Selemah-lemahnya Rumah Adalah Rumahnya Laba-laba


Tidak dapat disangkal, bahwa manusia dihadapkan kepada dua pilihan apakah hendak menjadi manusia yang membuat kemaslahatan, atau kerusakan?

Fasad (Merusak) dan Islah (membuat keberesan) adalah dua pekerjaan yang konfradiktif (berlawanan). 

Seringkali orang salahmenilai yang merusak dianggap membuat kemaslahatan, sementara yang membuat kemaslahatan dianggap membuat kerusakan, dengan demikian perlu ada kriteria yang jelas mana yang termasuk kategori merusak dan mana pula yang termasuk melakukan kemaslahatan.

Melempar perkantoran, pusat perdagangan (super market), merobohkan bangunan, membakar pasar, tidak perlu diberi tahu oleh wahyu, karena semua manusia dari segala strata (tingkatan telah mengetahui bahwa yang demikian ltu adalah perbuatan merusak, mereka akan berusaha menghalangi manakala ada yang melakukan hal ltu, mengingat kerugian yang akan menimpa atas perbuatan ltu telah dapat diperkirakan, orang kafirpun mengetahui kepada hal-hal seperti ltu.

Jika ada orang hendak membakar sebuah toko, semua orang yang melihat, tidak perduli dia kafir atau muslim, beragama atau tidak akan berusaha menahan, dan menanggalkannya dengan berbagai cara yang akan ditempuh, baik dengan tenaga, pikiran maupun kekuasaan. Jadi cara menangani hal seperti ini relatif mudah dan tidak pertu bimbingan wahyu.

Membius masyarakat dengan khurafat dan takhayyul, mencampur adukan agama dengan kebudayaan, menyebarluaskan perbid'ahan, mempertahankan keyakinan dan kepercayaan nenek moyang, dan melakukan kebohongan adalah perbuatan fasad yang kebanyakan orang tidak sadar bahwa hal itu fasad dan tidak menyadari bahwa diriya sedang berbuat kerusakan, sehingga orang cenderung mendukung bukan menahan dan melarang. Oleh karena itu Al Quran banyak memuat kata fasad dengan berbagai bentuk kata, mengingat inti hancurnya sebuah negara dan tatanan masyarakat disebabkan oleh yang demikian, sehingga hal-hal seperti ini tidak dapat diatasi oleh hanya pemikiran manusia.

Kelihatannya seperti tidak ada kaitan antara menyebarkan syirik dengan hancurnya sebuah negara, menegakkan tauhid dengan berbuat kemaslahatan, padahal mengisi pikiran manusia dengan khurafat dan takhayul, meragu-ragukan akan adanya Tuhan, menyamarkan agama, serta merobohkan keimanan, akan menghilangkan tata kesopanan dan akhlaq pada tatanan masyarakat. Itu adalah ciri keruksakan masyarakat.

Tidak ada artinya sebuah negri itu subur jika penduduk negri itu tidak bermoral dan berakhlaq mulia, karena makmur atau tidaknya akan sangat tergantung kepada siapa penghuni negri itu. Jika tindakan dan prilaku sehari-hari penghuni negri itu tidak didasarkan pada keyakinan yang kokoh dan keimanan yang sehat, tentu masyarakat tidak akan dapat melakukan prilaku yang sehat pula.

Cara menangani dan memberi tadzkirah kepada orang-orang yang berbuat kerusakan seperti ini memerlukan pola pikir tauhidi, karena pangkal kerusakan itu berasal dari ketakaburan.

Mendirikan bangunan dengan teknotogi arsitektur yang tinggi, mengatur alam raya ini dengan metoda mutakhir, dan mengadakan penelitian-penelitian ilmiah, akan sia-sia, jika manusianya menolak agama, tidak dapat mengatur nafsu, serta memelihara jiwa. Percuma bangunan didirikan kemudian dihancurkan, masyarakat dikumpulkan lalu dibinasakan, karena kekufuran dapat dilakukan secara bebas, kedurhakaan merajalela, dan merdeka melakukan kefasikan.

Siapa yang mengajak kepada yang bukan petunjuk Nabi, maka ia termasuk orang yang nyata-nyata telah mengadakan kerusakan di muka bumi ini.

Mengajak dan memberi pengertian bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah, yang mengatur hidup dan kehidupan manusia kecuali Allah, senantiasa mendapat hambatan oleh hawa nafsu yang tidak dapat diatur dan jiwa yang tidak terpelihara, karena mereka merasa tidak menjadi rayap, padahal mereka adalah rayap yang akan menghancurkan bangunan iman.

Manusia tidak akan berbeda dalam menilai sesuatu itu fasad atau maslahat, kalau kriteria fasad dan maslahat dikembalikan kepada Dzat yang Maha mengetahui, Allah berfirman:
 
 وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ * وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيِهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ

Dan dari antara manusia ada orang yang perkataannya dalam (hal) kehidupan dunia membikinmu senang, dan ia menjadikan Allah saksi atas apa yang ada di hatinya padahal ia itu sejahat-jahatnya musuh. Karena apabila ia berpisah, ia berjalan di bumi untuk membikin kerusakan padanya, dan (untuk membinasakan) tanaman dan keturunan, padahal Allah tidak suka kepada kerusakan. QS. Al Baqarah 204-205

Seperti jauh panggang dari api, tapi keterangan di atas membuktikan bahwa kemunafikan dapat merusak tanaman dan keturunan, bahkan dinyatakan sejahat-jahatnya rnusuh.

Islahul aqidah (membereskan aqidah) dari keyakinan dan kepercayaan lain adalah perbuatan maslahat seperti juga memberantas bid' ah, khurafat, dan takhayul, karena Jika hal itu dibiarkan, Islam jadi tidak sehat, bahkan rasa Islam pun akan berbeda, tidak seperti yang dirasakan Rasul dan para sahabatnya. Mereka merasakan nikmatnya Islam sebagai sumber perubahan, tapi umatnya akan berkutat pada situasi sebelum Islam.

Aqidah mana lagi yang akan diikuti, kalau sudah merasa nikmat hartanya diarahkan oleh Islam, umurnya diatur dan dimakmurkan untuk kepentingan Islam, serta jiwanya ditujukan ke arah kehidupan yang kekal dan nikmat yang tidak berkesudahan.
Dari Al Abbas bin Abdul Muthallib, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Akan terasa rasanya iman, orang yang ridlo Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul." H.R. Muslim

Merasa puas, tidak merasa rugi, bahkan beruntung, mempunyai keyakinan bahwa Allahlah yang mengatur semua makhluk, karena didasarkan pada pengertian yang kuat dan keterangan yang jelas, sementara orang masih bingung, mengingat hidupnya kadang diarahkan oleh dongeng-dongeng, umumya dimakmurkan oleh aturan kebiasaan, Jiwanya dipelihara oleh kehidupan temporer, tapi mereka sangat patuh akan aturan-aturan itu, padahal aturan itu tidak ada yang membuat, kecuali

rekaan manusia belaka. Hal ini yang Allah namakan serapuh-rapuh bangunan.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ 

Perumpamaan orang-orang yang menganggap tuhan-tuhan selain Allah seperti laba-laba membikin rumah, padahal selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahui. Q.S. Al Ankabut : 41

Wallahua'lam
Oleh: Drs. KH. Uus. M. Ruhiat 

Related Posts:

1 Response to "Selemah-lemahnya Rumah Adalah Rumahnya Laba-laba"

  1. numpang promote ya min ^^
    buat kamu yang lagi bosan dan ingin mengisi waktu luang dengan menambah penghasilan yuk gabung di di situs kami www.fanspoker.com
    kesempatan menang lebih besar yakin ngak nyesel deh ^^,di tunggu ya.
    || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    ReplyDelete