar menggunakan istilah al-Arba’ah wa Ahmad (imam yang empat dan Ahmad).
Al-Kutub al-Tis’ah
:
Istilah bagi sembilan kitab hadis yang standar, yaitu al-kutub al-sittah plus al-Muwatha Imam Malik dan Sunan al-Darimi
Al-Kutub al-Sittah
:
Istilah bagi sembilan kitab hadis yang standar; Musnad Ahmad, Shahih al-Bukhari, Shahih  Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibn Majah
Al-Majma’ atau  al-Jami’
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis riwayat orang lain dalam bab yang sama dari beberapa kitab sumber hadis. Kitab jenis ini disusun dengan dua cara; Pertama, berdasarkan bab-bab fiqih, seperi Jami' al-Ushul fi Ahadits al-Rasul karya Ibn al-Atsir (W. 606 H/1209 M) dan Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa Af’al karya Ali al-Muttaqi al-Hindi (W. 975 H/1567 M). Kedua, berdasarkan lafal awal matan hadis secara alpabetis, seperti al-Jami' al-Kabir dan al-Jami' al-Shaghir karya al-Suyuthi (W. 911 H/1505 M).
Al-Mazid fi Muttashil         al-Sanad
:
Penyisipan nama rawi pada salah satu di antara beberapa sanad, padahal rawi itu bukan bagian darinya. Penyisipan itu akan diketahui dengan studi perbandingan terhadap sanad lainnya.
Al-Muhaddits
:
Gelar bagi orang yang menguasai ilmu hadis, dan berpengetahuan luas tentang riwayat serta hal-ihwal para rawinya
Al-Musnid
:
Gelar bagi orang yang meriwayatkan hadis dengan sanadnya, tanpa diikur tingkat keilmuan dan hafalannya.
Al-Musytabih
:
Hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang memiliki kesamaan dalam cara penulisan dan pelafalan nama, namun berbeda cara penulisan dan pelafalan nasabnya, seperti seperti penulisan nama  مُحَمَدُ بْنُ عَقِيْلٍ  (huruf ‘ain berbaris fathah dan qaf berbaris kasrah) dan  مُحَمَدُ بْنُ عُقَيْلٍ    (huruf ‘ain berbaris dhammah dan qaf berbaris fathah).
Al-Musytabih al-Maqlub
:
Hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang memiliki kesamaan nama dengan nama bapak rawi lainnya, sedangkan  nama bapaknya sama dengan nama rawi itu, seperti al-Aswad bin Yazid dan Yazid bin al-Aswad.
Al-Mu’talif wa al-Mukhtalif
:
Hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang memiliki kesamaan dalam cara penulisan nama, namun berbeda cara pelafalannya, seperti penulisan nama  سَلاَم  tanpa syaddah, dan سَلاَّم dengan syaddah
Al-Muttafiq wa al-Muftariq
:
Hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang memiliki kesamaan dalam cara penulisan dan pelafalan nama dan nasab, seperti para rawi yang bernama al-Khalil bin Ahmad
Alqab
:
Bentuk jamak dari laqab, yaitu sebutan atau julukan yang diberikan kepada seorang rawi, seperti al-a’masy laqab bagi Abdurrahman bin Hurmuz.
Alqab al-Muhaddits
:
Gelar ilmiah yang diberikan kepada seorang ahli hadis, seperti al-hafizh.
Al-Sab’ah
:
Istilah bagi tujuh imam hadis, yaitu Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah
Al-Sittah
:
Istilah bagi enam imam hadis, yaitu al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai, Ibn Majah
Al-Tsalatsah
:
Istilah bagi tiga imam hadis, yaitu Abu Daud, al-Tirmidzi, dan al-Nasai
Al-Wahm
:
bimbang atau banyak prasangka.
Amir al-Mu’minin fi           al-Hadits
:
Gelar bagi orang yang memiliki kelebihan dari segi hafalan, kecermatan, dan kedalamannya dalam ilmu hadis dan ‘ilal al-hadits (penyakit-penyakit hadis).
‘An’anah
:
Periwayatan hadis dengan menggunakan kata ‘an (dari).
‘Ansab
:
Bentuk jamak dari nasab, yaitu sebutan yang dihubungkan kepada keturunan, tempat kelahiran, tempat menetap, dsb. Untuk mengenal nasab rawi-rawi, para ulama telah menyusun berbagai teori, yang kemudian dikenal dengan ‘ilm al-ansab.
Asahhu Syaiin fi Hadza al-bab
:
Secara bahasa artinya “yang paling sahih pada bab ini”. Secara istilah berarti hadis yang paling ringan kedaifannya di antara hadis-hadis dha’if pada suatu bab tertentu.
Athraf
:
salah satu jenis kitab hadis yang berisi petikan sebagian matan hadis disertai dengan susunan sanadnya, baik secara lengkap maupun hanya dinisbahkan (dihubungkan) pada kitab-kitab tertentu
Atsar
:
perkataan atau perbuatan yang dihubungkan kepada sahabat dan tabi’in
Ausath al-Tabi’in atau al-Tabi’in al-Wasith
:
Orang yang hidup pada masa kekuasaan Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/719-723 M) dan Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/723-742 M).
Aziz
:
Hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi (melalui dua jalur periwayatan)
Bid’ah
:
a)   Peribadahan baru yang tidak dicontohkan oleh Rasululllah saw.
b)   Kepercayaan yang dianut atau pendirian yang dipegang teguh oleh seorang rawi.
Dabth
:
Kapasitas intelektual yang menjadikan seorang rawi memiliki kelayakan untuk menyampaikan dan mengajarkan hadis seperti yang diterimanya. Dabth ada dua macam: a) Dabth sadr, daya hafal yang dapat dipertanggungjawabkan bila seorang rawi meriwayatkan melalui hafalannya, memahami maksud hadis yang diterimanya dan tidak lupa hingga meriwayatkannya kembali. B) Dabth kitab, catatannya terbukti benar bila ia meriwayatkan melalui catatannya
Dha’afahu
:
hadis yang dinilai daif oleh seorang imam
Dha’if
:
a) yang lemah, b)  predikat hadis yang tidak memenuhi syarat sahih
Fadha’il al-A’mal
:
a) Keutamaan-keutamaan dari beberapa amal; b) hadis-hadis yang menerangkan keutamaan suatu amal.
Fahras atau Fihris
:
a)           Keterangan tentang kunci-kunci  perbendaharaan ilmu yang memuat beberapa kitab; b) Daftar isi sebuah kitab
Fasiq
:
Sifat bagi rawi yang mengerjakan dosa-dosa besar, dan terbiasa melakukan dosa-dosa kecil.
Fihi Nazharun
:
Istilah yang dipergunakan oleh kritikus hadis, khususnya Imam al-Bukhari, dalam menilai seseorang yang kredibilitasnya sangat buruk
Fuhsyu Galatir Rawi
:
Banyak salah atau banyak keliru dalam periwayatan.
Gaflah
:
a) Lalai dengan sengaja, b) Sifat bagi rawi yang lalai dengan sengaja
Gharib
:
Predikat hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang sendirian dalam meriwayatkannya, dimana saja terjadinya penyendirian dalam sanad itu. Istilah lainnya fard. Namun ada sebagian ulama yang membedakan di antara keduanya.
Gharib al-Hadits
:
Lafal-lafal yang terdapat dalam matan hadis, yang sukar diketahui dan dipahami maknanya, karena beberapa faktor, antara lain jarang dipergunakan lagi oleh kebanyakan orang Arab sendiri
Haddatsana
:
a) telah menceritakan kepada kami, b) salah satu bentuk penyampaian hadis yang diterimanya secara sima’
Hadis
:
Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., baik berupa ucapan, perbuatan atau taqrir (persetujuan beliau terhadap amal sahabat). Menurut ahli hadis, istilah hadis sinonim dengan sunah, khabar, dan atsar.
Hadis Ma’ruf
:
Hadis yang diriwayatkan oleh rawi dha’if dan bertentangan dengan riwayat rawi lain yang lebih buruk kedaifannya.
Hadis Marfu’
:
hadis yang penyandaran sanadnya sampai kepada Nabi.
Hadis Mauquf
:
Hadis yang penyandaran sanadnya hanya sampai kepada sahabat.
Hadis Maqthu’
:
Hadis yang penyandaran sanadnya hanya sampai kepada tab’in.
Hadis Qudsi
:
Firman Allah yang dibahasakan oleh Nabi saw. atau setiap ucapan yang dihubungkan kepada Allah oleh Nabi saw.
Hasan
:
Predikat bagi hadis yang kurang sedikit dalam memenuhi syarat sahih, karena rawinya khafif al-dhabth (kurang kuat hapalan atau pernah lupa). Istilah lainnya hasan al-hadits
Hasan ligairihi
:
Hadis dengan kedaifan ringan yang naik derajatnya menjadi hasan karena dibantu periwayatan lain yang sahih atau hasan. Istilah lainnya la lidzatihi.
Hasan lizatihi
:
Hadis yang berderajat hasan dengan sendirinya, tanpa bantuan periwayatan lain.
Hassanahu
:
Hadis yang dinilai hasan oleh seorang imam
Hasyiah al-Kitab
:
Dilihat dari segi arti tidak berbeda dengan ta’liq, namun yang membedakan hanyalah letak catatan itu. Hasyiah istilah khusus bagi catatan pinggir kitab. Dilihat dari segi tempat, hasyiah sama dengan hamisy
‘Idraj
:
a) Penyisipan sanad pada sanad lainnya, b) penyisipan nama rawi pada suatu sanad, c) penyisipan suatu kalimat pada matan.
Ijazah
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan beberapa pola:
a)   seorang guru memberi izin kepada murid tertentu untuk meriwayatkan hadis atau kitab tertentu. Seperti, “Aku izinkan kamu untuk meriwayatkan kitab Shahih al-Bukhari dariku”.
b)  seorang guru memberi izin kepada murid tertentu untuk meriwayatkan hadis atau kitab yang tidak tertentu. Seperti, “Aku izinkan kamu untuk meriwayatkan semua riwayatku”.
c)   seorang guru memberi izin kepada seseorang yang tidak tertentu untuk meriwayatkan hadis atau kitab yang tidak tertentu. Seperti, “Aku izinkan kepada orang-orang yang se zaman denganku untuk meriwayatkan semua riwayatku”
d)  seorang guru memberi izin kepada seseorang yang belum lahir. Seperti, “Aku izinkan kepada si Polan dan anaknya yang belum lahir atau aku izinkan kepada anak si Polan yang belum lahir”
e)   seorang guru memberi izin kepada orang tertentu untuk meriwayatkan hadis atau kitab yang tidak jelas. Seperti, “Aku izinkan kamu untuk meriwayatkan kitab al-Sunan”, tanpa menjelaskan secara definitif, padahal kitab Sunan yang dimilikinya cukup banyak.
f)    seorang guru memberikan izin kepada orang yang tidak jelas untuk meriwayatkan darinya. Seperti,  “Aku izinkan Muhamad bin Khalid untuk meriwayatkan” tanpa menjelaskannya secara definitif, padahal orang yang memiliki nama ini tidak sedikit.
Ijma sahabat
:
Persetujuan (kesepakatan) para sahabat terhadap suatu hukum.
I’lam
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan pola:
a)   seorang murid menyodorkan catatan kepada seorang guru, lalu diakui kebenarannya. Pengakuan tersebut biasanya berupa ucapan na’am (benar). Bentuk seperti ini ditetapkan oleh ulama mutaqaddimin.
b)  seorang guru memberitahukan kepada muridnya bahwa hadis atau kitab ini adalah riwayatnya, tanpa menegaskan apakah dia mengizinkan atau melarang murid itu untuk meriwayatkannya. Bentuk seperti ini ditetapkan oleh ulama mutaakhirin.
‘Illat atau ‘Ilal
:
Sebab/penyakit tersembunyi yang dapat merusakkan kualitas hadis
‘Ilm al-Jarh wa al-Ta’dil
:
Ilmu yang membahas tentang keadaan para rawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.
Ikhtishar al-Hadits
:
Meringkas hadis dengan cara mengutip bagian yang dikehendaki, baik sanad maupun matan.
Isnaduhu Shahihun
:
a) sanadnya sahih, b) penilaian terhadap suatu hadis yang menunjukkan bahwa hadis itu sahih dilihat dari aspek sanad saja. Istilah lainnya bi isnadin shaihihin dan shahih al-isnad.
Isnaduhu Hasanun
:
a) sanadnya hasan, b) penilaian terhadap suatu hadis yang menunjukkan bahwa hadis itu hasan dilihat dari aspek sanad saja. Istilah lainnya bi isnadin hasanin dan hasan al-isnad. Ungkapan hasan al-isnad banyak dipergunakan oleh Imam al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak ‘alas Shahihain.
I’tibar
:
menelusuri sanad-sanad lain untuk suatu hadis tertentu yang pada bagian sanadnya terdapat seorang periwayat saja. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada periwayat lain atau tidak untuk bagian sanad yang dimaksud
Jama’
:
Salah satu metode yang dipergunakan oleh ulama hadis untuk mengkompromikan atau menghimpun hadis-hadis yang kontradiktif secara tekstual dengan cara mendudukkan maksud masing-masing secara proporsional sehingga semuanya dapat diterima dan diamalkan.
Jami’
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis Rasul semata, dengan maudhu (topik) yang lebih lengkap meliputi al-aqaid,  al-ahkam, al-sirah,  al-adab, al-tafsir, al-titan, asyrat al-sa’ah, dan al-manaqib. Seperti al-Jami’ al-Shahih karya al-Bukhari dan Muslim
Jarah atau Jarh
:
Celaan atau komentar (penilaian buruk para ahli) terhadap seorang rawi. Seperti Imam al-Bukhari mengatakan bahwa si Polan pendusta, munkar, buruk hapalan dan lain-lain.
Khabar
:
Sesuatu yang datang dari Nabi saw. atau dari yang lainnya
Khabar Ahad
:
Hadis yang tidak memenuhi syarat mutawatir
Khafi
:
Maksud kata atau kalimat yang agak sukar ditentukan, tetapi tidak sesulit musykil
Kibar al-Tabi’in atau       al-Tabi’in al-Kabir
:
a)   Orang yang dilahirkan pada masa Nabi, namun tidak pernah bertemu dengan beliau ketika sudah dewasa.
b)   Orang yang dilahirkan pada masa khulafaur Rasyidin.
c)    Orang yang sezaman dengan Nabi dalam keadaan kafir, lalu masuk Islam setelah beliau wafat.
d)   Orang yang sezaman dengan Nabi namun tidak pernah bertemu dengan beliau.
Kitab
:
secara bahasa artinya menghimpun atau mengumpulkan. Namun menurut urf (kebiasaan orang Arab) kata ini diartikan pula menulis, yakni  menghimpun huruf demi huruf dengan tulisan. Dari kebiasaan ini, kata kitab diartian pula al-daftar (buku), al-risalah (surat), al-shahifah (kertas tulis, halaman kertas), dan al-kitab al-munazzal (kitab suci). Dan pada perkembangan selanjutnya kata kitab digunakan pula sebagai istilah dalam penulisan buku, yakni kumpulan bab dan pasal yang menghimpun berbagai masalah. Bentuk jamaknya kutub.
Kitab Rijal al-Hadits
:
Kitab yang menerangkan biografi rawi-rawi yang terlibat atau ambil bagian dalam periwayatan hadis.
Kuna
:
Bentuk jamak dari kun-yah, yaitu a) sebutan seorang rawi yang di awali dengan kata Abu (Bapak), Ummu (Ibu), Ibn (anak laki-laki), Bint (Anak perempuan) seperti: Abu Hurairah, Ummu Salamah dan lain-lain; b) Inisial/bukan nama sebenarnya
Laisa bis syaiin
:
Jarah para ahli tingkat ke tiga dan cukup untuk menyatakan ke-da’if-an hadis yang diriwayatkannya
La Ashla Lahu
:
Predikat hadis yang disandarkan kepada Nabi tanpa diketahui sanadnya.
Mahfuz
:
Sebalik dari syadz, yaitu predikat hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih tsiqah tetapi matannya ditentang oleh riwayat rawi lain yang tsiqat.
Majhul
:
Tidak diketahui identitasnya
Majhul Ain
:
a)    tidak dikenal dirinya
b)   predikat hadis yang pada sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal serta hanya mempunyai  seorang murid
Majhul Hal
:
a)    tidak dikenal identitasnya
b)   predikat hadis yang pada sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal serta mempunyai murid lebih dari satu.
Mansukh
:
Predikat hadis yang dihapus keberlakukan hukumnya oleh hadis lain yang datang terkemudian.
Maqbul
:
Predikat hadis yang diterima karena sahih dan tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat.
Maqlub
:
Predikat hadis yang bertentangan dengan hadis sahih, karena terbalik dalam penyebutan nama rawi atau redaksi matan. Istilah lainnya munqalib (khusus untuk matan)
Mardud
:
Predikat hadis yang ditolak (tidak diterima) karena daif atau hadis sahih yang bertentangan dengan yang lebih kuat
Marwiyat
:
Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. atau dari salah seorang sahabat dengan menyertakan sanadnya.
Masruq
:
Predikat hadis yang pada sanadnya terjadi penukaran  rawi dengan rawi lainnya supaya diterima oleh ahli hadis.
Masyhur
:
Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada tiap tabaqah, namun tidak mencapai tingkat mutawatir
Maula
:
a)   hamba sahaya yang dibeli oleh seseorang dari orang lain.
b)   hamba sahaya yang didapat oleh seseorang dari orang lain sebagai hadiah.
Matan
:
Lafal-lafal hadis (teks hadis)
Matruk
:
Predikat hadis dha’if karena diriwayatkan oleh seorang rawi pendusta, dan hadis itu hanya diketahui melalui dirinya.
Mawalid wa Wafayat
:
a) Masa kelahiran dan kematian rawi, b) tempat kelahiran dan kematian rawi.
Maudhu’
:
a) topik bahasan, b) hadis palsu yang diatasnamakan Rasulullah saw.
Mitsluhu
:
Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang berbeda, namun sama lafalnya.
Mu’allal
:
Predikat hadis dha’if yang pada lahirnya tampak berkualitas sahih, padahal tidak sahih
Mu’allaq
:
Predikat hadis dha’if yang tidak bersambung pada bagian awal sanadnya, karena terdapat satu atau beberapa orang rawi yang tidak disebutkan pada bagian  itu.
Mu’an’an
:
Predikat hadis yang diriwayatkan dengan menggunakan kata ‘an
Muannan
:
Predikat hadis yang diriwayatkan dengan menggunakan kata anna/inna
Mubham
:
Predikat hadis yang pada sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak disebut namanya.
Mu’dhal
:
Predikat hadis yang tidak bersambung pada bagian tengah sanadnya, karena terdapat dua atau beberapa orang rawi yang tidak disebutkan pada bagian  itu secara berurutan.
Mu’jam
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis berdasarkan musnad-musnad sahabat, nama guru-guru penyusun kitab, negeri, atau kabilahnya
Mudallas
:
a) yang ditutup atau disamarkan, b) Predikat hadis yang diriwayatkan dengan menggunakan kata ‘an (dari) agar disangka mendengar padahal tidak mendengar
Mudallas Isnad
:
a) disamarkan sanadnya, b) Predikat hadis yang disamarkan periwayatannya oleh seorang rawi dari orang lain (orang yang pernah diterima sebagian hadisnya) dengan  menggunakan kata ‘an (dari) agar disangka hadis tersebut diterima dari orang itu, padahal hadis itu tidak termasuk yang diterima darinya.
Mudallas Syuyukh
:
a) disamarkan identitas gurunya, b) Predikat hadis yang disamarkan periwayatannya oleh seorang rawi dari orang lain (orang yang pernah diterima sebagian hadisnya) dengan  menyebut sifat (nama, gelar, suku) orang itu yang belum dikenal,  agar keadaan sebenarnya tidak diketahui.
Mudallas Taswiyyah
:
a) disamarkan keaslian sanadnya, b) Predikat hadis yang disamarkan periwayatannya oleh seorang rawi dari orang lain (yang dha’if) dengan  cara menghilangkan orang itu dari susunan sanad agar sanad itu dianggap sahih. .
Mudallis
:
pelaku (subjek) hadis mudallas
Mudawwin
:
Orang yang mencatat atau membukukan hadis
Mudhtharib matan
:
Asal artinya goyang. Maksudnya ialah matannya bermacam-macam dan tidak ada keserasian sehingga tidak dapat diambil kesimpulan
Mudhtharib sanad
:
Sanadnya tidak menentu. Misalnya si A menerima dari si B, tetapi versi lainnya dari C, dan tidak bisa diambil kesimpulan dari siapa sebenarnya dia menerima hadis itu, atau ada  seorang rawi dengan beberapa nama dan tidak dapat ditentukan nama yang sebenarnya
Mudraj
:
Predikat hadis yang bertentangan dengan hadis sahih karena mudraj isnad (terjadi  penyisipan nama rawi lain pada sanadnya) atau mudraj matan (terjadi  penyisipan kalimat lain pada matannya)
Muharraf
:
Predikat hadis yang bertentangan dengan hadis sahih karena terjadi perubahan syakal (baris) atau huruf pada nama rawi atau redaksi matan.
Muhmal
:
Predikat hadis yang diriwayatkan dari salah seorang di antara rawi yang sama nama, nasab, atau laqab-nya, dan tidak ada yang membedakannya.
Muhkam al-Hadits
:
Predikat hadis yang selamat dari kontradiksi dengan hadis lainnya.
Mujmal
:
pengertian suatu kata atau kalimat yang tidak dapat dipahami kecuali setelah dijelaskan oleh yang mengucapkannya.
Mukatabah
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan pola: seorang guru menulis riwayat yang didengarnya untuk orang yang hadir atau yang tidak hadir, baik tulisan sendiri maupun  tulisan orang lain atas perintahnya
Mukhadramun
:
a)   Orang yang sezaman dengan Nabi dalam keadaan Islam, namun tidak pernah bertemu dengan Nabi.
b)   Orang yang sezaman dengan Nabi dalam keadaan kafir, lalu masuk Islam setelah beliau wafat.
Mukhtalaf al-Hadits
:
Hadis yang kontradiksi secara tekstual dengan hadis lainnya. Sebagian ahli hadis menyebutnya dengan istilah mukhtalif al-hadits dan mukhalafah al-Hadits. Namun ada pula yang menyebut musykil al-hadits.
Mukhtalith
:
Rawi yang mengalami perubahan daya hapal ketika memasuki usia senja, karena beberapa faktor; a) pikun bila ia dhabth shadr, b) buta, terbakar atau dicuri kitabnya, bila ia dhabth kitab. 
Munawalah
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan beberapa pola:
a)   seorang guru memberikan sebuah kitab, naskah hadis, atau shahifah yang telah ditulis dan diteliti kesahihannya, kepada muridnya seraya berkata, “Kitab ini berisi hadis-hadis riwayatku, maka riwayatkanlah hadis-hadis ini olehmu dariku”.
b)  seorang guru memberikan sebuah kitab kepada muridnya untuk disalin ulang serta mengizinkan muridnya untuk menyandarkan kepada  dirinya ketika meriwayatkan hadis dalam kitab salinannya.
c)   seorang murid memberikan kitab atau catatan hadis yang diterimanya dari seorang guru, baik seluruhnya ataupun sebagiannya, kepada guru tersebut, hingga ia mengetahui keberadaan catatan tersebut, mengkoreksi serta mengizinkan murid tersebut meriwayatkan darinya. bentuk yang ke tiga ini disebut ‘ardh munawalah.
Munkar
:
a)   Predikat hadis yang diriwayatkan oleh rawi dha’if dan bertentangan dengan riwayat rawi lain yang lebih ringan kedaifannya.
b)  Predikat hadis yang diriwayatkan hanya melalui seorang rawi yang tidak memenuhi kriteria dhabth.
c)    Predikat hadis dh’aif, karena diriwayatkan oleh rawi yang banyak salah atau fasik.
Munqathi’
:
a)    Hadis yang tidak bersambung sanadnya
b)   Predikat hadis yang tidak bersambung pada bagian tengah sanadnya, karena terdapat dua atau beberapa orang rawi yang tidak disebutkan pada bagian  itu, namun tidak secara berurutan.
Mursal
:
Predikat hadis dha’if yang tidak bersambung pada bagian akhir sanadnya, karena terdapat satu atau beberapa orang rawi yang tidak disebutkan pada bagian  itu.
Mursal Jali
:
Predikat hadis dha’if yang tidak bersambung sanadnya, karena diriwayatkan oleh seorang rawi dari orang lain yang tidak satu zaman.
Mursal Khafi
:
Predikat hadis dha’if yang tidak bersambung sanadnya, karena diriwayatkan oleh seorang rawi dari orang lain yang pernah ditemuinya, namun hadis itu tidak diterima darinya.
Mursal Shahabi
:
Predikat hadis yang disampaikan oleh sahabat secara langsung dari Nabi saw. padahal hadis itu diterimanya dari sahabat yang lain.
Mursal Tabi’i
:
Predikat hadis yang disampaikan oleh tabi’in secara langsung dari Nabi saw, tanpa menyebutkan nama orang lain sebagai perantaranya.
Musalsal
:
a)   Hadis yang diriwayatkan oleh seorang murid dari seorang guru dengan meniru sifat atau keadaan guru itu ketika meriwayatkannya.  Misalnya, ketika menyampaikan hadis guru itu sambil memegang janggutnya, maka ia pun akan melakukan hal yang sama ketika meriwayatkannya.
b)   Hadis yang diriwayatkan melalui sanad-sanad yang memiliki kesamaan nama atau sifat, seperti diriwayatkan oleh semua rawi bernama Ahmad atau semua rawi itu ahli fikih.
Mushahhaf
:
Predikat hadis yang bertentangan dengan hadis sahih karena terjadi perubahan titik pada nama rawi atau redaksi matan
Mushannaf
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis Rasul, perkataan sahabat, dan fatwa tabi’in. dengan maudhu (topik) yang tidak selengkap Jami’. Seperti al-Mushannaf  karya Ibn Abu Syaibah dan Abdur Razaq.
Musnad
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis dari setiap orang sahabat yang disusun berdasarkan nama-nama secara alfabetis (urutan abjad hijaiyah), fadhilah (keutamaan), nasab (keturunan), waktu keislaman, kabilah, atau negeri.
Mustadrak
:
salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis yang memenuhi kriteria kesahihan kitab tertentu, namun tidak dimuat pada kitab itu. Seperti al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, karya al-Hakim
Mustakhraj
:
salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis yang bersumber dari kitab seseorang (kitab asal) dengan sanad yang berbeda dari orang itu, kemudian bersambung keduanya di tengah sanad atau pada guru penyusun kitab asal, seperti al-Mustakhraj ‘ala al-Bukhari, karya al-Isma’ili. Istilah lainnya mukharraj.
Mustakhrij
:
Pelaku atau penyusun kitab hadis jenis mustakhraj.
Musthalah al-Hadits
:
Ilmu tentang prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah guna mengetahui keadaan sanad dan matan hadis dari segi maqbul (diterima) dan mardud (ditolak)
Musykil
:
kata atau kalimat yang tidak mudah dipahami maksudnya tanpa pemikiran dan penelitian.
Mutabi’
:
Kesesuaian seorang rawi dengan rawi lainnya dalam periwayatan hadis dari sahabat yang sama. Sarana untuk mengetahui mutabi’ disebut i’tibar.
Mutasyabih
:
Predikat hadis shahih yang tidak dapat diketahui maksudnya secara pasti.
Mutawatir
:
Predikat hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang pada setiap thabaqah, yang aman (terpelihara) dari kesepakatan mereka untuk berdusta
Mutawatir Lafzhi
:
Hadis mutawatir dari segi lafal dan makna
Mutawatir Ma’nawi
:
Hadis mutawatir dari segi maknanya saja
Muttafaq ‘Alaih
:
Istilah bagi Imam al-Bukhari dan Muslim apabila periwayatannya bersumber dari sahabat yang sama. Namun apabila berbeda sahabatnya, Ibnu Hajar menggunakan istilah lain, seperti akhrajaahu, fi Shahihaini. Namun istilah Muttafaq ‘Alaih versi Ibnu Taimiyah dalam Muntaqa al-Akhbar maksudnya Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim. Sedangkan untuk al-Bukhari dan Muslim, Ibn Taimiyah menggunakan istilah akhrajaahu
Muttashil al-Sanad
:
Bersambung sanadnya, yaitu setiap rawi bertemu dan menerima langsung apa yang diriwayatkannya itu dari gurunya. Istilah lainnya maushul.
Nahwuhu
:
Hadis yang diriwayatkan dengan sanad dan lafal yang berbeda, namun sama maknanya.
Naqd
:
menyeleksi hadis-hadis antara yang shahih dengan yang dla’if melalui penelitian kredibilitas dan kapasitas intelektual para perawinya.
Nasakh
:
Salah satu metode yang dipergunakan oleh ulama hadis untuk mencari argumentasi yang terkuat di antara hadis-hadis yang kontradiktif secara tekstual dan tidak mungkin dapat dikompromikan, dengan melihat tarikh wurud al-hadits (waktu datangnya hadis-hadis itu). Apabila diketahui tarikhnya, maka yang diterima adalah hadis yang terakhir datangnya, dan disebut nasikh (yang menghapus). Sedangkan yang lebih awal datangnya tidak diterima, dan disebut mansukh (yang dihapus).
Nasikh
:
Predikat hadis yang menghapus keberlakukan hukum suatu hadis yang datang lebih awal.
Qiraah
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan pola: seorang murid membacakan hadis di hadapan seorang guru, baik dari hafalan maupun catatannya. Sedangkan guru menyimak bacaan itu. Kadang-kadang yang mengecek bukan gurunya, melainkan orang yang telah diberi kepercayaan olehnya. Metode ini disebut pula ‘ardh (penyodoran).
Qiyas
:
Menyerupakan sesuatu yang baru ditemukan kepada hukum yang telah ada karena cocok di dalam illat hukumnya
Rawahu
:
a) diriwayatkan oleh seseorang, b) Istilah pengutipan yang dipergunakan oleh penyusun kitab untuk menunjukkan bahwa hadis yang dikutip itu telah dipilih dari berbagai periwayatan melalui perbandingan matan saja, dan tidak berkepentingan dengan sanad.
Rijal al-Hadits
:
rawi-rawi yang terlibat dalam periwayatan hadis.
Rijal al-Shahih
:
a) rawi-rawi shahih, b) rawi-rawi al-Bukhari yang dimuat pada sanad suatu hadis.
Rijaluhu Tsiqatun
:
a) rawi-rawi yang kredibel, b) rawi-rawi pada sanad suatu hadis yang memenuhi kriteria ‘adalah dan dhabth. Istilah lainnya ruwatuhu tsiqat.
Rijaluhu Muwatstsaqun
:
a) rawi-rawi yang dianggap tsiqat, b) rawi-rawi pada sanad suatu hadis yang tidak secara pasti memenuhi kriteria ‘adalah dan dhabth, sehingga diperselisihkan oleh para ahli hadis. Namun dengan beberapa pertimbangan mereka dikelompokkan sebagai rawi yang tsiqat.
Rawi
:
Orang yang terlibat dalam periwayatan hadis
Rihlah fi Thalab al-Hadits
:
Perjalanan ke berbagai daerah dalam upaya pencarian hadis.
Riwayah al-Aqran
:
Periwayatan seorang rawi dari rawi lain yang sebaya usianya atau sama gurunya. Namun rawi lain itu tidak pernah meriwayatkan darinya
Riwayah al-Kabir ‘an       al-Shaghir
:
a)   Periwayatan seorang rawi yang lebih tua dari rawi lain yang lebih muda usianya.
b)  Periwayatan seorang rawi yang lebih tinggi derajat hapalan dan keilmuannya dari rawi lain yang sebawah derajatnya.
c)   Periwayatan seorang rawi yang lebih dahulu thabaqat (generasi)nya dari rawi lain yang terkemudian thabaqatnya.
Riwayah al-Mudabbaj
:
Periwayatan seorang rawi dari rawi lain yang sebaya usianya atau sama gurunya. Dan rawi lain itu juga pernah meriwayatkan darinya.
Riwayah al-Sabiq wa al-Lahiq
:
Periwayatan dua rawi dari guru yang sama, namun  tidak sama masa kewafatannya. Rawi yang satu meninggal lebih dahulu, dan rawi lainnya meninggal kemudian.
Riwayah bi al-ma’na
:
meriwayatkan hadis dengan menggunakan gaya-ungkap atau bahasa sendiri.
Sabab Wurud al-Hadits
:
Hal atau peristiwa yang melatarbelakangi munculnya sabda Rasulullah. Sebab atau hal tersebut adakalanya berupa pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat, lalu Rasulullah saw. memberikan jawabannya, dan adakalanya berupa peristiwa yang disaksikan atau dialami sendiri oleh Rasulullah saw. bersama sahabatnya, kemudian beliau menjelaskan hukumnya.
Sahabat
:
Orang yang bertemu dengan Nabi, ia seorang muslim dan meninggal di dalam keislaman-nya.
Sami’tu
:
a) saya mendengar, b) salah satu bentuk penyampaian hadis yang diterima oleh seorang rawi secara sima’. Apabila penerimanya lebih dari seorang menggunakan ungkapan sami’na
Sanad
:
Rangkaian atau silsilah para rawi yang menerima dan menyampaikan hadis
Sanad ‘Ali dan Nazil
:
Sand Ali adalah sanad yang jumlah rawinya lebih sedikit dibandingkan dengan sanad lain yang jumlah rawinya lebih banyak, dalam matan yang sama, sehingga jarak antara rawi dengan Rasul lebih dekat. Sedangkan yang  jumlah rawinya lebih banyak disebut sanad nazil.
Shaduq
:
Penilaian para ahli yang menunjukan bahwa seorang rawi kurang sedikit dalam memenuhi kreteria dabth, seperti kurang hapalan atau pernah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadis dengan tidak sengaja
Shahih


:
Predikat hadis yang memenuhi kriteria berikut; bersambung (mutasil) sanad-nya, diriwayatkan melalui rawi adil dan dabth, dari rawi yang adil dan dabth pula, sejak awal hingga akhir sanad, tidak syadz (bertentangan dengan yang lebih kuat) dan tidak mu’allal (cacat)
Shahih ligairihi
:
Hadis hasan yang naik derajatnya menjadi sahih karena dibantu periwayatan lain (dengan syahid atau mutabi). Disebut pula la lizatihi
Shahih lizatihi
:
Hadis yang berderajat shahih dengan sendirinya tanpa bantuan periwayatan lain
Shahhahahu

:
a) hadis itu disahihkan oleh seseorang, b) hadis yang dinilai sahih oleh seorang imam.
Shighar al-Tabi’in atau   al-Tabi’in al-Shaghir

:
Orang yang menyampaikan hadis dari shigar al-shahabah (pada masa Rasul masih kanak-kanak) yang terakhir meninggal dunia. Orang tersebut bertemu dengan mereka ketika masih kecil dan mereka (shigar al-tabi’in itu) sudah lanjut usia..
Shiyagh al-Ada

:
Bentuk atau lambang yang dipergunakan oleh rawi ketika meriwayatkan hadis.  Shiyagh al-ada ini akan memberikan gambaran tentang metode yang dipergunakan rawi bersangkutan  ketika menerima hadis itu.
Sima’
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan pola: seorang guru membacakan hadis kepada murid-muridnya, baik dari hafalan maupun dari catatannya, sedangkan para murid itu menyimak dan mencatat apa yang didengarnya atau hanya menyimak saja
Sunah
:
Perbuatan, perkataan, dan persetujuan Rasul terhadap perkataan atau amal sahabat
Sunan
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis Rasul yang khusus berkaitan dengan hukum-hukum. Kitab ini disusun berdasarkan abwab al-fiqh (bab-bab fikih). Seperti Sunan Abu Daud, Sunan al-Nasai, dan al-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi.
Syadz
:
a)   Predikat hadis yang diriwayatkan oleh rawi tsiqat tetapi matannya menyalahi riwayat rawi lain yang lebih tsiqah.
b)   Predikat hadis yang diriwayatkan hanya melalui satu sanad.
c)    Predikat hadis dha’if karena pada sanadnya terdapat rawi yang buruk hapalan.
Syahid
:
Kesesuaian seorang rawi dengan rawi lainnya dalam periwayatan hadis dari sahabat yang berbeda. Sarana untuk mengetahui syahid disebut i’tibar
Syarah
:
Secara umum berarti memberi keterangan terhadap matn al-kitab, yaitu teks asli tulisan seorang ulama. Sedangkan dalam istilah ahli hadis, syarh merupakan ilmu yang mengkaji maksud dari hadis Rasul menurut aspek kaidah bahasa Arab dan prinsip-prinsip syariah. Pensyarahan hadis di mulai pada abad IV H/abad X M. seiring dengan tadwin al-hadits (kodifikasi hadis), menggunakan sistematika mubawwab (berdasarkan topik pembahasan). Dalam tradisi ulama, penulisan syarah itu dilakukan oleh penulisnya sendiri atau oleh generasi berikutnya, yakni setelah penulis buku termaksud.
Su-u al-hifzh
:
buruk daya hafalannya.
Ta’arudh
:
Kontradiksi antara dua dalil secara tekstual, dan ada kemungkinan keduanya dapat diterima bahkan sampai diamalkan setelah melalui proses penggabungan dan penyaringan dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan.
Ta’dil
:
Mensifati seorang rawi dengan sifat-sifat terpuji yang menuntut pensahihan riwayatnya atau diterima khabarnya.
Ta’liq
:
membuang  seorang rawi atau lebih, bahkan seluruhnya, pada bagian awal sanadnya.
Ta’liq al-Kitab
:
Secara umum berarti catatan, baik berupa syarh, hasyiah, kritik atau penilaian terhadap tulisan seseorang. Secara khusus berarti keterangan mengenai kata atau ungkapan dalam teks yang dicantumkan pada margin bawah pada halaman kitab (biasanya dicetak dengan huruf yang lebih kecil daripada huruf di dalam teks guna menambahkan referensi uraian dalam naskah pokok).
Tabi’in
:
Orang Islam yang bertemu dengan sahabat dan meninggal di dalam keislamannya
Tabi’ al-Tabi’in
:
Orang Islam yang sezaman dan bertemu dengan tabi’in dan meninggal di dalam keislamannya.
Tahammul al-Hadits
:
Penerimaan hadis dari seorang guru dengan menggunakan metode-metode tertentu
Tahqiq
:
a) Melihat sejauhmana kebenaran yang terkandung di dalam sebuah teks, b) ilmu yang mempelajari seluk beluk-teks pada karya-karya peninggalan klasik.
Tajrih
:
Mensifati seorang rawi dengan sifat-sifat tercela yang menuntut penda’ifan riwayatnya atau tidak diterima periwayatannya.
Takhrij
:
penelusuran atau pencarian hadis dalam berbagai kitab hadis
Talqin
:
Seseorang mengajarkan suatu hadis kepada orang lain.
Tanaqud
:
Kontradiksi antara dua dalil secara tekstual, dan keduanya tidak mungkin dapat dikompromikan.
Tarajim
:
Bentuk jamak dari tarjamah. Secara istilah berarti a) biografi seorang rawi, b) judul bab, c) salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis dari rawi tertentu,
Tarikh al-Ruwat
:
Tarikh para rawi yang meliputi masa hidup,  pembelajaran dan periwayatan hadis, guru dan muridnya.
Tarjih
:
Salah satu metode yang dipergunakan oleh ulama hadis untuk mencari argumentasi yang terkuat di antara hadis-hadis yang kontradiktif secara tekstual dan tidak mungkin dapat dikompromikan, dengan melihat berbagai aspek seperti jumlah rawi yang menyampaikan hadis itu lebih banyak daripada hadis lainnya.
Tawaqquf
:
Menangguhkan sementara waktu hadis-hadis yang kontradiktif hingga ditemukan maksud ysng lebih tepat dari hadis-hadis itu. Metode ini dipergunakan setelah jama’, nasakh, dan tarjih tidak dapat dilakukan.
Thabaqat
:
Sejumlah rawi yang satu sama lain memiliki persamaan atau kedekatan dilihat dari; a) masa hidup (periode/generasi), b) usia, c) penerimaan hadis dari seorang guru.
Tsiqat
:
a) Kuat (kredibel) tidak ada cacatnya, b) sebutan bagi rawi yang memenuhi kriteria ‘adil dan dhabth
Thuruq al-Naql
:
Metode-metode pengutipan hadis yang dipergunakan oleh seorang penyusun kitab hadis  atau fikih.
Thuruq al-Tahammul
:
Metode-metode penerimaan hadis yang dipergunakan rawi dari seorang guru.
Thuruq al-Takhrij
:
Metode-metode penelusuran atau pencarian hadis dalam berbagai kitab hadis
Wa al-Lafzh Lahu
:
Lafal hadis yang disebut diriwayatkan olehnya (salah seorang ahli hadis).
Washiyyah
:
Salah satu metode penerimaan hadis dengan pola: seorang guru mewasiatkan kitab atau hadis, sebelum wafatnya atau sebelum safarnya, kepada seseorang.
Wijadah
:
Salah satu metode penerimaan hadis melalui penemuan kitab atau tulisan orang lain dengan sanadnya.
Wuhdan
:
Hadis yang pada sanadnya terdapat rawi yang hanya mempunyai seorang murid dalam meriwayatkan hadis itu.
Zawaid
:
Salah satu jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis riwayat orang lain dalam bab-bab tertentu yang belum dimuat dalam kitab-kitab hadis sebelumnya. Seperti Majma' al-Zawaid wa Manba' al-Fawaid karya Ali bin Abu Bakar al-Haitsami (W. 807 H/1404 M). Di dalamnya dihimpun beberapa hadis dari kitab Musnad Abu Ya'la, Musnad al-Bazzar, dan tiga al-Mu'jam al-Thabrani, sebagai zawaid (hadis tambahan) bagi al-kutubus sittah
Ziyadah al-tsiqah
:
Keterangan tambahan (pelengkap) pada suatu matan yang bersumber dari rawi tsiqah. Sedangkan pada matan yang bersumber dari rawi lainnya tanpa disertai keterangan itu. Apabila tambahan itu bersumber dari rawi dha’if disebut idraj.
Ziyadah al-tsiqah Maqbulah
:
Keterangan tambahan (pelengkap) pada suatu matan yang bersumber dari rawi tsiqah dapat diterima kebenarannya. 

Related Posts:

0 Response to "Kamus Musthalah Al-Hadits"

Post a Comment