Sosok Kaum Anshar



{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونوا أَنصَارَ اللهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللهِ } 

“Hai orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Mariam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia,” Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata,”Kamilah penolong-penolong (agama) Allah.” Q.S. As Shaf : 14

Rasulullah saw. dan para sahabat tak henti-hentinya menyampaikan risalah Allah di Mekah baik dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Ternyata hal itu mendapat tantangan yang berat, dikarenakan begitu keras dan kuatnya tekanan dari suku Quraisy, hingga mereka merencanakan untuk membunuhnya.

Tetapi sinar Ilahi tidak bisa dihalangi oleh cara dan upaya apapun, tetap memancarkan cahayanya, hal ini terbukti dengan islamnya Aus dan Khazraj, penduduk Madinah yang menerima dakwahnya, mengabulkan seruannya dan berbaiat untuk menolong dan menjaga Nabi saw. serta para sahabat bila berhijrah ke Madinah.

Aus dan Khazraj adalah dua saudara seibu sebapak tetapi kemudian keturunan-
keturunan mereka berpisah menjadi golongan yang saling bermusuhan. Peperangan di antara kedua golongan itu tidak ada hentinya sampai kurang lebih 120 tahun, belum ada pihak yang kalah atau pun mengalah, tidak ada bangsa atau golongan lain yang bisa mendamaikan.

Baca juga: Selemah-lemahnya rumah adalah rumahnya laba-laba

Allah swt. memadamkan api permusuhan di antara mereka dengan Islam dan menjinakkan hati-hati mereka dengan perantaraan Rasulullah saw. hingga kembali bersaudara dengan ikatan iman, jadilah mereka itu ‘Ansharullah’ (pengamal, pengawal dan pembela Islam) bersatu padu dengan Muhajirin.

Muhajirin dan Anshar menjadi Ashhabun dan Hawariyun Islam dengan menyediakan diri, harta, dan tenaga untuk membela Islam, Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّتِهِ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ... رواه مسلم 

Tidak ada seorang pun dari para Nabi yang Allah utus kepada umatnya sebelum aku, kecuali ada baginya pembela-pembela dan sahabat-sahabat yang menjalankan sunahnya dan mengikuti perintahnya... H.R. Muslim I:46

Allah swt. menerangkan karakteristik kaum Anshar sebagaimana firmanNya:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ 

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Q.S. Al Hasr : 9

A. Hassan menerangkan, “Penduduk Madinah kaum Anshar beriman lebih dahulu daripada kebanyakan Muhajirin. Mereka kasih kepada Muhajirin dan mereka tidak iri hati atau dengki lantaran Muhajirin saja yang diberi rampasan perang, dan mereka utamakan kaum Muhajirin lebih daripada diri mereka, walaupun mereka orang-orang miskin, karena mereka yakin bahwa barangsiapa dirinya terselamat daripada kebakhilan, maka ialah orang-orang yang berbahagia.” Tafsir Al Furqan:1087

Dengan demikian, maka keutamaan-keutamaan kaum Anshar itu, antara lain:

1. Mencintai dan mengharapkan kebaikan untuk Muhajirin sebagaimana yang mereka cita-
citakan untuk diri mereka sendiri. Oleh karana itu wajar kalau Sayyidina Umar barkata:

... وَأُوصِيهِ بِالأَنْصَارِ خَيْرًا الَّذِينَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَالإِيـمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ أَنْ يُقْبَلَ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَعَنْ يُعْفَى عَنْ مُسِيئِهِمْ... رواه البخاري 

... dan aku berpesan kepada Khalifah (setelah aku), (hendaklah) berbuat baik kepada kaum Anshar, yaitu orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), agar diterima orang yang berbuat baik dan dimaafkan orang yang menyusahkan dari kalangan mereka (Anshar)... H.R. Al Bukhari IV:206

يَا رَسُولَ اللهِ مَا رَأَيْنَا مِثْلَ قَوْمٍ قَدِمْنَا عَلَيْهِمْ حُسْنَ مُوَاسَاةٍ فِي قَلِيلٍ وَلاَ حُسْنَ بَذْلٍ فِي كَثِيرٍ لَقَدْ كَفَوْنَا االْمَئُونَةَ وَأَشْرَكُونَا فِي الْمُهَيَّإِ حَتَّى لَقَدْ خَشِينَا أَنْ يَذْهَبُوا بِالأَجْرِ كُلِّهِ قَالَ لاَ مَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِمْ وَدَعْوَتُمُ اللهَ لَهُمْ. وراه أحمد 

Wahai Rasulullah, kami tidak pernah mendapatkan (kaum) seperti kaum yang kami datangi (ini), (begitu) baik bantuan di saat sedikit dan (bagitu) baik derma di kala berlimpah. Sungguh mereka telah mencukupi bahan makanan (pangan) kami, dan bersekutu dengan kami dalam (segala sesuatu) yang (mesti) dipersiapkan, sehingga kami khawatir mereka membawa pahala semuanya, Rasulullah bersabda, ‘Tidak, selama kalian menyanjung dan berdoa kepada Allah untuk (kebaikan) mereka’.” H.R. Ahmad

2. Tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada Muhajirin, seperti Fa’i dan Ghanimah, sementara mereka sendiri tidak mendapatkan bagian apa-apa. Rasulullah saw. bertanya kepada mereka:

أَفَلاَ تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالأَمْوَالِ وَتَرْجِعُونَ إِلَى رِحَالِكُمْ بِرَسُولِ اللهِ؟ فَوَ اللهِ لَمَا تَنْقَلِبُونَ بِهِ خَيْرٌ مِمَّا يَنْقَلِبُونَ بِهِ. فَقَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ رَضِينَا. رواه مسلم 

Ridakah kamu sekalian, orang-orang (Muhajirin) pulang membawa harta benda, dan kamu sekalian pulang ke rumah-rumah kamu bersama Rasulullah? Maka demi Allah! Sungguh apa yang kamu bawa pulang (Rasul) lebih baik dari apa yang mereka bawa pulang (harta benda). Kemudian mereka (Anshar) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah! Sungguh kami telah meridainya.” H.R. Muslim I:466

3. Mendahulukan orang yang lebih perlu, ketimbang diri mereka sendiri, sebagaimana hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ (رض) قَالَ: أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللهِ (ص) فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَصَابَنِي الْجَهْدُ فَأَرْسَلَ إِلَى نِسَائِهِ فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَهُنَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ص: أَلاَ رَجُلٌ يُضَيِّفُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ يَرْحَمُهُ اللهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ فَذَهَبَ إِلَى أَهْلِهِ فَقَالَ ِلامْرَأَتِهِ: ضَيْفُ رَسُولِ اللهِ (ص) لاَ تَدَّخِرِيهِ شَيْئًا قَالَتْ وَاللهِ مَا عِنْدِي إِلاَّ قُوتُ الصِّبْيَةِ قَالَ: فَإِذَا أَرَادَ الصِّبْيَةُ الْعَشَاءَ فَنَوِّنِيهِمْ وَتَعَالَي فَأَطْفِئِي السِّرَاجَ وَنَطْوِي بُطُونَنَا اللَّيْلَةَ فَفَعَلَتْ ثُمَّ غَدَا الرَّجُلُ عَلَى رَسُولِ اللهِ (ص) فَقَالَ لَقَدْ عَجِبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ ضَحِكَ مِنْ فُلاَنٍ وَفُلانَةٍ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ }. رواه البخاري 

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, kelaparan telah menimpaku, kemudian beliau mengirim (utusan) kepada istri-istrinya ternyata tidak mendapatkan sesuatu pun pada mereka. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, ‘Adakah orang yang mau menjaminnya untuk malam ini -semoga Allah mengasihinya? Maka seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata, ‘Aku wahai Rasulullah. Lalu ia pergi menemui keluarganya dan berkata kepada istrinya, ‘Tamu Rasulullah, jangan kau simpan sesuatu pun, istrinya berkata, ‘Demi Allah aku tidak mempunyai apa-apa kecuali makanan untuk anak, laki-laki itu berkata, ‘Jika anak-anak minta makan malam, tidurkanlah, kesinilah engkau, padamkanlah lampu dan (biarkanlah) perut-perut kita lapar malam ini. Lalu istrinya menurutinya. Kemudian laki-laki itu menemui Rasulullah saw. lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mengagumi atau meridai si pulan dan pulanah. Maka Allah menurunkan ayat: Dan mereka mengutamakan orang-orang (Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukannya (apa yang mereka berikan itu). H.R. Al Bukhari VI:60


Wallahua'lam
Oleh: Wawa Suryana Hidayat

Related Posts:

0 Response to "Sosok Kaum Anshar"

Post a Comment